8 Desember 2012

Langit Merah #2



“Ranting,”

Aku tersadar, dan segera kusudahi lamunan empat tahun laluku. Kubuka mataku. Jenggala melepaskan pelukannya, kemudian ia menenggelamkan jemariku dengan kedua tangannya.

“Kemarin kamu bilang ada sesuatu? Mau menyampaikan apa?” Tanyanya, menungguku memberikan isyarat atau apapun sebagai jawaban. Lurus-lurus aku menatap mata itu.

“Aku ingin mengatakan hal yang penting.” Kataku menggunakan bahasa isyarat. Jenggala sedikit menaikkan alis, tanda bertanya. 

“TentangYasmin.”  Lanjutku.  Hati-hati aku berkata dengan gerakan-gerakan tangan yang kubuat sedemikian rupa.  Aku tahu, bahkan langit merah itu pun tahu, apa yang ingin kusampaikan akan membuat Jenggala terkejut. Sudah lama sekali aku mempersiapkan diri untuk ini, untuk menyampaikan keinginan yang telah beberapa tahun kupendam. 

“Suamiku, kurasa sudah saatnya untuk Yas  mengenal siapa Eyangnya.”
selesai. Aku diam menunggu reaksinya. Jenggala, wajah teduhnya berubah keheranan.

“Kau yakin, Ranting? Kau ingin mempertemukan ibu dengan Yasmin?” Gelisah. Tatapan Jenggala tidak fokus. Belum sempat kujawab pertanyaannya, Jenggala kemudian berkata, suaranya parau. “Tidak, Ranting. Belum saatnya Yasmin…” 
 
“Sampai kapan??” timpalku cepat. Jenggala diam.  Dibuangnya tatapann itu ke lantai. “Sampai Yasmin siap.” Masih parau.

Aku menggeleng, “Bukan, sampai dirimu yang siap! ” Kataku. Kuttap matanya lekat. “Sudah empat tahun sejak Yas lahir ke dunia, Jenggala. Aku, bagaimapun aku ingin melihat anakku bermanja di pangkuan Eyangnya. Ibumu. Bagaimanapun aku ingiin melihat Yas berceloteh tentang kampung halaman dimana Eyangnya tinggal. Aku, aku lelah mengarang cerita tentang  dimana ibumu ketika Yas mulai bertanya dengan kepolosannya. ” Airmataku tidak bisa lebih bersabar untuk tetap menggenang saja. Kuluapkan sudah apa yang mengganjal di hati selama sekian tahun.

Kutatap Jenggala, memohon. “Suamiku, berlembut hatilah… Kita perbaiki semuanya. Kita, hanya butuh mencoba. Mencoba meluluhkan hati ibumu.”

 Jenggala terpaku. Kutemukan kepedihan pada matanya yang mulai basah. Ah, Jenggala, maafkan aku yang harus membuka lagi kenangan pedih itu… Ya, kepedihan yang kami berdua simpan bertahun-tahun lamanya, saat Jenggala harus memilih antara ibunya atau aku. Memilih antara berbakti pada seorang Ibu atau menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan calon ayah. Memilih tinggal di sisi ibu yang melahirkannya atau di sisi wanita dengan darah daging yang dikandungnya.  

Kami menikah disertai restu kedua orang tua kami. Meski saat kami melangsungkan pernikahan, Ibu mertuaku sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Beliau menderita penyakit Diabetes, dan telah dirawat selama sebulan di Rumah Sakit. Saat seluruh keluarga Jenggala mengetahui bahwa Jenggala akan menikahi seorang gadis bisu, semua bisa menerima dan menghargai keputusan Jenggala. Termasuk ibunya yang terbaring lemah di Rumah Sakit. Kemudian, ketika keadaan Ibu semakin parah, Ayah mertuaku lah yang paling khawatir dan mendesak agar pernikahan kami segera dilangsungkan. 

Dan kami pun menikah. 

 Hari-hari kulalui dengan bahagia bersama Jenggala, kami tinggal di rumah mertuaku bersama Sukma, adik Jenggala. Sukma pun telah menikah, namun belum dikaruniakan anak. Sukma adalah adik ipar yang baik. Dia lah yang menjadi temanku di rumah ketika suami-suami kami pergi bekerja. Aku dan Jenggala merasa lega ketika mengetahui semua orang yang tinggal di rumah itu bisa menerima kekuranganku. Memang semuanya tidak mungkin berjalan mulus, namun komunikasi di antara aku dan keluarga baruku saat itu selalu dapat berjalan baik. Ya, meski dengan bantuan kertas dan pena. 

Hingga usia pernikahan kami menginjak satu bulan, ketika ibu mertuaku akhirnya diperbolehkan pulang untuk di rawat di rumah. Mulai saat itu, saat ibu mertuaku keadaannya semakin membaik, saat itulah sikapnya mulai berubah terhadapku. Ntahlah, yang kurasakan ibu mertuaku membuat batasan interaksi dan komunikasi kepadaku. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, telah beberapa kali aku mendekati ibu dan bertanya apa yang membuatnya bersikap dingin kepadaku. Tentu, melalui tulisan di kertas. Berkali-kali pula beliau hanya diam, bahkan tidak melirik kertas yang kuberikan padanya. Aku, cuma aku yang menyadari perubahan sikap ibu ketika itu, hanya bisa bersabar. 

