Tampilkan postingan dengan label Learn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Learn. Tampilkan semua postingan

27 April 2016

Berbincang dengan Masa Lalu

Halo, Masa Lalu.

Mungkin memang seharusnya kita bicara, mengatakan yang perlu dikatakan, membuka apa yang menjadi tabir, melepaskan ganjalan di pintu ikhlas. Bukan, bukan karena segalanya belum usai, tapi ada hal baik yang mungkin terjadi setelah pembicaraan ini selesai : kelapangan hatiku.

Beberapa hal baik tentangmu telah kusyukuri. Mengalamimu adalah fase indah dalam hidupku. Bayangkan jika manusia tidak dianugerahi ingatan tentangmu, istilah guru terbaik sepanjang peradaban bisa jadi tak pernah ada. Ialah pengalaman.

 Denganmu, tidak ada yang tertinggal kecuali yang  istimewa, dan aku selalu bersyukur pada Tuhanku. Kau memberi pemaknaan bahwa hidup bukan hanya tentang hasil tapi proses, bukan hanya tentang pencapaian tapi tantangan, bukan hanya tentang kemudahan tapi hal sulit. Kau, satu alasan yang membuatku betah berlama-lama berdiam dengan segudang bayanganmu di kepalaku, senyum di wajahku, dan rytme seru dalam kata-kataku. Tapi kau juga alasan sama yang membuatku berjanji, tak kan ada satu-dua pengulangan di beberapa bagian lagi di kemudian hari. Haha. Bukankah setiap hal selalu mempunyai dua sisi? Begitu juga denganmu, masa lalu. 
Dan atas pengalaman kebersamaan kita, aku belajar tentang apa yang sebaiknya kuingat dan sebaiknya kutinggalkan dengan segera.

Masalalu, mau kuberitahu?
Ada sesuatu yang ingin sekali kulupakan tapi kau enggan mengiyakan. Hingga aku semakin yakin, bahwa tidak selamanya engkau menjadi hal terjauh untuk dijangkau.. Karena di beberapa titik masa, justru kau lari mengejar kami : Manusia bersama alam bawah sadarnya.

Enggan sekali kuruntuhkan egoku untuk mengakui, bahwa saat ini kudapati diriku terusik dengan satu masa olehmu . Satu waktu. Satu cerita. Mungkin juga perasaan. Tidakkah kau tau? Aku sedang berdiri di tebing antara kau dan mimpi-mimpi besarku bersama satu titipan berharga, seseorang (?) yang akan segera tiba. Kusebut ia cinta. Maka , aku perlu berdamai denganmu. Rasakan kesungguhanku.

Masa Lalu,
Aku hanyalah manusia dengan segala kefanaan. Kesalahan-kesalahan yang murni karena ketidaktahuan, kebodohan, dan banyak kelalaian, tentu saja  ada untuk mengajarkan bahwa: Ketidakmampuan manusia menampik bagian kecil dari dirimu adalah bentuk ketidakberdayaannya. Maka apakah pantas kami congkak melencengkan hikmah yang kau simpan selama ini?
Tuhan... untuk menaklukkan masa yang telah lalu pun kami tak mampu.

Masa Lalu,
Kemarilah, peluk aku erat, kita berdamai saja. Setelah ini hanya ada kelapangan hati. Dan kau bisa kembali ke posisi semulamu.
Yang terjauh untuk dijangkau.
Karena posisi terdekat, telah dimiliki oleh :
Kematian.



:)
Masa Lalu, Aku, dan Berhenti Menjebakku.
26 April 2016. Kamar Kost, tepat setelah satu tabir hati tersingkap.

23 Agustus 2014

Ndak Sabar Memilikimu :)


Aku akan menuntutmu menjadi anak yang sempurna, jika definisi sempurna bagiku adalah kebahagiaanmu.

Tidak pernah kuajarkan padamu bahwa harta sumber bahagia kita, karena bahagia kita ada pada rasa syukur atas kesederhanaan ini, hingga mampu membuatmu berbagi pada sesama.

