Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Friends. Tampilkan semua postingan

21 April 2015

Sagitarius 3 : Teteh




Tinch, Teteh, Saya, Sehari pasca Capping Day. 2009.

Kelas telah selesai dengan kegaduhannya, digantikan suara khas lembar-lembar kertas ujian yang saling bergesekan, resah untuk dibuka. Mungkin sekitar Oktober 2008. Siang itu di kelas 4N, ujian bahasa inggris mahasiswi kebidanan Malahayati kelas 1A sedang berlangsung.
Hampir semua dari kami merasakan kegugupan yang sama. Alih-alih dosen senior super tegas itu yang mengawasi kami, justru kami yang waspada mengawasi gerak-geriknya. Haha. Efek gugup yang mendalam. Kecuali seseorang yang duduk di barisan nomer dua paling depan –sebelah kiri saya - yang nampak kalem sekali. Tanpa gerakan yang gelisah, dengan tatapan fokus pada lembar jawaban. Gerakan matanya yang cool berpindah dari lembar soal ke lembar jawaban, tangannya fasih menulis jawaban soal per soal. Baru kemudian saya tahu, cewek tembem hitam manis yang penampilannya sederhana  itu bernama Eka Afriyani, mahasiswa yang –ternyata- englishnya terOK sekelas saat itu. Saya menyimpan kekaguman, dan diam-diam menjadikannya ‘rival’ lain di kelas selain Tinch. Saya harus waspada mendekatinya. Muehehe.
Beberapa waktu berlalu, saya menemukan banyak kesamaan di antara kami. Kami sama-sama dekat dengan Tinch. :p Sama-sama simpel, sama-sama betah ngendon di asrama sepanjang weekend, sama-sama tinggal di kamar deretan sebelah kanan, sama-sama polos, dan sama-sama mengincar ranking pertama. Dan, u know what? IPK semester pertama kami angkanya sama. Dengan sama-sama urutan ketiga tertinggi seangkatan, dan tentu saja harus sama-sama saling puk-puk karena ndak bisa melampaui Tinch di urutan pertama, yang IPKnya nyaris sempurna. *salaman*
Setelah semester pertama usai, kami mulai longgar dalam persaingan ‘gede-gedean IPK’. Keakraban kami ndak lagi dipicu oleh tugas-tugas kuliah, tetapi lebih ke sesuatu yang pribadi. Beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kenapa Teteh lebih betah di kamar orang lain ketimbang kamarnya sendiri, membuatnya sangat rajin door to door menyambangi kamar-kamar tetangganya, terlebih kamar kami. Untuk sekedar berbagi makanan, banyolan, mie instan, air minum, cabai rawit, cerita, nasi bungkus, rangkuman, tugas kuliah, dan uang saku. Haha. Dan dengan sebab yang absurd, mulailah saya memanggilnya ‘Teteh’ dan Teteh memanggil saya ‘Emak’. Teteh akhirnya dinobatkan sebagai kerabat dekat kamar 23-24. Berbeda dari Mbak Nupe, tanpa harus tinggal dalam satu kamar pun kami menjalani hari-hari di asrama dengan penuh keakraban.
April 2011 :
“Tenang sih mak, kalo sama kalian gw gak ragu, pasti bakalan terus sehati walau ndak serumah.” Teteh menolak halus ajakan saya dan Erlin untuk tinggal di Sagitarius 3 setelah keluar dari asrama.
Teteh anaknya care. Sangat care. Menjadi salah satu yang paling cepat nawarin bantuan ketika saya kesulitan. Saat saya sedang sedih atau sakit, teteh ndak cuma beliin makan dan obat tanpa diminta, kepeduliannya juga terlihat dari kata-katanya dan belaian tangannya. Iyap bener, teteh ini bisa ngingetin saya sama mamah di rumah kalau tengah jadi target kepeduliannya. Itu sik yang bikin teteh berbeda dari yang lain. Teteh tuh punya caranya sendiri dalam berkasih sayang antar sesama. Menurut saya, Teteh ini tipe melankolis-sanguinis. Imajinasinya tinggi, menjadi teman berhayal-random saya yang klop. Sensitif dan punya selera humor yang tinggi. Saat ada masalah yang sama-sama kami hadapi, Teteh bisa menjabarkannya dengan baik. Analisanya oke, dan selalu pakai perasaan. :’).
Teteh juga super ekspresif. Misalnya gini, kalau habis berpisah dalam waktu yang agak lama, pas ketemu siap-siap pipi diciumin, dipeluk2, trus dihujani kalimat “maaaak kangen kangen kangennnn!” rada histeris. Dimanapun, kalo liat bayi/balita gembul, subhanallah, Teteh ndak bisa lagi dikontrol. Kadang saya berpikir, pipi bayi itu akan dimakannya. Haha *kidding*. Dengan sikap ‘tidak sungkan’ nya teteh, saya juga jadi ndak sungkan bermanja-manja-uwel-uwelan dengannya. Fyi: Ndak semua teman dekat - saya berani manja-manja kepadanya lho. Karena saya mah gitu orangnya, kadang kalem dan pemalu. :3
Ada 2 kejadian yang saya ndak pernah lupa. Dua-duanya mengandung unsur eyel-eyelan saya ke teteh yang –kayaknya- paling parah sepanjang sejarah pertemanan kami. Pertama waktu jaman skripsi dan saya menjadi satu-satunya penghuni Sagitarius 3 yang paling lambat progressnya. Teteh mulai nanya-nanya dan nasihati saya. Karena kami ndak tinggal bareng dan jadi jarang bertemu,  maka sekalinya bertemu, Teteh menjadi sosok yang paling bawel mempermasalahkan skripsi saya yang ndak ada kemajuan. Dan tentu saja saya lebih nyebelin karena udah salah, ngeyel lagi! Hhi. Suatu kali bahkan saya pernah –mungkin- membuatnya sakit hati. Karena di akhir adu argumen Teteh bilang kira-kira begini: “Udah sih mak jangan egois gitu. Gw cuma ngingetin kok mak. Lo gak perlu lah ngomong kayak tadi..” Habis itu diam. Saya yang waktu itu agak emosi juga terdiam, mengingat apa yang telah saya katakan mungkin menyakiti hatinya. *Iya gak sih teh? Teteh inget gak? Sorry ya. Haha*
Yang kedua di awal 2013. Yang ini saya yakin Teteh udah lupa deh. Ketika itu saya sedang mengalami patah hati. *eaa Oleh sesuatu. Saya mah gitu anaknya, untuk masalah satu itu  ndak begitu terbuka sama siapapun.  Tapi karena begitu mengguncang *gempa kali mengguncang -.-, saya jadi susah menutupi efeknya. Ini agak lebay memang, jadi beberapa kali saya kepergok olehnya sedang gak fokus dengan sesuatu yang sedang saya kerjakan, saya juga terlihat sering menghela nafas. Kemungkinan besar Teteh ndak pernah melihat saya sekacau itu, lantas teteh meminta saya untuk cerita. Saya ndak mau. Teteh terus meminta, saya berkelit. Teteh agak berkeras, saya lebih keras kepala. Waktu itu saya bilang, kalau untuk masalah satu itu akan saya simpan sendiri. Lalu:
“Mak, manusia itu gak bisa dewasa sendirian. Kalo terpaksa menerima keadaan, mungkin iya!” katanya sambil ngeloyor ninggalin saya sendirian. Teteh paham, keras kepalanya saya menyimpan masalah sendiri hanya pencitraan agar terlihat kuat di luar, tapi Teteh tahu lemahnya saya di ‘dalam’. Huhu
So,
Udah 7 tahun kami temenan. Ndak terhitung berapa kali teteh nolongin saya, berapa suapan nasi yang Teteh antarkan ke mulut saya, berapa pelukan yang saya dapetkan darinya, berapa panjang kalimat bijak yang diberikannya untuk saya. Berapa sering teteh menasihati saya, berapa sering momen kompak kami saat menghayalkan hal yang sama, menertawakan sesuatu, melakukan hal-hal konyol bersama. Dan hari ini, tepat di hari Kartini, si Teteh ulang tahun ke 25! Horaaaaay!
Selamat ya teteh sayang... telah memasuki usia perak. Dan kalau benar seperti yang teteh bilang tadi pagi bahwa gw adalah teman yang baik dan menjadi saksi susah-senang hidup teteh selama ini, maka begitupun sebaliknya. Bahkan asal teteh tau, saking banyaknya yang teteh tau tentang gw, gw selalu gagal jaim di depan teteh. Haha. Untuk doa ultah kali ini, simpel aja. Semoga April taun depan teteh sudah menjadi sosok Kartini buat seorang anak di kandungan. *kyaaaaa aamiin :’>

