19 Juli 2012

Langit Merah #1



Warna langit yang hampir merah lagi-lagi membuatku tertegun. Kilaunya menyeretku pada kejadian lima tahun lalu, ketika saat itu pendar yang sama menghiasi atap bumi Surabaya. Persis sama, seperti dejavu saja. Guratan-guratan warna yang lebih muda mengaduk putihnya awan, pink jadinya. Kusapu tuntas langit sore itu dengan tatapan di balik kacamata. Aku harus sedikit-sedikit memutar leher untuk menyelesaikan pengelanaan mataku. Ya, karena frame kacamataku membatasi luasnya penglihatan. Area yang jelas kulihat hanya seluas frame berukuran 3 x 2 senti. Selebihnya? Seperti sebuah gambar yang ditumpahi efek blur. Buram dan abstrak. Jika kau bermata minus, kau akan mengerti.

Kepalaku hampir mematuk sisi jendela ketika jemari Jenggala mampir di pundak kananku. “Kau melangit lagi?”’ Senyumnya tersungging lama, kemudian tinggal begitu saja di wajahnya yang teduh. Matanya sayu, menatapku lekat-lekat menelusup sampai ke hati. Dia berusaha sedekat mungkin menempel padaku. Merengkuh pundakku. Dan membiarkan kepalaku jatuh di dada bidangnya, seperti sengaja menggelar tempat tidur empuk untuk permaisurinya melepas cerita. Menyediakan tempat terhangat dalam rengkuhan cintanya.  Padahal Jenggala tahu betul, hatiku selalu dekat dengan hatinya. 

Langit yang merona.” Jenggala seolah mengerti bahkan sebelum sempat kujabarkan apa yang berputar di kepalaku tentang langit sore ini.  Dia kemudian mengekor tatapanku yang kembali jatuh pada si langit merah, meresapi langsung ke sumber renunganku. Mencari-cari gerangan apa yang membuatku melangit sore ini. Dia selalu ingin tahu semua yang tersembunyi dalam benakku tanpa memintaku menjelaskan padanya. Cukup menatapku saja, tak jarang Jenggala berhasil membaca isi hatiku. Begitu keras usahanya memahamiku luar dalam. Jenggala selalu berusaha menaungiku seperti seorang ibu yang menyayangi puterinya, seperti guru yang membimbing muridnya, seperti sahabat yang berbagi sisi bahagianya, dan lebih dari itu, Jenggala adalah suami yang terlalu sempurna di mataku. 

Lima tahun lalu di Surabaya kami bertemu. Tepat di bawah langit merona Jenggala mengenalkan dirinya padaku. Tidak ada yang berubah sikapnya saat dia membaca tulisan di secarik kertas  yang kuberikan padanya saat itu. Dia jatuh cinta padaku saat pertama melihatku, akunya. Dan aku percaya. Cukup percaya sebab ia telah membuktikan perkataannya dengan segera menikahiku. Sikapnya yang menyempurnakan diriku dimatanya, sungguh kuanggap sebagai ungkapan cinta terdalam. ‘Cukup aku dan Tuhan yang tahu sempurnanya dirimu.’ Adalah ungkapan megadahsyat yang menghanguskan ketidakpercayaan diriku saat itu. Jenggala, dialah laki-laki yang melengkapiku.

Ia terlalu kompleks di matamu, langit itu. Apa yang sedang kau pikirkan tentangnya, Ranting? Aku kesulitan menebak.” Jenggala beralih menatap wajahku. “Hei, tidak keberatan untuk memberiku clue?”’ kata Jenggala kemudian. Dia tidak menyerah, Jenggala hanya butuh keywords. Kusadari, dia bukanlah malaikat yang serba tahu semua yang tersimpan di kepalaku, meski Jenggala tak pernah lelah mencari arti di setiap senyum penyamar diamku.
Kutegakkan kepalaku yang sudah terlanjur nyaman bermanja di dadanya. Kutarik senyum terindah yang bermakna ‘tak masalah’ kepadanya. Kuacungkan empat jari tangan kananku secara bersamaan, membentuk angka Empat. Kemudian kukepalkan tanganku dan kuputar sekali kearah kanan, yang berarti: Tahun. Yang terakhir kutunjuk punggungku: Lalu. Empat Tahun Lalu. Ini semacam permainan tebak kata yang mungkin kau pernah memainkannya bersama teman-temanmu sewaktu bocah dulu. Tapi aku dan Jenggala kerap memainkannya sejak kami menikah.

