27 April 2016

Berbincang dengan Masa Lalu

Halo, Masa Lalu.

Mungkin memang seharusnya kita bicara, mengatakan yang perlu dikatakan, membuka apa yang menjadi tabir, melepaskan ganjalan di pintu ikhlas. Bukan, bukan karena segalanya belum usai, tapi ada hal baik yang mungkin terjadi setelah pembicaraan ini selesai : kelapangan hatiku.

Beberapa hal baik tentangmu telah kusyukuri. Mengalamimu adalah fase indah dalam hidupku. Bayangkan jika manusia tidak dianugerahi ingatan tentangmu, istilah guru terbaik sepanjang peradaban bisa jadi tak pernah ada. Ialah pengalaman.

 Denganmu, tidak ada yang tertinggal kecuali yang  istimewa, dan aku selalu bersyukur pada Tuhanku. Kau memberi pemaknaan bahwa hidup bukan hanya tentang hasil tapi proses, bukan hanya tentang pencapaian tapi tantangan, bukan hanya tentang kemudahan tapi hal sulit. Kau, satu alasan yang membuatku betah berlama-lama berdiam dengan segudang bayanganmu di kepalaku, senyum di wajahku, dan rytme seru dalam kata-kataku. Tapi kau juga alasan sama yang membuatku berjanji, tak kan ada satu-dua pengulangan di beberapa bagian lagi di kemudian hari. Haha. Bukankah setiap hal selalu mempunyai dua sisi? Begitu juga denganmu, masa lalu. 
Dan atas pengalaman kebersamaan kita, aku belajar tentang apa yang sebaiknya kuingat dan sebaiknya kutinggalkan dengan segera.

Masalalu, mau kuberitahu?
Ada sesuatu yang ingin sekali kulupakan tapi kau enggan mengiyakan. Hingga aku semakin yakin, bahwa tidak selamanya engkau menjadi hal terjauh untuk dijangkau.. Karena di beberapa titik masa, justru kau lari mengejar kami : Manusia bersama alam bawah sadarnya.

Enggan sekali kuruntuhkan egoku untuk mengakui, bahwa saat ini kudapati diriku terusik dengan satu masa olehmu . Satu waktu. Satu cerita. Mungkin juga perasaan. Tidakkah kau tau? Aku sedang berdiri di tebing antara kau dan mimpi-mimpi besarku bersama satu titipan berharga, seseorang (?) yang akan segera tiba. Kusebut ia cinta. Maka , aku perlu berdamai denganmu. Rasakan kesungguhanku.

Masa Lalu,
Aku hanyalah manusia dengan segala kefanaan. Kesalahan-kesalahan yang murni karena ketidaktahuan, kebodohan, dan banyak kelalaian, tentu saja  ada untuk mengajarkan bahwa: Ketidakmampuan manusia menampik bagian kecil dari dirimu adalah bentuk ketidakberdayaannya. Maka apakah pantas kami congkak melencengkan hikmah yang kau simpan selama ini?
Tuhan... untuk menaklukkan masa yang telah lalu pun kami tak mampu.

Masa Lalu,
Kemarilah, peluk aku erat, kita berdamai saja. Setelah ini hanya ada kelapangan hati. Dan kau bisa kembali ke posisi semulamu.
Yang terjauh untuk dijangkau.
Karena posisi terdekat, telah dimiliki oleh :
Kematian.



:)
Masa Lalu, Aku, dan Berhenti Menjebakku.
26 April 2016. Kamar Kost, tepat setelah satu tabir hati tersingkap.

9 April 2016

Hujan, Ikatan, Kalian Siap?

Assalamualaikum, Isa, Yasmin, Sauqi, Karim...

Rasanya asing sekali, mendapati satu titik terang tentang siapa yang mungkin menjadi Abi kalian di masa depan. Benar jika dikatakan satu kekhawatiran telah hilang, resah berkurang karena pertanyaan "Siapa?" dan "kapan?" telah mulai terjawab, tapi di bagian hati yang lain, pertanyaan "bagaimana?" semakin berpilin-pilin di pikiran. Aaah, Momma lupa, sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kalian tau tidak, betapa kemarin Momma merasa spesial karena Langit mengirim 'ucapan selamat' melalui Hujan di subuh hari. Seolah ingin menjadi yang pertama menghadiahi dan memeluk dibanding siapapun. Momma ganti menatap Langit dengan perasaan bahagia, berjanji ndak lama lagi akan ada sepasang mata yang juga mengatakan "terimakasih atas kebaikan-kebaikan selama ini". Kebaikan Langit kepada kita, belahan jiwa dan anugerah terindah dalam hidupnya.

Semoga... semoga Langit ndak cemburu. :D

Oiya, sempat di 24 jam yang sama, Momma mengirimkan banyak nasihat tentang esensi pernikahan kepada seorang sahabat. Direnungi lagi, Momma seperti sedang menasihati diri sendiri.