Teteh dan Saya, Maret 2015.
Udah, gitu aja. :)

21 April 2015, dalam kondisi terbuai kenangan dan harapan.
_Emaknya Teteh

18 Maret 2015

Repost, Review, Balasan :Kado dari Erry

Sumber ? Googling.
Dear Erry.
Meski agak konyol karena aku nulis ginian, padahal kamu dimana coba? di rumah  Sumba kan? Kamu bahkan sms aku kalau kamu mau pulang, seolah mau bilang disana susah buat kamu online. Jadi mana mungkin bisa baca tulisan ndak penting ini. Dan kamu tau, apa yang bikin aku nyesel? Sms kamu cuma aku balas "Hati-hati, salam buat ibu ya." hambar, macam basa-basi sama orang yang baru kenal di kapal.

Oiya, ini bukan tulisan hadiah pengukuhan kamu ya. Hastagah! tulisan begini mana layak disebut hadiah. Aku menyadari, belakangan ini aku jauh dari ekspektasi siapapun - sebagai seorang sahabat yang perhatian. Aku sok sibuk sama sesuatau yang sebenarnya gak ada. Iya, aku merasa lagi sibuk tesis, padahal progress juga gak banyak. Status So Busy di BBMku juga harusnya gak perlu kupasang. Sampai akhirnya aku lupa dan ngilang di hari pentingmu : hari Pengukuhanmu sebagai Apoteker. Aaaak. kamu pasti kesel, ya kan? Cuma kamu ndak mau bilang aja... Aku tau lah. Apalagi kalo inget tentang cokelat dan balon-balon yang pernah kusinggung waktu itu. haah, rencana tinggal rencana. Betul katanya, rencana terbaik memang tidak merencanakan apa-apa.

