Tampilkan postingan dengan label Repost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Repost. Tampilkan semua postingan

6 Maret 2015

Kebidanan : Bersama Menurunkan AKI dan AKB

“Iya, Ibu … dorong … baguuus.”

“Tarik nafas panjang, susul dorong …. lagi … iyap, pinter ….”

Inilah beberapa kalimat yang bakal familiar banget sama kamu kalau masuk ke jurusan ini. Jurusan kota mana kak? Itu angkotnya macet terus ibu-ibu disuruh bantu dorong? Zzz …. Bukan lah! ini jurusan kuliah yang khusus, khusus buat cewek-cewek keibuan baik hati, ikhlas, penolong, peduli, tipe pengabdi, dan punya timbunan kesabaran yang banyak. Oiya satu lagi: tidak takut darah.
Inilah dia jurusan KEBIDANAN!

Prok prok prok!

Emang harus banget syaratnya kayak gitu, Kak? Iyap. Kalau kamu mau jadi bidan yang mumpuni sih syarat kasat matanya memang begitu. Syarat yang ga langsung terlihat, cuma Tuhan dan hatimu yang tahu. Syarat yang menurut saya pentingnya tuh melebihi syarat Tinggi Badan Minimal 150 cm. Iya, kamu juga harus punya tinggi badan minimal segitu, dan gak buta warna untuk masuk ke jurusan ini. 

Masa sih, kak? Emang di Kebidanan itu ngapain aja? Bakalan belajar apa aja?
Tau ndak tugas utama bidan itu apa? Kalau dikalimatkan sih simpel banget: menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Jadi, kamu bakalan belajar tentang ilmu yang mendukungmu menurunkan AKI dan AKB. Apa aja? Banyak! Mulai dari kesehatan manusia secara umum, asuhan kebidanan pada kehamilan, melahirkan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan balita termasuk imunisasi, kesehatan reproduksi di tiap siklus kehidupan perempuan, ilmu macam-macam penyakit, obat-obatan, apa itu kesetaraan gender, sampai asuhan pada wanita menopause. Singkatnya kamu bakalan belajar all about kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan wanita, plus fenomena kesehatan ibu dan anak di masyarakat. Noh!

Untuk bisa disebut sebagai Bidan, kamu harus menyelesaikan sekolah bidan dengan jenjang pendidikan D-III. Kuliahnya cuma 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu kamu ndak melulu belajar teori, tapi juga skill dan attitude. Selama kuliah sebagian waktumu dihabiskan untuk praktik di lapangan, bisa rumah sakit umum, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, klinik bidan, puskesmas, dan akan ada saatnya kamu harus masuk ke desa-desa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, belajar sosialisasi, dan mengasah etika kamu. Wow banget kan?

Kamu harus tau, bahwa setelah lulus, diharapkan kamu “berani” turun ke desa-desa untuk menemukan masalah kesehatan di sana dan mencari solusinya. Ibarat tombak, kamu itu berada di ujungnya. Ibarat sungai, kamu itu berada di hilirnya. Pemerintah adalah hulunya. Mereka yang bikin program, sedangkan kamu bersama teman-teman sejawat lain yang menjalankannya. Sampai disini, sudah paham betapa pentingnya peran bidan di masyarakat? :3

Kak, denger-denger, di Kebidanan senioritasnya tinggi ya? Momok banget ….
Iya, tapi sebelumnya baca ini yah. Bidan itu memang profesi yang dekat dengan masyarakat, maka bidan seharusnya memiliki etika yang baik dalam berperilaku dan berpenampilan. Di setiap sekolah kebidanan, bakal ditemukan mata kuliah Etika Kebidanan, bahkan beberapa sekolah menambahkan mata kuliah Humaniora. Di asrama, akan diajarkan cara bicara yang sopan-menghargai, cara bersosialisasi yang baik, dan itu semua diajarkan oleh senior kamu (di asrama). Dengan segala aturan yang dibikin para senior akan ‘menggodok’ kamu menjadi pribadi-pribadi dewasa dan matang. Mungkin pada awalnya kamu akan mengalami stres dan ga betah. Tapi percayalah, akan selalu ada kenangan yang ga rela kamu lupain selama tinggal di asrama bersama kawan-kawan seperjuanganmu.
Pernah ngebayangin ga, nolong orang melahirkan itu gimana rasanya? Ah, subhanallah banget. Dari setengah terperangahnya kamu berbisik dalam hati: “Wah! Ternyata aku bisa ya nolong orang segininya!” sampai tiba-tiba wajah seorang ibumu berkelebat di sela-sela suara tangis bayi yang baru kamu tolong, bikin hati gerimis.  Setelah semua yang kamu saksikan dan lakukan, ke depannya kamu pasti tambah hormat berkali-kali lipat pada ibumu. 