Jika kau meminta sesuatu tapi tidak serta-merta kami penuhi, jangan bersedih hati. Kami hanya ingin membiarkanmu terus bermimpi, mengingini sesuatu, kemudian terdorong dan berusaha untuk menggapainya. Karena kesusah-payahanmu dlm mmperjuangkan mimpi itulah yang nantinya akan menguatkanmu.

Maaf jika pada awal-awal masa sekolahmu kau tidak pandai menyebutkan satu-persatu deretan gambar dalam bahasa inggris dan mandarin, karena kami memang belum mengajarkanmu hal itu. Mengajarkan Al-Qur’an sepanjang masa balitamu sudah cukup menguras waktu kita.

Masa emasmu adalah masa paling luar biasa untuk mengenalkanmu pada Al-Qur’an. Mengenalkan maknanya di setiap pejalaran hidup dalam keseharian kita. Mengenalkan padamu sebuah panduan hidup manusia.

Ibu akan menahan diri dari handphone selama mengandungmu sampai kau lahir dan lulus S1 ASI Ekslusif. Tidak ibu biarkan perhatian ini terbagi dengan yang lain. Kita akan sering-sering bicara empat mata tanpa gangguan. Hanya antara kau dan aku, hanya antara hatimu dan hatiku.

Sayang, menurutlah pada Kakekmu. Beliau akan sangat memperhatikan perkembanganmu, hingga jauh sebelum kau lahir beliau berpesan: agar kau sudah diajarkan untuk sholat wajib di masjid sejak umur 3 tahun
.
Jika kebanyakan bayi di dunia ini memilih “mama” “papa” untuk kata pertamanya, Ibu akan berusaha memilihkan “Allah” untuk kata pertamamu.

Membesarkanmu dengan nilai-nilai agama bukan sekedar mimpi bagi kami, itulah visi terbesar kami. Sebuah langkah paling masuk akal dalam memperjuangkan kejayaan agama ini, kau adalah penerus dakwah ini, Kau percaya? Segalanya telah kami persiapkan jauh sebelum kau lahir. Kau telah ibu sebut dalam tiap doa akhir sholat bertahun-tahun sebelum ibu bertemu ayahmu dalam ikatan suci.

Meski ibulah yang setiap waktu mendampingimu, kau jangan pernah menghawatirkan betapa ayahmu mengerti akan dirimu. Setiap malam setelah menidurkanmu ayah akan selalu meminta ibu bercerita detail tentang perkembanganmu setiap harinya. Dan beliau akan selalu bangga.

Bertutur halus pada ibu, menghabiskan makanan yang ibu buatkan untuknya, dan tidak suka melihat ibu kelelahan, adalah cara Ayahmu mengajarkan bagaimana kelak menjadi lelaki yang baik. Membantu ibu menyelesaikan pekerjaan bukanlah hal yang memalukan bagi ayahmu, karena Lelaki mulia ialah lelaki yang memuliakan wanita.

Apa yang kau suka? Lakukanlah. Main bola? Memanjat pohon? Hujan-hujanan? Lakukanlah, Ibu tidak akan merenggut waktu  bermainmu hanya karena kekhawatiran yang berlebih.

Anak lelaki ibu harus menjadi anak yang kuat dan tangkas. Belajarlah bela diri dalam bentuk apapun yang kau mau.

Jika suatu hari kau tersantuk pintu hingga berdarah keningmu, ibu tidak akan memukul pintu itu untuk mengalihkan perhatianmu dari rasa sakit hingga tangismu berhenti. Belajarlah sayang, ketika kita tersakiti hal pertama yang seharusnya kita lakukan adalah mengoreksi diri sendiri. Bukan justru menyalahkan orang lain. Lagipula ibu tak ingin kau berhenti menangis ketika melihat ibu memukul pintu sebagai simbol kekerasan dan balas dendam.

Sayang, Ayahmu tauladan pertama lelaki hebat yang kau tau, tapi sesungguhnya Rosulullah tauladan seluruh umat di jagad raya ini. Taati Allah, tauladani Rosulullah, dan jadilah anugerah paling indah bagi kami.