Hari ini har rabu, dan aku lagi flu. Aku abis nonton Conan yang The Eleventh Striker. Jam menunjukan pukul 15:48, pas waktu Ashar. Nggak, aku memang lagi nggak sholat.

Karena lagi di rumah dan adanya fasilitas wifi, bikin aku semena-mena mainan facebook. Iseng kepo riwayat pertemananku dengan beberapa orang yang kuanggap spesial. Temen cewek, cowok juga. Eh maksud spesial itu bukan spesial 'itu' lho. wkwkwk Maksudnya temen-temen yang berkesan. Meski berkesan belum tentu jodoh. HAHAHA #apasih #gakpenting

Sampailah ke akunmu. Iyalah, kamu kan termasuk yang berkesan juga. *eaa. Aku liat tulisan blogmu yang  kamu shared, katamu tulisan sebagai kado ultahku yang ke 24 kemarin. Pas aku baca-baca, kayaknya seru juga kalo aku review. Eh istilah tepatnya review bukan ya? Yah intinya gitu deh. Aku malas mikir ribet, kepalaku pusing karena flu ini. Belum lagi sibuk nahan ingus supaya gak netes di keyboard Marimar. hehe

Langsung deh!

Entah ini udah tulisan keberapa tentang ara.. padahal ga pernah ketemu juga, tapi serasa dekat. bukan saudara juga tapi setelah 2 tahun yang fluktuatif ini, bolehlah saya katakan dia salah satu saudara saya, saudara ketemu gede yang mengajarkan saya gimana bersahabat a la manusia Ah, ini berlebihan. hahaha, bersahabat a la dia. Ara belakangan lagi demen sama #23 facts about me Iya, aku abis baca tulisan seseorang yang lama kukenal. Tulisan tentang fakta2 [kata saya sih pengakuan2] tentang si penulis. Karena menulis tentang diri sendiri entah gimana udah mulai jadi mainstream, saya pengen nulis fakta tentang dia aja yang antimainstream.
Yups, I’ll try to write down #24 facts about her.
  1. 20 juli 2012 Pertama kali muncul, dia ngenalin diri dg nama laras, Tentu saja, aku menginginkan sesuatau yang baru  :3
  2. Butuh waktu juga buat deal dengan nama panggilan, saya ga suka manggil dia laras atau anggun, dan dia ga mau dipanggil lara… jadilah, ara.Waktu itu aku protes, Lara kan artinya sakit. Padahal aku wanita anggun yang sehat :D
  3. saya kira ara itu sengaja dikirim buat mata2in saya. Soalnya, dia kepo banget nanya2 ini itu mulai dari nama saya, arti nama saya, TTL, kuliah, hobi sampai saya lagi apa dan lagi nonton apa.. Aku anaknya memang gitu, suka gak tau malu =)))
  4. awalnya, saya kira dia datang buat ngedakwahin saya soal agama, karena sebelumnya saya bilang benci banget sama ADK. Ternyata, dia ga seseram itu. Wkwkwk ilmu dakwak-dakwahan mu kan lebih banyak dari aku, Rry >.<
  5. Satu-satunya alasan saya membuka diri ke dia pas pertama kali adalah, karena dia bilang, “biarpun al hilang, aku ga akan kemana-kemana, karena aku mau kamu.” Haha Aku macam peramal profesional gitu ya :v  , itu melting banget tau ga buat saya pas itu. Anggap aja saya emang bocah naif yg gampang percayaan, tapi itu emang kata2 paling tulus yang saya dapat waktu itu. *shy :'>
  6. Ara emang asli pede abis…Cuma orang yang benar mengenaliku yang bilang aku anaknya pede. Kalau ada yang bilang aku pendiam artinya dia korban pencitraanku. hahaha. Suatu hari, saya pernah nanya ke dia. “kenapa aku? Dan kenapa baru sekarang kamu muncul?” trus dia jawab dg lagak serius, “ya karena baru sekarang aku dapet nomer kamu.. emang kamu lagi nungguin buat aku hubungin ya,” Eh ini jawaban serius, tau! hahaha dan saya gagal jaim ma dia abis itu.
  7. Tanda kepedean dia yang lainnya : baru sebulan kenal dia udah nodong minta dibuatin tulisan buat proyek ulang tahunnya Wkwkwk malu banget aku. Emang beneran baru sebulan? Kamu dekat banget sik di hatiku, Rry.. :p. Mungkin itu, yang bikin saya inget dia tiap tanggal sembilanbelas dan inget bikinin dia tulisan taun ini.. [anggap aja buat nebus tulisan anniversary 2 tahun kenal yang batal saya tulis juli lalu :D ]
  8. Sebenarnya ara bisa aja jadi pendengar yang baik kalau dicurhatin. Yes, am I. Tapi kalau buat saya, seringkali cukup ditanya “kamu kenapa” aja ma dia udah bikin saya batal curhat dan ngerasa baik2 aja. Soalnya saya udah bisa ngebayangin bakal kayak apa arah obrolan kami nantinya. kalau dia ga ikut ngegalau, pasti ujung2nya sama2 ketawain cerita tadi, haha. :)
  9. ara sahabat pena saya yang pertama, yang mau aja ikutin ide gila saya surat2an via surel. :D Pertama baca ini benar2 kaget. Aku yang pertama??? hahah Dari kecepatan kamu balas emailku, kamu terlihat bagai seorang yang punya banyak sahabat pena, tau! Aku benar-benar tertipu >.<
  10. pas awal2nya saya paling kesel kalau dia udah bilang, “kita punya banyak kesamaan, kayak kamu yang suka nyimpan sms2 lama di hp.” Saya jadi mulai curiga, apa dia emang punya semacam bisa baca pikiran orang lewat sms orang atau jangan2 dia bisa ngehack hp saya. Dan sejak itu, semua smsnya saya back up ke leptop… haha Kebiasaan itu udah ndak aku pakai lagi. Efeknya jadi susah move on.  :p
