Cerita : Nasi Goreng

Cerita : Nasi Goreng
Tujuh empat satu. aku barusan nyebutin keterangan waktu, meski ndak persis betul karena kurang menyebutkan satuan. Menurutmu, untuk meyakinkan seseorang, haruskah kita menyertai satuan saat menjelaskan seberapa besar cinta kita untuknya? Aku mencintaimu sedalam Palung Mariana, yang dalamnya nyaris 11.000 meter. Contoh saja, meski sebenarnya bukan kalimat ini yang pingin aku tulis, soalnya aku ndak tau satuan cinta itu apa. Katanya, mata lebih banyak berperan dari pada telinga saat menangkap informasi, bedanya bisa lebih dari 20%. Makanya cinta harusnya diperlihatkan, bukan (cuma) dikatakan.

Habis subuh tadi kepikiran buat genapin tidurku yang kurang, tapi ndak jadi. Aku belum nyetrika, disamping sibuk bantu Hesti cari botol tupperwere barunya yang ketriwel. Ungu dibilang pink, maka sesubuh tadi aku sudah jadi korban salah persepsi. Memang ndak ada hubungannya sama aku yang baru bisa tidur pukul 2 dini hari, bukan karena kemenangan Rossi, apalagi karena seprai kasur yang ndak rapi. Aku ndak bisa tidur karena sebelum berdoa mamah telepon, lantas akunya mendadak melow. Mengingat kondisiku saat ini jauh dari layak untuk diekspektasi. Pesimistis itu laiknya virus yang harus dibasmi dengan ketahanan hati, ya. Alhamdulillah, pertama kalinya aku nulis layak jadi laik. Layak di kalimat sebelum-sebelum ini dengan laik di kalimat sebelum ini tentu beda arti ya, semoga aku ndak salah meletakkan perbedaannya.

Hotnews: pagi ini jerawatku nambah satu.

Di meja, berdiri sebotol air mineral kosongyang plastik kemasannya sudah dilucuti Okta sepanjang menunggu nasi goreng disajikan mas-mas penjualnya, tadi malam. Oh satu hal telah terbantahkan : perut kenyang berefek tidur nyenyak, ternyata ndak selalu benar. Nasi goreng semalam porsinya dan pedasnya pas kayak biasa. Mungkin aku ga harus cerita kalau timun dan tomat dipotong dadu. Dulu sih nggak. Nasi goreng yang gerobaknya biasa mangkal di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka. Padahal aku ndak bermaksud jumawa bilang nasi goreng itu nasi goreng langgananku, apakah masih layak jumawa - seseorang yang kesukaannya makan nasi goreng di pinggir jalan? Ya masih lah nggun, jumawa kan konsleting hati. Yaudah aku istighfar. Ketika sampai di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka, gerobaknya ndak ada. Kapan nggun terakhir makan disini? tanya Okta spekulasi. Oh iya, terakhir pas aku masih kuliah D-IV sih. Hehe. Kok mas-mas itu ndak ngasih tau ya kalo pindah?

Emang dia kenal aku?

Baru jalanin motor, eh jalanin? Emang hubungan, DIJALANIN aja? Ulang, baru menjalankan motor 10 meter ke depan, merubah rencana menu makan, Okta nepuk-nepuk pundakku. Itu bukan sik gerobak nasgornya? Pas aku tengok ke tepi jalan sebelah kiri, aku menimbang, Itu bukan ya? Yang mas-masnya ganteng kan? Tambah Okta. Kutengok lagi. Iya bener. hehe. Ntah apa makna dari hehe-ku itu. Aku minggir, melipir mundur. Kok lu tau nasgor yang gua maksud nasgor yang ni? Tanyaku ke Okta, penasaran. Iya, ini juga langganan gua dulu. Bah! Ndak bilang daritadi.

Mas, kok pindah gak bilang-bilang ? Aku nyinyir nanya-nanya. Udah sejak kapan, mas? Apa?? 2 tahun? Selalu gitu deh, masa memang selalu jujur, aku yang lupaan. Lupa sama putaran waktu, lupa sama nasi goreng ini, yang dulu mangkal di gang sebelah kiri jalan depan Alfamart Pramuka. Yaudah mas, ga jadi bungkus. Makan sini aja. Di bawah langit berbintang, di antara bising jalanan. Adalah caraku menebus rasa bersalah, ternyata sudah 2 tahun aku berpaling dari nasi goreng ini. Halah. 

