“Iya, Ibu … dorong … baguuus.”

“Tarik nafas panjang, susul dorong …. lagi … iyap, pinter ….”

Inilah beberapa kalimat yang bakal familiar banget sama kamu kalau masuk ke jurusan ini. Jurusan kota mana kak? Itu angkotnya macet terus ibu-ibu disuruh bantu dorong? Zzz …. Bukan lah! ini jurusan kuliah yang khusus, khusus buat cewek-cewek keibuan baik hati, ikhlas, penolong, peduli, tipe pengabdi, dan punya timbunan kesabaran yang banyak. Oiya satu lagi: tidak takut darah.
Inilah dia jurusan KEBIDANAN!

Prok prok prok!

Emang harus banget syaratnya kayak gitu, Kak? Iyap. Kalau kamu mau jadi bidan yang mumpuni sih syarat kasat matanya memang begitu. Syarat yang ga langsung terlihat, cuma Tuhan dan hatimu yang tahu. Syarat yang menurut saya pentingnya tuh melebihi syarat Tinggi Badan Minimal 150 cm. Iya, kamu juga harus punya tinggi badan minimal segitu, dan gak buta warna untuk masuk ke jurusan ini. 

Masa sih, kak? Emang di Kebidanan itu ngapain aja? Bakalan belajar apa aja?
Tau ndak tugas utama bidan itu apa? Kalau dikalimatkan sih simpel banget: menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Jadi, kamu bakalan belajar tentang ilmu yang mendukungmu menurunkan AKI dan AKB. Apa aja? Banyak! Mulai dari kesehatan manusia secara umum, asuhan kebidanan pada kehamilan, melahirkan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan balita termasuk imunisasi, kesehatan reproduksi di tiap siklus kehidupan perempuan, ilmu macam-macam penyakit, obat-obatan, apa itu kesetaraan gender, sampai asuhan pada wanita menopause. Singkatnya kamu bakalan belajar all about kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan wanita, plus fenomena kesehatan ibu dan anak di masyarakat. Noh!

Untuk bisa disebut sebagai Bidan, kamu harus menyelesaikan sekolah bidan dengan jenjang pendidikan D-III. Kuliahnya cuma 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu kamu ndak melulu belajar teori, tapi juga skill dan attitude. Selama kuliah sebagian waktumu dihabiskan untuk praktik di lapangan, bisa rumah sakit umum, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, klinik bidan, puskesmas, dan akan ada saatnya kamu harus masuk ke desa-desa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, belajar sosialisasi, dan mengasah etika kamu. Wow banget kan?

Kamu harus tau, bahwa setelah lulus, diharapkan kamu “berani” turun ke desa-desa untuk menemukan masalah kesehatan di sana dan mencari solusinya. Ibarat tombak, kamu itu berada di ujungnya. Ibarat sungai, kamu itu berada di hilirnya. Pemerintah adalah hulunya. Mereka yang bikin program, sedangkan kamu bersama teman-teman sejawat lain yang menjalankannya. Sampai disini, sudah paham betapa pentingnya peran bidan di masyarakat? :3

Kak, denger-denger, di Kebidanan senioritasnya tinggi ya? Momok banget ….
Iya, tapi sebelumnya baca ini yah. Bidan itu memang profesi yang dekat dengan masyarakat, maka bidan seharusnya memiliki etika yang baik dalam berperilaku dan berpenampilan. Di setiap sekolah kebidanan, bakal ditemukan mata kuliah Etika Kebidanan, bahkan beberapa sekolah menambahkan mata kuliah Humaniora. Di asrama, akan diajarkan cara bicara yang sopan-menghargai, cara bersosialisasi yang baik, dan itu semua diajarkan oleh senior kamu (di asrama). Dengan segala aturan yang dibikin para senior akan ‘menggodok’ kamu menjadi pribadi-pribadi dewasa dan matang. Mungkin pada awalnya kamu akan mengalami stres dan ga betah. Tapi percayalah, akan selalu ada kenangan yang ga rela kamu lupain selama tinggal di asrama bersama kawan-kawan seperjuanganmu.
Pernah ngebayangin ga, nolong orang melahirkan itu gimana rasanya? Ah, subhanallah banget. Dari setengah terperangahnya kamu berbisik dalam hati: “Wah! Ternyata aku bisa ya nolong orang segininya!sampai tiba-tiba wajah seorang ibumu berkelebat di sela-sela suara tangis bayi yang baru kamu tolong, bikin hati gerimis.  Setelah semua yang kamu saksikan dan lakukan, ke depannya kamu pasti tambah hormat berkali-kali lipat pada ibumu. 

Ada lagi yang lebih asik, kuliah di kebidanan ini bikin kamu tau seluk-beluk tentang wanita, iya, tentang dirimu sendiri. Dari hal paling umum sampai yang detail, tentang kewanitaanmu sendiri, tentang apa yang bakalan terjadi dan kamu hadapi di siklus hidupmu selanjutnya. So, kalau sebagian perempuan seusiamu bingung tentang masalah “pribadi”nya dan malu untuk cari tahu, dapat dipastikan kamu ga mengalami kebingungan itu. Bahkan kamu jadi tempat rujukan orang-orang di sekitarmu untuk membebaskan kebingungan mereka tentang urusan seputar kewanitaan. Menjadi tempat cerita dan mencari solusi-nya mama kamu, kakak kamu, sahabat kamu, bahkan nenek kamu. Senang ga sih? Pikirkan, kalau kamu dari awal memang gemar menolong orang, jadi Bidan tuh profesi yang pas buat kamu. 

Siiip, Kak! Terus tentang jenjang pendidikan dan karir, gimana?
Bidan sudah ada program S-1, meski daerah di luar kota besar semisal Lampung, pendidikan tertinggi bidan baru sampai program D-IV. Jadi setelah selesai D-III, kamu bisa mengambil gelar sarjana. Bahkan di Unpad, Unair, dan Unbraw sudah ada program Magister Kebidanan.
Lulusan Kebidanan diutamakan siap jadi bidan PTT atau bidan desa. Karena untuk mencapai tujuan menurunkan AKI dan AKB di atas, memang seharusnya masyarakat di daerah-daerah lah yang menjadi target utama para bidan. Lulusan Kebidanan juga bisa bekerja di BKKBN, RS swasta, bikin Bidan Praktek Mandiri, pengajar, bahkan peneliti.

Kalau dilihat betapa pentingnya peran bidan, seharusnya jurusan ini menjadi jurusan pilihan pertama buat yang niat. Kalau dijadikan jurusan pilihan terakhir, apalagi karena terpaksa, saran saya lebih baik jangan masuk jurusan kebidanan. Ah, tapi kamu memang niat kan makanya baca tulisan panjang ini sampai akhir? :3 

Semoga tercerahkan, ya, dan segera bergabung menjadi srikandinya masyarakat :)

(*)
This article contrived to be submitted to jurusankuliah.com :)