Apa yang sebenarnya manusia inginkan dengan menikah? Kenapa harus menikah? Terlepas dari perintah wajibnya, Momma rasa jawabannya adalah, karena dengan menikah, ibadah dalam mencapai ketaatan kepada Allah swt. akan lebih mudah dilakukan. Di dalamnya ada saling mengingatkan, saling menyemangati, saling memperbaiki, saling mengangkat, saling menambah, dan saling menjadi penenang. Bayangkan jika senyum sesorang kepada pasangannya akan diganti pahala yang berlipat-lipat, lalu bagaimana dengan setiap Saling yang memenuhi perjalanan pernikahan yang diniatkan sehidup-sesurga? Momma janji pada kalian, akan menjadi ibu pintar yang ndak menyianyiakan kesempatan yang Allah beri ini. Satu hal yang harus digenggam adalah: tujuan berkeluarga itu untuk taat, bukan bahagia. Karena bahagian belum tentu karena taat, tapi ketaatan selalu memberi efek bahagia di hati :)

Oh, kenapa Momma harus ceritakan ini semua? karena kalian kelak akan menjadi penghias dan pembahagia di perjalanan keluarga yang akan Momma bangun. Tentu saja. Kalian siap?

Haha kalau Momma sudah siap :)))

Lagi, Momma belum bisa menceritakan siapa orangnya. Momma belum  merasa sangat Plong hingga harus menyebut nama atau apapun. Yah, karena satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, dan satu-satunya yang membuat manusia yakin adalah pasrahnya ia kepada Tuhan.

Tunggu saja :)

_100416_Sehari usia Cincin Pengikat. Semoga Sampai.

7 Maret 2016

Sesuatu yang Baru

Halo Blogspot!

Haha, sumpah ya, aku kangeeeeeeeeeeeeeen banget nulis disini. Nulis random atau apalah, yang gak penting tapi melegakan. Aku sempat berpikir akan meninggalkan Blogspot dengan perlahan, dimulai dengan mendelete beberapa tulisan yang menggambarkan ke-alay-an seorang anggun di usia 21-23 tahunnya, dan diakhiri dengan menutup total Blog yang buatku HANYA sekedar tempat menyimpan sisa kenangan. Tapi syukur, di jarak antara fase delete-tulisan ke fase delete-blog yang begitu panjang, aku banyak berpikir dan  menimbang ; SAYANG AMAT! hahaha. Lagian ya, kalau Blog ini hanya sebagai wadah menyimpan kenangan, apa masalahnya?? Pemirsa yang sedikit bukan alasan lah, toh sejak kapan tau statistik pemirsa udah aku buang jauh-jauh dari halaman depan. Apalagi kalau alasannya karena aku ngeblog juga di Tumblr? Kyaaaa, itu nyari-nyari kambing hitam namanya. Lah di Tumblr aja kerjaanku cuma reblog! Hihihi. Alasan lain? Rrr... kalau kerena sesal yang bersemi sehabis menelaah tulisan lamaku yang bermuatan lebay banget, yah, namanya yaaaa manusia kan berproses. Alaynya anggun juga bagian dari proses kedewasaan. Tulisan melow jamann muda yang kalau dibaca sekarang efeknya nyengir-nyengir gak jelas itu juga salah satu bukti bahwa kehidupanseorang anggun juga begitu dinamis. Jadi terima sajalah.Haha.

Maka kuputuskan, aku gak jadi ninggalin Blogspot. Final!
Keputusan kedua : Aku bakalan nulis lagi disini.
Keputusan ketiga : Aku akan memprioritaskan menulis yang lebih visioner untuk peran paling primitifku di masa depan : peranku sebagai seorang IBU! Mueheheheh.

Dan yes... kalau diperhatikan, aku habis mengganti keterangan Blog yang tadinya : "... Membahasakan Isi Hati..." menjadi : ",,, Kepada Belahan Jiwa Ummi..." Yang saat detik-detik pergantiannya pun aku nyengir-nyengir sendiri karena geli, tapi kali itu nyengirnya versi orang dewasa. Ahaha. Dan aku merubah salah satu laman yang judulnya Untuk Langit menjadi postingan biasa, dan mengisi Laman baru dengan judul "Belahan Jiwa Ummi" dengan muatan yang bakal keibuan banget. Kyaaaaaaaaaaa APA YANG TELAH TERJADI DENGANKUUUUU...??? APAAA?? *kemudian benerin posisi jilbab dengan gerak anggun nan perlahan*

Jadi, secara nggak langsung, aku mau mengumumkan bahwa setelah tulisan ini, INSYAA ALLAH aku mulai merubah isi tulisanku menjadi lebih serius dan bermartabat. Dengan merasa bahwa satu-satunya pembaca tulisanku adalah DIA YANG NAMANYA SUDAH KUSEBUT DALAM DOA : Yasmin, Karim, Isa, Mariam, Fatah : Anak Masa Depanku. Hahaaha. Yesss, kalian boleh bilang aamiin dan tepuk tangan sekarang juga! *prokprokprok*

Kenapa Nggun?
Ah alasannya simpel, men. Aku mengenali diriku. Anggun itu, hanya akan berubah kalau lingkungan memaksanya berubah. Untuk berubah, seorang anggun harus mengondisikan lingkungannya terlebih dahulu, situasi yang meliputi dirinya menjadi ndak senyaman sebelumnya. Dia akan merasa terhimpit dan sesak kalau ndak mengikuti aturan main / situasi di sekitarnya (yang sebenarnya dia sendiri yang menciptakan), dengan begitu, mau ndak mau  anggun bergerak dan berubah. Anggun tuh sadar, masa depan bakalan menuntutnya menjadi seorang anggun yang Anggun. Yang ideal versiNya. Yang sholehah versi Nya, yang keibuan, yang BENAR perilakunya, kata-katanya, yang dewasa berpikirnya. Yang bisa membawa diri, yang manajemen waktunya oke, yang bisa mempimpin dirinya sendiri. Dan akhir dari semua itu adalah : YANG BISA DICONTOH ANAK-ANAKNYA KELAK.