  11. dia bilang, angka sebelas itu favorit dia.. trus saya bilang, “kamu bukan favoritin angka sebelas ra, tapi ngefans ma aku yang lahirnya tanggal sebelas.” Dan dia cuman ngusir saya, suruh lanjutin tulisan ini. Hihi
  12. Dulu, saya pikir saya ga bakal punya masa depan ma ara. Karena selain kesamaan kami ga punya topik obrolan lagi. Padahal kan kesamaan bisa aja berubah sewaktu waktu. Kayak dia yang dulu doyan makan mie kayak saya, dan sekarang udah ga mie-addictive lagi. Dan tadaaa!! Masa depan saya ma ara sekarang adalah bimbim dan karel. Bayi cakep yang sama-sama kami sayang kayak ponakan sendiri. Yap, suatu hari kita bakalan bertemu dengan mereka yes. :)
  13. saya ini pelupa parah.. makanya suka nulis biar inget.. and sorry to say buat ara, meskipun berkali2 dia cerita soal jumlah saudaranya, saya masih suka kepikir dia anak perempuan satu2nya [padahal kebalik yah? Kayaknya…] *kabur sebelum dilemparin bantal
  14. ara itu setahun lebih tua dari saya, tapi entah kenapa dia baik2 aja saya panggil dengan namanya langsung, tanpa embel2 mbak, kak, teh atau apapun itu..`
  15. masih, sampai sekarang tiap kali muter lagunya greeeen yang judulnya kiseki pasti yang dipikirkan si ara… sampai inspired buat nulis juga yang judulnya sama ma lagunya. :)
  16. Bicara soal kesamaan, kami sama2 suka namain barang2 kesayangan. Kayak leptopnya yang dinamain marimar dan kini harusnya udah umur 4 tahun, dan leptopku yang kukasih nama najmi dan kini udah genap umurnya 3 tahun. Inih aku nulis di Marimar. Salam buat Najmi.
  17. Kesamaan lainnya, sama2 gampang suka dan kepoin orang2 yang tulisannya bagus. Dulu, pas awal2 dia suka banget bilang referensi bacaan saya lebih banyak dari dia, tapi sekarang kayaknya dia lebih banyak tau dari saya… ^^ *yeaay, lempar2in kertas warna ke atas ara.
  18. kami sama sama suka langit dan hujan, entah kalau ara sekarang.. tapi dulu kami paling seneng yang namanya hujan-hujan dan saya biasanya suka pke modus ga bawa payung.. :)
  19. pas pertama kali ara ngasih tau nama blognya larasati-darwis, saya kira dia ngefans ma tere-liye sampe segitunya… eh ternyata, darwis itu nama ayahnya… hmm.. *shy
  20. ara paling kesel, kalau saya udah nginget2 orang yang pertama kali kenalin dia ma saya. Katanya, saya suka gagal muv on kalau inget orang itu. Gak kesel sih... cumaa...
  21. Sampai tulisan ini saya buat, dua tahun berselang. Saya masih sulit memaafkan diri sendiri tiap ngebaca lagi sms saya sama orang itu, but still, I should say thanks to him. Klo nggak karena dia udah mangkel tingkat dewa ma saya waktu itu, mungkin saya ga akan pernah kenal ara. [tapi, emang Allah yang mempertemukan.. melalui dia, sayangnya] Udah, jangan disesal-sesali :)
  22. Bongkar2 sms ara dua tahun lalu
    “Aku gak tau siapa km, bahkan km dmana aja aku gak tau. Pikirku, kita bs temenan lebih kedalam hal2 yg nyata. Bukan membicarakan sesuatu yg cuma bs dibayangkan. Kupikir kita bs temenan kayak orang2 temenan d dunia nyata. Kita berbagi cerita ttg khdupan yg sbenarnya, diskusi ttg kuliah (misalnya),  ttg keluarga, dll. Bahkan kupikir suatu saat kt bs saling bertatap muka lalu bersalaman sambil mnybutkan nama masing2, “Aku Anggun”, dan km menyebutkan nama aslimu :)”
Number:+62878990XXX
Sender:ara
Date:21:07:2012
Time:07:09 PM
 saya baru tahu kalau harapan dia dulu terkabul 2 tahun belakangan ini. Salut sama kamu yang bisa nyimpen sms-sms beginian bertaun-taun. ckckck
  1. Sampai sekarang, saya masih belum ketemu laras. Kemaren, kami sempet janjian mau ketemuan di bandung sekalian iktikaf sehari di daarut tauhid. Tapi ternyata ga jadi karena masing2 punya kendala. Dia sempet janji mau ke pengukuhan profesi saya, dan saya juga punya niat ke lampung kalau dia nikahan… tapi balik lagi, bila Allah menghendaki.. ^^well, kalaupun belum bisa bertemu dalam jangka waktu lama, saya tetap bersyukur sudah dipersaudarakan dengan seorang laras, si pohon terang yang narik saya dari dunia mimpi di antara bintang bintang ke bumi yang nyata ini.
  2. Ara punya target menggenap tahun ini… di usia 24 tahun. dan saya pikir dia udah cukup pantas untuk menggenap. Semoga aja, segera bertemu jodohnya..karena perbaikan diri dan doa itu ikhtiar manusia, sedang Allah lebih mengetahui kepantasan dan waktu yang paling tepat.. ya kan.. ya kan… ^^
Kira kira, begitulah #24 facts about ara.
*spesial buat nomer 23, biar kamu seneng aku panggil kamu laras, ra. haha.. barakallah for your 24yo. be more mature emotionally, spiritually and financially, ok.. ^^ *bighug Bighug jugaaak. Makasih ya :3
barakallahu fiik
for your birthday and our anniversary
latisha, 19 november 2014