Ada lagi yang lebih asik, kuliah di kebidanan ini bikin kamu tau seluk-beluk tentang wanita, iya, tentang dirimu sendiri. Dari hal paling umum sampai yang detail, tentang kewanitaanmu sendiri, tentang apa yang bakalan terjadi dan kamu hadapi di siklus hidupmu selanjutnya. So, kalau sebagian perempuan seusiamu bingung tentang masalah “pribadi”nya dan malu untuk cari tahu, dapat dipastikan kamu ga mengalami kebingungan itu. Bahkan kamu jadi tempat rujukan orang-orang di sekitarmu untuk membebaskan kebingungan mereka tentang urusan seputar kewanitaan. Menjadi tempat cerita dan mencari solusi-nya mama kamu, kakak kamu, sahabat kamu, bahkan nenek kamu. Senang ga sih? Pikirkan, kalau kamu dari awal memang gemar menolong orang, jadi Bidan tuh profesi yang pas buat kamu. 

Siiip, Kak! Terus tentang jenjang pendidikan dan karir, gimana?
Bidan sudah ada program S-1, meski daerah di luar kota besar semisal Lampung, pendidikan tertinggi bidan baru sampai program D-IV. Jadi setelah selesai D-III, kamu bisa mengambil gelar sarjana. Bahkan di Unpad, Unair, dan Unbraw sudah ada program Magister Kebidanan.
Lulusan Kebidanan diutamakan siap jadi bidan PTT atau bidan desa. Karena untuk mencapai tujuan menurunkan AKI dan AKB di atas, memang seharusnya masyarakat di daerah-daerah lah yang menjadi target utama para bidan. Lulusan Kebidanan juga bisa bekerja di BKKBN, RS swasta, bikin Bidan Praktek Mandiri, pengajar, bahkan peneliti.

Kalau dilihat betapa pentingnya peran bidan, seharusnya jurusan ini menjadi jurusan pilihan pertama buat yang niat. Kalau dijadikan jurusan pilihan terakhir, apalagi karena terpaksa, saran saya lebih baik jangan masuk jurusan kebidanan. Ah, tapi kamu memang niat kan makanya baca tulisan panjang ini sampai akhir? :3 

Semoga tercerahkan, ya, dan segera bergabung menjadi srikandinya masyarakat :)

(*)
This article contrived to be submitted to jurusankuliah.com :)

6 Maret 2013

Untuk Langit

ni tentang Langit. Yang tak pernah bosan menaungi tiap-tiap episode hidup manusia. Langit menatap dan mengamati, ia mengerti dan menenangkan. Langit diam dan menerima: cahaya Matahari, kelabu  Awan, temaram Bintang. Namun langit selalu menghadiahi Hujan… 

Aku berbohong jika kubilang kalo aku mulai mengagumimu sejak menyelami surah Al-Mulk. Kau memang bagian dari kerajaanNYA, tapi menyadari kau istimewa, caraku lebih sederhana dari itu. Masih butuh waktu yang lumayan lama untuk menemukan kemegahanmu pada ayat-ayat itu. Nanti akan sedikit kujabarkan. Sekarang, aku mau bercerita tentang bagaimana semuanya bermula. Dengarkan ya, langit. :)

Beberapa tahun lalu, sepulang kuliah di hari yang terik. Moodku memang sedang kurang bagus. Matakuliah yang aku kurang sreg kepadaya, juga beberapa momen menyebalkan yang bukanlah kebetulan terjadi di hari yang sama, telah menginjak habis moodku. Terserahlah, aku mau pulang saja!