Barusan aku ketiduran, padahal niatnya mau mandi trus dhuha trus ke perpus, perpus ter-oke selampung kalau indikatornya kelengkapan fasilitas - tapi dikit pengunjung. Aku mau cari literatur, referensi, bacaan bergizi. Ah kambing hitam, sebetulnya mau wifian. Sama mau bikin kartu perpus (lagi). Kemarin aku sempet ngecek buku-bukunya, dan terpukau. Mau pinjem tapi kartuku kadaluarsa, cetakan 7 tahun yang lalu. Masih aku simpen. Aku senang liatin ikan-ikan di sana. Mau ikut? Aku mau siap-siap. Bukan karena aku jomblo loh makanya ngajakin kamu. Aku ndak minta temenin, yah paling ndak supaya daftar pengunjung nambah satu. Kamu. Em ndak mau lanjutin dengan “iya, kamu..” ala java comic yang aku lupa namanya. Dia kan guru, tapi hobi melawak. Mirip pemimpin yang hobi dagelan.

 “Tuhan, anugerahilah aku agar tak mencari hiburan untuk menawarkan hati. Mengerti dahulu agar dapat memahami, dan mencintai dengan segenap hati.” Aamiin. Ini doanya Eugene Roa. Tentara medis Inggris dari Kompi Easy, saat perang melawan Jerman. Benar, Band Of Brothers, 2001. 

Aku siap-siap dulu.

Cerita : Random

Cerita : Random
jam 11 kurang 15, tapi belum ngantuk-ngantuk banget. barusan makan nasi lauknya telur dadar bikinan Annis. dia berkali-kali mengingatkan tentang telur dadar kebanggaannya, maklum, jarang-jarang masak. kemarin juga sempet diseduhin white coffee original sama dia, iya, memang harus disebut originalnya, soalnya sekarang ada varian rasa baru. tapi lupa apa.

di tv acaranya bukan empat mata, yang dibahas agak vulgar. apatu, denger kata "ranjang", "ehem-ehem", barusan aja mau aku ganti channel eh ternyata temanya sexersise. bener ga ya tulisannya? anu, pembicaranya dokter boyke, kayaknya penting. gak jadi lah aku ganti. ini ilmu, dan aku bidan. aku butuh ilmu ini di masa depan. :3

ngomong-ngomong, rumah tangga seseorang yang dua hari lalu curhat ke aku apa kabar ya? gitu ya kalo udah berumah tangga. isinya sabar sama ikhlas. ya harusnya memang dilatih dari sekarang sih, ikhlas itu. kalo kata septian, nulis itu karena memang kepingin nulis, bukan karena pingin dibaca. itu kan aplikasi ikhlas, menurutku mah. eh mamah udah tidur kali ya sekarang?

hapeku loh, baru, dapet doorprise seminar IMD.

dokter boyke pake kemeja warna ungu, sama warnanya dengan jilbab jaguar versi terbaru yang aku beli di pasar tengah kemaren. tau kan jaguar yang lama? tebel bikin telinga budeg. kenapa namanya harus jaguar? jilbabku jaman SMA tuh. alhamdulillah ga kenal jilbab paris dulu mah, iyalah anak rohis. kalo bukan jaguar, pakenya dobel dobel. jalannya nunduk-nunduk.

tau kan? aku lagi random sekarang. kata jumali, karena keseringan begadang. iya sih ini juga jerawatan. padahal tadi udah pamit tidur sama erry sebelum mengakhiri chat. dia wisuda 20 hari yang lalu, dan aku baru ngucapin selamat malem ini. tapi dia udah kebal sama sikap lupaan aku, dia biasa aja ga marah. atau dia udah ga ada ekspektasi apa-apa lagi sama aku kali ya. manusia memang harus belajar banyak. sebenarnya tulisan ini juga bentuk belajar atau latihan ikhlas yang (aku anggap) diajarkan septian. eh namanya jadi berkali-kali aku sebut, maaf ya sep. bahkan aku meniru cara nulis dia yang aneh ini. dia memang inspiring sih. adek kelasku waktu sma. apalah arti adek-kakak kelasan kalau meng/terinspirasi ndak bergantung itu. barusan ada serangga mendarat di kacamataku.

aku tidur dulu deh.

