Tampilkan postingan dengan label Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiction. Tampilkan semua postingan

28 Agustus 2015

Telaga Kata : Benda Langit #1



Di dalam sebuah ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, karpet lembut digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan. Perabotan mewah menempati posisinya dengan teratur. Bagai suasana yang berulang, pandangan ke sekitar terlihat kabur, tidak nyata. Mungkin memang tidak nyata, Titik-titik putih mirip cahaya melayang di udara, sunyi yang mendamaikan. Tak ada aktivitas, tak ada gerakan apapun, kecuali usapan lembut tanggan seorang perempuan paruh baya berwajah sabar, mengusap kepala anak perempuan berusia 9 tahun yang matanya terpejam. Tubuhnya merebah di atas karpet lembut itu, terlelap begitu saja di antara tumpukan kertas dan alat tulis yang berserakan. Tangannya menggenggam kertas dengan coretan empat bait puisi yang baru selesai ditulisnya dengan hati-hati.

Usapan tangan itu terjadi lagi, dua-tiga kali, dan sepasang mata yang terpejam mulai berkedut, membuka perlahan lalu mengerjap. Mencari sumber usapan lembut di kepalanya.
.
.
“Bunda?”
Wajah sabar itu tersenyum.


Kriiiiiiing Kriiiing!

Yasmin terhenyak, menarik nafas panjang untuk memperbaiki detak jantungnya yang menjadi cepat. Suara telepon itu mengagetkan sekaligus membangunkan ia dari tidur siangnya. Tidur siang yang mungkin ke-3000 kalinya sejak tidur siang di ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, di atas karpet lembut yang digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan itu.... Ah, belakangan Yas sering mengalami mimpi ini berkali-kali. Mimpi yang sebenarnya bagian dari kenangan masa kecilnya.

Yasmin mengembalikan kesadarannya dengan melihat sekeliling. Tentu saja itu kamar tidurnya, karena dindingnya bercat putih, bukan biru. Dia mendapati tubuhnya terbaring di atas kasur, bukan karpet. Dan yang membangunkannya bukanlah usapan di kepala, tapi dering telepon yang melengking-lengking. Tentu saja yang tadi adalah kenangan, dan yang ini kenyataan. Yang tadi adalah ia ketika usianya 9 tahun, sedang yang ini adalah ia 10 tahun kemudian. Dan tentu saja, yang tadi adalah ingatannya ketika Bunda masih hidup, dan kini Bunda telah...

Yas masih dengan posisi berbaring, menyapu seprai dengan kakinya kesana-kemari, merayap benda persegi panjang berlayar yang sedari tadi berdering. Dapat. Kemudian menggesernya hingga jangkauan tangan.

Panggilan Masuk : Kak Tian
Matanya membulat, lalu menyipit beberapa saat memastikan nama yang tertera di layar ponselnya adalah benar. Yasmin belum ingin menjawab telepon itu karena benaknya justru berkutat dengan pertanyaan : Kenapa harus Kak Tian yang merusak ritual tidur suci-ku di siang yang mendung ini? Dan.... Kak Tian? Siapa itu Kak Tian?

Klik!

“Halo?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Yasmin?”

“Iya?” Yas menggigit bibir, mengutuk detak jantungnya yang kembali ngaco. Kak Tian siapa sih?

 “Yas, jadi ikutan WE siang ini?”

Sedetik... dua detik... Ketepok! Allah! Yasmin melonjak duduk, menepuk keras keningnya. Seolah memberi hukuman pada isi kepalanya yang pelupa.

“Jadi, Kak!” Gelagapan.

“Udah dimana?”

“Ng.... Kakak dimana? Eh, maksudku, udah pada mau berangkat?”

“15 menit lagi.”

“Aku susulin langsung ke Langit Garden aja, dah. Gak apa-apa, kan?”

“Oh, boleh. Telpon aja kalo udah nyampe.”

“Siap.”

“dresscode hitam, ya.”