Jadi, men, anggun sedang menganggap dirinya sedang berproses menjadi Ibu. Peran berat yang kalau ndak memantaskan diri sedini mungkin, ntah akan menjadi seperti apa anak pertamanya kelak. Dan buatnya, peran sebagai ibu itu sudah mencakup semua segi : Mental dan Psikisnya, Fisiknya, Sosialnya.

Nah, ngeri gak tu?
Peran, men. Kita bicara peran di masa depan. Dan seorang anggun harus mulai berproses ke arah sana.

Ah,  setelah paragraf barusan aku jadi berhenti nulis dan merenung. tentu saja, hanya dengan merubah cara menulis dan isi tulisan ndak serta merta proses ini selesai. Buatku urusan blog ini cuma bagian keciiiiil, tapi meski begitu, aku harap satu langkah ini bisa jadi pemantik api perubahan itu berkobar! Bersemangaaaaaaaat!

Ayo doakan Anggun dan buat taggar #Angguntidaktakut ! *loh

Hehe.




_Bandar Lampung, 2 hari sebelum gerhana matahari total yang 300 tahun sekali baru terjadi.
  Dalam kondisi lelah gitu-gitu mulu


Anggun Larasati (calon Ibu)




28 Agustus 2015

Telaga Kata : Benda Langit #1



Di dalam sebuah ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, karpet lembut digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan. Perabotan mewah menempati posisinya dengan teratur. Bagai suasana yang berulang, pandangan ke sekitar terlihat kabur, tidak nyata. Mungkin memang tidak nyata, Titik-titik putih mirip cahaya melayang di udara, sunyi yang mendamaikan. Tak ada aktivitas, tak ada gerakan apapun, kecuali usapan lembut tanggan seorang perempuan paruh baya berwajah sabar, mengusap kepala anak perempuan berusia 9 tahun yang matanya terpejam. Tubuhnya merebah di atas karpet lembut itu, terlelap begitu saja di antara tumpukan kertas dan alat tulis yang berserakan. Tangannya menggenggam kertas dengan coretan empat bait puisi yang baru selesai ditulisnya dengan hati-hati.

Usapan tangan itu terjadi lagi, dua-tiga kali, dan sepasang mata yang terpejam mulai berkedut, membuka perlahan lalu mengerjap. Mencari sumber usapan lembut di kepalanya.
.
.
“Bunda?”
Wajah sabar itu tersenyum.


Kriiiiiiing Kriiiing!

Yasmin terhenyak, menarik nafas panjang untuk memperbaiki detak jantungnya yang menjadi cepat. Suara telepon itu mengagetkan sekaligus membangunkan ia dari tidur siangnya. Tidur siang yang mungkin ke-3000 kalinya sejak tidur siang di ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, di atas karpet lembut yang digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan itu.... Ah, belakangan Yas sering mengalami mimpi ini berkali-kali. Mimpi yang sebenarnya bagian dari kenangan masa kecilnya.

Yasmin mengembalikan kesadarannya dengan melihat sekeliling. Tentu saja itu kamar tidurnya, karena dindingnya bercat putih, bukan biru. Dia mendapati tubuhnya terbaring di atas kasur, bukan karpet. Dan yang membangunkannya bukanlah usapan di kepala, tapi dering telepon yang melengking-lengking. Tentu saja yang tadi adalah kenangan, dan yang ini kenyataan. Yang tadi adalah ia ketika usianya 9 tahun, sedang yang ini adalah ia 10 tahun kemudian. Dan tentu saja, yang tadi adalah ingatannya ketika Bunda masih hidup, dan kini Bunda telah...

Yas masih dengan posisi berbaring, menyapu seprai dengan kakinya kesana-kemari, merayap benda persegi panjang berlayar yang sedari tadi berdering. Dapat. Kemudian menggesernya hingga jangkauan tangan.

Panggilan Masuk : Kak Tian
Matanya membulat, lalu menyipit beberapa saat memastikan nama yang tertera di layar ponselnya adalah benar. Yasmin belum ingin menjawab telepon itu karena benaknya justru berkutat dengan pertanyaan : Kenapa harus Kak Tian yang merusak ritual tidur suci-ku di siang yang mendung ini? Dan.... Kak Tian? Siapa itu Kak Tian?

Klik!

“Halo?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Yasmin?”

“Iya?” Yas menggigit bibir, mengutuk detak jantungnya yang kembali ngaco. Kak Tian siapa sih?

 “Yas, jadi ikutan WE siang ini?”

Sedetik... dua detik... Ketepok! Allah! Yasmin melonjak duduk, menepuk keras keningnya. Seolah memberi hukuman pada isi kepalanya yang pelupa.

“Jadi, Kak!” Gelagapan.

“Udah dimana?”

“Ng.... Kakak dimana? Eh, maksudku, udah pada mau berangkat?”