Aku tau kau memayungiku saat itu, memayungi dengan sinar yang membuatku kegerahan. Aku masih berdiri di parkiran ketika makin lama kepalaku semakin panas kau buat. Mondar-mandir meneliti barisan motor yang semuanya sama di mataku. Kau menghujaniku dengan terik yang keterlaluan, sedangkan apa yang kucari tak kunjung ketemu. Ya, aku lupa dimana memarkir motor. T,T

Dongkol sekali rasanya. Kesana-kesini pandanganku menyapu saentero area parkir. Ingin kuluapkan saja kekesalanku, tapi ntah pada apa. Aku mulai tidak sabaran, aku berhenti, berdiri di tempat, kemudian menarik napas dalam-dalam. Haduuuh kamu tuh ya, kamu pasti tau aku kepanasan, kan? Ingin sekali menengadah dan protes padamu, “Hoi langit! awannya bisa geser dikit gak? mataharinya tuh, melotot terus dari tadi.” Yaha, matahari itu, tau kan, seperti sengaja memanas-manasiku. Pingin deh aku sewot kepadamu. Memasang muka bete dan gantian melototi matahari itu. Menantangnya. “Menantang Matahari” :D

Aku songong sekali, ya? Itu aku, yang setiap kali songong, selalu langsung menyesal. Seperti saat itu, sedetik setelah aku benar-benar menengadahmu, wajah bete ini tiba-tiba jadi melongo, takjub dengan birumu yang menenangkan. Biruuuu sekali. Biru cakrawala. Woaaaw , kalo kata Dzulfy teh , “Cuantiik banget, kakaaaak!” :D Mungkin, kalo saat itu udah booming bilang “wow” sambil koprol, aku udah koprol ngiterin parkiran, deh. Kamu tuh keren banget. Bangeeeeettt! >.<

Aku lama terpaku sambil berdiri menengadah, putihnya awan menghiasi kemilau birumu. Aku terkagum-kagum. Gak sampai satu menit sih, kalo lama-lama leherku bisa kaku kuduk. Hhe

Nah, sejak saat itulah, langit, aku mengagumiku. Aku ngefans sama kamu.
Dari sanalah aku mulai memerhatikanmu. Lebih dari itu, kamu benar-benar menginspirasi aku. Setiap moment penting yang terjadi padaku, tidak pernah kulewatkan tanpa menyimpan warnamu di ingatanku, bahkan berdialog denganmu. Maka aku mulai sedikit banyak mencari tahu tentang kamu, tersusun dari apakah kamu, ada berapa lapis kah kamu, bisa berwarna apa sajakah kamu, apa fungsinya kamu, dan lain-lain, dan sebagainya. Dan… referensi pertamaku adalah Al-Qur’an.


Dan inilah yang sedikit aku tahu.
Langit, dengarin ini ya!

 Allah menciptakan dan meluaskan kamu dengan kekuasaanNYA

“Dan Langit itu kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya” (Adz-Zariyyaat, 51: 47)
Allah menciptakanmu dalam dua masa, tanpa tiang.

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…” |Fushshilat: 12|

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya” |Luqman:10|

 Penciptaanmu adalah sesuatu yang lebih besar dari penciptaan manusia.

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Al-Mu’min: 57)

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya” (An-Naazi’aat: 27


Dijadikannya kamu tujuh, bertingkat, perfect dan seimbang :D

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…” (Fushshilat: 12) “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi....” (Ath-Thalaaq: 12)

” Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Baqarrah: 29)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)….” (Al-Mu’minuun: 17)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (Nuh:15)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (Al-Mulk : 3,4)

Tentu, Allah memberimu Fungsi :)

 “…Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya” |Fushshilat: 12|

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam” (Az-Zumar;39: 5)

Kamu bertasbih pada Allah SWT

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al-Israa’: 44

Sebagai Atap yang terpelihara

”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padannya." (Al-Anbiyaa;21 :32)