Suatu hari, kolega ayah mertuaku datang ke rumah untuk menjenguk ibu, Ayah mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tamu, dan meminta tolong padaku untuk membuat teh hangat untuk mereka. Aku membuatnya. Dan beberapa saat sebelum teh tersebut aku bawa ke ruang tamu, ibu mertuaku menghampiriku dan dengan sedikit paksaan mengambil teh tersebut dari tanganku. Ibu bilang tanpa menghargai perasaanku, aku cukup berdiam diri di kamar saja, tidak perlu menampakkan diri terlebih di depan kolega ayah mertuaku. Ibu bilang, mulai saat itu jangan lagi membuatkan teh dan menyajikannya ke ruang tamu. Kejadian itu tidak sengaja disaksikan Sukma, dia dengan cepat membujukku agar berhusnudzon, dan tidak sakit hati dengan sikap ibu. Ya, aku hanya butuh kesabaran yang lebih.

Semakin hari, sikap ibu yang dingin semakin kentara. Dari tidak diperkenankannya aku memperkenalkan diri sebagai menantu di rumah itu pada para tamu yang menjenguk ibu, hingga tidak diperbolehkannya aku terlalu sering beraktivitas di luar rumah. Dan tentang semua itu, aku meminta Sukma untuk menyembunyikannya dari semua orang yang berada di rumah itu. Termasuk Jenggala dan ayah mertuaku.

 Sampailah pada saat dimana aku dan Jenggala berencana untuk mengabarkan berita kehamilanku di depan seluruh keluarga. Dokter mengatakan kandunganku sudah berumur dua bulan. Sore itu, di rumah hanya ada ibu, Sukma, dan suaminya. Sedangkan Ayah sedang bertugas di luar kota. Semuanya sedang mengobrol di ruang tamu saat aku dan Jenggala menghampiri meraka untuk mengabarkan berita bahagia itu. Kami berdiri berdampingan, Jenggala merangkulku dengan tangan kanannya, tersenyum, siap memberi mereka kejutan.
“Kami ingin memberikan kabar gembira“ Senyum Jenggala melebar. Kami memperhatikan perubahan ekspresi wajah mereka satu persatu.

“Tidak lama lagi, rumah ini akan kedatangan seorang bayi.” Semua terkejut. Ibu terkejut, Sukma terkejut, suaminya juga terkejut. Semua orang beranjak dan memberi kami ucapan selamat dan do’a kebaikan bagi kandunganku. Kecuali Ibu. Ibu terlihat begitu tidak nyaman. Memegang kepala, dan air mukanya gelisah. Lalu buru-buru pamit untuk istirahat di kamar. Melihatnya, perasaanku campur aduk sekali. 

Jenggala yang belum selesai bicara akhirnya mengajakku untuk mengikuti ibu ke kamar. Begitu bahagianya ia hingga ingin menyampaikan maksud kami kepada ibu saat itu juga. Seperti kebanyakan orang tua, kami berniat membuat acara syukuran saat usia kehamilanku nanti mencapai umur 4 bulan, ketika malaikat meniupkan ruh pada calon anak kami.

Pintu kamar ibu tertutup, lalu Jenggala mengetuknya tiga kali. Kami masuk, dan melihat ibu sedang berdiri di samping jendela yang terbuka.
         
“Ibu, aku belum selesai bicara tadi..”  Ibu diam saja.

“Ibu, bagaimana kalau kita membuat acara syukuran untuk…”

“Tidak akan ada syukuran apapun di rumah ini!” Ibu memalingkan wajahnya ke arah luar jendela. Sedang aku dan Jenggala terpaku mendengar apa yang dikatakan ibu pada kami. 

“Maksud ibu? Ini acara syukuran atas kehamilan Ranting, Bu. Kehamilan menantu ibu, untuk anakku yang dikandungnya. Untuk cucu ibu..”

“Tidak! Tidak ada acara apapun. Cukup ibu menyembunyikannya selama ini dari pandangan orang lain tentang Ranting ! Ibu tidak mau semua orang tau kalau akhirnya menantu yang bisu itu telah mengandung!” Pecah tangisku. Kini gamblang sudah alasan mengapa selama ini ibu bersikap dingin kepadaku. Langit menjadi berat. Aku lunglai. Sukma  segera memelukku dan menguatkan diriku yang terisak. Jenggala, Jenggala mendekati ibunya dengan tatapan tidak percaya.

“Apa? Selama ini ibu tidak menunnjukan apapun. Ibu merestui pernikahan kami, Bu!”

“Itu dulu! Sebelum para tetangga mencemooh keluarga kita. Keluarga terpandang yang mengangkat mantu seorang gadis yang bisu! Yang kemanapun dia pergi tidak pernah lepas dari kertas dan pena..” 

“Ibu!!” Untuk yang pertama kali kudengar Jenggala bersuara keras pada ibunya. Gontai langkahnya mendekat pada ibu. Hatiku perih sekali.

“Ibu.. kumohon, jangan katakan itu padaku. Ranting istriku, Bu. Aku mencintainya” Jenggala memeluk kaki ibunya, menangis ia. Aku merasakan kepedihan itu. Bersimpuh ia. Bersimpuh di kaki ibunya, menumpahkan harapan. Mencari sedikit kasih yang mungkin masih terselip di kerasnya raut wajah ibu. 

“Ibu  malu mempunyai mantu yang bisu.” Lirih, tapi begitu menusuk hati. Kalimat ini, merobek hati kami.  

“Tidak, Ibu tidak bermaksud mengatakan itu, kan, Bu? Ibuku, ibu adalah wanita yang melahirkanku, dan Ranting adalah wanita yang akan mendampingiku selamanya. Jangan memaksaku untuk memutuskan sesuatu yang berat, Bu.” Ibunya bergeming. Tatapannya masih terlempar jauh ke luar jendela. 