Dresscode hitam? Pandangan Yas melesat pada tumpukan baju yang belum disetrika. Detak jantungnya kembali cepat, wajahnya tegang, matanya memburu sesuatu tapi dia tidak berharap melihat apapun yang berwarna hitam di sana. Tapi sungguh sayang, menyembul bagian baju berdasar hitam. Yasmin meringis kesal. blus hitamnya belum disetrika!

Pukul 13.15 wib, di dalam sebuah kamar, di sebuah rumah yang terlihat sungguh sepi, Yasmin gelagapan bersiap seorang diri. Dia akan datang terlambat!



***

“Sendirian?” Yas menoleh, di sampingnya berdiri seorang lelaki berwajah ramah yang baru kedua kali ini ditemuinya. Iya, sebelumnya mereka pernah bertemu di acara yang sama dua minggu lalu. Pertemuan yang bagi Yasmin tak ada yang spesial kecuali pada bagian mereka saling tukar nomor handphone.

“Sendirian?” Tian mengulangi pertanyaannya. Tak pelak lamunan Yas buyar. Mengangguk gelagapan.

“Baru tadi siang aku pulang dari luar kota, Kak.” Terdengar seperti sedang membela diri, sebuah alasan, padahal Tian tidak bertanya perihal keterlambatannya.

“Nggak masalah. Lagian cuacanya nggak stabil. Kirain karena di tempatmu hujan.”

“iya, sih. Hujan juga.” Jawab Yas cepat. Makanya begitu sampai rumah aku sholat trus tidur, dan lupa kalau ada janji. hehe Lanjut Yas dalam hati. Yas nyengir malu, lebih kepada dirinya sendiri.

Acara telah berlangsung setengah jalan, Yasmin tidak mengikuti sesi edukasi yang dilakukan di awal. WE : Weekend Edukasi adalah kegiatan perpekan sekumpulan anak muda kota setempat yang lebih suka menghabiskan setengah hari minggunya untuk mendampingi anak-anak panti asuhan ketimbang melakukan kegiatan lain. Di sana mereka memberi edukasi tentang banyak hal, mengajak anak-anak itu jalan-jalan, mengaji, belajar, dan bermain bersama. Di akhir acara, puluhan anak yang berasal dari beberapa panti itu selalu mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, berupa alat tulis, alat mandi, makanan, atau lainnya. Kali ini, acara WE diadakan di sebuah taman wisata: Langit Garden. Disana suasananya sungguh hijau, asri dan terbuka. Cocok menjadi tempat rutin acara semacam ini dilakukan. Setiap pekan, puluhan anak dari beberapa Panti Asuhan di kota setempat diundang bergantian. Biasanya untuk tiga sampai lima anak panti, dibutuhkan seorang kakak pendamping untuk mendampingi mereka selama acara berlangsung. Maka setiap acara, hampir pasti terdapat minimal dua puluh kakak pendamping, dan Yasmin menjadi salah satunya. Yasmin mengenal komunitas ini baru dua minggu yang lalu, Tian yang mengenalkannya secara tidak sengaja. Tian sendiri adalah salah satu Founder di sana.

Selalu ada sesi permainan di setiap acara ini berlangsung. Kali ini permainan dipimpin langsung oleh Tian dan beberapa kakak pendamping. Mereka menamai permainan ini dengan : Kalimat Kunci.

Aturannya mudah, setiap kakak pendamping memilih empat orang adik dari panti yang berbeda untuk membentuk sebuah tim. Setiap tim memiliki lima orang anggota, dan masing-masing harus menghafalkan kalimat kunci yang diberikan pemandu permainan (dalam hal ini adalah Kak Tian dan beberapa kakak pendamping) kepada salah satu anggota setiap tim di awal permainan. Kalimat kunci untuk seluruh tim sama, menggunakan kata-kata mirip, njlimet dan terdengar aneh sebagai tantangan. Setelah dihapalkan anggota pertama,  kalimat kunci dioper ke anggota kedua, ketiga, dan seterusnya secara berurutan. Kalimat ini berfungsi untuk membuka ‘pintu tanya’ yang dijaga oleh kakak pemandu. Ada 5 pintu tanya, masing-masing anggota mempunyai satu pintu untuk dibuka secara berurutan. Kalimat kunci hanya boleh dioper ke anggota selanjutnya setelah satu per satu pintu tanya telah ditaklukan. Pintu tanya terakhir adalah yang tersulit. Setiap kakak pendamping diwajibkan menjadi anggota terakhir yang bermain untuk membuka pintu tanya tersulit tersebut. Tim yang paling cepat menyelesaikan permainan lah yang akan menang.