Sumber : Tulisan asli Erry

Gitu aja. 

Gak penting kan? 
-.-

17 Maret 2015

20 September 2014

Sagitarius 3 : Novitha CN



“C” Untuk Coiman, dan “N” untuk Naenggolan.Tapi gw cukup panggil Novitha CN aja. Gak perlu embel-embel yang lain. Paling gak ituyang dulu saya yakini selama bertahun-tahun mengenalnya. Sebelum Naruto datang dan mengungkap segalanya. Nyatanya huruf Cdisana bukan untuk Coiman (nama ayahnya), tapi C untuk Christina.            
U know what? Saat tau kebenarannya, saya kecewa dan sangat merasa dibohongi.

 “Yang pernah bilang C untuk Coiman, siapa Nggun?” tanyanya songong.

“Oke well, Gw ngaku, gw memang nebak. Tapi selama ini lo gak pernah meluruskan kesalahan gw, mbak.”. Sungutku

“Terserah. Gw sih enjoy,Coiman bagus juga disandingkan di nama gw. hahaha”  Dan, jangan tanya kenapa, ternyata buatnya bukan hal yang sungguh menyenangkan ‘Christina’ berada di  tengah-tengah namanya.

 “Lo sih enak2 aja. Tapi gw? Lo ga pernah mikirin gimana perasaan gw! Gw merasa bodoh mb, selama 4 taun salah tentang nama lo, padahal kita nyaris selalu sama-sama. Bayangkan saat gw menuliskan nama lo di absen, di kertas handout, di alay friendlist *hehe…nyummon di status, mensyen di twit… otak gw selalu mendefinisikan C disana adalah Coiman, mbak, Coimaaaan. Ah Tuhaaan, ambil saja akuu! ambil saja akuuuuuuu!”
“Gak usah lebay!” *nyambit ekstrak kulit manggis*

( (Itu percakapan diatas ndak benar-benar terjadi. Soalnya kulit manggis dulu belum ada ekstraknya. Muehehehe ) )

Lanjut ya.

Novitha ini anak gaul Medan, gaul banget sampai dia merasa harus merubah nama panggilannya. Ntahlah,apa maksudnya dengan panggilan “Nupe” dari “Novita”. Tapi dia merasa nyaman dipanggil dengan Nupe di sebelah kanan panggilan penghormatan Kakak. Kecuali saya yang bersikeras panggil dia Mbak, terserah, saya orang jawa! *loh

Mbak Nupe pindah ke Lampung bersama keluarganya 6 tahun silam. Pertama masuk kuliah, kata Erlin dia mirip artis cantik Shella Marsha. Tapi saya ndak percaya. Pasti itu pencitraan. Dan benar saja, coba lihat sekarang mb Nupe mirip siapa? Ya mirip banget sama nyokapnya! *kriiiiik kriiiik garing*. Awa-awal masuk asrama, sebenarnya dia bukan berasal dari kamar kami, kalo ndak salah dulu dia kamar No. 5. Dengan alasan yang ndak begitu jelas, di tahun kedua atau ketiga  di asrama, lupa, mb Nupe melakukan  PDKT terhadap kami, tentunya dengan cara berkonspirasi dengan sedikitnya 2 anggota internal selama beberapa minggu, maka berhasillah dia masuk ke dalam komunitas gahol kami. Dan, dengan alasan yang ndak jelasjuga, kami menyambutnya dengan hangat. Tanpa penyelidikan, tanpa interogasi. Padahalkan siapa yang tau, jangan-jangan dia mata-mata yang berasal dari tim suksesc apres lain? *eh *kok? *apaini? Ah terserah. Tapi lihat, betapa welcomenya kami dulu :’>. *benerinkacamatayangmelorot*