“Bu.. jawab, Bu..” Jenggala menggoyang-goyangkan kaki ibunya. Berharap ibunya mengaku khilaf, berharap ibu merengkuh tubuhnya dan berkata maaf. Namun Ibunya bergeming. Pundak Jenggala berguncang, ia makin terisak.
Tidak ada jawaban, ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan tetap menatap lurus ke luar jendela.  Cukup sudah. Jenggala melepaskan kaki ibunya, mencoba berdiri tegap dan menyeka airmatanya.

“Ranting isteriku, jika ibu tidak meridhainya, biarkanlah kami pergi.”
 Semua terperangah. Satupun tidak ada yang menyangka Jenggala akan mengatakannya. Wajahnya keras, tatapannya pasti. Ibunya, tetap bergeming. Jenggala berbalik menghampiriku, memelukku yang juga terisak. Siapa yang tak hancur mengetahui kebisuanku menjadi penghalang jatuhnya ridha ibu kepadaku? 

Jika saja bisa, akan kutukar apapun yang kupunya untuk memperbaiki pita suaraku. Oh Ibu, sungguh aku mengharapkan ridhamu menyertai kami. Jikapun aku mengetahui ketidakikhlasanmu  menikahkan Jenggala denganku sejak awal, aku tidak akan maju sejauh ini. Siapa aku yang harus memisahkan seorang anak dari ibunya. Siapa aku yang membuka pintu kedurhakaan anak kepada ibunya. Duhai ibu, harus apa aku..

“Bersabarlah, Ranting. Demi Allah, Bersabarlah.” Bisik Jenggala. Luruh hatiku, luruh air mataku. Tenggelam tangisku dalam pelukannya. Itulah kejadian terburuk yang kualami di awal pernikahan kami.
Lalu kami pergi. Cuma Sukma dan suaminya yang menahan kepergian kami. Aku dan Jenggala, sejak saat itu, tidak pernah bertemu ibu.

“Ranting, benarkah kau mau mencobanya?” Lirih Jenggala.

“Ranting, akankah kau siap dengan segala resikonya? aku mengkhawatirkan Yasmin… Kututup bibir jenggala dengan jari telunjukku. Lalu kuyakinkan Jenggala bahwa Yasmin adalah anak perempuan cerdas dan lucu, yang sangat mirip dengan Eyangnya. Mungkin masih ada kekecewaan dalam diri Ibu, namun selalu ada harapan. Siapa yang tidak luluh hatinya melihat kelucuan putri kita? 

“Kalau begitu siapkan dirimu, Ranting. Berat yang akan kita jalani.” Lirih Jenggala.
Aku tersenyum, dan sejurus kemudian kutarik kedua tangannya untuk kukecup. ‘Akhirnya, Jenggala..’ lirih batinku. Ada yang singgah di ruang-ruang hati ini , sebuah kelegaan, juga sekelebat kekhawatiran.

“Bundaa… Yas hauus..”
Bocah empat tahun berambut ikal muncul dari balik pintu. Rambut yang sebelumnya kuikat menjadi tiga bagian, sekarang tinggal dua saja. Berantakan betul. Matanya yang belum lebar terbuka dikeuceknya sebelah. Tangannya menggenggam gelas susu yang lenyap isinya. Dia Yasmin, puteri kami.

“Heiii anak ayah, udah bangun, sayang?” Jenggala menghampirinya, mengangkat tubuh gendutnya dan menggendongnya manja. Yas melingkari leher Ayahnya dengan tangannya yang kecil. Aku hanya tersenyum mengamati mereka berdua.

“Yas cantiiik, ayah mau ngajak Yas ketemu Eyang Uti. Mau?”
Yasmin menatap mata ayahnya dengan polos, mungkin berpikir dengan imajinasinya. Kemudian mengangguk tiga kali. “Ayah, Eyang dimana?” tanyanya. 

“Surabaya. Minggu depan kita pulang ke Surabaya.” Erat sekali Jenggala memeluk buah hati kami. Pulang ke Surabaya. Sesuatu yang telah lama kunantikan.  Pulang ke Surabaya, bertemu ibu dan ayah mertua. Membagi bahagia pada mereka. Memberi kesempatan Yas untuk merengkuh kasih dari kedua eyangnya, juga tante dan pamannya. Bermain dengan sepupu-sepupunya. Mengenal kota kelahiran ayahnya.
Kuperhatikan Jenggala yang semakin erat memeluk buah hati kami. Aku bisa merasakannya, kerinduan Jenggala pada Ibu. 


Jenggala, harapan itu selalu ada.…







~ bersambung ~

20 November 2012

Kado dari Erry :'>

Great person #2 Ara si Pohon Terang

“Ketika Allah menilai kita perlu diberikan sebuah inspirasi,
maka inspirasi itu akan datang”
20 Juli 2012. Itu adalah tanggal penting untuk sejarah persahabatan saya dengannya.. gimana engga, saya inget banget waktu itu semesta saya lagi dilanda kiamat kecil, karena ribut ma Abi. trus dia muncul ngajak kenalan.. batin saya, ni anak siapa sih?? Pede banget ngajak kenalan. Mana bawa2 nama Abi lagi… tapi, saya ladeni saja… pantang menolak persahabatan buat saya.
“namamu siapa?” sapanya saat membuka obrolan pertama kali lewat pesan singkat.
“Aq suka dipanggil nisa, tp abi lbh sk panggil aq mitha. Terserah km aja.” jawab saya cuek..
“Aku mau panggil kamu Tha untuk Mitha”
“lalu aku harus manggil kamu siapa?”
“Km boleh panggil anggun, atau laras, terserrah.. Hha.” Ah, Laras? Mengingatkan saya pada sepupu saya yang hilang…
“bagaimana kalau saya panggil kamu lara?”
“Kamu tau artinya lara? T.T Dalam bahasa jawa, artinya sakit. Pliiisss.. Yg lain doonk. Kamu gak suka huruf S ? Biar Laras gitu”
 “oke, saya panggil kamu ara aja ya, itu artinya pohon terang di tempat saya..”
“Ara? Hemm oke. ^_^” ia setuju.
so, Resmi saya panggil dia dengan nama Ara, si pohon terang… giliran Abi yang marah-marah… “kamu ini kok suka banget ganti-ganti nama orang lain?” Hha, saya cuman bisa nyengir garuk2 kayu pintu… orangnya aja ga keberatan, mang napa? ini emang kebiasaan saya sejak lama… bukan karena saya jail, tapi kebiasaan itu adalah wujud sayang saya ma sahabat2 saya.