Permainan dimulai, kakak pendamping sudah dipersilakan memilih anggota timnya. Semua adik-adik berkerumun, mereka antusias menunggu kakak mana yang akan memilih mereka menjdi anggota timnya. Ada kakak yang memilih adik-adik berumur 4-6 tahun karena kelucuannya, ada juga yang memilih adik yang lebih besar supaya mudah menghafal kalimat kuncinya. Suasana disana menjadi riuh bergembira.

“Ayo, Yas!” Seru Tian bersemangat, ia sudah menempati posisinya di pintu tanya terakhir. Yasmin bergerak cepat, memilih empat orang adik panti yang akan memenangkan timnya.

Permainan sudah berjalah 20 menit. Masing-masing tim telah menjawab pertanyaan di pintu tanya 3, beberapa sudah menaklukan pintu tanya 4. Tim yang dipimpin Yasmin salah satunya. Ketika Yas sedang tegang-tegangnya melihat dari jauh anggota tim keempatnya membuka pintu tanya dengan kalimat kunci yang lupa-lupa-ingat, seseoraang mendatanginya.

“Kakak Yasmin,” Berdiri bocah lelaki lucu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dua gigi seri bagian depannya ompong, dipamerkan begitu saja tanpa malu-malu. Dia juga menggendong tas ransel warna biru langit yang terang.

“Kakak, aku mau kasih tau kalimat kuncinya...” Bocah itu berbisik. Yasmin melongo. Bocah dengan setelan kemeja rapi itu bukanlah salah satu anggota kelompoknya, karena anggota keempatnya masih berdiri di sana, di depan pintu tanya keempat dengan ekspresi mengingat-ingat. Yas menebak, bocah lelaki dengan mata bening ini telah tersasar dari kelompok lain.

“Apa itu?” Yas ikut merendahkan suaranya. Eh, ini curang gak ya? Namun keinginan Yas untuk mendapat bocoran Kalimat Kunci ini semakin menjadi setelah melirik anggota keempatnya memasang ekspresi putus asa kepada penjaga pintu tanya di sana. Yas membungkuk mantap, menyodorkan telinganya pada bocah lelaki bermata bening itu sambil menyeringai senang. hehe

“Kakak hapalkan, ya!” Kata bocah itu bersemangat. Yas mengangguk cepat.

 “Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”


“Wow!” Yasmin takjub dengan kalimat kuncinya. Semua orang tahu bahwa ia menyukai frase-frase dengan kata bermuatan benda-benda langit.

“ulangi dua kali lagi,, aku akan menghapalnya. Okay?” Seru Yas. Kemudian bocah itu mengulanginya dua kali. Yas langsung hapal di luar kepala. Tak disangka kalimat kuncinya semudah ini.

Yas mengacak rambut bocah itu, dan menanyakan namanya.

“Namaku Willy, kak Yasmin.” Masih dengan cengiran gigi ompongnya. Bocah itu kemudian mengeluarkan potongan kertas dengan tulisan beberapa kata. Potongan kertas itu langsung diletakkan ke tangan Yasmin,

“Jangan lupa ya, Kak.” Sedetik kemudian bocah itu berbalik dan berlari ke dalam kerumunan. Yasmin belum sempat mengatakan terimakasih, bahkan dia masih keheranan dengan potongan kertas di tangannya, tapi bocah dengan ransel biru itu cepat sekali menjauh. Ransel biru? Bukankah itu ransel biru yang bagus dan mahal, paling tidak untuk ukuran seorang anak Panti?