“Kau sedang mengingat pertemuan kita yang pertama?”  Tebaknya antusias. Aku mendapati lagi senyum menghiasi wajah teduhnya, namun kali ini dia mendekatkan wajahku ke wajahnya. Keningku dikecupnya. Aku tidak perlu mengangguk untuk memberitahunya bahwa jawabannya amat tepat. Dia tahu benar, diam berarti iya. Dan kecupannya adalah hadiah istimewa sore ini. Dalam imajiku, cintanya memancar kemana-mana. Aura di sekitar kami berubah menjadi merah muda, bahkan melebihi ranumnya warna pink awan di sana. Aku mengerti, bahagia itu: ini.
Akan kuceritakan kisah Empat Tahun Lalu itu, ketika bersama kesungguhannya Jenggala mengungkapkan isi hatinya pada pertemuan pertama kami, tepat setelah dengan sadar membaca dua kata di secarik kertas yang kuberikan padanya. Nekat betul dia. Seperti tersihir mantera bernama Cinta Pada Pandangan Pertama saja. Dia tidak banyak berkata, yang dilakukannya adalah duduk bersimpuh di depanku, lagaknya seperti pujangga. Dengan masih menggenggam kertas pemberianku hasil sobekkan buku catatan yang kerap kubawa saat melangit, Jenggala kemudian berkata:

Aku baru saja jatuh cinta padamu. 
Lengkap dengan tatapan teduhnya yang menelusup sampai ke hati. Saat itu, dia bahkan belum tahu namaku.
Dia gila, pikirku. Bagaimana mungkin dia mengatakannya setelah membaca tulisanku di secarik kertas yang kusobek tak sempurna itu. Sedetik kupikir dia mempermainkanku, sebelum Jenggala tersenyum tulus dan mengangguk sekali, tanda pasti. Segera kulirik kertas di genggamannya. Untuk meyakinkan bahwa aku tidak salah menulis kata. Atau dia tidak terbalik membacanya. Dan kudapati dua kata itu tertulis sempurna. Tanpa kesalahan. Dan Jenggala tidak keliru membacanya. Sedetik kemudian degub jantungku mulai kacau. Ntahlah, aku merasakan kekhawatiran, namun ketulusan pada sorot mata Jenggala menentramkan hatiku. Itu harapan. Harapan untuk mencari bahagia bersama-sama. Harapan untuk mengejar masa depan dengan cinta. Yang kini, aku telah mendapati harapan itu menjadi hal yang nyata. 


Pada secarik kertas yang kuberikan padanya:



 ‘Aku Bisu’.





