17 Mei 2012

Catatan Pendek di Pojok Halaman


Setiap orang tentu punya cara masing-masing untuk mengingat sesuatu yang menurutnya sangat penting untuk di ingat. Misalnya, materi kuliah (Gue membicarakan mahasiswa). Jadi tiap kuliah, apapun matakuliahnya, gue selalu nulis di pojok halaman notebook yang disitu materi yang lagi diterangin dosen  gue catet.  Semacam catatan kecil. Biasanya gue lingkarin pake pena warna-warni, tandanya itu wajib dibaca lagi. Nah, catatan-catatan kecil ini berisi  curahan perasaan gue saat itu, saat kelas berlangsung. Ini penting, penting banget. Jadi pas musim ujian tiba, -secara gue belajarnya sistem SKS-, saat gue baca catatan2 kecil itu, gue bakalan dipaksa mengingat kembali gimana perasaan yang menggelayuti gue saat kelas itu berlangsung. Dulu, yang ntah kapan. Dengan mengingat gimana perasaan gue saat itu, mood gue saat itu, emosi gue saat itu, gue bakalan mudah juga mengingat materi yag disampaikan dosen. :D  Cara ini udah gue terapin sejak tingkat brapa tau. Dan hasilnya lumayan signifikan :)

Ini beberapa, gue salin dari notebook gw yang terakhir:

23 Februari 2012
_Kuliah Umum , oleh Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, Msc, PhD. (Wa. MenKes RI)
*Dalam  kekurang nyamanan akan …… di sisi.

24 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Komunitas
*Ketika kabut masih memeluk udara

27 Februari ‘12
_Kuliah Obgyn
*Suasana yang membelot, dosennya mengamuk :D

29 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Evidance Based
*Diselimuti kelemah-lembutan bu Dosen ^^

-Kuliah Askeb Komunitas
*Saling terengah-engah

5 Maret ‘12
_Kuliah Bimbel dan Konseling
*Merenggang masa hingga binasa kewajiban

-Kuliah Obgyn
*2 Warna direnggut kecerobohan. 2 warna, rimba dan tanah gersang

6 Februari 2012
_Kuliah Kespro
*Jabatan ini membunuhkuu (kenapa harus bendahara?)

_Kuliah Askeb Komunitas
* “Gak apa2 kan saya suka komentar? Gak tersinggung kan kalian?” -_-

13 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Evidance Based
*Lain kali kalo kuliah bawa Toak kita, sist ..

14 Maret 2012
_(Lupa kuliah apaan)
*Begadang semalam ada hasil, Yaa Alloh, Ngantuk Yaa Alloh,,, (meremelek)

14 Maret ‘12
_Kuliah Obgyn
*Hormaaaaaaat gerak!!! :D

(Lupa nulis tanggal)
_Kuliah Umum tentang penyusunan jurnal
*Sudah galau di jam ke dua, pintu keluar makin mendekat. mendekat. mendekat.

(Lupa nulis tanggal)
_Kuliah Teknik dan media Pembelajaran
*Telat, Bo’ong, Mengaku T.T (Semoga Alloh mengampuniku)

25 April 2012
_Kuliah Komunitas
*Hapalkan! Hapalkan!

4 Mei 2012
_Kuliah Obgyn
*Suasana baru. Aneh.

5 Mei 2012
_Kuliah Obgyn
*Ramah taaaa?? :/

7 Mei 2012
_Disidang
*Sampah? mana sampah?

Aslinya masih ada banyak lagi, dinote book gue yang lama. Tapi gak tau dimana naroknya. Hehe

8 Mei 2012

Surat dari Dania #1


Assalamualaikum….

Apa Kabar Sahabatku??

Siapa yang pernah menyangka kalau masa-masa kita dahulu sungguh sebuah masa teramat penting dalam hidup ini. Dan masa-masa itu adalah sebuah rahmat dan karunia dari-Nya yang hampir saja saya tak mampu mensyukurinya.  Saya mengatakan itu sebagai sebuah rahmat dan karunia bukanlah karena hal yang diartikan kebanyakan orang tentang sebuah persahabatan, lebih dari itu, ada hal indah yang jika dikenang maka pastilah orang-orang yang mampu merasakannya akan cemburu pada kita. 

Saya menyadari kebenaran bahwa bahagia itu bukanlah kosakata materi tapi ia kosakata ruhani, saya kembali merenungkan doa yang telah kita coba hafal dahulu, yang jika kita akan berdoa maka diantara kita saling menyilakan, yang rasanya alasan terkuat adalah karena kita takut salah dan merusak kekhusyuan doa, hal itu kisah yang lucu dan menyenangkan jika diingat.

“Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah menyatu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu, Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan……..”.

Ya, doa itu yang kita ucapkan dengan berbahasa arab, semakin syahdu tatkala menyadari bahwa pertemuan kita dahulu bukan karena suatu kepentingan duniawi yang melelahkan, yang menuntut kita setia padahal kita dikecewakan. Kita bertemu karena dulu kasih sayang Allah menghendaki kita bertemu untuk sama-sama mendekat kepada-Nya, saling mengingatkan, saling menjaga dan mengajak orang lain mau mendekati-Nya dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, namun begitulah, meski tak banyak  yang mampu kita berikan ataupun yang bisa kita contohkan karena keterbasan pengetahuan kita, tetapi kalian semua tetap memberi semangat untuk terus memperbaiki diri sendiri dan orang lain, karena kita adalah orang-orang yang senantiasa belajar, aamiin. Tak ada yang mampu mencoreng persahabatan kita itu, tatkala mungkin ada yang memutuskan persahabatan lantaran hal-hal duniawi dan kepentingan pribadinya tak terpenuhi dengan bersahabat bersama kita.

Kalimat doa yang menarik hati sangatlah banyak, namun jika direnungkan, apalah maksud “lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu”. 

Benar, ketika bersama kalian, keindahan itu tampak, dunia tak menjadi hal yang menggelisahkan jiwa, karena keyakinan akan janji-Nya untuk orang-orang yang bertakwa. Pertanyaannya apakah kita orang-orang yang bertakwa? Ketika itu tidak satu pun yang yakin akan selamat dari kesalahan-kesalahannya sehingga membuat kita mau dan terus belajar serta berusaha untuk mengamalkan apa-apa yang yang diperintahkan oleh Allah, sehingga aku berpikir bahwa aku tidak salah dalam memilih sahabat, yaitu bersahabat dengan orang-orang yang rendah hati, yang tak merasa cukup baik, sehingga terus dan terus mau mendengarkan nasihat, mau belajar dan beramal baik, walaupun kita yakin kita sering melakukan kekhilafan. Hmm…  Waktu itu kita sangat polos ya.  Sampai-sampai terngiang kembali kalimat itu “Kalo begini kita dosa ga ya????”, kata-kata yang jarang terdengar ditelingaku saat ini, apalagi begitu melihat langsung kenyataan adik-adik SMA yang berangkat ke sekolahnya naik angkot bersamaku, mereka menggunakan tas yang sangat kecil, membicarakan lawan jenisnya, sambil memegang cermin ber-cover gambar artis Korea yang bermesraan.  Terkadang aku berpikir kasihan sekali, betapa sedih ibu-bapaknya, dan gurunya disekolah  karena putri-putrinya terjerumus pada hal-hal yang klise dan memilukan hati, hal itu membuat hati ini sedih, mengingat calon-calon ibu negeri akan mendidik anaknya nanti dengan seperti apa.

Sahabat-sahabatku, semoga  mereka semua membutuhkan kita, teruslah bersemangat dengan aktivitas kita dulu, saling mengingatkan dan memperbaiki diri serta mengajak orang lain menikmati indahnya jalan ini.
Untuk mengungkapkan rasa rindu ini, doa kita tentang meminta indahnya tawakal kepada-Nya, menjadi penutup surat ini.  Bagaimana menikmati keindahakan tawakal, ia selalu menjadi rahasia untuk hati-hati yang tidak mau mensyukuri nikmatnya, dan selalu mengeluh dengan keadaan serta takut dengan masa depan jika ia tidak sungguh-sungguh mengejar duniawi, padahal janji Allah itu jelas dalam firmanya “ barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya di balas dengan baik. (QS. Al Isra:19) “. Semoga kita istiqomah di jalan-Nya, Aamiin…
Wallahualam…..

11 April 2012

Aku Bisa Merubah DUNIA !


Eh, adek tingkat! Percaya gak dengan judul di atas?
Gag percaya???
Sama!!! (haghag)

Saia juga gag percaya pada awalnya, dan bilang kalo orang yang mengatakan hal itu adalah “Mr. or Mrs, Belagu”. Tapi setelah mengalami belajar yang sesungguhnya, sukses maupun gagal, ternyata bisa juga lho kita percaya dengan kata2 di atas. 


“Aku Bisa Mengubah Dunia” 
Caranya? ya dengan belajar!! Kerena dengan belajar kamu bisa mengubah dunia ; dunia yang paling dekat dengan kamu, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati kamu..