Dari kejauhan Yas meneliti, ada tulisan dengan bordiran biru di bagian kantung belakang tasnya: William Anantha Rachel. Ketika Yasmin masih berkutat dengan rasa herannya, ransel itu menghilang di balik kerumunan anak-anak yang lain.
 
***

“Secepat itu?”

“Apa?”

“Secepat itu kamu menghapal kalimat kunci dari anggota terakhirmu? Bahkan dia baru kembali dari pintu tanya empatnya dengan ‘babak belur’.” Tian tertawa
Yasmin menoleh ke belakang, anak yang dimaksud Tian berdiri dengan wajah bingung. Tian benar, bahkan anak itu baru menceritakan betapa sulit dia mengingat kalimat kunci, hingga penjaga pintu tanya empat akhirnya berbelas kasihan dan mengajarinya. Kemudian Yasmin dengan penuh percaya diri menggenggam pundaknya dan berkata,  

Tenang dik, sekarang kamu nggak perlu capek-capek kasih tau kalimat kuncinya. Karena kakak sudah hapal.” Kemudian Yasmin melesat ke pintu tanya terakhir dengan tekad sangat bulat.

“Aku menghapalnya di luar kepala.”  Kata Yas meyakinkan. Tian menaikkan alisnya tanda sangsi. Lalu tanpa aba-aba Yasmin mengucapkan kalimat kunci yang telah ia dapatkan dari bocah bermata bening tadi, tentu saja dengan ritme cepat saking hapalnya.

“Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”

Hening beberapa saat...

“Bukan itu kalimat kuncinya, Yas.” Kata Tian akhirnya. Dahi Yas berkerut.

“Aku tau, yang tadi terlalu cepat, kan, kak? Aku ulangi, ya?

 “Nggak perlu. Karena bukan itu kalimat kuncinya.” Wajah Tian berubah prihatin.   “Kamu dapat dari mana?” kali ini nada bicaranya menganalisa. Yas buru-buru menyapu pandangannya ke arah kerumunan adik-adik panti untuk mencari bocah beransel biru. “Kamu dikerjai, ya?”

“Nggak mungkin, Kak. Matanya jujur.”

“Siapa?”

“Bocah tadi.” Masih sibuk mencari-cari.

“Dapat bocoran kalimat kunci dari kelompok lain itu curang, Yas.” Yas berhenti mengedarkan pandangannya. Wajahnya sekarang menyesal.

Akhirnya Yasmin kembali ke kelompoknya dengan empat batang cokelat yang dibelinya di kios terdekat, juga sebuah puisi yang dibuatnya saat itu juga. Memang mudah bagi Yas dengan bakat menulisnya untuk membuat puisi, prosa, dongeng, dalam waktu singkat. Bakat menulisnya bahkan mengantarnya menjadi wakil ketua jurnalis kampus meski ia baru menginjak tahun kedua kuliah. Bakat luar biasa yang diturunkan dari ibunya.

Yasmin mendekati anggota kelompoknya dengan senyum ngeles, empat batang cokelat di genggaman, dan puisi berjudul ‘Kalah Berarti Menang’ yang dibuatnya mendadak. Semua itu akan membayar kekecewaan mereka terhadap kecerobohan yang kulakukan. Itu rencana Yas.

-      




--Bersambung –
*Yealah  (cerpen) gini doang bersambung T_T wkwk

2 Agustus 2013

Lentera Malam





Ada yang jejingkat dalam hening
Segaris bising yang sunyi
Bukan lagi degub
Bukan pula cerlang bintang di kelam malam
Hanya mirip sebuah dayu
Memerah-merah ingatan hingga retaslah sebuah kenangan
Ah, manusia kadang tersesat pada masa lalunya.

Tak ada aku menoreh ingin
Beranganpun tidak
Tak pernah kugantungkan mimpi setinggi bintang
Karena satu-satunya alas pada kakiku, adalah bumi
Dan  sebab tengadahnya wajahku, adalah langit
Ketidaktahuanku? cuma Tuhan yang peduli.