~bersambung~

11 Juni 2012

Hujan dan Perasaan Bahagia

#Eh
Ujan lagi :)
Sore tadi,
sekitaran pukul 5 lebih 11 menit.
Aku berniat mengambil handuk yang ku jemur di atas.
Kalo belum tau, rumah kontrakan kami berlantai 2.
Eh, langit sore rupanya mendung.
Kelabu sekali.
Ronanya ndak nampak.
Kuperhatikan, sore ini meski mendung, ternyata indah juga.
Rumah-rumah tetangga nampak sepi.
Anak-anak komplek tumben sekali ndak bermain bola.
Lapangannya kosong. Cuma hamparan rumput yang menunduk.
Aku diam saja disana.
Aku lupa dengan niat yang membawaku ke atas (lantai 2).
Ntah, mendung saat itu menyeretku pada beberapa ingatan.
Aku terhanyut.
*Tes*
Ah, gerimis.
Aku suka gerimis.
Romantis. #hhaha
Aku ndak beranjak.
Pagar pembatas balkon lebih menarik perhatianku.
Pagarnya berupa besi-besi yang berjejer horizontal.
Aku menaikkan kedua kaki di atas besi yang melintang paling bawah.
Lalu, kedua tangan menggenggam erat besi yang melintang paling atas.
Wajahku menengadah langit kelabu.
Kuhirup banyak-banyak udara yang basah.
Sambil menatap langit lekat-lekat.
Nyaman sekali..
*Tes.. Tes..*
Hujan.
Kacamataku jadi buram terkena tetesan hujan.
haha.. Biar saja.
Hujan, selalu membuatku merenung.
Ndak pernah membuatku merasa bosan.
Sama seperti Pantai.
Jika ombaknya selalu berbeda disetiap gulungan.
Maka  tetesan hujan akan selalu berbeda disetiap kesempatan.
Dalam hati, aku berteriak: "Hujan, ayoo bersemangatlaah!"
Haha lalu aku tertawa-tawa.
Ah, Aku ingin hujan-hujanan saja.
Terserah.
Aku akan melakukan sesuatu yang mau kulakukan.
Tak ada yang bisa menghalangi selain Tuhan.
Kenapa tidak? Aku senang :)
Anggap saja mengalahkan rekorku,
Terakhir, sengaja dikuyupi air langit dengan perasaan bahagia saat umurku 19.
Berarti, sudah lebih dari 2 tahun, bukan?
:D
Kemudian, tiga temanku muncul dari belakang.
Mereka tertawa, geleng-geleng kepala, lalu pergi dengan bahu yang mengangkat keheranan.
Ada juga yang bergabung denganku.
Menikmati hujan dengan perasaaan bahagia.
Bedanya, dia tidak basah. Rupanya takut sakit.
Lusa kami UAS.
Aku tau.
Tapi tak peduli. hhaha
Setengah jam lebih.
Aku kedinginan.
Bibirku membiru.
Kuku pun memucat.
Kulit di jariku berkerut-kerut.
Sepertinya cukup dulu. Akan kuulangi jika aku ingin, nanti.
Okay, aku akan turun.
Jangan lupa ambil handuk :)
Mandi, lalu minum obat utk pencegahan.
Ingat, lusa Ujian ^_^


A. Larasati
Kost-an Teteh Eka, 11 Juni 2012
11.59 pm

17 Mei 2012

Catatan Pendek di Pojok Halaman


Setiap orang tentu punya cara masing-masing untuk mengingat sesuatu yang menurutnya sangat penting untuk di ingat. Misalnya, materi kuliah (Gue membicarakan mahasiswa). Jadi tiap kuliah, apapun matakuliahnya, gue selalu nulis di pojok halaman notebook yang disitu materi yang lagi diterangin dosen  gue catet.  Semacam catatan kecil. Biasanya gue lingkarin pake pena warna-warni, tandanya itu wajib dibaca lagi. Nah, catatan-catatan kecil ini berisi  curahan perasaan gue saat itu, saat kelas berlangsung. Ini penting, penting banget. Jadi pas musim ujian tiba, -secara gue belajarnya sistem SKS-, saat gue baca catatan2 kecil itu, gue bakalan dipaksa mengingat kembali gimana perasaan yang menggelayuti gue saat kelas itu berlangsung. Dulu, yang ntah kapan. Dengan mengingat gimana perasaan gue saat itu, mood gue saat itu, emosi gue saat itu, gue bakalan mudah juga mengingat materi yag disampaikan dosen. :D  Cara ini udah gue terapin sejak tingkat brapa tau. Dan hasilnya lumayan signifikan :)

Ini beberapa, gue salin dari notebook gw yang terakhir:

23 Februari 2012
_Kuliah Umum , oleh Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, Msc, PhD. (Wa. MenKes RI)
*Dalam  kekurang nyamanan akan …… di sisi.