“15 menit lagi.”

“Aku susulin langsung ke Langit Garden aja, dah. Gak apa-apa, kan?”

“Oh, boleh. Telpon aja kalo udah nyampe.”

“Siap.”

“dresscode hitam, ya.”

Dresscode hitam? Pandangan Yas melesat pada tumpukan baju yang belum disetrika. Detak jantungnya kembali cepat, wajahnya tegang, matanya memburu sesuatu tapi dia tidak berharap melihat apapun yang berwarna hitam di sana. Tapi sungguh sayang, menyembul bagian baju berdasar hitam. Yasmin meringis kesal. blus hitamnya belum disetrika!

Pukul 13.15 wib, di dalam sebuah kamar, di sebuah rumah yang terlihat sungguh sepi, Yasmin gelagapan bersiap seorang diri. Dia akan datang terlambat!



***

Sendirian?” Yas menoleh, di sampingnya berdiri seorang lelaki berwajah ramah yang baru kedua kali ini ditemuinya. Iya, sebelumnya mereka pernah bertemu di acara yang sama dua minggu lalu. Pertemuan yang bagi Yasmin tak ada yang spesial kecuali pada bagian mereka saling tukar nomor handphone.

“Sendirian?” Tian mengulangi pertanyaannya. Tak pelak lamunan Yas buyar. Mengangguk gelagapan.

“Baru tadi siang aku pulang dari luar kota, Kak.” Terdengar seperti sedang membela diri, sebuah alasan, padahal Tian tidak bertanya perihal keterlambatannya.

“Nggak masalah. Lagian cuacanya nggak stabil. Kirain karena di tempatmu hujan.”

“iya, sih. Hujan juga.” Jawab Yas cepat. Makanya begitu sampai rumah aku sholat trus tidur, dan lupa kalau ada janji. hehe Lanjut Yas dalam hati. Yas nyengir malu, lebih kepada dirinya sendiri.

Acara telah berlangsung setengah jalan, Yasmin tidak mengikuti sesi edukasi yang dilakukan di awal. WE : Weekend Edukasi adalah kegiatan perpekan sekumpulan anak muda kota setempat yang lebih suka menghabiskan setengah hari minggunya untuk mendampingi anak-anak panti asuhan ketimbang melakukan kegiatan lain. Di sana mereka memberi edukasi tentang banyak hal, mengajak anak-anak itu jalan-jalan, mengaji, belajar, dan bermain bersama. Di akhir acara, puluhan anak yang berasal dari beberapa panti itu selalu mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, berupa alat tulis, alat mandi, makanan, atau lainnya. Kali ini, acara WE diadakan di sebuah taman wisata: Langit Garden. Disana suasananya sungguh hijau, asri dan terbuka. Cocok menjadi tempat rutin acara semacam ini dilakukan. Setiap pekan, puluhan anak dari beberapa Panti Asuhan di kota setempat diundang bergantian. Biasanya untuk tiga sampai lima anak panti, dibutuhkan seorang kakak pendamping untuk mendampingi mereka selama acara berlangsung. Maka setiap acara, hampir pasti terdapat minimal dua puluh kakak pendamping, dan Yasmin menjadi salah satunya. Yasmin mengenal komunitas ini baru dua minggu yang lalu, Tian yang mengenalkannya secara tidak sengaja. Tian sendiri adalah salah satu Founder di sana.

Selalu ada sesi permainan di setiap acara ini berlangsung. Kali ini permainan dipimpin langsung oleh Tian dan beberapa kakak pendamping. Mereka menamai permainan ini dengan : Kalimat Kunci.

Aturannya mudah, setiap kakak pendamping memilih empat orang adik dari panti yang berbeda untuk membentuk sebuah tim. Setiap tim memiliki lima orang anggota, dan masing-masing harus menghafalkan kalimat kunci yang diberikan pemandu permainan (dalam hal ini adalah Kak Tian dan beberapa kakak pendamping) kepada salah satu anggota setiap tim di awal permainan. Kalimat kunci untuk seluruh tim sama, menggunakan kata-kata mirip, njlimet dan terdengar aneh sebagai tantangan. Setelah dihapalkan anggota pertama,  kalimat kunci dioper ke anggota kedua, ketiga, dan seterusnya secara berurutan. Kalimat ini berfungsi untuk membuka ‘pintu tanya’ yang dijaga oleh kakak pemandu. Ada 5 pintu tanya, masing-masing anggota mempunyai satu pintu untuk dibuka secara berurutan. Kalimat kunci hanya boleh dioper ke anggota selanjutnya setelah satu per satu pintu tanya telah ditaklukan. Pintu tanya terakhir adalah yang tersulit. Setiap kakak pendamping diwajibkan menjadi anggota terakhir yang bermain untuk membuka pintu tanya tersulit tersebut. Tim yang paling cepat menyelesaikan permainan lah yang akan menang.

Permainan dimulai, kakak pendamping sudah dipersilakan memilih anggota timnya. Semua adik-adik berkerumun, mereka antusias menunggu kakak mana yang akan memilih mereka menjdi anggota timnya. Ada kakak yang memilih adik-adik berumur 4-6 tahun karena kelucuannya, ada juga yang memilih adik yang lebih besar supaya mudah menghafal kalimat kuncinya. Suasana disana menjadi riuh bergembira.