Mb Nupe lahir pada 21November 1988. Tiap habis 3 hari aku ultah, dia ultah. Dan dia paling semangat ngajakin tuker kado ala ala gitu. Ih mb, tuker kado kan jaman gw BBQ dulu. Etapi gapapa c. Kan lucu gitu jadinyaaa. (Nupe: Nggak ah, biasa aja.) *grrr

Mb Nupe orangnya meledak-ledak. Terkadang karena hal-hal yang ndak disangka, dia suka bête sekali, atau suka girang sekali. Ada kalanya seperti kebanyakan orang Medan,-maaf tidak bermaksud mengeneralisir- , intonasi bicaranya suka kurang pelan.Tapi so far, saya masih menganggapnya wajar. Mb Nupe seperti juga kebanyakan anak gaul, adalah yang paling update teknologi di antara kami. Selain menjadi rujukan pertama lagu apa yang lagi ngehits saat itu, dia juga seringkali jadi penyiargosip-gosip terbaru di kalangan artis dari lokal sampai internasional, meski gapernah kami minta. Haha. Sangat aktif di medsos terutama instagram, dan pergaulannya cukup meluas.

Satu-satunya yang paling bikin iri mb Nupe adalah ketika melihat saya bertambah berat badan, gatau deh, pokoknya dia ga pernah rela kalau berat badan saya lebih darinya. Salah sendiri dia kalau makan sedikit-sedikit, mana ndak suka sayur pulak. Belum lagi kalau pas makan sering saya rusuhin. Haha. Kalau dia lagi makan dan saya ndak sengaja lewat, hampir pasti saya mendekat, kemudian :  Aaaaa’ mb, Aaaa’, sambil buka mulut lebar-lebar. Dan dia selalu refleks memberikan satu suapannya, suapan pakai tangan. Membuat saya selalu ingat suapan mamah di rumah meski, sorry to say, sentuhan jari-jarinya terasa lebih kurus, ckakak. Sama halnya kalau Mb Nup selesai menyeduh kopi instan, saya sering  ikut bantu menghabiskan. Iseng ngabisin cocholate ball yang sengaja dittaburin diatas kopinya. Kalau sudah begitu, semua penghuni kost diabsen satu-satu dipaksa mengaku. Dan esoknya akan ada lebih banyak coklat yang ditaburi di atas kopinya :), yang kayak gini ni yang bikin sayang sama mb Nup. I miss u mbak, I miss u ntek-ntek an. =)))))

Kadang-kadang saya suka heran sendiri dengan  seperti apa kami berteman. Kami, saya dan mb Nup, ndak selalu memposisikan dia sebagai pihak yang lebih “tua”, meski sesekali saya suka manja-manja padanya. Tapi sependek ingatan saya, dialah yang lebih intens curhat tentang masalah-masalahnya daripada saya yang bercurhat. Padahal saran yang kerap saya berikan ndak selalu dengan cara yang tepat. Saya menyadari hal ini, apalagi dengan anggapan saya sudah mengenal mb Nupe cukup lama, seringkali saya menyampaikan nasihat dengan blak-blakan, tanpa basa-basi dan intro yang panjang lebar. Dari nasihat paling kalem sampai paling ‘dalem’. Mungkin di beberapa kesempatan kata-kata saya pernah  #jleb banget buatnya, dan itu yang saya sesali sekarang. Saat ndak lagi mudah bersua dengannya sekedar saling canda dan tertawa bersama untuk mencairkan suasana.

Nah, kemarin, ng... beberapa hari lalu saya tiba-tiba ingat beberapa orang yang dulu kami sering melakukan obrolan stategis. *gayak, kemudian terbersitlah keinginan untuk update twit. Bunyinya begini :

“kemudian inget orang-orang yang udah lama ndak ngobrol bareng, mereka masih sama kayak dulu gak yah”

Selang beberapa menit ada notif masuk. Seseorang mereplay. Mb Nupe.

“Kalo gua sih masih, lo yang beda...”

Beuh, itu jleb moment banget dalam seharian itu. Saya ndak menyangka mb Nup yang bakalan meReplay, apalagi dengan kalimat yang untuk saya cukup menohok. Iyakah saya sudahberbeda?

Kemudian saya merefleksi diri, yap, belakangan kami memang cukup menjarak. Ntahlah mungkin saya yang menjarak. Jarak yang satuannya bukan meter, tapi hati yang menjarak. Intensitas bertemu memang sudah jauh berkurang, hampir jarang,  japri pun ndak pernah lagi. Ntahlah, apa sebab. Seseorang pernah bilang: “Manusia itu sewajarnya selalu berubah, bergerak.” Dan mungkin ini yang sedang kami alami. Memang ndak terasa, waktu satu tahun sembilan bulan telah membuat banyak perubahan, dan saya merasa mustahil untuk kembali seperti dulu lagi, karena banyak alasan prinsipil, yang ndak harus saya jabarkan disini.
Aisshh, kok jadi serius gini si. :D