Sayang, anak lelakiku, tahukah kau mengapa namamu Muhammad Isa Fatih? Ketiganya adalah pemimpin besar, sayang. Ketiganya sangat mencintai Allah, ibu ingin kau (sebagai yang tertua) memimpin paling tidak dua atau tiga adikmu untuk menemukan jalan mereka. Mau kan bantu ayah-ibu membimbing mereka? :)

Cepatlah hadir, nak. Tidak sabar ingin memelukmu.


_Agustus 2014
*Efek jalan-jalan ke babyshop kemarin sore* :3

21 Juli 2014

[Efek] Diceng-cengin



 
“Ciee Anggun sama Dido ciee… “

*anggunbengong*

“Ciee bajunya sama-sama meraah. Iih janjian yaa....”

*anggunjadibingung*

“Dido, Anggunnya tungguin dong… jangan ditinggalin. ”

*anggun:whaaat??*

“Dido, Anggun minta digendong niih..”

*mati*


Fyi : Dido itu teman ngajiku jaman kelas 6 SD, dan yang melakukan pembulian itu teman-temanku yang lain. Aku juga baru ngeh, jaman baheula bullying ternyata udah ngetrend di kalangan anak-anak TPA.  Dan benar-benar baru ngeh, ternyata disana aku diposisikan sebagai korban. -.-

Namanya Ceng-ceng, jenis bullying ini khusus ditujukan buat calon ‘pasangan cinta’ (oh come on, ini istilah ngeri banget ga sih?) yang berpikir ‘mau dibawa kemana hubungan ini’ aja belum (arrgh istilah apalagi ini?!), apalagi memasuki prosesnya. Dan sakitnya, pelaku ceng-ceng ini melakukan aksinya cuma untuk senang-senang, seru-seruan, dan berkelompok. Ketika  menemukan kedua korban yang dirasa  COCOK,  meski kadang sama sekali ndak mendasar, mereka mulai mencie-ciee setiap polah yang dilakukan kedua korban.  Mereka ini merasa paling tau isi hati korbannya. Isi hati yang terpendam… semacam… ah, berat banget mau bilang istilah Cinta. Yang dibahas aja anak kelas 6 SD. T____T

Tapi UNWIM. Semua orang pernah diCeng-cengin. Pernah kan? Ah masa’ belum pernah? Soalnya kalau belum pernah mau aku ucapin selamat sambil nyodorin seikat mawar. Kamu beruntung. Karena buatku Ceng-ceng itu suatu perilaku sosial yang merugikan. Merugikan perasaan korbannya. *eaaa.

Kita lanjutkan cerita Anggun Kecil-nya. Mungkin, mungkin ya, kalau sekali-duakali doang diceng-cenginnya, hati Anggun Kecil ndak akan berpengaruh apa-apa. Tapi berhubung saban pulang TPA diceng-cengin sama Dido, timbulah vibrasi-vibrasi disana, dengan frekuensi yang semakin lama semakin besar. Hingga oneday, Anggun Kecil nyaris terjun bebas kepada Pacaran. Ya, ini memang gila. Kalau bukan karena Allah sayang, mungkin saat itu Anggun Kecil nurut saja ditarik-tarik teman-temannya menuju suatu tempat yang disiapkan untuk  dilakukan aksi “Penembakan”. Yaa Tuhaaaaan! *ngusapmuka*. Tapi kemudian muncul sebuah ide cemerlang:

“Tunggu sebentar, saya kebelet pipis.” Kemudian Anggun Kecil gak balik lagi. AHAHA

Tapi, Anggun Kecil akui, saat itu ia telah menyukai Dido.

Perasaan macam apa itu? Ntahlah. Aku lupa, mungkin Anggun Kecil pada akhirnya merasa tersiksa, bayangkan, masih sekecil itu sudah bisa-bisanya merasakan sakitnya memendam perasaan. Yang besar aja belum tentu kuat. *kyaaaCurcol. Kalau sekarang sih gampang, semuanya yang telah terjadi anggap saja hal yang konyol. Cerita cinta jaman SD, semana pentingnya sih? Cuma bisa ditertawakan sewaktu-waktu.