“Ayo, Yas!” Seru Tian bersemangat, ia sudah menempati posisinya di pintu tanya terakhir. Yasmin bergerak cepat, memilih empat orang adik panti yang akan memenangkan timnya.

Permainan sudah berjalah 20 menit. Masing-masing tim telah menjawab pertanyaan di pintu tanya 3, beberapa sudah menaklukan pintu tanya 4. Tim yang dipimpin Yasmin salah satunya. Ketika Yas sedang tegang-tegangnya melihat dari jauh anggota tim keempatnya membuka pintu tanya dengan kalimat kunci yang lupa-lupa-ingat, seseoraang mendatanginya.

Kakak Yasmin,” Berdiri bocah lelaki lucu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dua gigi seri bagian depannya ompong, dipamerkan begitu saja tanpa malu-malu. Dia juga menggendong tas ransel warna biru langit yang terang.

“Kakak, aku mau kasih tau kalimat kuncinya...” Bocah itu berbisik. Yasmin melongo. Bocah dengan setelan kemeja rapi itu bukanlah salah satu anggota kelompoknya, karena anggota keempatnya masih berdiri di sana, di depan pintu tanya keempat dengan ekspresi mengingat-ingat. Yas menebak, bocah lelaki dengan mata bening ini telah tersasar dari kelompok lain.

“Apa itu?” Yas ikut merendahkan suaranya. Eh, ini curang gak ya? Namun keinginan Yas untuk mendapat bocoran Kalimat Kunci ini semakin menjadi setelah melirik anggota keempatnya memasang ekspresi putus asa kepada penjaga pintu tanya di sana. Yas membungkuk mantap, menyodorkan telinganya pada bocah lelaki bermata bening itu sambil menyeringai senang. hehe

Kakak hapalkan, ya!” Kata bocah itu bersemangat. Yas mengangguk cepat.

 “Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”


“Wow!” Yasmin takjub dengan kalimat kuncinya. Semua orang tahu bahwa ia menyukai frase-frase dengan kata bermuatan benda-benda langit.

“ulangi dua kali lagi,, aku akan menghapalnya. Okay?” Seru Yas. Kemudian bocah itu mengulanginya dua kali. Yas langsung hapal di luar kepala. Tak disangka kalimat kuncinya semudah ini.

Yas mengacak rambut bocah itu, dan menanyakan namanya.

Namaku Willy, kak Yasmin.” Masih dengan cengiran gigi ompongnya. Bocah itu kemudian mengeluarkan potongan kertas dengan tulisan beberapa kata. Potongan kertas itu langsung diletakkan ke tangan Yasmin,

“Jangan lupa ya, Kak.” Sedetik kemudian bocah itu berbalik dan berlari ke dalam kerumunan. Yasmin belum sempat mengatakan terimakasih, bahkan dia masih keheranan dengan potongan kertas di tangannya, tapi bocah dengan ransel biru itu cepat sekali menjauh. Ransel biru? Bukankah itu ransel biru yang bagus dan mahal, paling tidak untuk ukuran seorang anak Panti?

Dari kejauhan Yas meneliti, ada tulisan dengan bordiran biru di bagian kantung belakang tasnya: William Anantha Rachel. Ketika Yasmin masih berkutat dengan rasa herannya, ransel itu menghilang di balik kerumunan anak-anak yang lain.
 
***

“Secepat itu?”

“Apa?”

“Secepat itu kamu menghapal kalimat kunci dari anggota terakhirmu? Bahkan dia baru kembali dari pintu tanya empatnya dengan ‘babak belur’.” Tian tertawa
Yasmin menoleh ke belakang, anak yang dimaksud Tian berdiri dengan wajah bingung. Tian benar, bahkan anak itu baru menceritakan betapa sulit dia mengingat kalimat kunci, hingga penjaga pintu tanya empat akhirnya berbelas kasihan dan mengajarinya. Kemudian Yasmin dengan penuh percaya diri menggenggam pundaknya dan berkata,  

Tenang dik, sekarang kamu nggak perlu capek-capek kasih tau kalimat kuncinya. Karena kakak sudah hapal.” Kemudian Yasmin melesat ke pintu tanya terakhir dengan tekad sangat bulat.

“Aku menghapalnya di luar kepala.”  Kata Yas meyakinkan. Tian menaikkan alisnya tanda sangsi. Lalu tanpa aba-aba Yasmin mengucapkan kalimat kunci yang telah ia dapatkan dari bocah bermata bening tadi, tentu saja dengan ritme cepat saking hapalnya.

“Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”

Hening beberapa saat...

“Bukan itu kalimat kuncinya, Yas.” Kata Tian akhirnya. Dahi Yas berkerut.

“Aku tau, yang tadi terlalu cepat, kan, kak? Aku ulangi, ya?

 Nggak perlu. Karena bukan itu kalimat kuncinya.” Wajah Tian berubah prihatin.   “Kamu dapat dari mana?” kali ini nada bicaranya menganalisa. Yas buru-buru menyapu pandangannya ke arah kerumunan adik-adik panti untuk mencari bocah beransel biru. “Kamu dikerjai, ya?”

“Nggak mungkin, Kak. Matanya jujur.”

“Siapa?”

“Bocah tadi.” Masih sibuk mencari-cari.