Coba dah, sekarang kamu bayangin ada 3 mahasiswa yang lagi duduk dipinggir danau (anggap saja, Danau-danau-an kampus kita). Mereka bertiga, menggunakan kacamata yang berbeda, yaitu kacamata yang berwarna hijau, biru, dan hitam (kreatif, ato kurang kerjaan ya? --a). Si kacamata hijau bilang:
“Wuuuah indahnya danau yang hijau ini….” *mata berkaca2, hidung kembang kempis*
Si biru nyahut:
“Alamakk! Buta kali kau, danau biru dibilang hijau!!” (pura2nya orang batak).  
Orang terakhir, si kacamata hitam, dengan wajah bingung berkata:
“Kepiye tho? Cuaca mendung begini kok dibilang indah?? Enek-enek wae…!”

Nah, kenapa mereka berbeda pendapat? Kenapa ada yang bilang danaunya berwarna biru lah, hijau lah, bahkan hitam? Padahal kan merah! *glodag!* Hehe. 
Yep! Karena mereka mengenakan kacamata yang berbeda. Mereka bisa saja ribut mempertahankan pendapatnya, tapi tidak ada yang paling bener. Semua itu karena mereka melihat dari kacamata yang berbeda (cara mmandangnya yang berbeda).

Demikian halnya dengan belajar. Kalau kita memandang belajar dengan kacamata yang salah, ntah itu biru, merah, hitam, atau burem, maka kita akan memiliki arti belajar yang terbatas. Neh contohnya,
 “Belajar bikin bete”
“Belajar lama2 ntar make kacamata minus lho”  
“Belajar sich bisa ngurangin teman”.
Padahal sebenernya kamu bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda; contohnya, kalo kamu masi mahasiswi tingkat 1, 
”Anfis itu asik”, 
“KDPK itu keren banget!”, atau 
“Konsep Kebidanan? Ajiiiiiiib!” (ghahaha). 
Dan, kalo kamu tingkat II, 
“Askeb 1 bener2 penting!”, 
“Ilmu Kesehatan anak bikint guwe pin cepet2 lulus…. trus nikah!! Haha’ “ (itu sich kata saia), atau, 
“OhMyGod!! Biokimia itu…. GOKIIIIIL!!” 
Nah, kalo smua mata kuliah itu asik dan keren, bahkan gokil, pasti belajar jadi semangat donk?Oleh karena itu, kalo kamu bener2 niat ingin belajar, awali saja dengan menyadari, apakah saya sudah melihat belajar dari banyak sisi? Apakah saya sudah mengenakan kacamata yang benar untuk melihat belajar?

Gitu, setuju gag kalo sekarang saia bilang bahwa sepertinya kamu perlu memakai kacamata baru untuk melihat lebih banyak sisi dari belajar, supaya bisa melihat belajar seindah warna aslinya?!! Okeeeh???

Edisi: HIMADDA
Red: anggun_hijab

10 April 2012

Surat dari Dania #2


Aku terharu baca ini, surat dari Dania :')


......Segala puji bagi Allah yang masih menyisakan kerinduan itu dihati kita, semoga ia senantiasa menjadi cermin yang senantiasa mengingatkan seperti apa seharusnya diri kita bersyukur dengan segala nikmat dan skenario indah  buatan-Nya untuk setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun dalam hidup kita, yang mungkin itu belum sempat singgah di hati yang lain, karena tidak pernah ada yang diciptakan oleh-Nya menjadi sebuah kesia-sia-an.

Aku sama sekali tidak memahami makna apa dibalik kalimat "tidak ada yg sia-sia", karena sepertinya mudah diucapkan dan sulit masuk kerelung hati sehingga aku bisa menikmati sesuatu yang benar-benar kuangggap tidak sia-sia.  Ternyata untuk membedakan itu sia-sia atau tidak, itu bergantung pada sedalam apa kita memahami makna kehidupan ini yang tidak akan pernah habis sampai hidup kita berakhir, bukankah begitu saudaraku?

Aku teringat akan firman-Nya di ayat Al Quran yang kalau tidak salah, kita pernah menghafalnya agar bisa tenang berhadapan dengan Pak Syaeri (guru agama kita) sebagai syarat kelulusan ujian praktek agama, semoga Allah senantiasa merahmati beliau atas keinginan besarnya memahamkan kita tentang makna seluruh penciptaan-Nya yang tidak sia-sia, tapi aku sendiri merasa sedikit sekali hati ini bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang tercecer itu.astagfirulloh......