Mengembalikan Hujan

"Demi langit yang mengandung hujan" (AthiThaariq; 86: 11)

"... Dan kami turunkan air hujan dari langit..." *Luqman: 10)

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati...” (Az-Zukhruf [43] ayat 11)

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan” (An-Nuur: 43)

“…Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya...” (Al-Mu’minuun: 17-20)


 Dihiasi olehNYA kamu dengan Bintang *.*

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat (langit dunia) dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. (Ash-Shaffat: 6)

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang...” (Al-Mulk:05)

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut…” (Al-An-‘aam: 6)

 Juga Bulan dan Matahari :)

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Nuh:16)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)…” (Yunis: 5)

11 April 2012

Aku Bisa Merubah DUNIA !


Eh, adek tingkat! Percaya gak dengan judul di atas?
Gag percaya???
Sama!!! (haghag)

Saia juga gag percaya pada awalnya, dan bilang kalo orang yang mengatakan hal itu adalah “Mr. or Mrs, Belagu”. Tapi setelah mengalami belajar yang sesungguhnya, sukses maupun gagal, ternyata bisa juga lho kita percaya dengan kata2 di atas. 


“Aku Bisa Mengubah Dunia” 
Caranya? ya dengan belajar!! Kerena dengan belajar kamu bisa mengubah dunia ; dunia yang paling dekat dengan kamu, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati kamu..

Coba dah, sekarang kamu bayangin ada 3 mahasiswa yang lagi duduk dipinggir danau (anggap saja, Danau-danau-an kampus kita). Mereka bertiga, menggunakan kacamata yang berbeda, yaitu kacamata yang berwarna hijau, biru, dan hitam (kreatif, ato kurang kerjaan ya? --a). Si kacamata hijau bilang:
“Wuuuah indahnya danau yang hijau ini….” *mata berkaca2, hidung kembang kempis*
Si biru nyahut:
“Alamakk! Buta kali kau, danau biru dibilang hijau!!” (pura2nya orang batak).  
Orang terakhir, si kacamata hitam, dengan wajah bingung berkata:
“Kepiye tho? Cuaca mendung begini kok dibilang indah?? Enek-enek wae…!”

Nah, kenapa mereka berbeda pendapat? Kenapa ada yang bilang danaunya berwarna biru lah, hijau lah, bahkan hitam? Padahal kan merah! *glodag!* Hehe. 
Yep! Karena mereka mengenakan kacamata yang berbeda. Mereka bisa saja ribut mempertahankan pendapatnya, tapi tidak ada yang paling bener. Semua itu karena mereka melihat dari kacamata yang berbeda (cara mmandangnya yang berbeda).

Demikian halnya dengan belajar. Kalau kita memandang belajar dengan kacamata yang salah, ntah itu biru, merah, hitam, atau burem, maka kita akan memiliki arti belajar yang terbatas. Neh contohnya,
 “Belajar bikin bete”
“Belajar lama2 ntar make kacamata minus lho”  
“Belajar sich bisa ngurangin teman”.
Padahal sebenernya kamu bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda; contohnya, kalo kamu masi mahasiswi tingkat 1, 
”Anfis itu asik”, 
“KDPK itu keren banget!”, atau 
“Konsep Kebidanan? Ajiiiiiiib!” (ghahaha). 
Dan, kalo kamu tingkat II, 
“Askeb 1 bener2 penting!”, 
“Ilmu Kesehatan anak bikint guwe pin cepet2 lulus…. trus nikah!! Haha’ “ (itu sich kata saia), atau, 
“OhMyGod!! Biokimia itu…. GOKIIIIIL!!” 
Nah, kalo smua mata kuliah itu asik dan keren, bahkan gokil, pasti belajar jadi semangat donk?Oleh karena itu, kalo kamu bener2 niat ingin belajar, awali saja dengan menyadari, apakah saya sudah melihat belajar dari banyak sisi? Apakah saya sudah mengenakan kacamata yang benar untuk melihat belajar?