Itulah sisi lain Ceng-ceng yang mengerikan. Tentu, dibalik sisi yang menyimpan keseruan yang luar biasa, khusus bagi si pelaku. Aku mengatakan semua ini bukan berarti aku bebas dari perilaku menCeng-cengin teman-temanku. Karena seiring Anggun Kecil beranjak dewasa, ia menjadi andal dalam urusan satu itu. Haha, kok bisa sih? Yaa namanya hidup, kadang di atas kadang di bawah, kadang jadi korban kadang jadi pelaku. Susah ditebak.

Waktu berjalan terus, ceng-ceng demi ceng-ceng (Btw, gw mulai geli sama istilah Ceng-ceng yang disebut berkali-kali. ~o~) telah dilalu Anggun Remaja. Baik posisinya sebagai korban maupun pelaku. Tapi sependek ingatanku, selama SMA aku ndak pernah diceng-cengin yang parah. Mungkin pada segan kali yah ceng-cengin anak Rohis? Idiw. Tapi masa remaja masih panjang, setelah kuliah barulah Anggun Muda terkontam lagi dengan perilaku tak bertanggung jawab satu itu. hoho

Kalau dulu jaman SD, dicengcengin parah masih bengong gak paham. Polos. Kalau sekarang, masih sedikit bisa nyantai sih tapi diakui atau nggak, pasti ada tambahan dilemanya. Mau dicuekin (pelakunya) ? ah temen sendiri, mau diasyikin (Maksudnya ikut nyebur kepada seru-nya si pelaku membuli), nanti keterusan. Fitnah. Disangka senang beneran. Masalahnya ini bukan lagi cerita anak SD yang perasaan ‘suka’ belakangan bisa dianggap cerita konyol. Kalau secara  kebetulan korban satunya memang ‘TIPE GUE’ banget, kyaaaa gawat kan? hati terjangkit virus merah jambu adalah kemungkinan yang wajar, yakin deh kalau udah begitu urusannya bakalan beribet total. Minimal kalau secara sadar korbannya sudah merasakan ada sesuatu, dia pasti buru-buru menghindar. Pergi jauh-jauh untuk menetralisir perasaan. Meski entahlah usahanya bakalan bekerja atau tidak, tapi seenggaknya pasti dicoba. Maka, pertemanan jadi ndak seharmonis dulu, terlebih bagi kedua korban. Jadi gak enakan. Pelaku? Ah mereka sih yang penting seru. Setelah kira-kira korbannya ndak merespon, mereka berhenti. HABIS PERKARA.  Padahal siapa yang tau ada perasaan yang tertinggal disana? Perasaan terlanjur suka. Perasaann yang menyusahkan. Korban disini anggaplah Anggun,  yang di kamus hidupnya ndak ada tuh istilah Pacaran. Yang ketika suka, hanya dipendam. Suka, dipendam. Makin suka? makin dipendam dalam-dalam. Duh.

Sakitnya lagi, ketika kita mencoba klarfikasi kebenaran gossip yag terlanjur beredar, atau menegur pelaku baik-baik. Kebanyakan berdalih : “Ah, becanda doang kali.. sorry sorry kalo lo terganggu” Udah. Begitu disebut perilaku yang gak bertanggung jawab kan? Iya kan?

Jadi paham kan dimana letak merepotkannya diceng-cengin?

Nicholas Sparks berkata :

The Greater The Love, The Greater The Tragedy When It's Over -

Padahal manusia mana yang pingin melewati tragedi besar saat harus mengakhiri perasaan? Ah aku ndak mau bahas sesulit apa itu, yang jelas kekhawatiranku ndak pernah luput selama melalui resiko >> mengabadikan orang yang salah dengan mengenangnya terus-terusan di dalam hati <<  Efek yang mengerikan.

