11 Apr 2012

Aku Bisa Merubah DUNIA !


Eh, adek tingkat! Percaya gak dengan judul di atas?
Gag percaya???
Sama!!! (haghag)

Saia juga gag percaya pada awalnya, dan bilang kalo orang yang mengatakan hal itu adalah “Mr. or Mrs, Belagu”. Tapi setelah mengalami belajar yang sesungguhnya, sukses maupun gagal, ternyata bisa juga lho kita percaya dengan kata2 di atas. 


“Aku Bisa Mengubah Dunia” 
Caranya? ya dengan belajar!! Kerena dengan belajar kamu bisa mengubah dunia ; dunia yang paling dekat dengan kamu, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati kamu..

Coba dah, sekarang kamu bayangin ada 3 mahasiswa yang lagi duduk dipinggir danau (anggap saja, Danau-danau-an kampus kita). Mereka bertiga, menggunakan kacamata yang berbeda, yaitu kacamata yang berwarna hijau, biru, dan hitam (kreatif, ato kurang kerjaan ya? --a). Si kacamata hijau bilang:
“Wuuuah indahnya danau yang hijau ini….” *mata berkaca2, hidung kembang kempis*
Si biru nyahut:
“Alamakk! Buta kali kau, danau biru dibilang hijau!!” (pura2nya orang batak).  
Orang terakhir, si kacamata hitam, dengan wajah bingung berkata:
“Kepiye tho? Cuaca mendung begini kok dibilang indah?? Enek-enek wae…!”

Nah, kenapa mereka berbeda pendapat? Kenapa ada yang bilang danaunya berwarna biru lah, hijau lah, bahkan hitam? Padahal kan merah! *glodag!* Hehe. 
Yep! Karena mereka mengenakan kacamata yang berbeda. Mereka bisa saja ribut mempertahankan pendapatnya, tapi tidak ada yang paling bener. Semua itu karena mereka melihat dari kacamata yang berbeda (cara mmandangnya yang berbeda).

Demikian halnya dengan belajar. Kalau kita memandang belajar dengan kacamata yang salah, ntah itu biru, merah, hitam, atau burem, maka kita akan memiliki arti belajar yang terbatas. Neh contohnya,
 “Belajar bikin bete”
“Belajar lama2 ntar make kacamata minus lho”  
“Belajar sich bisa ngurangin teman”.
Padahal sebenernya kamu bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda; contohnya, kalo kamu masi mahasiswi tingkat 1, 
”Anfis itu asik”, 
“KDPK itu keren banget!”, atau 
“Konsep Kebidanan? Ajiiiiiiib!” (ghahaha). 
Dan, kalo kamu tingkat II, 
“Askeb 1 bener2 penting!”, 
“Ilmu Kesehatan anak bikint guwe pin cepet2 lulus…. trus nikah!! Haha’ “ (itu sich kata saia), atau, 
“OhMyGod!! Biokimia itu…. GOKIIIIIL!!” 
Nah, kalo smua mata kuliah itu asik dan keren, bahkan gokil, pasti belajar jadi semangat donk?Oleh karena itu, kalo kamu bener2 niat ingin belajar, awali saja dengan menyadari, apakah saya sudah melihat belajar dari banyak sisi? Apakah saya sudah mengenakan kacamata yang benar untuk melihat belajar?

Gitu, setuju gag kalo sekarang saia bilang bahwa sepertinya kamu perlu memakai kacamata baru untuk melihat lebih banyak sisi dari belajar, supaya bisa melihat belajar seindah warna aslinya?!! Okeeeh???

Edisi: HIMADDA
Red: anggun_hijab

10 Apr 2012

Surat dari Dania #2


Aku terharu baca ini, surat dari Dania :')


......Segala puji bagi Allah yang masih menyisakan kerinduan itu dihati kita, semoga ia senantiasa menjadi cermin yang senantiasa mengingatkan seperti apa seharusnya diri kita bersyukur dengan segala nikmat dan skenario indah  buatan-Nya untuk setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun dalam hidup kita, yang mungkin itu belum sempat singgah di hati yang lain, karena tidak pernah ada yang diciptakan oleh-Nya menjadi sebuah kesia-sia-an.