Gitu, setuju gag kalo sekarang saia bilang bahwa sepertinya kamu perlu memakai kacamata baru untuk melihat lebih banyak sisi dari belajar, supaya bisa melihat belajar seindah warna aslinya?!! Okeeeh???

Edisi: HIMADDA
Red: anggun_hijab

17 Februari 2012

Di Perjalanan PULANG itu....

Waktu itu hari senin pagi, pukul enam lebih sedikit mungkin. Berdua Mama aku menunggu bus di pemberhentian bus di kotaku, menuju asrama, -pulang. Iya pulang, karena disanalah rumah keduaku. Tempat berhembusnya nafas selama 2 tahun sudah, berbagi kenyamanan dengan puluhan teman.. ah, benar-benar penuh kenangan. 
Baiklah, aku lanjutkan ceritaku. Saat itu masih pagi memang, dingin dan tidak terlalu ramai kendaraan. Amat mudah mengenali dari jarak jauh kendaraan apa yang akan lewat. Apakah bus atau truk, apakah mobil pribadi atau motor pribadi (hehehe). Cuma hampir 10 menit saja menunggu, bus pun lewat dan berhenti. Kernet turun lalu mempersilahkan aku naik. Wah, penuh namun tidak sampai sesak. Ada bangku “kosong dipaksakan” di deretan paling depan. Aku duduk. Disebelahku seorang ibu memeluk bayinya yang berumur sekitar 2 bulan. Mereka berdua sedang asik “ngobrol” dari mata ke mata, dari hati ke hati. Romantis sekali ibu dan anak itu.
 Jarak antara aku dengan sopir sangat dekat, aku tinggal mengulurkan tanganku saja jika diperlukan untuk menoel pak sopir. Hehehe, Dekat kan??
Perjalanan masih panjang saat seorang bapak di depanku merokok, jojong saja. Tanpa ampun menyerangku dan penumpang lain dengan asapnya. Aku diam saja. Memangnya mau apa? Belum kuat nyaliku menegur si bapak atas asap rokoknya yang merajalela memenuhi ruang nafasku. Lupa dia akan ancaman penyakit jantung-paru yang sedang melirik sinis berniat mempir di jantung-parunya suatu saat nanti. aku hanya berlagak saja terbatuk-batuk, lalu tersenyum pada ibu disebelahku. Maksud hati ingin menyampaikan pesan, “batuk kan guwe gara2 rokok si bapak..! BT!! tapi tetep, kalo senyum masih manis kok gw.. ya kan bu??^_^” (haha) tapi ntah apakah ibu itu bisa menangkap maksud jujurku atau tidak. Dia balas tersenyum lalu melanjutkan “ngobrol” dengan bayinya. Dan dari mulut si bapak tetap mengepulkan asap rokoknya.
Aku bersandar, mengantuk. Ingin rasanya tidur sebentar saja, tapi tidak ah, malu dengan kakek di dekatku yang segar bugar melotot fokus memperhatikan jalan. Tatapannya tidak kosong, tapi berpikir. Iya, sepertinya si kakek sedang berpikir, karena kerut di dahinya terlihat jelas dari sisi samping. Hmmm semakin tua usia, semakin banyak beban kehidupan. Itu wajar kata papaku.

6 Februari 2012

Do'a Cinta-cintaan


Setiap lepas kumenghadap Rabb dunia dan seisinya, mata ini terpejam, lalu tangan ini menengadah, dan setangkup harap kuhaturkan padaNya. .
tak letih2nya ku bermunajat agar kelak dapat bertemu denganmu dengan keadaanku yang terbaik, dengan keadaanmu yang terbaik, dengan cinta, dengan keyakinan, dengan izzah cinta yang berasal dari cinta2 hakiki milikNya. .
Kuharap, sangat kuharap pabila saatnya tiba nanti kutemui dirìmu, hatiku bergetar penuh syukur, air mataku mengalir penuh syukur, dan kudapati dirimu yang menghaturkan d0a sambil kausentuh atas kepalaku dengan penuh syukur. .
Hanya inginku, mempercayakan hidup padamu, pada se0rang yang lembut hatinya, penuh kasih, mencintaiku, mencintai kelak buah hati kita, mencintai ibu-bapakku, mencintai saudara-saudariku, , dengan tulus.
Kutemui dirimu yang ìkhlas dan sabar membimbingku, dan dengan lembut berbicara padaku, dengan senyummu kau perbaiki salahku, wahay yang akan selalu kucintai. .
sebab kuyakin, tak ada laki2 mulia selain laki2 yang memuliakan wanita. Agar kelak kita dapat bahagia d kehidupan selanjutnya. .