24 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Komunitas
*Ketika kabut masih memeluk udara

27 Februari ‘12
_Kuliah Obgyn
*Suasana yang membelot, dosennya mengamuk :D

29 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Evidance Based
*Diselimuti kelemah-lembutan bu Dosen ^^

-Kuliah Askeb Komunitas
*Saling terengah-engah

5 Maret ‘12
_Kuliah Bimbel dan Konseling
*Merenggang masa hingga binasa kewajiban

-Kuliah Obgyn
*2 Warna direnggut kecerobohan. 2 warna, rimba dan tanah gersang

6 Februari 2012
_Kuliah Kespro
*Jabatan ini membunuhkuu (kenapa harus bendahara?)

_Kuliah Askeb Komunitas
* “Gak apa2 kan saya suka komentar? Gak tersinggung kan kalian?” -_-

13 Februari ‘12
_Kuliah Askeb Evidance Based
*Lain kali kalo kuliah bawa Toak kita, sist ..

14 Maret 2012
_(Lupa kuliah apaan)
*Begadang semalam ada hasil, Yaa Alloh, Ngantuk Yaa Alloh,,, (meremelek)

14 Maret ‘12
_Kuliah Obgyn
*Hormaaaaaaat gerak!!! :D

(Lupa nulis tanggal)
_Kuliah Umum tentang penyusunan jurnal
*Sudah galau di jam ke dua, pintu keluar makin mendekat. mendekat. mendekat.

(Lupa nulis tanggal)
_Kuliah Teknik dan media Pembelajaran
*Telat, Bo’ong, Mengaku T.T (Semoga Alloh mengampuniku)

25 April 2012
_Kuliah Komunitas
*Hapalkan! Hapalkan!

4 Mei 2012
_Kuliah Obgyn
*Suasana baru. Aneh.

5 Mei 2012
_Kuliah Obgyn
*Ramah taaaa?? :/

7 Mei 2012
_Disidang
*Sampah? mana sampah?

Aslinya masih ada banyak lagi, dinote book gue yang lama. Tapi gak tau dimana naroknya. Hehe

8 Mei 2012

Surat dari Dania #1


Assalamualaikum….

Apa Kabar Sahabatku??

Siapa yang pernah menyangka kalau masa-masa kita dahulu sungguh sebuah masa teramat penting dalam hidup ini. Dan masa-masa itu adalah sebuah rahmat dan karunia dari-Nya yang hampir saja saya tak mampu mensyukurinya.  Saya mengatakan itu sebagai sebuah rahmat dan karunia bukanlah karena hal yang diartikan kebanyakan orang tentang sebuah persahabatan, lebih dari itu, ada hal indah yang jika dikenang maka pastilah orang-orang yang mampu merasakannya akan cemburu pada kita. 

Saya menyadari kebenaran bahwa bahagia itu bukanlah kosakata materi tapi ia kosakata ruhani, saya kembali merenungkan doa yang telah kita coba hafal dahulu, yang jika kita akan berdoa maka diantara kita saling menyilakan, yang rasanya alasan terkuat adalah karena kita takut salah dan merusak kekhusyuan doa, hal itu kisah yang lucu dan menyenangkan jika diingat.

“Sesungguhnya Engkau tahu, bahwa hati ini telah menyatu, berhimpun dalam naungan cinta-Mu, Bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan……..”.