Duhai lentera malam
Ubahnya bintang yang tak benar-benar hilang
Selalu ada kecewa pada tiap-tiap naïf yang meremang
Seperti pendarmu  yang terkadang terlihat gamang
Seolah ada dua matahari pada satu langit
Tahukah kamu, bulan?
 Betapa memikat pekat langit malam ini.
Dan kau, masih menjadi satu lentera paling terang


_Kepada Bulan, bintang, dan heningnya malam.
04.07

8 Desember 2012

Langit Merah #2



“Ranting,”

Aku tersadar, dan segera kusudahi lamunan empat tahun laluku. Kubuka mataku. Jenggala melepaskan pelukannya, kemudian ia menenggelamkan jemariku dengan kedua tangannya.

“Kemarin kamu bilang ada sesuatu? Mau menyampaikan apa?” Tanyanya, menungguku memberikan isyarat atau apapun sebagai jawaban. Lurus-lurus aku menatap mata itu.

“Aku ingin mengatakan hal yang penting.” Kataku menggunakan bahasa isyarat. Jenggala sedikit menaikkan alis, tanda bertanya. 

“TentangYasmin.”  Lanjutku.  Hati-hati aku berkata dengan gerakan-gerakan tangan yang kubuat sedemikian rupa.  Aku tahu, bahkan langit merah itu pun tahu, apa yang ingin kusampaikan akan membuat Jenggala terkejut. Sudah lama sekali aku mempersiapkan diri untuk ini, untuk menyampaikan keinginan yang telah beberapa tahun kupendam. 

“Suamiku, kurasa sudah saatnya untuk Yas  mengenal siapa Eyangnya.”
selesai. Aku diam menunggu reaksinya. Jenggala, wajah teduhnya berubah keheranan.

“Kau yakin, Ranting? Kau ingin mempertemukan ibu dengan Yasmin?” Gelisah. Tatapan Jenggala tidak fokus. Belum sempat kujawab pertanyaannya, Jenggala kemudian berkata, suaranya parau. “Tidak, Ranting. Belum saatnya Yasmin…” 
 
“Sampai kapan??” timpalku cepat. Jenggala diam.  Dibuangnya tatapann itu ke lantai. “Sampai Yasmin siap.” Masih parau.

Aku menggeleng, “Bukan, sampai dirimu yang siap! ” Kataku. Kuttap matanya lekat. “Sudah empat tahun sejak Yas lahir ke dunia, Jenggala. Aku, bagaimapun aku ingin melihat anakku bermanja di pangkuan Eyangnya. Ibumu. Bagaimanapun aku ingiin melihat Yas berceloteh tentang kampung halaman dimana Eyangnya tinggal. Aku, aku lelah mengarang cerita tentang  dimana ibumu ketika Yas mulai bertanya dengan kepolosannya. ” Airmataku tidak bisa lebih bersabar untuk tetap menggenang saja. Kuluapkan sudah apa yang mengganjal di hati selama sekian tahun.

Kutatap Jenggala, memohon. “Suamiku, berlembut hatilah… Kita perbaiki semuanya. Kita, hanya butuh mencoba. Mencoba meluluhkan hati ibumu.”

 Jenggala terpaku. Kutemukan kepedihan pada matanya yang mulai basah. Ah, Jenggala, maafkan aku yang harus membuka lagi kenangan pedih itu… Ya, kepedihan yang kami berdua simpan bertahun-tahun lamanya, saat Jenggala harus memilih antara ibunya atau aku. Memilih antara berbakti pada seorang Ibu atau menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan calon ayah. Memilih tinggal di sisi ibu yang melahirkannya atau di sisi wanita dengan darah daging yang dikandungnya.  

Kami menikah disertai restu kedua orang tua kami. Meski saat kami melangsungkan pernikahan, Ibu mertuaku sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Beliau menderita penyakit Diabetes, dan telah dirawat selama sebulan di Rumah Sakit. Saat seluruh keluarga Jenggala mengetahui bahwa Jenggala akan menikahi seorang gadis bisu, semua bisa menerima dan menghargai keputusan Jenggala. Termasuk ibunya yang terbaring lemah di Rumah Sakit. Kemudian, ketika keadaan Ibu semakin parah, Ayah mertuaku lah yang paling khawatir dan mendesak agar pernikahan kami segera dilangsungkan. 