“Dapat bocoran kalimat kunci dari kelompok lain itu curang, Yas.” Yas berhenti mengedarkan pandangannya. Wajahnya sekarang menyesal.

Akhirnya Yasmin kembali ke kelompoknya dengan empat batang cokelat yang dibelinya di kios terdekat, juga sebuah puisi yang dibuatnya saat itu juga. Memang mudah bagi Yas dengan bakat menulisnya untuk membuat puisi, prosa, dongeng, dalam waktu singkat. Bakat menulisnya bahkan mengantarnya menjadi wakil ketua jurnalis kampus meski ia baru menginjak tahun kedua kuliah. Bakat luar biasa yang diturunkan dari ibunya.

Yasmin mendekati anggota kelompoknya dengan senyum ngeles, empat batang cokelat di genggaman, dan puisi berjudul ‘Kalah Berarti Menang’ yang dibuatnya mendadak. Semua itu akan membayar kekecewaan mereka terhadap kecerobohan yang kulakukan. Itu rencana Yas.

-      




--Bersambung –
*Yealah  (cerpen) gini doang bersambung T_T wkwk

21 April 2015

Sagitarius 3 : Teteh




Tinch, Teteh, Saya, Sehari pasca Capping Day. 2009.

Kelas telah selesai dengan kegaduhannya, digantikan suara khas lembar-lembar kertas ujian yang saling bergesekan, resah untuk dibuka. Mungkin sekitar Oktober 2008. Siang itu di kelas 4N, ujian bahasa inggris mahasiswi kebidanan Malahayati kelas 1A sedang berlangsung.
Hampir semua dari kami merasakan kegugupan yang sama. Alih-alih dosen senior super tegas itu yang mengawasi kami, justru kami yang waspada mengawasi gerak-geriknya. Haha. Efek gugup yang mendalam. Kecuali seseorang yang duduk di barisan nomer dua paling depan –sebelah kiri saya - yang nampak kalem sekali. Tanpa gerakan yang gelisah, dengan tatapan fokus pada lembar jawaban. Gerakan matanya yang cool berpindah dari lembar soal ke lembar jawaban, tangannya fasih menulis jawaban soal per soal. Baru kemudian saya tahu, cewek tembem hitam manis yang penampilannya sederhana  itu bernama Eka Afriyani, mahasiswa yang –ternyata- englishnya terOK sekelas saat itu. Saya menyimpan kekaguman, dan diam-diam menjadikannya ‘rival’ lain di kelas selain Tinch. Saya harus waspada mendekatinya. Muehehe.
Beberapa waktu berlalu, saya menemukan banyak kesamaan di antara kami. Kami sama-sama dekat dengan Tinch. :p Sama-sama simpel, sama-sama betah ngendon di asrama sepanjang weekend, sama-sama tinggal di kamar deretan sebelah kanan, sama-sama polos, dan sama-sama mengincar ranking pertama. Dan, u know what? IPK semester pertama kami angkanya sama. Dengan sama-sama urutan ketiga tertinggi seangkatan, dan tentu saja harus sama-sama saling puk-puk karena ndak bisa melampaui Tinch di urutan pertama, yang IPKnya nyaris sempurna. *salaman*
Setelah semester pertama usai, kami mulai longgar dalam persaingan ‘gede-gedean IPK’. Keakraban kami ndak lagi dipicu oleh tugas-tugas kuliah, tetapi lebih ke sesuatu yang pribadi. Beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kenapa Teteh lebih betah di kamar orang lain ketimbang kamarnya sendiri, membuatnya sangat rajin door to door menyambangi kamar-kamar tetangganya, terlebih kamar kami. Untuk sekedar berbagi makanan, banyolan, mie instan, air minum, cabai rawit, cerita, nasi bungkus, rangkuman, tugas kuliah, dan uang saku. Haha. Dan dengan sebab yang absurd, mulailah saya memanggilnya ‘Teteh’ dan Teteh memanggil saya ‘Emak’. Teteh akhirnya dinobatkan sebagai kerabat dekat kamar 23-24. Berbeda dari Mbak Nupe, tanpa harus tinggal dalam satu kamar pun kami menjalani hari-hari di asrama dengan penuh keakraban.
April 2011 :
“Tenang sih mak, kalo sama kalian gw gak ragu, pasti bakalan terus sehati walau ndak serumah.” Teteh menolak halus ajakan saya dan Erlin untuk tinggal di Sagitarius 3 setelah keluar dari asrama.
Teteh anaknya care. Sangat care. Menjadi salah satu yang paling cepat nawarin bantuan ketika saya kesulitan. Saat saya sedang sedih atau sakit, teteh ndak cuma beliin makan dan obat tanpa diminta, kepeduliannya juga terlihat dari kata-katanya dan belaian tangannya. Iyap bener, teteh ini bisa ngingetin saya sama mamah di rumah kalau tengah jadi target kepeduliannya. Itu sik yang bikin teteh berbeda dari yang lain. Teteh tuh punya caranya sendiri dalam berkasih sayang antar sesama. Menurut saya, Teteh ini tipe melankolis-sanguinis. Imajinasinya tinggi, menjadi teman berhayal-random saya yang klop. Sensitif dan punya selera humor yang tinggi. Saat ada masalah yang sama-sama kami hadapi, Teteh bisa menjabarkannya dengan baik. Analisanya oke, dan selalu pakai perasaan. :’).