Repost, Review, Balasan :Kado dari Erry

Sumber ? Googling.
Dear Erry.
Meski agak konyol karena aku nulis ginian, padahal kamu dimana coba? di rumah  Sumba kan? Kamu bahkan sms aku kalau kamu mau pulang, seolah mau bilang disana susah buat kamu online. Jadi mana mungkin bisa baca tulisan ndak penting ini. Dan kamu tau, apa yang bikin aku nyesel? Sms kamu cuma aku balas "Hati-hati, salam buat ibu ya." hambar, macam basa-basi sama orang yang baru kenal di kapal.

Oiya, ini bukan tulisan hadiah pengukuhan kamu ya. Hastagah! tulisan begini mana layak disebut hadiah. Aku menyadari, belakangan ini aku jauh dari ekspektasi siapapun - sebagai seorang sahabat yang perhatian. Aku sok sibuk sama sesuatau yang sebenarnya gak ada. Iya, aku merasa lagi sibuk tesis, padahal progress juga gak banyak. Status So Busy di BBMku juga harusnya gak perlu kupasang. Sampai akhirnya aku lupa dan ngilang di hari pentingmu : hari Pengukuhanmu sebagai Apoteker. Aaaak. kamu pasti kesel, ya kan? Cuma kamu ndak mau bilang aja... Aku tau lah. Apalagi kalo inget tentang cokelat dan balon-balon yang pernah kusinggung waktu itu. haah, rencana tinggal rencana. Betul katanya, rencana terbaik memang tidak merencanakan apa-apa.

Hari ini har rabu, dan aku lagi flu. Aku abis nonton Conan yang The Eleventh Striker. Jam menunjukan pukul 15:48, pas waktu Ashar. Nggak, aku memang lagi nggak sholat.

Karena lagi di rumah dan adanya fasilitas wifi, bikin aku semena-mena mainan facebook. Iseng kepo riwayat pertemananku dengan beberapa orang yang kuanggap spesial. Temen cewek, cowok juga. Eh maksud spesial itu bukan spesial 'itu' lho. wkwkwk Maksudnya temen-temen yang berkesan. Meski berkesan belum tentu jodoh. HAHAHA #apasih #gakpenting

Sampailah ke akunmu. Iyalah, kamu kan termasuk yang berkesan juga. *eaa. Aku liat tulisan blogmu yang  kamu shared, katamu tulisan sebagai kado ultahku yang ke 24 kemarin. Pas aku baca-baca, kayaknya seru juga kalo aku review. Eh istilah tepatnya review bukan ya? Yah intinya gitu deh. Aku malas mikir ribet, kepalaku pusing karena flu ini. Belum lagi sibuk nahan ingus supaya gak netes di keyboard Marimar. hehe

Langsung deh!