Duhai laki2ku kelak,
benar, dengan cintalah kita hidup, dengan cinta kita belajar mencinta, untuk sebuah perm0h0nan cinta kita berusaha, dan cita utama kita iyalah merasakan cinta dari Sang Pemilik Cinta. .
Terimalah indahnya cinta dariku. . Untukmu, dan, sem0ga, selamanya. .
Senantiasa akan kuperbaiki imanku, kehidupanku, p0la pikirku yang mungkin salah, keyakinanku, kuperbaiki k0mitmen hidupku, dan akan kutemui dirimu dengan sebaik-baiknya keadaan diriku. Bukankah wanita baik akan mendapatkan laki2 baik pula? Seperti kamu, wahai yang akan mendampingi hidupku. .

(terinspirasi dr sebuah catatan teman, dibuat 6 September 2009, 13.24 WIB..)

21 Januari 2012

Malaikat yang Dijanjikan (Dua Puluh Satu Tahun Aku)



19 November 1990,
Pagi itu seperti pagi-pagi biasa di bawah langit yang merona
Pagi yang dibisingi  kukuruyuk ayam jantan
Atau pagi yang disisipi langkah orang-orang menuju ladang
Pagi yang matahari pun malu-malu menyingkap sinar emasnya
Seperti enggan mengucurkan cahaya pada bumi yang usang
Pagi yang tak pernah lekang dari ingatan seorang perempuan
Pagi di hari Senin Legi

Ini bukan hanya tentang Pagi

Dialah yang berlelah dalam juangnya
Peluh mungkin telah membasuh tekadnya
Hingga sakit terasa seperti nikmat tersulit
Wajar saja jika pahalanya setimpal jihad
Aku ingat sajak seorang teman:
“Manusia tidak pernah ingin dibuat, Manusia hanya dilahirkan”
Ya, Manusia diciptakan oleh Yang Maha Pemberi ruh dan akal,,
Yang Maha Pembuat Rencana yang kita tak tahu “apa”.
Manusia dilahirkan dengan keringat dan darah
Sedang materinya dari Tanah
Ditimpa emban: mengabdi pada Tuhan
Nyata, dalam Adz Dzaariyaat : 56

Aku mulai berkoar detik itu,
Itu murni isak sedihku,
Mirip rajukan pada Tuhan,
Merengek supaya dikembalikan ke surga.
Beritanya, manusia sulit menemukan kemuliaannya di dunia.
Benarkah?

Terisak,
Pagiku remuk dikoyak gelisah 
Merasa akan sulit bahagia tidak seperti di surga
Disini tercium bau kefanaan
Disini, segaris pun tak terbias siluet kedamaian
Aku merindu surga, Tuhan..

Mendengar bahasa pertamaku, perempuan itu ditelan syukur
Yang terekam hanya tangis polosku
Berontakku tidak tampak bahkan di pelupuk
Tatapan lelah perempuan itu berair haru
Dia tenggelam peluh yang setetesnya seharga surga
Seperti malaikat yang kelelahan mengepak sayap
Seperti gulungan ombak tegar yang kini membuih putih putih
Usapan tangan berkeringatnya menepi dipelipisku
Mirip tepukan di pundak: menyadarkan
Mirip pelukkan malaikat: menenangkan
Menghantam resah
Membunuh gelisah

Laksana bidadari dari langit Tuhan yang tersenyum
Mendekap tubuhku yang merah bercampur darah
Mengecup lebih dari sekedar keningku
Tepat di kalbuku
Aku tertahan sejadi-jadinya
Aku terhanyut dalam desiran kerinduan yang dalam
Ini
Seperti
Kembali ke surga

Duhai, Tuhanku….