Teteh juga super ekspresif. Misalnya gini, kalau habis berpisah dalam waktu yang agak lama, pas ketemu siap-siap pipi diciumin, dipeluk2, trus dihujani kalimat “maaaak kangen kangen kangennnn!” rada histeris. Dimanapun, kalo liat bayi/balita gembul, subhanallah, Teteh ndak bisa lagi dikontrol. Kadang saya berpikir, pipi bayi itu akan dimakannya. Haha *kidding*. Dengan sikap ‘tidak sungkan’ nya teteh, saya juga jadi ndak sungkan bermanja-manja-uwel-uwelan dengannya. Fyi: Ndak semua teman dekat - saya berani manja-manja kepadanya lho. Karena saya mah gitu orangnya, kadang kalem dan pemalu. :3
Ada 2 kejadian yang saya ndak pernah lupa. Dua-duanya mengandung unsur eyel-eyelan saya ke teteh yang –kayaknya- paling parah sepanjang sejarah pertemanan kami. Pertama waktu jaman skripsi dan saya menjadi satu-satunya penghuni Sagitarius 3 yang paling lambat progressnya. Teteh mulai nanya-nanya dan nasihati saya. Karena kami ndak tinggal bareng dan jadi jarang bertemu,  maka sekalinya bertemu, Teteh menjadi sosok yang paling bawel mempermasalahkan skripsi saya yang ndak ada kemajuan. Dan tentu saja saya lebih nyebelin karena udah salah, ngeyel lagi! Hhi. Suatu kali bahkan saya pernah –mungkin- membuatnya sakit hati. Karena di akhir adu argumen Teteh bilang kira-kira begini: “Udah sih mak jangan egois gitu. Gw cuma ngingetin kok mak. Lo gak perlu lah ngomong kayak tadi..” Habis itu diam. Saya yang waktu itu agak emosi juga terdiam, mengingat apa yang telah saya katakan mungkin menyakiti hatinya. *Iya gak sih teh? Teteh inget gak? Sorry ya. Haha*
Yang kedua di awal 2013. Yang ini saya yakin Teteh udah lupa deh. Ketika itu saya sedang mengalami patah hati. *eaa Oleh sesuatu. Saya mah gitu anaknya, untuk masalah satu itu  ndak begitu terbuka sama siapapun.  Tapi karena begitu mengguncang *gempa kali mengguncang -.-, saya jadi susah menutupi efeknya. Ini agak lebay memang, jadi beberapa kali saya kepergok olehnya sedang gak fokus dengan sesuatu yang sedang saya kerjakan, saya juga terlihat sering menghela nafas. Kemungkinan besar Teteh ndak pernah melihat saya sekacau itu, lantas teteh meminta saya untuk cerita. Saya ndak mau. Teteh terus meminta, saya berkelit. Teteh agak berkeras, saya lebih keras kepala. Waktu itu saya bilang, kalau untuk masalah satu itu akan saya simpan sendiri. Lalu:
“Mak, manusia itu gak bisa dewasa sendirian. Kalo terpaksa menerima keadaan, mungkin iya!” katanya sambil ngeloyor ninggalin saya sendirian. Teteh paham, keras kepalanya saya menyimpan masalah sendiri hanya pencitraan agar terlihat kuat di luar, tapi Teteh tahu lemahnya saya di ‘dalam’. Huhu
So,
Udah 7 tahun kami temenan. Ndak terhitung berapa kali teteh nolongin saya, berapa suapan nasi yang Teteh antarkan ke mulut saya, berapa pelukan yang saya dapetkan darinya, berapa panjang kalimat bijak yang diberikannya untuk saya. Berapa sering teteh menasihati saya, berapa sering momen kompak kami saat menghayalkan hal yang sama, menertawakan sesuatu, melakukan hal-hal konyol bersama. Dan hari ini, tepat di hari Kartini, si Teteh ulang tahun ke 25! Horaaaaay!
Selamat ya teteh sayang... telah memasuki usia perak. Dan kalau benar seperti yang teteh bilang tadi pagi bahwa gw adalah teman yang baik dan menjadi saksi susah-senang hidup teteh selama ini, maka begitupun sebaliknya. Bahkan asal teteh tau, saking banyaknya yang teteh tau tentang gw, gw selalu gagal jaim di depan teteh. Haha. Untuk doa ultah kali ini, simpel aja. Semoga April taun depan teteh sudah menjadi sosok Kartini buat seorang anak di kandungan. *kyaaaaa aamiin :’>

Teteh dan Saya, Maret 2015.
Udah, gitu aja. :)

21 April 2015, dalam kondisi terbuai kenangan dan harapan.
_Emaknya Teteh

30 Maret 2015

Cerita : Nasi Goreng

Tujuh empat satu. aku barusan nyebutin keterangan waktu, meski ndak persis betul karena kurang menyebutkan satuan. Menurutmu, untuk meyakinkan seseorang, haruskah kita menyertai satuan saat menjelaskan seberapa besar cinta kita untuknya? Aku mencintaimu sedalam Palung Mariana, yang dalamnya nyaris 11.000 meter. Contoh saja, meski sebenarnya bukan kalimat ini yang pingin aku tulis, soalnya aku ndak tau satuan cinta itu apa. Katanya, mata lebih banyak berperan dari pada telinga saat menangkap informasi, bedanya bisa lebih dari 20%. Makanya cinta harusnya diperlihatkan, bukan (cuma) dikatakan.