Entah ini udah tulisan keberapa tentang ara.. padahal ga pernah ketemu juga, tapi serasa dekat. bukan saudara juga tapi setelah 2 tahun yang fluktuatif ini, bolehlah saya katakan dia salah satu saudara saya, saudara ketemu gede yang mengajarkan saya gimana bersahabat a la manusia Ah, ini berlebihan. hahaha, bersahabat a la dia. Ara belakangan lagi demen sama #23 facts about me Iya, aku abis baca tulisan seseorang yang lama kukenal. Tulisan tentang fakta2 [kata saya sih pengakuan2] tentang si penulis. Karena menulis tentang diri sendiri entah gimana udah mulai jadi mainstream, saya pengen nulis fakta tentang dia aja yang antimainstream.
Yups, I’ll try to write down #24 facts about her.
  1. 20 juli 2012 Pertama kali muncul, dia ngenalin diri dg nama laras, Tentu saja, aku menginginkan sesuatau yang baru  :3
  2. Butuh waktu juga buat deal dengan nama panggilan, saya ga suka manggil dia laras atau anggun, dan dia ga mau dipanggil lara… jadilah, ara.Waktu itu aku protes, Lara kan artinya sakit. Padahal aku wanita anggun yang sehat :D
  3. saya kira ara itu sengaja dikirim buat mata2in saya. Soalnya, dia kepo banget nanya2 ini itu mulai dari nama saya, arti nama saya, TTL, kuliah, hobi sampai saya lagi apa dan lagi nonton apa.. Aku anaknya memang gitu, suka gak tau malu =)))
  4. awalnya, saya kira dia datang buat ngedakwahin saya soal agama, karena sebelumnya saya bilang benci banget sama ADK. Ternyata, dia ga seseram itu. Wkwkwk ilmu dakwak-dakwahan mu kan lebih banyak dari aku, Rry >.<
  5. Satu-satunya alasan saya membuka diri ke dia pas pertama kali adalah, karena dia bilang, “biarpun al hilang, aku ga akan kemana-kemana, karena aku mau kamu.” Haha Aku macam peramal profesional gitu ya :v  , itu melting banget tau ga buat saya pas itu. Anggap aja saya emang bocah naif yg gampang percayaan, tapi itu emang kata2 paling tulus yang saya dapat waktu itu. *shy :'>
  6. Ara emang asli pede abis…Cuma orang yang benar mengenaliku yang bilang aku anaknya pede. Kalau ada yang bilang aku pendiam artinya dia korban pencitraanku. hahaha. Suatu hari, saya pernah nanya ke dia. “kenapa aku? Dan kenapa baru sekarang kamu muncul?” trus dia jawab dg lagak serius, “ya karena baru sekarang aku dapet nomer kamu.. emang kamu lagi nungguin buat aku hubungin ya,” Eh ini jawaban serius, tau! hahaha dan saya gagal jaim ma dia abis itu.
  7. Tanda kepedean dia yang lainnya : baru sebulan kenal dia udah nodong minta dibuatin tulisan buat proyek ulang tahunnya Wkwkwk malu banget aku. Emang beneran baru sebulan? Kamu dekat banget sik di hatiku, Rry.. :p. Mungkin itu, yang bikin saya inget dia tiap tanggal sembilanbelas dan inget bikinin dia tulisan taun ini.. [anggap aja buat nebus tulisan anniversary 2 tahun kenal yang batal saya tulis juli lalu :D ]
  8. Sebenarnya ara bisa aja jadi pendengar yang baik kalau dicurhatin. Yes, am I. Tapi kalau buat saya, seringkali cukup ditanya “kamu kenapa” aja ma dia udah bikin saya batal curhat dan ngerasa baik2 aja. Soalnya saya udah bisa ngebayangin bakal kayak apa arah obrolan kami nantinya. kalau dia ga ikut ngegalau, pasti ujung2nya sama2 ketawain cerita tadi, haha. :)
  9. ara sahabat pena saya yang pertama, yang mau aja ikutin ide gila saya surat2an via surel. :D Pertama baca ini benar2 kaget. Aku yang pertama??? hahah Dari kecepatan kamu balas emailku, kamu terlihat bagai seorang yang punya banyak sahabat pena, tau! Aku benar-benar tertipu >.<
  10. pas awal2nya saya paling kesel kalau dia udah bilang, “kita punya banyak kesamaan, kayak kamu yang suka nyimpan sms2 lama di hp.” Saya jadi mulai curiga, apa dia emang punya semacam bisa baca pikiran orang lewat sms orang atau jangan2 dia bisa ngehack hp saya. Dan sejak itu, semua smsnya saya back up ke leptop… haha Kebiasaan itu udah ndak aku pakai lagi. Efeknya jadi susah move on.  :p
  11. dia bilang, angka sebelas itu favorit dia.. trus saya bilang, “kamu bukan favoritin angka sebelas ra, tapi ngefans ma aku yang lahirnya tanggal sebelas.” Dan dia cuman ngusir saya, suruh lanjutin tulisan ini. Hihi