Aku sama sekali tidak memahami makna apa dibalik kalimat "tidak ada yg sia-sia", karena sepertinya mudah diucapkan dan sulit masuk kerelung hati sehingga aku bisa menikmati sesuatu yang benar-benar kuangggap tidak sia-sia.  Ternyata untuk membedakan itu sia-sia atau tidak, itu bergantung pada sedalam apa kita memahami makna kehidupan ini yang tidak akan pernah habis sampai hidup kita berakhir, bukankah begitu saudaraku?

Aku teringat akan firman-Nya di ayat Al Quran yang kalau tidak salah, kita pernah menghafalnya agar bisa tenang berhadapan dengan Pak Syaeri (guru agama kita) sebagai syarat kelulusan ujian praktek agama, semoga Allah senantiasa merahmati beliau atas keinginan besarnya memahamkan kita tentang makna seluruh penciptaan-Nya yang tidak sia-sia, tapi aku sendiri merasa sedikit sekali hati ini bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang tercecer itu.astagfirulloh......

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS.Ali-Imran:190-191)

aku ingin menyampaikan ini saudaraku, sebagai rasa syukur kepada Allah, bahwa serpihan episode kehidupan kita dulu, yang singkat dan mungkin tak cukup  banyak kisahnya atau mungkin dulu kita anggap biasa bukanlah sesuatu yang sia-sia belaka melainkan ada sesuatu yang sengaja Allah siapkan untuk kita sebagai bekal untuk kehidupan kita, kita dilahirkan di kota itu, bertemu di sekolah, bermain bersama, belajar bersama, menangis bersama, tersenyum bersama bukanlah hal yang tidak direncanakan oleh-Nya, jika penciptaan langit dan bumi yang sungguh besar, kompleks dan teratur ini dengan sangat mudah diatur dan direncakan oleh-Nya dengan maksud yang tidak sia-sia, maka apatah hanya segelintir episode hidup hamba-hamba-Nya saat ini terasa sulit untuk Ia rencanakan. Sungguh itu mustahil bukan?.  Sedangkan untuk menjawab apatah semua itu sia-sia belaka, ia itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak ingin mengambil hikmah darinya, padahal Dia tidak memberi satu episode pun melainkan ia berikan episode yang terbaik untuk kita mencari perhatian-Nya, atau episode yang mendewasakan kita, memberi hikmah pada kita atau bahkan menegur kita agar tidak tercebur dalam kesalahan yang menyedihkan kita seperti seorang ibu yang menegur dan menasihati anaknya dengan berteriak lantaran kaget anaknya hendak mendekati sebuah 'got' yang dalam sehingga khawatir anaknya yang tersayang jatuh kedalamnya, tapi sang anak malah menangis lantaran takut dengan teriakan ibunya yang menurutnya sedang marah,

Mengapa aku menyampaikan ini saudaraku, aku ingin menyampaikan ini, lantaran rasa inginku kalian tahu betapa bahagianya aku saat ini, dan betapa bangganya aku pada kalian, tetap istiqomah tatkala banyak yang melemah, tetap lembut hati dalam mendengar nasihat agama ini tatkala banyak yang  mengeluh bahwa dunia menyibukkannya dan sebelum penyesalan itu datang lantaran tak sempat aku menyampaikan rasa ini pada kalian, padahal teladan kita, Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita. “Jika seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah, karena hal itu mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Itulah ia saudaraku, aku telah mengabarkannya, apatah kalian hendak mengabarkan sesuatu kepadaku??

Apa kabar kalian semua saudaraku,,
Tatkala sekeliling kita tak mendukung kita  untuk mereview ulang kisah kita dulu, maka sampaikanlah pd Rabb kita, "Saksikanlah duhai Allah, hatiku merindukan saat itu dan menginginkan ia kembali maka "tunjukilah jalan-jalannya" duhai Allah, hingga aku bisa mempertahankan nikmat-Mu itu dengan hamba-hamba-Mu yang sholehah di dunia ini". Maka aku percaya dengan Dzat yang tidak pernah menyalahi janji "innallahakaanabikum rohiimaa" sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dari Mu’adz ibn Jabal ra, katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para Nabi dan para Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi).
Itulah ia saudaraku, maukah kalian bersamaku membuat para Nabi dan Syuhada cemburu?