Jadi guys, ada baiknya kita mulai berhenti ceng-cengin orang lain deh. Kalau kamu kira mereka cocok untuk menikah, monggo dibicarakan empat mata. Tanpa orang lain yang mendengar, karena itu bisa menjadi fitnah. Aku rasa sangat manusiawi sekali ketika kamu mengatakan maksud baikmu dengan memenuhi kaidah-kaidah kepatutan. Ndak sekedar menciecie di depan umum, membuat orang lain beransumsi yang tidak-tidak. Dengan begitu, siapapun akan merasa dihargai. Bukan hanya tujuan yang kamu rasa baik, tapi caranya juga kudu baik. Dan detik ini aku berjanji, akan mengakhiri kebiasaan ceng-cengin orang lain hanya untuk  kesenangan semata. Hehe, semoga Allah mudahkan.

Udah, segini aja dulu  tentang ceng-cengan. Semoga bermanfaat.

 ~~~ 


*Betewe, ada yang penasaran sama kabarnya Dido? Hehe terakhir beberapa taun lalu kudengar dari tetanggaku, dia sudah menikah dan punya seorang anak. Mungkin sekarang udah dua kali yah anaknya. Haha. Apapun, semoga dia ndak keselek aku bicarakan disini :D 
Oiya, Dido itu bukan nama sebenarnya :D

3 Februari 2014

Jadi, Bukan Cinta

You know, Langit? Apa yang paling membuatku speechless minggu ini? Sebenarnya aku emang udah lama ndak speechless sih, kecuali waktu baca buku yang dipinjamkan Zul padaku 2 minggu lalu. Judul bukunya “Tuhan, Maaf Kami Sedang Sibuk”. Horor ya? Jadi di dalam buku itu ada bab yang judulnya “Menjungkirbalikkan Logika Menikah”. Stop! Jangan protes dulu! Aku juga ga tau kenapa ada bab nikah disana. Hehe, Brarti ndak horror dong ya. :D      
Nah, di bab ituh ada beberapa point ;  1. Bahwa dengan menikah, seseorang akan menemukan kemapaman ekonominya, bukan sebaliknya. 2. Dalam menikah yang terpenting hanya 2 hal! : Komitmen dan Tanggung jawab. Kemudian aku bengong sama point yang terakhir ini. Gimana nggak coba? tiba2 aku melihat “sebentuk Cinta” seperti terhempas begitu saja dari deretan unsur-unsur  pembangun rumah tangga. *Tuing tuing tuing* mental dan mendarat dengan posisi yang gak enak banget diliat. hoho
Dalam buku itu si penulis bilang,
Sewajarnya sebuah keluarga tidak harus pecah jika hanya disebabkan oleh lunturnya  rasa cinta antara suami dan istrinya, dan cinta bukan satu-satunya hal yang bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga.
Tap.. tapikan…?
Ntar duluuuu, belon selesai.
Dalam riset, pleasure feeling ditunjukan oleh peran suatu hormone yang bernama dopamine. Hormon dopamine ini yang terkait erat dengan ekspresi cinta, makanya sering disebut juga dengan hormone cinta. #tsah. Pada sebuah riset yang juga dilakukan Univ. Pisa Italia, disebutkan bahwa pleasure feeling dan passionate ini akan memudar dan hampir-hampir menghilang setidak-tidaknya dua tahun setelah hubungan intens antarpasangan terjadi. Karena sejalan dengan meningkatnya hubungan, oksitosin dan vasopressin akan mempengaruhi jalur-jalur dopamine dan adrenalin, yang membuat dua senyawa ini berkurang kadarnya.
Maksudnya gini, cinta jangan dijadikan pertimbangan utama dalam pembangun ke-so sweet-an berumah tangga. Karena itu gak akan bertahan lama. Menjadi gak banget jika rumah tangga yang sangaaaat diidam-idamkan akan terjaga keharmonisan untuk selama-lama lama lamanya, ternyata pada tahun kedua keutuhannya mulai goyah hanya gegara kadar cintah yang semakin habis.  Aiiiih T.T