Mb, gw mungkin memang berubah, dan meski perubahan ini selalu berusaha gw arahkan supaya lebih baik,ndak berarti semua yang udah kita lalui adalah hal yang buruk. Umur kita udah bertambah banyak mb, tentunya ndak perlu ada hal remeh-temeh yang kita beratkan, kecuali hikmah yang bertumpuk selagi kita dengan sabar mau meraupnya. Mb, masing-masing kita sekarang sedang meneruskan hidup yang ntah perjalanannya macam apa. Semoga segala yang sempatkita timba bersama dulu, sedikit banyak bisa menjadi bekal dalam menaklukan tantangan hidup esok hari. Sayang, kenangan hanya mampu dipelihara, tapi ndak pernah mampu dihidupkan. Tapi percayalah, momen-momen kebersamaan kita yang banyak konyolnya itu *haha* akan gw jaga baik-baik. Ndak ada tempat terbaik menyimpan kenangan kecuali hati, dan disana lah gw menyimpan semua tentang kita.

Gw sayang elo.

*kemudian nangis-nangis haru sambil meluk bantal*

(':

_Dari gw yang selalu unyuk : Ndun Muth Nged_


Nb: catatan ini cuma salah satu dari 15 catatan ttg sosok teman-teman terdekat saya sewaktu kuliah, dibuat dari jaman ntah kapan tapi khusus Novitha CN baru bisa saya selesaikan hariini. Catatan ini sengaja ndak saya mensyen ke ybs. Biarlah Allah yang menggerakkan hatinya buat kepoin wall saya. Hha, biar kayak di film-film yang terduga, trus dia buru-buru bbm bilang miss u too sambil membubuhkan emot peluk cium. :))

Sumber foto : Hasil bongkar semena-mena galeri "Instagram Photos"nya.


21 Juli 2014

[Efek] Diceng-cengin



 
“Ciee Anggun sama Dido ciee… “

*anggunbengong*

“Ciee bajunya sama-sama meraah. Iih janjian yaa....”

*anggunjadibingung*

“Dido, Anggunnya tungguin dong… jangan ditinggalin. ”

*anggun:whaaat??*

“Dido, Anggun minta digendong niih..”

*mati*


Fyi : Dido itu teman ngajiku jaman kelas 6 SD, dan yang melakukan pembulian itu teman-temanku yang lain. Aku juga baru ngeh, jaman baheula bullying ternyata udah ngetrend di kalangan anak-anak TPA.  Dan benar-benar baru ngeh, ternyata disana aku diposisikan sebagai korban. -.-

Namanya Ceng-ceng, jenis bullying ini khusus ditujukan buat calon ‘pasangan cinta’ (oh come on, ini istilah ngeri banget ga sih?) yang berpikir ‘mau dibawa kemana hubungan ini’ aja belum (arrgh istilah apalagi ini?!), apalagi memasuki prosesnya. Dan sakitnya, pelaku ceng-ceng ini melakukan aksinya cuma untuk senang-senang, seru-seruan, dan berkelompok. Ketika  menemukan kedua korban yang dirasa  COCOK,  meski kadang sama sekali ndak mendasar, mereka mulai mencie-ciee setiap polah yang dilakukan kedua korban.  Mereka ini merasa paling tau isi hati korbannya. Isi hati yang terpendam… semacam… ah, berat banget mau bilang istilah Cinta. Yang dibahas aja anak kelas 6 SD. T____T

Tapi UNWIM. Semua orang pernah diCeng-cengin. Pernah kan? Ah masa’ belum pernah? Soalnya kalau belum pernah mau aku ucapin selamat sambil nyodorin seikat mawar. Kamu beruntung. Karena buatku Ceng-ceng itu suatu perilaku sosial yang merugikan. Merugikan perasaan korbannya. *eaaa.

Kita lanjutkan cerita Anggun Kecil-nya. Mungkin, mungkin ya, kalau sekali-duakali doang diceng-cenginnya, hati Anggun Kecil ndak akan berpengaruh apa-apa. Tapi berhubung saban pulang TPA diceng-cengin sama Dido, timbulah vibrasi-vibrasi disana, dengan frekuensi yang semakin lama semakin besar. Hingga oneday, Anggun Kecil nyaris terjun bebas kepada Pacaran. Ya, ini memang gila. Kalau bukan karena Allah sayang, mungkin saat itu Anggun Kecil nurut saja ditarik-tarik teman-temannya menuju suatu tempat yang disiapkan untuk  dilakukan aksi “Penembakan”. Yaa Tuhaaaaan! *ngusapmuka*. Tapi kemudian muncul sebuah ide cemerlang:

“Tunggu sebentar, saya kebelet pipis.” Kemudian Anggun Kecil gak balik lagi. AHAHA

Tapi, Anggun Kecil akui, saat itu ia telah menyukai Dido.

Perasaan macam apa itu? Ntahlah. Aku lupa, mungkin Anggun Kecil pada akhirnya merasa tersiksa, bayangkan, masih sekecil itu sudah bisa-bisanya merasakan sakitnya memendam perasaan. Yang besar aja belum tentu kuat. *kyaaaCurcol. Kalau sekarang sih gampang, semuanya yang telah terjadi anggap saja hal yang konyol. Cerita cinta jaman SD, semana pentingnya sih? Cuma bisa ditertawakan sewaktu-waktu.