Diakah

Malaikat yang Kau janjikan ???

_19112011
Dua Puluh Satu Tahun Aku

20 Januari 2012

Dear, Papa... (Dua Puluh Tahunku)

Ketika kau mengusap kepalaku,
terasa hangat kasih sayang dan cinta..
Kau pancarkan ketulusan dengan wajah ikhlasmu,
Kau berikan senyum kebanggaan dan tatapan pengharapan,,
dan hatiku menangis..

Ntah apa yang dapat kuberikan selain do'a akan keselamatanmu,
begitu banyak cinta yang kau beri, hingga kadang terlupa olehku..

Maafkan Papa,
aku terkadang hilaf, aku terkadang lupa..
dan saat tetesan airmata menyertai kalimat ini,
aku teringat akan pesanmu disetiap kata-kata bijakmu..
maka kucium punggung telapak tangan kananmu yang sarat akan kehangatan kerja keras menghidupi anak-anakmu ini,,,
dan akupun pergi dengan segenggam harapan.
aku pergi Papa, untuk mengejar cita-cita yang kini terasa berat kujalani..
hingga aku tersadar bahwa berjuta cinta yang kau beri harus kubalas dengan usaha kerasku..
kutau semua takkan lunas..
tapi tekad ini telah bulat untuk memberikan kebanggaan untukmu..
Papaku...



untuk yang selalu kucintai, 
Papa

_19112010
Dua Puluh Tahunku

19 Januari 2012

Sembilan Belas Tahunku


19 tahun menumpang hidup di atas bumi, dititipkan aku oleh seorang wanita penuh cinta dan sayang, sellalu kupanggil ia Mama.. dan seorang laki-laki kuat dengan kerut pengorbanan di wajahnya, selalu kusebut ia dengan Papa..
Aku teringan saat TK dahulu, Mama memakaikan jilbab hijau seragam setiap rabu,,
Aku teringat saat mengaji pada ustadz pilihan Papa. Jika saat itu aku mengajukan beribu aalasan untuk tidak mengaji karena lelah, Papa dengan tegas tulusnya mengantarku hingga pintu depan..
Teringat kembali di masa SDku, Mama menjahitkan rok rampel merah untuk menggantikan rok sekolahku yang telah kekecilan..
Teringat kala itu, saat Papa memarahiku karena sikap nakalku hingga membuat adik menangis..
Teringat lagi saat itu, saat Mama marah besar karena aku mencoba mengigit tangan dokter gigi tepat ketika sang dokter dengan lancangnya memasukkan besi panjang ke mulutku..
Ah, teringat kembali aku saat diajarkan 3 do’a oleh Papa, yang saat itu juga aku harus menghapalnya..
Teringat dan teringat, sepanjang masa SMAku,dengan sabar dan ikhlasnya Mama mendengar ceritaku setiap hari sepulang aku sekolah.. aku kadang mengira Mama merasa bosan, tapi toh tetap saja Mama memperhatikan detail ceritaku..
Teringat saat ujian Akhir SMA, Ujian2 saat kuliah, dan terakhir saat UTS lalu, Papa selalu bertanya, “Besok ujian apa?? Jam berapa??”.. ah, spontan aku tau, Papa tak akan lepas dari dzikir dan do’anya di atas sajadah sepanjang aku menghadapi soal2 ujian saat itu juga..
Dan baru beberapa hari lalu, 3 kali Mama telefon, katanya, hanya ingin mendengar suaraku saja..
Ah, baru tersadar, begitu lama aku tak menjenguk mereka. Sebuah alasan klise yang memaksa mereka untuk mengerti: SIBUK KULIAH, TUGAS dan UJIAN.
Dan hari ini bertambahlah umurku...
19tahun sudah menapaki hidup diiringi segenap pengorbanan dan kerja keras mereka.. aku tak pernah tau tepatnya berapa banyak peluh dan airmata yang mereka tumpahkan untukku, tapi mungkin aku bisa tenggelam olehnya..
Aku akan membahagiakan mereka, aku akan menjadi yang membanggakan..
“inilah saatnya untukmu melangkah, anggun.. tidak boleh hanya berdiam saja... ibumu menanti suksesmu.. Ayahmu menanti bahagiamu.. “
Terimakasih, ibunda.. terimakasih atas segalanya..
Cintaku pun takkan terputus untukmu, ayahanda.. aku mencintai kalian dengan seluruh cintayang kumiliki..
Kupersembahkan seutuhnya cinta yang selama 19 tahun kujaga..
Untukmu, Orangtuaku...^^