Dan kami pun menikah. 

 Hari-hari kulalui dengan bahagia bersama Jenggala, kami tinggal di rumah mertuaku bersama Sukma, adik Jenggala. Sukma pun telah menikah, namun belum dikaruniakan anak. Sukma adalah adik ipar yang baik. Dia lah yang menjadi temanku di rumah ketika suami-suami kami pergi bekerja. Aku dan Jenggala merasa lega ketika mengetahui semua orang yang tinggal di rumah itu bisa menerima kekuranganku. Memang semuanya tidak mungkin berjalan mulus, namun komunikasi di antara aku dan keluarga baruku saat itu selalu dapat berjalan baik. Ya, meski dengan bantuan kertas dan pena. 

Hingga usia pernikahan kami menginjak satu bulan, ketika ibu mertuaku akhirnya diperbolehkan pulang untuk di rawat di rumah. Mulai saat itu, saat ibu mertuaku keadaannya semakin membaik, saat itulah sikapnya mulai berubah terhadapku. Ntahlah, yang kurasakan ibu mertuaku membuat batasan interaksi dan komunikasi kepadaku. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, telah beberapa kali aku mendekati ibu dan bertanya apa yang membuatnya bersikap dingin kepadaku. Tentu, melalui tulisan di kertas. Berkali-kali pula beliau hanya diam, bahkan tidak melirik kertas yang kuberikan padanya. Aku, cuma aku yang menyadari perubahan sikap ibu ketika itu, hanya bisa bersabar. 

Suatu hari, kolega ayah mertuaku datang ke rumah untuk menjenguk ibu, Ayah mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu, dan meminta tolong padaku untuk membuat teh hangat untuk mereka. Aku membuatnya. Dan beberapa saat sebelum teh tersebut aku bawa ke ruang tamu, ibu mertuaku menghampiriku dan dengan sedikit paksaan mengambil teh tersebut dari tanganku. Ibu bilang tanpa menghargai perasaanku, aku cukup berdiam diri di kamar saja, tidak perlu menampakkan diri terlebih di depan kolega ayah mertuaku. Ibu bilang, mulai saat itu jangan lagi membuatkan teh dan menyajikannya ke ruang tamu. Kejadian itu tidak sengaja disaksikan Sukma, dia dengan cepat membujukku agar berhusnudzon, dan tidak sakit hati dengan sikap ibu. Ya, aku hanya butuh kesabaran yang lebih.

Semakin hari, sikap ibu yang dingin semakin kentara. Dari tidak diperkenankannya aku memperkenalkan diri sebagai menantu di rumah itu pada para tamu yang menjenguk ibu, hingga tidak diperbolehkannya aku terlalu sering beraktivitas di luar rumah. Dan tentang semua itu, aku meminta Sukma untuk menyembunyikannya dari semua orang yang berada di rumah itu. Termasuk Jenggala dan ayah mertuaku.

 Sampailah pada saat dimana aku dan Jenggala berencana untuk mengabarkan berita kehamilanku di depan seluruh keluarga. Dokter mengatakan kandunganku sudah berumur dua bulan. Sore itu, di rumah hanya ada ibu, Sukma, dan suaminya. Sedangkan Ayah sedang bertugas di luar kota. Semuanya sedang mengobrol di ruang tamu saat aku dan Jenggala menghampiri meraka untuk mengabarkan berita bahagia itu. Kami berdiri berdampingan, Jenggala merangkulku dengan tangan kanannya, tersenyum, siap memberi mereka kejutan.
“Kami ingin memberikan kabar gembira“ Senyum Jenggala melebar. Kami memperhatikan perubahan ekspresi wajah mereka satu persatu.