Ya, doa itu yang kita ucapkan dengan berbahasa arab, semakin syahdu tatkala menyadari bahwa pertemuan kita dahulu bukan karena suatu kepentingan duniawi yang melelahkan, yang menuntut kita setia padahal kita dikecewakan. Kita bertemu karena dulu kasih sayang Allah menghendaki kita bertemu untuk sama-sama mendekat kepada-Nya, saling mengingatkan, saling menjaga dan mengajak orang lain mau mendekati-Nya dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya, namun begitulah, meski tak banyak  yang mampu kita berikan ataupun yang bisa kita contohkan karena keterbasan pengetahuan kita, tetapi kalian semua tetap memberi semangat untuk terus memperbaiki diri sendiri dan orang lain, karena kita adalah orang-orang yang senantiasa belajar, aamiin. Tak ada yang mampu mencoreng persahabatan kita itu, tatkala mungkin ada yang memutuskan persahabatan lantaran hal-hal duniawi dan kepentingan pribadinya tak terpenuhi dengan bersahabat bersama kita.

Kalimat doa yang menarik hati sangatlah banyak, namun jika direnungkan, apalah maksud “lapangkanlah dada kami dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu”. 

Benar, ketika bersama kalian, keindahan itu tampak, dunia tak menjadi hal yang menggelisahkan jiwa, karena keyakinan akan janji-Nya untuk orang-orang yang bertakwa. Pertanyaannya apakah kita orang-orang yang bertakwa? Ketika itu tidak satu pun yang yakin akan selamat dari kesalahan-kesalahannya sehingga membuat kita mau dan terus belajar serta berusaha untuk mengamalkan apa-apa yang yang diperintahkan oleh Allah, sehingga aku berpikir bahwa aku tidak salah dalam memilih sahabat, yaitu bersahabat dengan orang-orang yang rendah hati, yang tak merasa cukup baik, sehingga terus dan terus mau mendengarkan nasihat, mau belajar dan beramal baik, walaupun kita yakin kita sering melakukan kekhilafan. Hmm…  Waktu itu kita sangat polos ya.  Sampai-sampai terngiang kembali kalimat itu “Kalo begini kita dosa ga ya????”, kata-kata yang jarang terdengar ditelingaku saat ini, apalagi begitu melihat langsung kenyataan adik-adik SMA yang berangkat ke sekolahnya naik angkot bersamaku, mereka menggunakan tas yang sangat kecil, membicarakan lawan jenisnya, sambil memegang cermin ber-cover gambar artis Korea yang bermesraan.  Terkadang aku berpikir kasihan sekali, betapa sedih ibu-bapaknya, dan gurunya disekolah  karena putri-putrinya terjerumus pada hal-hal yang klise dan memilukan hati, hal itu membuat hati ini sedih, mengingat calon-calon ibu negeri akan mendidik anaknya nanti dengan seperti apa.

Sahabat-sahabatku, semoga  mereka semua membutuhkan kita, teruslah bersemangat dengan aktivitas kita dulu, saling mengingatkan dan memperbaiki diri serta mengajak orang lain menikmati indahnya jalan ini.
Untuk mengungkapkan rasa rindu ini, doa kita tentang meminta indahnya tawakal kepada-Nya, menjadi penutup surat ini.  Bagaimana menikmati keindahakan tawakal, ia selalu menjadi rahasia untuk hati-hati yang tidak mau mensyukuri nikmatnya, dan selalu mengeluh dengan keadaan serta takut dengan masa depan jika ia tidak sungguh-sungguh mengejar duniawi, padahal janji Allah itu jelas dalam firmanya “ barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedang ia adalah mukmin, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya di balas dengan baik. (QS. Al Isra:19) “. Semoga kita istiqomah di jalan-Nya, Aamiin…
Wallahualam…..

11 April 2012

Aku Bisa Merubah DUNIA !


Eh, adek tingkat! Percaya gak dengan judul di atas?
Gag percaya???
Sama!!! (haghag)

Saia juga gag percaya pada awalnya, dan bilang kalo orang yang mengatakan hal itu adalah “Mr. or Mrs, Belagu”. Tapi setelah mengalami belajar yang sesungguhnya, sukses maupun gagal, ternyata bisa juga lho kita percaya dengan kata2 di atas. 


“Aku Bisa Mengubah Dunia” 
Caranya? ya dengan belajar!! Kerena dengan belajar kamu bisa mengubah dunia ; dunia yang paling dekat dengan kamu, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati kamu..