Suatu hari seorang lelaki mendatangi Umar untuk menceraikan isterinya karena ia sudah tak mencintainya lagi, tetapi justru Umar menjawab dengan kalimat tanya yang bijak, “Tak bisakah rumah tangga itu ditegakkan dengan tanggung jawab saja?” Kata sahabat Umar SAKING geregetnya dengar lelaki tersebut menjadikan luruhnya cinta sebagai alasan untuk berpisah dg istrinya.
Aku jadi ingat dengan kalimat terakhirnya si Neng kepada si Akang di film Test Pack yang so sweet itu, yang di akhir film si Neng nyaris terbang ke Eropa (kalo ga salah) dan minta bercerai pada si Akang. Tapi ga jadi, dan ini kalimat penutupnya yang #tsah itu :
“Dengan keegoisan, Neng nanya ke Akang apa alasan kita untuk tidak berpisah, padahal Neng ndak bisa menjawab pertanyaan Mengapa kita harus bercerai? Bukankah kita sudah berkomitmen, apapun yang terjadi  kita akan menghabiskan sisa usia bersama-sama, Kang? Neng ingat kalimat yang Neng ucapkan saat pernikahan kita : Apa adanya Akang, sudah melengkapi Neng. :)  “
#RembesAirmata
Jika rumah tangga hanya dipertahankan selama ada cinta (yang bermakna romantisme dan keintiman belaka),  maka mendingan nyelem aja ke bumi bersama harapan bahwa rumah tangga yang dijalani akan berkah. Rasa tanggungjawab dan komitmen ituah yang harus menjadi acuan utama dalam meniti bahtera rumah tangga. Tentu, dibawah tuntunan syar’i.  Jadi jangan mengelu-elukan cinta kali ya sob, cinta itu bukan alasan kenapa kita menikah. Cinta itu pelengkap. Menikah itu ibadah, dan cinta itu pemanisnya. Kalo tanpa cinta kita menikah? Ng… mungkin lama-lama dengan komit saling melengkapi, saling menyokong, mensupport, menemani, membahagiakan, asal membuka hati, cinta akan sendirinya tumbuh, ya? Apalagi kalo kita perempuan. Ahahaha  #eh. Wallahu’alam, lagian yang mampu kasih atau menghapus cinta dari hati manusia kan cuma Allah. Jadi udah, woles aja kalo mau taarufan. #eaaa
###
Oneday aku pernah ngobrol sama papah, ini tentang jodoh. Setelah beliau menjabarkan  blablablabla, sampailah pada kalimat ini, : “Jadi ketika lelaki tersebut udah memenuhi kriteria yang disebutkan Rosulullah , dan datang melamar, kamu gak boleh menolak. Kecuali dengan alasan syar’I”
“Kalo’ gak cinta, Pah???”
“Itu bukan alasan.”


Wallahu’alam  bish showab

03/02/2014, hampir maghrib.

Pisah



“Setelah bertemu, sebaiknya siapkan diri untuk berpisah” Sebenarnya udah basi dengar kalimat sejenis ini. Dimana “bertemu” selalu aja mepet sama “berpisah”. Tapi sebasi-basinya kalimat ituh, tetap aja aku bakalan galau kalo akan pisah sama sesuatu -yang sadar atau gak- udah membuatku nyaman. Mungkin dak aku aja, kamu juga. Berpisah itu bikin kita bête dan gak lagi semangat ketawa, ya kan? Dan coba perhatikan, semua perpisahan selalu berawal dari “keterpaksaan”, “mau bagaimana lagi”, atau “apa boleh buat”. Yang jelas, salah satu hal pertama yang harus dilakukan adalah ikhlas. Betapa perasaan ikhlas sangat bermakna ketika aku harus membiarkan sesuatu yang istimewa menjauhiku. “yaudasi…” begitu kata hatiku.