saya juga suka menganalogikan mereka dengan satu sosok semesta, kayak ara sekarang.. si pohon terang.. kenapa dia malah jadi makhluk bumi? Ga seperti nha atau abi? karena Ara membuat saya tetap nyaman berpijak di bumi… dan saya selalu berdoa dia bisa menerangi saya dan sekitarnya.. seperti Cemara yang selalu jadi terang tiap tahunnya [ini pohon terang sifatnya budaya banget, budaya di tempat kelahiran saya]

Mang Ara itu kayak gimana sih? Nah itu diaa, saya juga ga tau wajahnya, saya ga tau aslinya dia kayak apa, saya ga punya gambaran tentang dia sama sekali,, kecuali dari apa yang dia tunjukkan ke saya waktu sms-an, chat, dan lewat blognya… jadi jangan tanyakan saya seperti apa wujud manusianya, saya ga tau… dan saya belajar untuk mengabaikan semua itu, cukup saya tau kalau dia memang manusia, dia nyata..

Sekarang, tepat 4 bulan persahabatan ini, dan genap 22 tahun kehidupannya… aih romantis banget tulisan saya, bilang aja Ara barusan milad ke 22 tanggal 19 november kemarin.. dan dia pernah minta ma hadiah ma saya, “ry, klo saya milad tulisin sesuatu tentang saya ya…” so, this is it… hadiah buat ara…


***
Ara itu : sama anehnya dengan saya, aneh dalam artian baik, mungkin unik tepatnya tapi ga seunik itu juga sih… cukup katakan dia aneh aja deh, kenapa aneh? Karena dia mau berkenalan dan bersahabat dengan orang seaneh saya… [sorry nha, sorry mas lalu, secara ga langsung kalian jadi ikut keciptratan keanehan saya, hha #kabur sebelum dijitak]. Ara juga suka langit, suka hujan. Mungkin lebih sukaan dia ma semua itu, dibanding sukanya saya ma bintang.. cz saya ga sampai masukin surat An-Najm atau An-Nahl : 16 di blog saya, sedangkan dia masukin surat Al-Mulk : 3 di blognya. Tu ayat tentang langit.

Ara itu lucu : beda dengan saya yang ga lucu sama sekali meskipun berkeras pengen ngelucu… ngebaca tulisannya selalu ngebuat saya ketawa, caranya nulis kejadian menyedihkan [AKU #25 (Hose gue, dia udah mati T__T)], caranya nulis hal2 sederhana [AKU #23 ("Lebaran, ya?")] dan hal lainnya…

Ara itu polos banget : saya inget waktu lagi sakit gigi banget bulan lalu, anastan dh ga mempan ditambah apotik tutup berhari-hari gara2 long weekend. trus pas curhat ke dia, endingnya dijawab “aku lupa kalo kamu anak farmasi, hha….” #nah loo….

Tapi, yang paling saya sukai dari ara : caranya membahasakan sesuatu…
Misalkan waktu saya ngeluh sakit, katanya : “semangat menikmati rasa sakit. Kita, perempuan, udah biasa.” Lengkap dengan emoticon senyum manis..
Trus waktu dia sakit, dia menjawab gumaman saya dengan tawa sambil nyeletuk “aku kan manusia juga.” Lah mang siapa yang bilang ara malaikat? #pletaakkk
Dan waktu aq cerita tentang galaunya aku digodain cinta, dengan santainya dia ngejawab “Makanya, aku malas jatuh cinta.” Masih dengan tawa dan emoticon senyum…

Dari ara, saya belajar satu istilah baru “memanusiakan sahabat” dan saya juga belajar menerima hujan lagi di kamus hidup saya… ara itu salah satu sahabat maya yang benar2 nyata bagi saya, dan kemarin [kau tahu,ra?] menyenangkan sekali merayakan miladnya bersama hujan, seolah2 dia ada di dekat saya..