“Tidak lama lagi, rumah ini akan kedatangan seorang bayi.” Semua terkejut. Ibu terkejut, Sukma terkejut, suaminya juga terkejut. Semua orang beranjak dan memberi kami ucapan selamat dan do’a kebaikan bagi kandunganku. Kecuali Ibu. Ibu terlihat begitu tidak nyaman. Memegang kepala, dan air mukanya gelisah. Lalu buru-buru pamit untuk istirahat di kamar. Melihatnya, perasaanku campur aduk sekali. 

Jenggala yang belum selesai bicara akhirnya mengajakku untuk mengikuti ibu ke kamar. Begitu bahagianya ia hingga ingin menyampaikan maksud kami kepada ibu saat itu juga. Seperti kebanyakan orang tua, kami berniat membuat acara syukuran saat usia kehamilanku nanti mencapai umur 4 bulan, ketika malaikat meniupkan ruh pada calon anak kami.

Pintu kamar ibu tertutup, lalu Jenggala mengetuknya tiga kali. Kami masuk, dan melihat ibu sedang berdiri di samping jendela yang terbuka.
         
“Ibu, aku belum selesai bicara tadi..”  Ibu diam saja.

“Ibu, bagaimana kalau kita membuat acara syukuran untuk…”

“Tidak akan ada syukuran apapun di rumah ini!” Ibu memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Sedang aku dan Jenggala terpaku mendengar apa yang dikatakan ibu pada kami. 

“Maksud ibu? Ini acara syukuran atas kehamilan Ranting, Bu. Kehamilan menantu ibu, untuk anakku yang dikandungnya. Untuk cucu ibu..”

“Tidak! Tidak ada acara apapun. Cukup ibu menyembunyikannya selama ini dari pandangan orang lain tentang Ranting ! Ibu tidak mau semua orang tau kalau akhirnya menantu yang bisu itu telah mengandung!” Pecah tangisku. Kini gamblang sudah alasan mengapa selama ini ibu bersikap dingin kepadaku. Langit menjadi berat. Aku lunglai. Sukma  segera memelukku dan menguatkan diriku yang terisak. Jenggala, Jenggala mendekati ibunya dengan tatapan tidak percaya.

“Apa? Selama ini ibu tidak menunnjukan apapun. Ibu merestui pernikahan kami, Bu!”

“Itu dulu! Sebelum para tetangga mencemooh keluarga kita. Keluarga terpandang yang mengangkat mantu seorang gadis yang bisu! Yang kemanapun dia pergi tidak pernah lepas dari kertas dan pena..” 

“Ibu!!” Untuk yang pertama kali kudengar Jenggala bersuara keras pada ibunya. Gontai langkahnya mendekat pada ibu. Hatiku perih sekali.

“Ibu.. kumohon, jangan katakan itu padaku. Ranting istriku, Bu. Aku mencintainya” Jenggala memeluk kaki ibunya, menangis ia. Aku merasakan kepedihan itu. Bersimpuh ia. Bersimpuh di kaki ibunya, menumpahkan harapan. Mencari sedikit kasih yang mungkin masih terselip di kerasnya raut wajah ibu. 

“Ibu  malu mempunyai mantu yang bisu.” Lirih, tapi begitu menusuk hati. Kalimat ini, merobek hati kami.  

“Tidak, Ibu tidak bermaksud mengatakan itu, kan, Bu? Ibuku, ibu adalah wanita yang melahirkanku, dan Ranting adalah wanita yang akan mendampingiku selamanya. Jangan memaksaku untuk memutuskan sesuatu yang berat, Bu.” Ibunya bergeming. Tatapannya masih terlempar jauh ke luar jendela. 

“Bu.. jawab, Bu..” Jenggala menggoyang-goyangkan kaki ibunya. Berharap ibunya mengaku khilaf, berharap ibu merengkuh tubuhnya dan berkata maaf. Namun Ibunya bergeming. Pundak Jenggala berguncang, ia makin terisak.
Tidak ada jawaban, ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan tetap menatap lurus ke luar jendela.  Cukup sudah. Jenggala melepaskan kaki ibunya, mencoba berdiri tegap dan menyeka airmatanya.