Pertemuan itu bagian dari takdir, dan perpisahan adalah kepastian. Ketika kita bertemu dengan apapun itu, merasa nyaman dengannya atau tidak, merasa memilikinya atau tidak, kita harus memahaminya sebagai suatu takdir yang selalu ada akhir. Dan Allah Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Memisahkan kita darinya. Kemudian hal lain yang harus diingat adalah: apapun yang Allah ciptakan termasuk takdir pertemuan, kemudian perpisahan, keduanya hal yang mustahil sia-sia. Tinggal bagaimana usaha kita untuk menjadi sensitif terhadap hikmah yang selalu ngintil di belakangnya. :’>


Semoga bisa lebih belajar untuk peka akan pesan yang tersembunyi di tiap paparan kejadian yang kualami, termasuk tentang perpisahan yang belakangan menjadi kebiasaan ini.  Semoga. ^.^


_Doa
31/01/14

22 Januari 2014

Ar-Rahman



Sepanjang perjalanan pulang dari mesjid, aku nangis.

……………………………..

Tarawih di Ar-Rahman, karena kupikir disanalah hatiku terpaut, akan menjadi lebih khusyuk. Dan ketika pertama kali imam membacakan Al Fatihah, begitu cepat, meskipun tartilnya jelas. Kemudian, saat dia membacakan surah, sekujur tubuhku bergetar hebat dari atas kepala sampai ke kaki, berguncang, hingga lututku ndak mampu menopang dan runtuh.

Saat itu aku merasa lemah.     
ArRahman, surah ini terlalu indah bagiku. Surah ini begitu menggenggam hati.


ArRahman, seketika aku berpikir, dosa manusia terlalu mudah diampuni hanya dengan do'a. Dan ArRahman, Allah Maha Pengasih.     
Ini protes tubuhku, kakiku: Apa daya manusia, tanpa kasih sayang-Nya?              

    
Kalau aku ingat nangis disana semalam, aku teringat pada sebuah kalimat dari Murobbiku, "Hal apa yang membuat kalian bangkit dari keterpurukan?"

Saat itu, aku sedang merasa ndak wajar. Entahlah, apa masalahku, yang ada dipikiranku kosong. Dan hatiku hampa. Adzan berkumandang, kemudian aku menuju Ar-Rahman, dengan pikiranku yang kosong. Persis seperti mayat hidup. Bahkan berwudhu pun seperti ndak terasa. Saat memasuki pintu ArRahman, pikiranku seperti dibangunkan. Entah kenapa, aku ingin sekali menangis saat itu juga. Seakan ingin membahasakan isi hatiku.

Aku menangis. Sesengukan di jamaah itu. Ndak lagi bisa kutahan, meskipun malu. Lantai basah bukan karena wudhu, tapi karena air mata…     
Hingga tepat setelah shalat, aku ke belakang.    
Menangis sejadi-jadinya disana.


ArRahman, inikah jawaban atas ketidaktahuan hati hamba-Mu?


_Friend’s Story
Ramadhan/a year ago.

31 Agustus 2013

Kesiapan Fisik dan Umur yang Aterm




“Pat, lo kok kurusan? Kok iteman?” *sambil nunjuk punggung tangan saya.

“Efek siangsiang bawa motor tiap kunjungan ke rumah pasen postpartum gue, Pat”

“ya jangan juga tengah bolong lah. Bisa pagi atau sore sekalian, kali. Inget Pat, umur kita ini udah aterm. Siapa yang tau kalo lo ketemu jodoh besok? Pastikan fisik lo siap. Kapanpun.” Sekarang giliran Eet yang nunjukin punggung tangannya sendiri.

Saya ketawa-ketawa dengar kalimat yang diutarakan seorang sahabat saya itu. Namanya Yeti. Orang-orang memanggilnya Eet. Saya memanggilnya “Pat” untuk Partner. Dan dia memanggil saya “Pat” untuk Patimah. Dia tipe cewek yang perhatiannya detail tentang penampilan. Apalagi jika disangkut-pautkan dengan tema yang paling menarik bagi permpuan-perempuan seumuran kami: Jodoh. Kami menggunakan sebutan aterm untuk menggambarkan umur yang matang untuk berumahtangga. Kalau dalam ilmu kebidanan, aterm biasa dipakai untuk mengistilahkan umur kehamilan yang cukup bulan (37-42 minggu), artinya jika persalinan terjadi pada umur kehamilan 37-42 minggu, itu merupakan sesuatu yang fisiologis, normal. Lain lagi jika umur kehamilan kurang bulan (preterm) atau lebih bulan (postterm)., maka… #eh, ini kenapa jadi ngasi materi kebidanan?. Intinya, umur kami yang kini menginjak, ng…. Dua Puluh Tiga, #Aaaaaaakkk, merupakan umur yang gak terlalu muda dan bukan dewasa tua, disebut aterm: matang: pas: cucok, untuk menikah dan memperoleh keturunan yang sholeh dan sholehah. Yes! 