Ga tau kapan saya bakal ketemu dia, mungkin pas saya mau lahiran anak pertama… atau malah pas anak saya nanti kebetulan tinggal di lampung en ngelahirin di tempat ara… [FYI, ara itu calon bidan...] ^_^ kapan pun itu, saya berharap bisa ketemu dia dengan keadaan masing2 yang lebih baik dari sekarang ini…


***
Saya ga romantis, ga puitis juga… ga terbiasa dikasih deadline, jadi ga tau harus ngebuat kata2 seindah apa2 lagi buat sahabat saya si pohon terang itu… mungkin juga dia udah kecewa karena ngerasa saya lupa bikinin dia tulisan… sebenarnya saya udah galau mau nulis kayak apa sejak 10 hari yang lalu, tapi baru malam ini saya pasrah dan memutuskan buat posting aja apa adanya semua hal yang lagi melayang mondar mandir minta ditulis di depan kepala saya… itu juga kenapa kutipan pertama saya adalah tentang inspirasi..

well, di tengah kecamuk galau atas tragedi palestina, saya cuman pengen bilang ke ara, thanks dh narik saya lagi ke bumi, setelah sekian lama melayang2 ga jelas di orbit bintang.. thanks dah nunjukin saya dunia nyata setelah lama saya bermimpi tentang dunia maya, dan thanks dah jadi pohon terang buat saya…  always wish the best for you, barakallah utk 22 tahunnya, dan semoga qt bisa tetap bareng di jalan kebermanfaatan yang sama… ^_^

najmi dah lowbatt, saya harus pergi dear… 
latisha,  20 nov 2012

19 November 2012

Kado dari Zul :'D



Ini Note yang dibikin Zul, sobatku jaman muda. :)
Aku udah berteman baik sama dia sejak SMP kels 3, Zul salah satu teman cowok yang aku bisa cukup terbuka dengannya. Aku PD aja minta buatin note yang di dalamnya berisi "Aku dimata Zul". haha. Setelah note ini jadi, Zul banyak cerita. Katanya dalam proses pembuatan note ini banyak sekali skandal palsu yang tercipta antara aku dan dia. Aku ngakak-ngakak dengar itu. Zul,dia udah aku anggep sahabat dari lama :)


*Yang warna huruf cokelat itu notenya Zul, yang hitam itu protes aku.:D
 Cekidoott!

#Kalau kata anggun, gak wajib di baca, dan yang baca moga dapet pahala..
>> Salah. yang benar itu "Gak dibaca gak berdosa" artinya hukumnya makruh. Kalo yang Zul tulis ini, hukumnya sunnah.
 

>> aku suka sama ilustrasi yang dibikin Zul. Meski gambar yang tengah itu aneh banget. Sejak kapan aku pake jilbab yang bagian depannya aku linting-linting kayak gitu? haha Sama yang paling kanan, jilbabnya panjang, tapi roknya transparan T.T But, oke lah. Nice pic, Zul. :)

Surprise yang tidak Surprise..            
Malam itu suasana kosan sungguh tidak sependap at dengan pikiran gue, begitu terasa panas, bau yang menusuk dan tirai jendela yang sudah terlihat kusam. Yah,ruangan yang mempunyai  lebar sekitar 3X3m Telah menemani tidurku selama 10 bulan terakhir ini, menjadi saksi dari mimpi-mimpi tidurku dari mulai mimpi foto bareng agnes monica, diajarin dance sama smash,berbincang dengan lady gaga,sampai akhirnya mimpi diceramahin ust. Maulana dan Aa gym untuk tidak bermimpi yang aneh-aneh.

Walaupun ruangan itu sangat sederhana, karena tidak ada benda mewah disana juga tidak tersedia kontak listrik (baca:colokan)  hanya ada 2 buah keranjang untuk meyimpan pakaian,satu kotak lilin persiapan jika mati lampu,4 buah hanger baju dan tentunya sepasang kasur bantal yang wanginya unyu.  Penerangannya pun tegolong  memilukan, gue menyebutnya dengan sebutan otosix  , karena lampu secara otomatis akan hidup pada jam enam sore dan mati pada jam enam pagi, dan itu sudah terkontrol secara baik oleh pemilik rumah,begitu setiap harinya seolah jadi alarm jam enam buat gue. Sehingga kalo gue sudah asyik main handphone, dan baterai sudah menunjukan warna merah, dengan segera gue akan memberhentikan permainan gue itu , walaupun sebenernya hati gue agak miris karena masih ada 12 bbm yang belum di read (isi:bc semua), 5 mention twitter yang belum sempat dibalas atau pemberitahuan dari facebook yang betebaran, fix insomnia tiap hari, jika tidak hanphone akan mati, alarm pun mati, alhasil bangun kesiangan dan terlambat kerja..

Namun dengan segala kekurangan ruangan kosan gue itu, gue cukup bangga dengannya karena disana inspirasi gue terlahir, gue mulai menyadari arti syukur dengan dia yang sederhana, arti hidup mandiri dan menjadi saksi bisu saat gue mulai menangis di sudut malam berbincang dengan tuhan  tentang kehidupan .

Dan belakangan gue baru sadar kalo bau menusuk di kosan itu adalah bau badan penunggu kosan itu yang kadang lupa mandi saat tepar pulang kerja..hmmm

(fokus sama yang punya hajat…) >> hehehe :D


Berawal dari status bb gue pada tanggal sekian yang ditujukan pada salah satu sosialita terkemuka Indonesia, pemilik salah satu saham majalah sosialita ternama “SHOWTIME” yaitu Gandarsari Ronaraksi yang kira-kira berbunyi” Happy bornday my sosialita onnambenk, semoga semakin glamour” dengan fotonya yang gue pajang memakai tas hermes yang  senilai 250 juta itu.(agak lebay ya, memang!!, muntah? Monggo…)

Keesokan harinya….
Percakapan bbm  antara gue dengan anggun larasti Darwis…, no sadap  karena tidak ada bahasan mengenai apel malang dan apel Washington, dan apel pacaran…

A:“PING”
Me:“iye njun, napa?
A:“mau di buatin kayak gitu”
Me:“mau dibuatin kayak mana maksudnya”
A:“itu yang di pm kamu”
Me:”oh, gampang ntar gua buat, emang lu ultah kapan”
 A:” Masih bulan depan sih masih agak lama”
    “ Tapi gue maunya lu buat tulisan tentang gue”
      Gue dari sudut pandang lu, kayak gue cerita tentang hose ikan gue.
Me:”tulisan??”
A:”iya tulisan, yayaya kan waktunya masih lama”
Me:”yang seperti apa?, judulnya??”
A: “terserah lu jul, sekreatifnya lu, seadanya lu aja”
Me:”hemmmm..”
A:”pliss, biar gue berasa ultah jul, hehehe” >>> T.T Aku nyesal  pernah nulis ini. shamed.
Me: “ iyee, ntar  gue coba”
A:” makasih jul..”