  12. Dulu, saya pikir saya ga bakal punya masa depan ma ara. Karena selain kesamaan kami ga punya topik obrolan lagi. Padahal kan kesamaan bisa aja berubah sewaktu waktu. Kayak dia yang dulu doyan makan mie kayak saya, dan sekarang udah ga mie-addictive lagi. Dan tadaaa!! Masa depan saya ma ara sekarang adalah bimbim dan karel. Bayi cakep yang sama-sama kami sayang kayak ponakan sendiri. Yap, suatu hari kita bakalan bertemu dengan mereka yes. :)
  13. saya ini pelupa parah.. makanya suka nulis biar inget.. and sorry to say buat ara, meskipun berkali2 dia cerita soal jumlah saudaranya, saya masih suka kepikir dia anak perempuan satu2nya [padahal kebalik yah? Kayaknya…] *kabur sebelum dilemparin bantal
  14. ara itu setahun lebih tua dari saya, tapi entah kenapa dia baik2 aja saya panggil dengan namanya langsung, tanpa embel2 mbak, kak, teh atau apapun itu..`
  15. masih, sampai sekarang tiap kali muter lagunya greeeen yang judulnya kiseki pasti yang dipikirkan si ara… sampai inspired buat nulis juga yang judulnya sama ma lagunya. :)
  16. Bicara soal kesamaan, kami sama2 suka namain barang2 kesayangan. Kayak leptopnya yang dinamain marimar dan kini harusnya udah umur 4 tahun, dan leptopku yang kukasih nama najmi dan kini udah genap umurnya 3 tahun. Inih aku nulis di Marimar. Salam buat Najmi.
  17. Kesamaan lainnya, sama2 gampang suka dan kepoin orang2 yang tulisannya bagus. Dulu, pas awal2 dia suka banget bilang referensi bacaan saya lebih banyak dari dia, tapi sekarang kayaknya dia lebih banyak tau dari saya… ^^ *yeaay, lempar2in kertas warna ke atas ara.
  18. kami sama sama suka langit dan hujan, entah kalau ara sekarang.. tapi dulu kami paling seneng yang namanya hujan-hujan dan saya biasanya suka pke modus ga bawa payung.. :)
  19. pas pertama kali ara ngasih tau nama blognya larasati-darwis, saya kira dia ngefans ma tere-liye sampe segitunya… eh ternyata, darwis itu nama ayahnya… hmm.. *shy
  20. ara paling kesel, kalau saya udah nginget2 orang yang pertama kali kenalin dia ma saya. Katanya, saya suka gagal muv on kalau inget orang itu. Gak kesel sih... cumaa...
  21. Sampai tulisan ini saya buat, dua tahun berselang. Saya masih sulit memaafkan diri sendiri tiap ngebaca lagi sms saya sama orang itu, but still, I should say thanks to him. Klo nggak karena dia udah mangkel tingkat dewa ma saya waktu itu, mungkin saya ga akan pernah kenal ara. [tapi, emang Allah yang mempertemukan.. melalui dia, sayangnya] Udah, jangan disesal-sesali :)
  22. Bongkar2 sms ara dua tahun lalu
    “Aku gak tau siapa km, bahkan km dmana aja aku gak tau. Pikirku, kita bs temenan lebih kedalam hal2 yg nyata. Bukan membicarakan sesuatu yg cuma bs dibayangkan. Kupikir kita bs temenan kayak orang2 temenan d dunia nyata. Kita berbagi cerita ttg khdupan yg sbenarnya, diskusi ttg kuliah (misalnya),  ttg keluarga, dll. Bahkan kupikir suatu saat kt bs saling bertatap muka lalu bersalaman sambil mnybutkan nama masing2, “Aku Anggun”, dan km menyebutkan nama aslimu :)”
Number:+62878990XXX
Sender:ara
Date:21:07:2012
Time:07:09 PM
 saya baru tahu kalau harapan dia dulu terkabul 2 tahun belakangan ini. Salut sama kamu yang bisa nyimpen sms-sms beginian bertaun-taun. ckckck
  1. Sampai sekarang, saya masih belum ketemu laras. Kemaren, kami sempet janjian mau ketemuan di bandung sekalian iktikaf sehari di daarut tauhid. Tapi ternyata ga jadi karena masing2 punya kendala. Dia sempet janji mau ke pengukuhan profesi saya, dan saya juga punya niat ke lampung kalau dia nikahan… tapi balik lagi, bila Allah menghendaki.. ^^well, kalaupun belum bisa bertemu dalam jangka waktu lama, saya tetap bersyukur sudah dipersaudarakan dengan seorang laras, si pohon terang yang narik saya dari dunia mimpi di antara bintang bintang ke bumi yang nyata ini.
  2. Ara punya target menggenap tahun ini… di usia 24 tahun. dan saya pikir dia udah cukup pantas untuk menggenap. Semoga aja, segera bertemu jodohnya..karena perbaikan diri dan doa itu ikhtiar manusia, sedang Allah lebih mengetahui kepantasan dan waktu yang paling tepat.. ya kan.. ya kan… ^^
Kira kira, begitulah #24 facts about ara.
*spesial buat nomer 23, biar kamu seneng aku panggil kamu laras, ra. haha.. barakallah for your 24yo. be more mature emotionally, spiritually and financially, ok.. ^^ *bighug Bighug jugaaak. Makasih ya :3
barakallahu fiik
for your birthday and our anniversary
latisha, 19 november 2014