“Ranting isteriku, jika ibu tidak meridhainya, biarkanlah kami pergi.”
 Semua terperangah. Satupun tidak ada yang menyangka Jenggala akan mengatakannya. Wajahnya keras, tatapannya pasti. Ibunya, tetap bergeming. Jenggala berbalik menghampiriku, memelukku yang juga terisak. Siapa yang tak hancur mengetahui kebisuanku menjadi penghalang jatuhnya ridha ibu kepadaku? 

Jika saja bisa, akan kutukar apapun yang kupunya untuk memperbaiki pita suaraku. Oh Ibu, sungguh aku mengharapkan ridhamu menyertai kami. Jikapun aku mengetahui ketidakikhlasanmu  menikahkan Jenggala denganku sejak awal, aku tidak akan maju sejauh ini. Siapa aku yang harus memisahkan seorang anak dari ibunya. Siapa aku yang membuka pintu kedurhakaan anak kepada ibunya. Duhai ibu, harus apa aku..

“Bersabarlah, Ranting. Demi Allah, Bersabarlah.” Bisik Jenggala. Luruh hatiku, luruh air mataku. Tenggelam tangisku dalam pelukannya. Itulah kejadian terburuk yang kualami di awal pernikahan kami.
Lalu kami pergi. Cuma Sukma dan suaminya yang menahan kepergian kami. Aku dan Jenggala, sejak saat itu, tidak pernah bertemu ibu.

“Ranting, benarkah kau mau mencobanya?” Lirih Jenggala.

“Ranting, akankah kau siap dengan segala resikonya? aku mengkhawatirkan Yasmin… Kututup bibir jenggala dengan jari telunjukku. Lalu kuyakinkan Jenggala bahwa Yasmin adalah anak perempuan cerdas dan lucu, yang sangat mirip dengan Eyangnya. Mungkin masih ada kekecewaan dalam diri Ibu, namun selalu ada harapan. Siapa yang tidak luluh hatinya melihat kelucuan putri kita? 

“Kalau begitu siapkan dirimu, Ranting. Berat yang akan kita jalani.” Lirih Jenggala.
Aku tersenyum, dan sejurus kemudian kutarik kedua tangannya untuk kukecup. ‘Akhirnya, Jenggala..’ lirih batinku. Ada yang singgah di ruang-ruang hati ini , sebuah kelegaan, juga sekelebat kekhawatiran.

“Bundaa… Yas hauus..”
Bocah empat tahun berambut ikal muncul dari balik pintu. Rambut yang sebelumnya kuikat menjadi tiga bagian, sekarang tinggal dua saja. Berantakan betul. Matanya yang belum lebar terbuka dikeuceknya sebelah. Tangannya menggenggam gelas susu yang lenyap isinya. Dia Yasmin, puteri kami.

“Heiii anak ayah, udah bangun, sayang?” Jenggala menghampirinya, mengangkat tubuh gendutnya dan menggendongnya manja. Yas melingkari leher Ayahnya dengan tangannya yang kecil. Aku hanya tersenyum mengamati mereka berdua.

“Yas cantiiik, ayah mau ngajak Yas ketemu Eyang Uti. Mau?”
Yasmin menatap mata ayahnya dengan polos, mungkin berpikir dengan imajinasinya. Kemudian mengangguk tiga kali. “Ayah, Eyang dimana?” tanyanya. 

“Surabaya. Minggu depan kita pulang ke Surabaya.” Erat sekali Jenggala memeluk buah hati kami. Pulang ke Surabaya. Sesuatu yang telah lama kunantikan.  Pulang ke Surabaya, bertemu ibu dan ayah mertua. Membagi bahagia pada mereka. Memberi kesempatan Yas untuk merengkuh kasih dari kedua eyangnya, juga tante dan pamannya. Bermain dengan sepupu-sepupunya. Mengenal kota kelahiran ayahnya.
Kuperhatikan Jenggala yang semakin erat memeluk buah hati kami. Aku bisa merasakannya, kerinduan Jenggala pada Ibu. 


Jenggala, harapan itu selalu ada.…







~ bersambung ~