Dari perbincangan lewat bbm itu gue merasa punya hutang sama anggun, setiap buka bb liat anggun ganti picture inget tulisan, buka facebook, ada anggun baru pasang status inget tulisan dan baru-baru ini anggun follow twitter gue keinget tulisan lagi. Mencoba melupakan tapi tidak bisa karena bayangan tulisan selalu menghantui (bagus dijadiin lirik lagu) ,mungkin si anggun sudah lupa tapi sayangnya  tuhan sudah   menyadap semua perbincangan kami. Dan dengan basic menulis yang pas-pasan  akhirnya  seminggu ini gue mulai mengumpulkan data-data tentang anggun dari beberapa teman dan sahabatnya.. >>> Sejak aku baca ini, chat di FB rajin aku set off. hahaha

Ini adalah salah satu cuplikan  (SMS) gue kesalah satu sahabat anggun larasati darwis menjelang detik-detik proklamasinya yaitu kartika sari zainal (keduanya nama samaran facebook yang sudah di patenkan), entah kenapa pada sesi ini si kartika tidak menunjukan imbas kegaulan yang di berikan anggun larasati darwis.

 “Assalamualaikum, ini no kartika ya??”
“Waalaikumsalam, iya. Ini siapa ya??”
"ini jul , ce. Boleh minta bantuan gak?, gw ada project nulis buat ultah anggun, mau minta tolong sama
Kalian teman, sahabat anggun. Menurut kartika , anggun itu sosoknya seperti apa??”
“Gue belum ada ide li,tapi setau gue belum ada surprise tuh ultah dari temen sma, ide juli bakal kayak mana??”
“cee, maksud gue , gue  mau buat tulisan buat ultah anggun ntar kayak kado buat dia gitu deh, nah gue mau pendapat kalian, anggap aja lu abis baca buku terus lu  kasih comment deh. Tapi jangan bilang-bilang anggun ya!!”
“oh gitu ya li, gue gak ngecun li, sorry li gue lagi di jalan soalnya, hehehe”
“hehe ya udah , ntar sms ke gua ya pendapatmu tentang anggun”
“iya li, hehe”
“eh gue kok geli ya dipanggil li, jul napa ce??”
“owwh ini zul ya??? Gue kira si juli temen smp , haduh gue salah orang, maaf banget jul, makanya  sumpah daritadi gue bingung banget , haha “
“parah ni si kartice ngira gue si juli odonk-odonk (gatau nama aslinya,hanya tau nama fb nya mungkin yang dimaksud kartika adalah si juli odonk-odonk)
>>> Bhahhahaa aku ngakak baca ini. Tinch memang sobatku terpolos, kok ;)

Surprise pada hakikatnya merupakan sebuah kejutan yang tak diduga, tapi kali ini kejutan justru dibuat oleh sang pemilik terkejut bisa dibilang ini adalah surprise yang tidak surprise, tapi inilah keunikan dari anggun larasati darwis yang gue suka. apa adanya!  *shy*:"> hahaha
Satu point plus. Tapi dari surpise yang tidak surpise ini masih ada sekelumit surpise yang tersisa.cekidot!

Anggun si Ratu Online…>> T.T

Kenapa gue sebut anggun si ratu online , >>> KENAPAA?? mari kita simak:
>>setiap gue buka facebook , seolah buletan hijau tidak mau jauh dari nama anggun larasti darwis layaknya bidan siaga 24 jam >>> Bohong ah! ahaha
>>anggun larasati darwis pintar merangkai kata sehingga dia rajin posting tulisan >>> Mana ada! hhaha
>>sebagai mantan anggota girlband fivegirls (>>>Tunggu2, siapakah gerangan yang udah menceritakan aib ini ? -__-") tiap hari anggun larasati darwis selalu absen status di facebook
>>Anggun larasati darwis juga hampir punya semua akun social media , seperti: (sekalian promo)
Facebook: Anggun larasati darwis
Twitter: @anggunhijab
YM: anggun_hijab
FS: anggun_hijab@yahoo.co.id
Email: larasati _darwis@yahoo.com
Blog: larasati-darwis.blogspot.com >> hei hei.. Blog ini ndak layak dipromoin, Zul. Ya ampun -_-" 

Diantara akun social media diatas memang anggun larasati sangat hyperaktif pada facebook. >> Beuh T.T Dunia facebook memberi peluang seseorang untuk berekspresi baik itu dari segi penggunaan nama, status yang diupdate atau picture yang diupload yang mana dari berbagai segi tersebut bisa membentuk karakter pribadi seseorang apakah dia termasuk golongan yang datar-datar saja, sosok yang religious atau lebih mengarah ke alay (baca:anak lebay)

Sudut pandang akun facebook dari nama akun
Sebagian besar pengguna facebook ingin lepas dari karakter aslinya, dan ini beberapa nama yang berhasil gue kutip
Anggun larasati darwis, pada nama ini anggun ingin menekankan bahwa dia bangga menjadi anak dari bapak darwis
Anggun saiiang akhi (untuk cewek) atau akhi saiiang anggun( untuk cowok), pada nama ini menunjukan bahwa kedua pacaran dan saling sayang satu sama lain, mendekati alay. >> Aku nggak ya!
Angguncicukkangambek tapisenekfotofoto , ini menujukkan tingkat alay yang sudah kronis, bagaimana tidak? Ngambeknya anggun bisa di hilangkan hanya dengan foto-foto. >> Aku? iH, gak pernah ya!