Sumber : Tulisan asli Erry

Gitu aja. 

Gak penting kan? 
-.-

Kebidanan : Bersama Menurunkan AKI dan AKB

Kebidanan : Bersama Menurunkan AKI dan AKB
“Iya, Ibu … dorong … baguuus.”

“Tarik nafas panjang, susul dorong …. lagi … iyap, pinter ….”

Inilah beberapa kalimat yang bakal familiar banget sama kamu kalau masuk ke jurusan ini. Jurusan kota mana kak? Itu angkotnya macet terus ibu-ibu disuruh bantu dorong? Zzz …. Bukan lah! ini jurusan kuliah yang khusus, khusus buat cewek-cewek keibuan baik hati, ikhlas, penolong, peduli, tipe pengabdi, dan punya timbunan kesabaran yang banyak. Oiya satu lagi: tidak takut darah.
Inilah dia jurusan KEBIDANAN!

Prok prok prok!

Emang harus banget syaratnya kayak gitu, Kak? Iyap. Kalau kamu mau jadi bidan yang mumpuni sih syarat kasat matanya memang begitu. Syarat yang ga langsung terlihat, cuma Tuhan dan hatimu yang tahu. Syarat yang menurut saya pentingnya tuh melebihi syarat Tinggi Badan Minimal 150 cm. Iya, kamu juga harus punya tinggi badan minimal segitu, dan gak buta warna untuk masuk ke jurusan ini. 

Masa sih, kak? Emang di Kebidanan itu ngapain aja? Bakalan belajar apa aja?
Tau ndak tugas utama bidan itu apa? Kalau dikalimatkan sih simpel banget: menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Jadi, kamu bakalan belajar tentang ilmu yang mendukungmu menurunkan AKI dan AKB. Apa aja? Banyak! Mulai dari kesehatan manusia secara umum, asuhan kebidanan pada kehamilan, melahirkan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan balita termasuk imunisasi, kesehatan reproduksi di tiap siklus kehidupan perempuan, ilmu macam-macam penyakit, obat-obatan, apa itu kesetaraan gender, sampai asuhan pada wanita menopause. Singkatnya kamu bakalan belajar all about kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan wanita, plus fenomena kesehatan ibu dan anak di masyarakat. Noh!

Untuk bisa disebut sebagai Bidan, kamu harus menyelesaikan sekolah bidan dengan jenjang pendidikan D-III. Kuliahnya cuma 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu kamu ndak melulu belajar teori, tapi juga skill dan attitude. Selama kuliah sebagian waktumu dihabiskan untuk praktik di lapangan, bisa rumah sakit umum, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, klinik bidan, puskesmas, dan akan ada saatnya kamu harus masuk ke desa-desa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, belajar sosialisasi, dan mengasah etika kamu. Wow banget kan?