Habis subuh tadi kepikiran buat genapin tidurku yang kurang, tapi ndak jadi. Aku belum nyetrika, disamping sibuk bantu Hesti cari botol tupperwere barunya yang ketriwel. Ungu dibilang pink, maka sesubuh tadi aku sudah jadi korban salah persepsi. Memang ndak ada hubungannya sama aku yang baru bisa tidur pukul 2 dini hari, bukan karena kemenangan Rossi, apalagi karena seprai kasur yang ndak rapi. Aku ndak bisa tidur karena sebelum berdoa mamah telepon, lantas akunya mendadak melow. Mengingat kondisiku saat ini jauh dari layak untuk diekspektasi. Pesimistis itu laiknya virus yang harus dibasmi dengan ketahanan hati, ya. Alhamdulillah, pertama kalinya aku nulis layak jadi laik. Layak di kalimat sebelum-sebelum ini dengan laik di kalimat sebelum ini tentu beda arti ya, semoga aku ndak salah meletakkan perbedaannya.

Hotnews: pagi ini jerawatku nambah satu.

Di meja, berdiri sebotol air mineral kosongyang plastik kemasannya sudah dilucuti Okta sepanjang menunggu nasi goreng disajikan mas-mas penjualnya, tadi malam. Oh satu hal telah terbantahkan : perut kenyang berefek tidur nyenyak, ternyata ndak selalu benar. Nasi goreng semalam porsinya dan pedasnya pas kayak biasa. Mungkin aku ga harus cerita kalau timun dan tomat dipotong dadu. Dulu sih nggak. Nasi goreng yang gerobaknya biasa mangkal di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka. Padahal aku ndak bermaksud jumawa bilang nasi goreng itu nasi goreng langgananku, apakah masih layak jumawa - seseorang yang kesukaannya makan nasi goreng di pinggir jalan? Ya masih lah nggun, jumawa kan konsleting hati. Yaudah aku istighfar. Ketika sampai di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka, gerobaknya ndak ada. Kapan nggun terakhir makan disini? tanya Okta spekulasi. Oh iya, terakhir pas aku masih kuliah D-IV sih. Hehe. Kok mas-mas itu ndak ngasih tau ya kalo pindah?

Emang dia kenal aku?

Baru jalanin motor, eh jalanin? Emang hubungan, DIJALANIN aja? Ulang, baru menjalankan motor 10 meter ke depan, merubah rencana menu makan, Okta nepuk-nepuk pundakku. Itu bukan sik gerobak nasgornya? Pas aku tengok ke tepi jalan sebelah kiri, aku menimbang, Itu bukan ya? Yang mas-masnya ganteng kan? Tambah Okta. Kutengok lagi. Iya bener. hehe. Ntah apa makna dari hehe-ku itu. Aku minggir, melipir mundur. Kok lu tau nasgor yang gua maksud nasgor yang ni? Tanyaku ke Okta, penasaran. Iya, ini juga langganan gua dulu. Bah! Ndak bilang daritadi.

Mas, kok pindah gak bilang-bilang ? Aku nyinyir nanya-nanya. Udah sejak kapan, mas? Apa?? 2 tahun? Selalu gitu deh, masa memang selalu jujur, aku yang lupaan. Lupa sama putaran waktu, lupa sama nasi goreng ini, yang dulu mangkal di gang sebelah kiri jalan depan Alfamart Pramuka. Yaudah mas, ga jadi bungkus. Makan sini aja. Di bawah langit berbintang, di antara bising jalanan. Adalah caraku menebus rasa bersalah, ternyata sudah 2 tahun aku berpaling dari nasi goreng ini. Halah. 

Barusan aku ketiduran, padahal niatnya mau mandi trus dhuha trus ke perpus, perpus ter-oke selampung kalau indikatornya kelengkapan fasilitas - tapi dikit pengunjung. Aku mau cari literatur, referensi, bacaan bergizi. Ah kambing hitam, sebetulnya mau wifian. Sama mau bikin kartu perpus (lagi). Kemarin aku sempet ngecek buku-bukunya, dan terpukau. Mau pinjem tapi kartuku kadaluarsa, cetakan 7 tahun yang lalu. Masih aku simpen. Aku senang liatin ikan-ikan di sana. Mau ikut? Aku mau siap-siap. Bukan karena aku jomblo loh makanya ngajakin kamu. Aku ndak minta temenin, yah paling ndak supaya daftar pengunjung nambah satu. Kamu. Em ndak mau lanjutin dengan “iya, kamu..” ala java comic yang aku lupa namanya. Dia kan guru, tapi hobi melawak. Mirip pemimpin yang hobi dagelan.

 “Tuhan, anugerahilah aku agar tak mencari hiburan untuk menawarkan hati. Mengerti dahulu agar dapat memahami, dan mencintai dengan segenap hati.” Aamiin. Ini doanya Eugene Roa. Tentara medis Inggris dari Kompi Easy, saat perang melawan Jerman. Benar, Band Of Brothers, 2001. 

Aku siap-siap dulu.