Sudut pandang dari status facebook
Dunia per-FB-an tanpa status itu sepi!! Seperti akhi tanpa ukhti, kemarau yang merindukan hujan, atau layaknya nasi padang tanpa kuah . Karena disitu biasanya terjadi komunikasi baik tukar informasi,sibuk cari sensasi, gunjing sana sini atau hanya sekedar  Nempelin jempol. Dari sebuah status juga bisa menentukan keeksisan dan kealayan pengguna fb, missal:

Anggun larasati darwis
“capek beud, sakit semua ni badan, hufft!!”
             101 comments       45 likes

Dan dari status tersebut besoknya anggun akan bener-bener sakit, kenapa?? Karena ada 45 temen anggun yang senang dia sakit itu sama saja mendoakannya
 you know? Dan 101 comment , si anggun sibuk bales comment dan lupa akan badannya yang sakit. Insomnia,  besoknya tepar!!. >> hahaha demi Allah, gak pernah! haha
   
Sudut pandang dari picture/gambar
Picture/gambar atau foto merupakan pemanis dari sebuah akun fb. Biasanya pada akun Angguncicukkangambektapisenekfotofoto
Akan lebih diminati (oleh para lelaki, bukan ikhwan, bedakan!!) jika profil picture yang dipajang dengan kacamata besar, tangan hormat ala polisi dan lidah menjulur seperti ular nagin (jangan dipraktekan,tapi kalo penasaran pengen coba silahkan!) ketimbang hanya memajang foto berjibab dengan kedua telapak tangan menutup muka. #istighfar dalamhal ini. >> Aku dong,  punya akun facebook bukan untuk cari jodoh :)

Nah, dari berbagai sudut pandang diatas , dari  anggun gue  mulai menyadari bahwa tingkat keeksisan/kealayan itu harus dikurangi dan di benahi, bahkan harus dimusnahkan, dari anggun si miss online gue banyak belajar bahwa tidak slamanya kealayan kita itu akan terus Berjaya, karena ada masanya dan akan ada pendatang alay-alay yang baru.
Setidaknya hijrah ke hal yang lebih baik, walaupun alay tapi tetep harus religius,  anggun berkata” kalau  dulu kita bangga jadi genk alay, tanpa kita menyadari, sekarang harus jadi genk alay yang soleh dan soleha” >> Aku tambahin. Alay itu hanya akan BERUBAH DENGAN SENDIRINYA, sampai mereka menyadari apa yang telah mereka lakukan adalah hal konyol yang memalukan. Seiring bertambahnya umur, mereka akan sedikit-sedikit memahami. Jadi jangan capek2 untuk merubah alay, itu percuma. :)  


Yups, hijrah dari alayers fb, tapi dunia twitter, bbm dan lainnya siap menanti
“njun help me, again…………!”


Anggun, njun apa ega???

Dalam hal ini gue akan mengungkapkan beberapa misteri di balik nama-nama panggilan anggun larasati darwit menurut pandangan gue pribadi sebagai  teman yang pernah terlibat dalam perkembangan tingkat kegaulannya dan pengakuan dari sahabatnya.

ANGGUN
Pada nama ini sungguh sepertinya  anggun terlihat wanita seutuhnya, selalu berpakaian diatas standart, elegan dan glamour, tapi pada faktanya anggun yang gue kenal ini  tidak cantik, tidak elegan, apalagi glamour. Tapi anggun yang gue kenal ini lebih condong ke sanguinis kharismatik (mengutip kata kembaran gue), tidak membosankan, ceplas –ceplos tapi tetap religious dengan khas kacamata minus nya, itu asik!!. Calon ibu rumah tangga yang baik dan tidak cocok jadi sosialita.
Namun nama anggun agak tercemar dikala pemakaian nama anggun sering disalahgunakan untuk kepentingan nama samaran korban per.. korban pen..
Layaknya bunga, mawar atau melati . Ini memberi kesan “KINI ANGGUN TAK SEANGGUN NAMANYA”, I’m soory to hear that girl !! >> T__T

NJUN
Kebanyakan nama panggilan pada prinsipnya ingin diakui keabsahannya dan diterima oleh masyarakat serta dipatenkan pada komunitas tertentu walau tanpa undang-undang yang mengikat (bahasanya beuh,,, gak ngerti!!). Seperti layaknya nama anissa dipanggil cha, nur dipanggil nung atau meta jadi mamet, nama angun juga tidak mau kalah saing dari persaingan-persaingan global tersebut yaitu anggun menjadi njun.
Entah  kenapa seperti itu? Mister nama njun seperti ini belum terlalu terungkap, mungkin saja  untuk mempertegas diri dari nama aslinya walaupun sebenarnya agak kekanak-kanakan, missal :
X: “eh lo tau anggun gak, sumpeh ternyata anak gokil beud ya?”
Y: “anggun yang mana?, anggun yang njun itu tah?”
X:“anggun larasati darwis loh…”
Y:“anggun si njun kacamata kan!”
X:”heheh, iya”
Ini jelas mempetegas dan kekanak-kanakan…
>>> Haha, bukan itu. Aslinya, ada sobatku yang lain, Anggi, panggilan manja yang disematkan teman2 adalah "Enji". Dan siapa sangka, tiba2 "Anggun", berubah jadi "Enjun" atau "Njun".