Kamu harus tau, bahwa setelah lulus, diharapkan kamu “berani” turun ke desa-desa untuk menemukan masalah kesehatan di sana dan mencari solusinya. Ibarat tombak, kamu itu berada di ujungnya. Ibarat sungai, kamu itu berada di hilirnya. Pemerintah adalah hulunya. Mereka yang bikin program, sedangkan kamu bersama teman-teman sejawat lain yang menjalankannya. Sampai disini, sudah paham betapa pentingnya peran bidan di masyarakat? :3

Kak, denger-denger, di Kebidanan senioritasnya tinggi ya? Momok banget ….
Iya, tapi sebelumnya baca ini yah. Bidan itu memang profesi yang dekat dengan masyarakat, maka bidan seharusnya memiliki etika yang baik dalam berperilaku dan berpenampilan. Di setiap sekolah kebidanan, bakal ditemukan mata kuliah Etika Kebidanan, bahkan beberapa sekolah menambahkan mata kuliah Humaniora. Di asrama, akan diajarkan cara bicara yang sopan-menghargai, cara bersosialisasi yang baik, dan itu semua diajarkan oleh senior kamu (di asrama). Dengan segala aturan yang dibikin para senior akan ‘menggodok’ kamu menjadi pribadi-pribadi dewasa dan matang. Mungkin pada awalnya kamu akan mengalami stres dan ga betah. Tapi percayalah, akan selalu ada kenangan yang ga rela kamu lupain selama tinggal di asrama bersama kawan-kawan seperjuanganmu.
Pernah ngebayangin ga, nolong orang melahirkan itu gimana rasanya? Ah, subhanallah banget. Dari setengah terperangahnya kamu berbisik dalam hati: “Wah! Ternyata aku bisa ya nolong orang segininya!sampai tiba-tiba wajah seorang ibumu berkelebat di sela-sela suara tangis bayi yang baru kamu tolong, bikin hati gerimis.  Setelah semua yang kamu saksikan dan lakukan, ke depannya kamu pasti tambah hormat berkali-kali lipat pada ibumu. 

Ada lagi yang lebih asik, kuliah di kebidanan ini bikin kamu tau seluk-beluk tentang wanita, iya, tentang dirimu sendiri. Dari hal paling umum sampai yang detail, tentang kewanitaanmu sendiri, tentang apa yang bakalan terjadi dan kamu hadapi di siklus hidupmu selanjutnya. So, kalau sebagian perempuan seusiamu bingung tentang masalah “pribadi”nya dan malu untuk cari tahu, dapat dipastikan kamu ga mengalami kebingungan itu. Bahkan kamu jadi tempat rujukan orang-orang di sekitarmu untuk membebaskan kebingungan mereka tentang urusan seputar kewanitaan. Menjadi tempat cerita dan mencari solusi-nya mama kamu, kakak kamu, sahabat kamu, bahkan nenek kamu. Senang ga sih? Pikirkan, kalau kamu dari awal memang gemar menolong orang, jadi Bidan tuh profesi yang pas buat kamu. 

Siiip, Kak! Terus tentang jenjang pendidikan dan karir, gimana?
Bidan sudah ada program S-1, meski daerah di luar kota besar semisal Lampung, pendidikan tertinggi bidan baru sampai program D-IV. Jadi setelah selesai D-III, kamu bisa mengambil gelar sarjana. Bahkan di Unpad, Unair, dan Unbraw sudah ada program Magister Kebidanan.
Lulusan Kebidanan diutamakan siap jadi bidan PTT atau bidan desa. Karena untuk mencapai tujuan menurunkan AKI dan AKB di atas, memang seharusnya masyarakat di daerah-daerah lah yang menjadi target utama para bidan. Lulusan Kebidanan juga bisa bekerja di BKKBN, RS swasta, bikin Bidan Praktek Mandiri, pengajar, bahkan peneliti.

Kalau dilihat betapa pentingnya peran bidan, seharusnya jurusan ini menjadi jurusan pilihan pertama buat yang niat. Kalau dijadikan jurusan pilihan terakhir, apalagi karena terpaksa, saran saya lebih baik jangan masuk jurusan kebidanan. Ah, tapi kamu memang niat kan makanya baca tulisan panjang ini sampai akhir? :3 

Semoga tercerahkan, ya, dan segera bergabung menjadi srikandinya masyarakat :)

(*)
This article contrived to be submitted to jurusankuliah.com :)