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS.Ali-Imran:190-191)

aku ingin menyampaikan ini saudaraku, sebagai rasa syukur kepada Allah, bahwa serpihan episode kehidupan kita dulu, yang singkat dan mungkin tak cukup  banyak kisahnya atau mungkin dulu kita anggap biasa bukanlah sesuatu yang sia-sia belaka melainkan ada sesuatu yang sengaja Allah siapkan untuk kita sebagai bekal untuk kehidupan kita, kita dilahirkan di kota itu, bertemu di sekolah, bermain bersama, belajar bersama, menangis bersama, tersenyum bersama bukanlah hal yang tidak direncanakan oleh-Nya, jika penciptaan langit dan bumi yang sungguh besar, kompleks dan teratur ini dengan sangat mudah diatur dan direncakan oleh-Nya dengan maksud yang tidak sia-sia, maka apatah hanya segelintir episode hidup hamba-hamba-Nya saat ini terasa sulit untuk Ia rencanakan. Sungguh itu mustahil bukan?.  Sedangkan untuk menjawab apatah semua itu sia-sia belaka, ia itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak ingin mengambil hikmah darinya, padahal Dia tidak memberi satu episode pun melainkan ia berikan episode yang terbaik untuk kita mencari perhatian-Nya, atau episode yang mendewasakan kita, memberi hikmah pada kita atau bahkan menegur kita agar tidak tercebur dalam kesalahan yang menyedihkan kita seperti seorang ibu yang menegur dan menasihati anaknya dengan berteriak lantaran kaget anaknya hendak mendekati sebuah 'got' yang dalam sehingga khawatir anaknya yang tersayang jatuh kedalamnya, tapi sang anak malah menangis lantaran takut dengan teriakan ibunya yang menurutnya sedang marah,

Mengapa aku menyampaikan ini saudaraku, aku ingin menyampaikan ini, lantaran rasa inginku kalian tahu betapa bahagianya aku saat ini, dan betapa bangganya aku pada kalian, tetap istiqomah tatkala banyak yang melemah, tetap lembut hati dalam mendengar nasihat agama ini tatkala banyak yang  mengeluh bahwa dunia menyibukkannya dan sebelum penyesalan itu datang lantaran tak sempat aku menyampaikan rasa ini pada kalian, padahal teladan kita, Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita. “Jika seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah, karena hal itu mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Itulah ia saudaraku, aku telah mengabarkannya, apatah kalian hendak mengabarkan sesuatu kepadaku??

Apa kabar kalian semua saudaraku,,
Tatkala sekeliling kita tak mendukung kita  untuk mereview ulang kisah kita dulu, maka sampaikanlah pd Rabb kita, "Saksikanlah duhai Allah, hatiku merindukan saat itu dan menginginkan ia kembali maka "tunjukilah jalan-jalannya" duhai Allah, hingga aku bisa mempertahankan nikmat-Mu itu dengan hamba-hamba-Mu yang sholehah di dunia ini". Maka aku percaya dengan Dzat yang tidak pernah menyalahi janji "innallahakaanabikum rohiimaa" sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dari Mu’adz ibn Jabal ra, katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para Nabi dan para Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi).
Itulah ia saudaraku, maukah kalian bersamaku membuat para Nabi dan Syuhada cemburu?

15 Maret 2012

Merekatkan Gading yang Retak

Tak ada gading yang tak retak. Selama kita masih seorang manusia, kesalahan, kelalaian, kekhilafan, selalu saja menyertai. Akan tetapi, keretakan pada gading, sangat bisa untuk kita rekatkan, sehingga gading kita, setahap demi setahap, akan menjadi gading yang sempurna,


Manusia yang baik adalah yang mampu memberi kritik kepada diri sendiri -bahkan- sebelum orang lain menyadari bahwa kita ternyata melakukan kesalahan. Bukan justru senantiasa melegitimasi diri sendiri, menjustifikasi apa yang kita lakukan –meski salah- sebagai sebuah kebenaran. Jika kita memang bersalah dan menyadarinya, maka hal tersebut telah sukses menempatkan diri kita sebagai pembohong. Sementara jika ternyata kita tak menyadarinya, maka kita telah terjebak pada kebutaan mata hati.