#Dinaungi perasaaan Homesick yang mengecilkan


_19112009
Sembilan Belas Tahunku

12 Januari 2012

Sebelum Cinta Ini Menjadi Haram


            Maka Selayaknya sebelum senja merajai hari, aku akan menutup semua pintu.. dan kubiarkan semua yang mengusikku menguap oleh cahaya matahari yang hampir habis…Maka apapun tentangmu.. tidak akan kusisakan.. apapun… demi menghindari sebuah dosa.

Tidak ada yang salah karena cinta adalah fitrah
Namun semua yang terjadi membuatku kecewa pada diri ini.. atau… padamu.
Bagaimana mungkin kau biarkan tiap-tiap kalimatmu menjadi magic bagiku? Bagaimana mungkin kau rubah pndanganku terhadap pribadimu menjadi lebih indah? Bagaimana mungkin kau biarkan hati ini bersemi ketika membaca sepotong nasihatmu? Demi Tuhan bukan rayuan yang kau tulis, atau kalimat gombal yang kau sertakan.. Tapi karena betapa rapuhnya hati ini hingga membuatnya bergetar. Aku lupa memagarinya hingga membuatnya lengah, dan aku lupa bahwa kau begitu jauh dan sulit untuk kugapai..

Tapi rasa ini terlanjur menembus kalbu.. kau pikir aku tak mencoba membentenginya? Membuat rasa itu tidak berlama-lama di hatiku?
Ketahuilah bahwa aku telah sering mencai-cari kealpaan ditiap kalimatmu, atau di kehidupan yang kau jalani. Dan aku telah berulang kali mencari dimana letak cacat tingkah lakumu.
Hingga aku menyerah…….
Nyatanya setiap mendengar sosok pribadi milik orang lain, maka bertambah kagumlah aku padamu.. lalu apa yang harus aku perbuat selain doa? Dan mengharap semua menjadi indah jika keinginanku sejalan dengan takdir-Nya.. agar rasa ini menjadi halal buatku. Bukankah mudah bagi Allah mengubah siang menjadi malam? Atau membelah laut merah hingga menenggelamkan fir’aun? Bukankah mudah bagi Allah menurunkan hujan di tanah gersang?

Namun yang terjadi membuatku tertegun.. hingga kusadari bahwa hidup sepertinya tak semudah yang diinginkan. Mungkin Allah telah memiliki jalan lain untuk diriku… atau dirimu….Bahwa Dia telah menetapkan orang lain untuk memilikimu, yang pasti akan kau cintai sepenuh jiwa..
Tidak mudah memang untuk merelakan hati ini tergores, namun syukurlah masih iman yang menggenggam hati ini. Kuyakini, bahwa jalan yang terbaik adalah jalan milik-Nya.. dan cinta yang hakiki adalah milik Yang Maha Mencintai.. maka tak sepantasnyalah jika aku goyah..

Sebelum kau terikat oleh ikatan halal dengannya, dan sebelum cinta ini menjadi haram, kuikhlaskan semua terkikis oleh angin kencang kenyataan.. berbahagialah wahai yang kukagumi.. sesungguhnya aku akan senang pabila ibadahmu diberkahi Allah… dan di dalamnya bahagia menyertaimu..

Dan, sampai kutulis untaian ini, masih bersusah payahlah aku untuk mengakhirinya.. tapi ketahuilah, jika aku mencintaimu, itu karena besarnya cintamu pada Tuhanku..



_Akhir 2009
Terinspirasi dari kisah seorang teman