Coba dah, sekarang kamu bayangin ada 3 mahasiswa yang lagi duduk dipinggir danau (anggap saja, Danau-danau-an kampus kita). Mereka bertiga, menggunakan kacamata yang berbeda, yaitu kacamata yang berwarna hijau, biru, dan hitam (kreatif, ato kurang kerjaan ya? --a). Si kacamata hijau bilang:
“Wuuuah indahnya danau yang hijau ini….” *mata berkaca2, hidung kembang kempis*
Si biru nyahut:
“Alamakk! Buta kali kau, danau biru dibilang hijau!!” (pura2nya orang batak).  
Orang terakhir, si kacamata hitam, dengan wajah bingung berkata:
“Kepiye tho? Cuaca mendung begini kok dibilang indah?? Enek-enek wae…!”

Nah, kenapa mereka berbeda pendapat? Kenapa ada yang bilang danaunya berwarna biru lah, hijau lah, bahkan hitam? Padahal kan merah! *glodag!* Hehe. 
Yep! Karena mereka mengenakan kacamata yang berbeda. Mereka bisa saja ribut mempertahankan pendapatnya, tapi tidak ada yang paling bener. Semua itu karena mereka melihat dari kacamata yang berbeda (cara mmandangnya yang berbeda).

Demikian halnya dengan belajar. Kalau kita memandang belajar dengan kacamata yang salah, ntah itu biru, merah, hitam, atau burem, maka kita akan memiliki arti belajar yang terbatas. Neh contohnya,
 “Belajar bikin bete”
“Belajar lama2 ntar make kacamata minus lho”  
“Belajar sich bisa ngurangin teman”.
Padahal sebenernya kamu bisa melihatnya dari sudut pandang yang berbeda; contohnya, kalo kamu masi mahasiswi tingkat 1, 
”Anfis itu asik”, 
“KDPK itu keren banget!”, atau 
“Konsep Kebidanan? Ajiiiiiiib!” (ghahaha). 
Dan, kalo kamu tingkat II, 
“Askeb 1 bener2 penting!”, 
“Ilmu Kesehatan anak bikint guwe pin cepet2 lulus…. trus nikah!! Haha’ “ (itu sich kata saia), atau, 
“OhMyGod!! Biokimia itu…. GOKIIIIIL!!” 
Nah, kalo smua mata kuliah itu asik dan keren, bahkan gokil, pasti belajar jadi semangat donk?Oleh karena itu, kalo kamu bener2 niat ingin belajar, awali saja dengan menyadari, apakah saya sudah melihat belajar dari banyak sisi? Apakah saya sudah mengenakan kacamata yang benar untuk melihat belajar?

Gitu, setuju gag kalo sekarang saia bilang bahwa sepertinya kamu perlu memakai kacamata baru untuk melihat lebih banyak sisi dari belajar, supaya bisa melihat belajar seindah warna aslinya?!! Okeeeh???

Edisi: HIMADDA
Red: anggun_hijab

10 April 2012

Surat dari Dania #2


Aku terharu baca ini, surat dari Dania :')


......Segala puji bagi Allah yang masih menyisakan kerinduan itu dihati kita, semoga ia senantiasa menjadi cermin yang senantiasa mengingatkan seperti apa seharusnya diri kita bersyukur dengan segala nikmat dan skenario indah  buatan-Nya untuk setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun dalam hidup kita, yang mungkin itu belum sempat singgah di hati yang lain, karena tidak pernah ada yang diciptakan oleh-Nya menjadi sebuah kesia-sia-an.

Aku sama sekali tidak memahami makna apa dibalik kalimat "tidak ada yg sia-sia", karena sepertinya mudah diucapkan dan sulit masuk kerelung hati sehingga aku bisa menikmati sesuatu yang benar-benar kuangggap tidak sia-sia.  Ternyata untuk membedakan itu sia-sia atau tidak, itu bergantung pada sedalam apa kita memahami makna kehidupan ini yang tidak akan pernah habis sampai hidup kita berakhir, bukankah begitu saudaraku?