Ada kalanya kita harus merenung, menyendiri, dan dalam kesendirian itu pasanglah slide dan proyekor batin kita. Kita tayangkan film yang telah tersimpan dalam memori kita. Kita tonton film kita, dan kita posisikan diri kita sebagai penonton yang tengah menonton sebuah film dengan diri kita sebagai pemeran utamanya. Segala aktivitas kita pun akan masuk dalam proses analisis kita. Berbesar hatilah untuk mau mengikuti kelemahan-kelemahan yang kita miliki, dan merendahlah jika ternyata kita mampu menggoreskan sebuah prestasi -karena semua itu tak lepas dari izin Alloh, kemudian juga peran orang-orang yang ada di atas kita.
Oleh sebab itu, Umar bin Khatab ra. Berkata, “Hisablah diri kita sebelum kita menghisab orang lain.”
Namun ketika kritikan itu telah sampai kepada kita, maka renungkanlah, pelajarilah. Jika memang benar adanya, maafkanlah diri kita yang memang fitrahnya adalah tempat segala khilaf. Maafkan diri kita, dan bersungguh-sungguhlah untuk merubah apapun yang dikritik orang lain tersebut menjadi sesuatu yang lebih baik. Teguhkan dalam hati bahwa kita pasti bisa merubahnya, sedikt-sedikit.

Banyak orang yang patah di tengah jalan, karena kritikan dari orang lain. Orang semacam itu, biasanya menganggap dirinya selalu benar, sehingga ketika orang memperlihatkan ketidakbenaran dalam dirinya, ia akan tersinggung. Kita harus proporsional juga dalam menyikapi kritik. Jangan sampai kritikan yang muncul justru membuat diri kita kehilangan rasa percaya diri dan memutuskan untuk berpaling dari segala sesuatu yang telah kita yakini kebenarannya. Bagi orang yang telah memahami dirinya dengan baik, dan memiliki serangkaian program pengasah potensi diri, kritik akan menjadi salah satu batu asah, yang membuat pisau kita semakin tajam. Bukan palu godam yang membuat kita remuk, namun juga bukan karat yang membuat pisau itu menjadi tumpul.

Menasihati diri sendiri
_150312

17 Februari 2012

Di Perjalanan PULANG itu....

Waktu itu hari senin pagi, pukul enam lebih sedikit mungkin. Berdua Mama aku menunggu bus di pemberhentian bus di kotaku, menuju asrama, -pulang. Iya pulang, karena disanalah rumah keduaku. Tempat berhembusnya nafas selama 2 tahun sudah, berbagi kenyamanan dengan puluhan teman.. ah, benar-benar penuh kenangan. 
Baiklah, aku lanjutkan ceritaku. Saat itu masih pagi memang, dingin dan tidak terlalu ramai kendaraan. Amat mudah mengenali dari jarak jauh kendaraan apa yang akan lewat. Apakah bus atau truk, apakah mobil pribadi atau motor pribadi (hehehe). Cuma hampir 10 menit saja menunggu, bus pun lewat dan berhenti. Kernet turun lalu mempersilahkan aku naik. Wah, penuh namun tidak sampai sesak. Ada bangku “kosong dipaksakan” di deretan paling depan. Aku duduk. Disebelahku seorang ibu memeluk bayinya yang berumur sekitar 2 bulan. Mereka berdua sedang asik “ngobrol” dari mata ke mata, dari hati ke hati. Romantis sekali ibu dan anak itu.
 Jarak antara aku dengan sopir sangat dekat, aku tinggal mengulurkan tanganku saja jika diperlukan untuk menoel pak sopir. Hehehe, Dekat kan??
Perjalanan masih panjang saat seorang bapak di depanku merokok, jojong saja. Tanpa ampun menyerangku dan penumpang lain dengan asapnya. Aku diam saja. Memangnya mau apa? Belum kuat nyaliku menegur si bapak atas asap rokoknya yang merajalela memenuhi ruang nafasku. Lupa dia akan ancaman penyakit jantung-paru yang sedang melirik sinis berniat mempir di jantung-parunya suatu saat nanti. aku hanya berlagak saja terbatuk-batuk, lalu tersenyum pada ibu disebelahku. Maksud hati ingin menyampaikan pesan, “batuk kan guwe gara2 rokok si bapak..! BT!! tapi tetep, kalo senyum masih manis kok gw.. ya kan bu??^_^” (haha) tapi ntah apakah ibu itu bisa menangkap maksud jujurku atau tidak. Dia balas tersenyum lalu melanjutkan “ngobrol” dengan bayinya. Dan dari mulut si bapak tetap mengepulkan asap rokoknya.
Aku bersandar, mengantuk. Ingin rasanya tidur sebentar saja, tapi tidak ah, malu dengan kakek di dekatku yang segar bugar melotot fokus memperhatikan jalan. Tatapannya tidak kosong, tapi berpikir. Iya, sepertinya si kakek sedang berpikir, karena kerut di dahinya terlihat jelas dari sisi samping. Hmmm semakin tua usia, semakin banyak beban kehidupan. Itu wajar kata papaku.