Pernah mengucapkan kalimat ini, dong?
 “Rizki,  jodoh, dan mati sudah di atur Tuhan”, 

kami sangat sepakat. Kami rasa jodoh bisa datang kapan saja selayaknya rizki dan kematian. Makanya Eet bilang, “Pastikan fisik lo siap. Kapanpun” termasuk pastiin punggung tangan saya warnanya kembali normal. Mungkin supaya terlihat bagus ketika datang saatnya sebuah cincin tersemat disana. #hiyaaaaaa

Seiring bertambahnya usia, manusia hidup selalu berubah, termasuk asumsinya terhadap sesuatu. Dulu jaman saya kanak-kanak, kalau main suka semaunya. Saling lempar lempung di sawah, mandi di kali, manjat seri, malas pakai sandal, cari keong di pantai. Sering setiap pulang main selalu meninggalkan jejak di tubuh saya. Minimal lecet. Ada juga yang luka, di siku tangan, lutut, telapak kaki, kening. Saya anggap itu hal sepele. Kecuali setelah Papah saya marah-marah dan bilang: “Ck, cacat kakimu itu.”  Sambil meneliti luka ngusruk di aspal karena saya lari-lari ndak pakai sandal waktu di suruh mamah ke warung. Dulu saya pikir papah saya berlebihan, tapi setelah dewasa…..

“Buat ngilangin bekas luka yang umurnya taunan, apaan ya?”  Saya galau juga.

Kini saya seolah menjadi manusia paling bête kalau habis jatuh, tersandung, kepentok, yang meninggalkan bekas luka. Termasuk terkena cipratan minyak panas, atau gak sengaja tersenggol setrikaan yang lagi menyala. Pfftmoment banget lah. Pernah saya mengalami kecelakaan ringan sewaktu mengendarai motor. Ada luka menganga di kaki, yang pada akhirnya meninggalkan bekas. Belum hilang bête, tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “Itu bekas luka ngurang2in harga tuh 500 ribu, kalo kamu dilamar.” *beuh, kejam ya? Yang jelas, buat saya pribadi, perempuan memang seharusnya menjaga fisiknya, supaya kesan indah yang pasti tersemat pada sosoknya tidak pudar. Itu hanya salah satu persiapan menuju kematangannya. Cantik memang ndak Cuma dilihat secara fisik, tapi apa salahnya berusaha menjaga anugerah Tuhan dengan usaha maksimal, mencoba mempersembahkan hal terbaik yang dipunyai kepada orang terbaik yang dipilihkan Tuhan nantinya. Jadi, penampilan dan umur yang aterm memang selalu ada benang merahnya. Hha

Oh iya, percakapan saya dengan Eet belum selesai.

“Pat, lo rajin gak minum susu?” sekarang giliran saya yang bertanya.

“Nggak, Pat. Kenapa?”

“Gue sekarang udah berusaha ndak ngopi. Lebih rajin minum susu. Juga makan buah. Kalo perempuan yang bakalan nikah trus hamil kan kudu sehat, pat. Gue lagi mempersiapkan kehamilan gue kelak, supaya bisa melahirkan anak-anak yang sehat juga,”  Eet bengong. Kemudian manggut-manggut dengan ekspresi berpikir. Bikin aku ketawa lagi, jhaha

Harus diingat, fisik itu bukan Cuma yang terlihat, tapi juga yang ndak terlihat. Yuk, siapapun yang udah ingin atau belum, ketika umur udah aterm, persiapan fisiknya difokusin lagi ^_^