Itulah sisi lain Ceng-ceng yang mengerikan. Tentu, dibalik sisi yang menyimpan keseruan yang luar biasa, khusus bagi si pelaku. Aku mengatakan semua ini bukan berarti aku bebas dari perilaku menCeng-cengin teman-temanku. Karena seiring Anggun Kecil beranjak dewasa, ia menjadi andal dalam urusan satu itu. Haha, kok bisa sih? Yaa namanya hidup, kadang di atas kadang di bawah, kadang jadi korban kadang jadi pelaku. Susah ditebak.

Waktu berjalan terus, ceng-ceng demi ceng-ceng (Btw, gw mulai geli sama istilah Ceng-ceng yang disebut berkali-kali. ~o~) telah dilalu Anggun Remaja. Baik posisinya sebagai korban maupun pelaku. Tapi sependek ingatanku, selama SMA aku ndak pernah diceng-cengin yang parah. Mungkin pada segan kali yah ceng-cengin anak Rohis? Idiw. Tapi masa remaja masih panjang, setelah kuliah barulah Anggun Muda terkontam lagi dengan perilaku tak bertanggung jawab satu itu. hoho

Kalau dulu jaman SD, dicengcengin parah masih bengong gak paham. Polos. Kalau sekarang, masih sedikit bisa nyantai sih tapi diakui atau nggak, pasti ada tambahan dilemanya. Mau dicuekin (pelakunya) ? ah temen sendiri, mau diasyikin (Maksudnya ikut nyebur kepada seru-nya si pelaku membuli), nanti keterusan. Fitnah. Disangka senang beneran. Masalahnya ini bukan lagi cerita anak SD yang perasaan ‘suka’ belakangan bisa dianggap cerita konyol. Kalau secara  kebetulan korban satunya memang ‘TIPE GUE’ banget, kyaaaa gawat kan? hati terjangkit virus merah jambu adalah kemungkinan yang wajar, yakin deh kalau udah begitu urusannya bakalan beribet total. Minimal kalau secara sadar korbannya sudah merasakan ada sesuatu, dia pasti buru-buru menghindar. Pergi jauh-jauh untuk menetralisir perasaan. Meski entahlah usahanya bakalan bekerja atau tidak, tapi seenggaknya pasti dicoba. Maka, pertemanan jadi ndak seharmonis dulu, terlebih bagi kedua korban. Jadi gak enakan. Pelaku? Ah mereka sih yang penting seru. Setelah kira-kira korbannya ndak merespon, mereka berhenti. HABIS PERKARA.  Padahal siapa yang tau ada perasaan yang tertinggal disana? Perasaan terlanjur suka. Perasaann yang menyusahkan. Korban disini anggaplah Anggun,  yang di kamus hidupnya ndak ada tuh istilah Pacaran. Yang ketika suka, hanya dipendam. Suka, dipendam. Makin suka? makin dipendam dalam-dalam. Duh.

Sakitnya lagi, ketika kita mencoba klarfikasi kebenaran gossip yag terlanjur beredar, atau menegur pelaku baik-baik. Kebanyakan berdalih : “Ah, becanda doang kali.. sorry sorry kalo lo terganggu” Udah. Begitu disebut perilaku yang gak bertanggung jawab kan? Iya kan?

Jadi paham kan dimana letak merepotkannya diceng-cengin?

Nicholas Sparks berkata :

The Greater The Love, The Greater The Tragedy When It's Over -

Padahal manusia mana yang pingin melewati tragedi besar saat harus mengakhiri perasaan? Ah aku ndak mau bahas sesulit apa itu, yang jelas kekhawatiranku ndak pernah luput selama melalui resiko >> mengabadikan orang yang salah dengan mengenangnya terus-terusan di dalam hati <<  Efek yang mengerikan.

Jadi guys, ada baiknya kita mulai berhenti ceng-cengin orang lain deh. Kalau kamu kira mereka cocok untuk menikah, monggo dibicarakan empat mata. Tanpa orang lain yang mendengar, karena itu bisa menjadi fitnah. Aku rasa sangat manusiawi sekali ketika kamu mengatakan maksud baikmu dengan memenuhi kaidah-kaidah kepatutan. Ndak sekedar menciecie di depan umum, membuat orang lain beransumsi yang tidak-tidak. Dengan begitu, siapapun akan merasa dihargai. Bukan hanya tujuan yang kamu rasa baik, tapi caranya juga kudu baik. Dan detik ini aku berjanji, akan mengakhiri kebiasaan ceng-cengin orang lain hanya untuk  kesenangan semata. Hehe, semoga Allah mudahkan.

Udah, segini aja dulu  tentang ceng-cengan. Semoga bermanfaat.

 ~~~ 


*Betewe, ada yang penasaran sama kabarnya Dido? Hehe terakhir beberapa taun lalu kudengar dari tetanggaku, dia sudah menikah dan punya seorang anak. Mungkin sekarang udah dua kali yah anaknya. Haha. Apapun, semoga dia ndak keselek aku bicarakan disini :D 
Oiya, Dido itu bukan nama sebenarnya :D