Aku teringat akan firman-Nya di ayat Al Quran yang kalau tidak salah, kita pernah menghafalnya agar bisa tenang berhadapan dengan Pak Syaeri (guru agama kita) sebagai syarat kelulusan ujian praktek agama, semoga Allah senantiasa merahmati beliau atas keinginan besarnya memahamkan kita tentang makna seluruh penciptaan-Nya yang tidak sia-sia, tapi aku sendiri merasa sedikit sekali hati ini bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang tercecer itu.astagfirulloh......

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS.Ali-Imran:190-191)

aku ingin menyampaikan ini saudaraku, sebagai rasa syukur kepada Allah, bahwa serpihan episode kehidupan kita dulu, yang singkat dan mungkin tak cukup  banyak kisahnya atau mungkin dulu kita anggap biasa bukanlah sesuatu yang sia-sia belaka melainkan ada sesuatu yang sengaja Allah siapkan untuk kita sebagai bekal untuk kehidupan kita, kita dilahirkan di kota itu, bertemu di sekolah, bermain bersama, belajar bersama, menangis bersama, tersenyum bersama bukanlah hal yang tidak direncanakan oleh-Nya, jika penciptaan langit dan bumi yang sungguh besar, kompleks dan teratur ini dengan sangat mudah diatur dan direncakan oleh-Nya dengan maksud yang tidak sia-sia, maka apatah hanya segelintir episode hidup hamba-hamba-Nya saat ini terasa sulit untuk Ia rencanakan. Sungguh itu mustahil bukan?.  Sedangkan untuk menjawab apatah semua itu sia-sia belaka, ia itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak ingin mengambil hikmah darinya, padahal Dia tidak memberi satu episode pun melainkan ia berikan episode yang terbaik untuk kita mencari perhatian-Nya, atau episode yang mendewasakan kita, memberi hikmah pada kita atau bahkan menegur kita agar tidak tercebur dalam kesalahan yang menyedihkan kita seperti seorang ibu yang menegur dan menasihati anaknya dengan berteriak lantaran kaget anaknya hendak mendekati sebuah 'got' yang dalam sehingga khawatir anaknya yang tersayang jatuh kedalamnya, tapi sang anak malah menangis lantaran takut dengan teriakan ibunya yang menurutnya sedang marah,

Mengapa aku menyampaikan ini saudaraku, aku ingin menyampaikan ini, lantaran rasa inginku kalian tahu betapa bahagianya aku saat ini, dan betapa bangganya aku pada kalian, tetap istiqomah tatkala banyak yang melemah, tetap lembut hati dalam mendengar nasihat agama ini tatkala banyak yang  mengeluh bahwa dunia menyibukkannya dan sebelum penyesalan itu datang lantaran tak sempat aku menyampaikan rasa ini pada kalian, padahal teladan kita, Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita. “Jika seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah, karena hal itu mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Itulah ia saudaraku, aku telah mengabarkannya, apatah kalian hendak mengabarkan sesuatu kepadaku??

Apa kabar kalian semua saudaraku,,
Tatkala sekeliling kita tak mendukung kita  untuk mereview ulang kisah kita dulu, maka sampaikanlah pd Rabb kita, "Saksikanlah duhai Allah, hatiku merindukan saat itu dan menginginkan ia kembali maka "tunjukilah jalan-jalannya" duhai Allah, hingga aku bisa mempertahankan nikmat-Mu itu dengan hamba-hamba-Mu yang sholehah di dunia ini". Maka aku percaya dengan Dzat yang tidak pernah menyalahi janji "innallahakaanabikum rohiimaa" sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dari Mu’adz ibn Jabal ra, katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para Nabi dan para Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi).
Itulah ia saudaraku, maukah kalian bersamaku membuat para Nabi dan Syuhada cemburu?