EGA
Pernyataan mengejutakan dai sahabat anggun si njun tentang misteri nama panggilan ega, dulu gue sempat berfikir kenapa anggun bisa  dipanggil ega? Darimana penggalan nama itu diambil. Sungguh itu sok imut, sok lucu dan sok lugu ,namun setelah mendapat informasi yang konkrit mengenai nama itu, that was amazing, bener-bener istimewa. Berikut petikan sms dengan si pembongkar misteri….
“eh, re kenapa sih si anggun  dipangil ega??”
“owhh, yo know ? anggun dalam bahasa inggrisnya adalah ELEGANT, kalau kita ambilan penggalan gant dari kata tersebut terkesan macho, terus kalo diambil penggalan dari awal kata yaitu ele itu artinya jelek dalam bahasa jawa, gak lucu dong  masa nama anggun jadi jelek, so kita ambil dari penggala tengahnya yaitu EGA,keren kan”
“ gitu ya, tapi kalo gue boleh simpulkan dari penjelasan lu berarti kata elegant itu lebih kepada cowok jelek yang macho  tapi keanggun-anggunan”
“gak gitu juga kali..”
Kini gue jadi tahu kalau nama ega itu jadi bener-bener istimewa, sehingga semua sok yang gue sebutin diatas gue nyatakan hilang!,iya jadi nama ega itu keren, bagus!, iya gak? Iya dong ? HARUS!!
>>> hahaha Iya, Rere yang menciptakan "Ega" menempel pada diriku :')


Apa kata mereka??

Di sesi ini gue akan menampilkan beberapa pendapat beberapa ahli mengenai sudut pandang mereka tentang anggun larasati darwis, pendapat-pendapat ini layaknya quota-quota pada barisan sampul di  buku-buku  best seller.  Pendapat-pendapat para ahli ini gue peroleh dari hasil wawancara gue melalui sms, bbm,
fb,dan twitter, ini dia hasilnya…

“Agggun adalah sosok yang bawaanya ceria, suka update status dan informatiflah..”
-meta gapila (Pemusnah huruf R, pecinta huruf L)->>> :)


“Kalau ngomongin  sosok anggun menurut gue dia sama seperti yang lain, gak ada yang terlalu special. Tapi dia teman yang sangat istimewa yang gak bisa didefinisikan, tedengar lebay tapi begitu adanya, bingung ngomongnya, speechless. Hehehe..”
- Agita kharyono (pedagang mie ayam paling ganteng se-lampung)- >>> Lo juga, Ryo, teman gue yang istimewa :)

“Ega itu asyik,gokil, seru, penuh semangat dan bisa ngertiin temen , my lovely friend deh..”
-atma tri hidayati (pemenang idola cilik 2012)- >>> Love U too,Rere kesayangan guee :'>

“Njun itu temen gue dari jaman TK , jaman masih lugu dan polos banget lah.  gue dikejutkan dengan tampilan anggun waktu sma, anggun yang pecicilan jadi anggun yang menutup semua auratnya, dan yang gue suka dari dia, dia konsisten banget ampe sekarang, salut gue, itu gak gampang lo..”
-Rarasati pertiwi ( pencakar yang takut tikus, manager dari salah satu boyband ternama)->>> Hahaha, emang dari TK gue udah terlihat pecicilan, ya?  :) Eh Ras, gue juga sebenarnya salut sama lo :D


“Anggun itu bagi dewi sahabat terbaik, bahkan lebih baik dari dewi. Wanita yang berprinsip, manusia memang tidak ada yang sempurna tapi dalam diri anggun ada yang buat aku speechless, dan jangan suruh aku bilang itu apa?, coz dewi susah jelasinnya.. “
-Ratna dewi (calon ibu rumah tangga, peasehat hokum anggun larasti darwis)->>> :) Karena Allah  menutupi aib2 gue, Wi :) Yang penting selalu berusaha meningkatkan kualitas diri.  :D Dewi yang pengertian sama gue, thanks ya.


“hmmm, sosok yang supel,periang ,to the point,basic agamanya cukup bagus…”
-Abdurrisyad fikiri (pemuda istiqomah, teman samping bangku anggun di kelas 3 smp)->>> Haha makasih ya, Fikri. :)

                                                          
“Anggun larasati darwis itu baik punya semangat , akhwat, agamanya bagus dan fleksibel..”
-Nurhayati (pecinta warna biru,)->>> Nur, aku merindukan tertawamu :)
                                                  
“Bagi gue anggun is someone that I can be alone with and have nothing to do and not be able to think of anything to say be comfortable in the silence and I wanna say to anggun: terima kasih untuk menjadi apa adanya kamu untuk menerima apa adanya aku”
-Kartika sari (sahabat anggun sekaligus pesaingnya dalam pelajaran bahasa inggris)->>> Gue speechless :')

“Anggun adalah sosok orang yang bisa buat gue move on, ngasih solusi terbaik..”
-Anggi kurniawan alfarizi (ketua anak gaol Jakarta, mantan pemuda galau)->>> Dewasa bareng gue yah, Jang.. :)


Anggun itu sebenarnya sosok teman yang pendiam,, tapi dia lincah , suka bergaul dan suka buat humor kalau lagi kumpul-kumpul
-Dina maya sari (model, mantan persolil girlband “FIVEGIRLS” bersama anggun saat SD)->>> Makasih banget, Din. Gue dari jaman kecil pingin banget dibilang pendiam. Ternyata cuma lo yang sudi :D

Kesimpulan:
Anggun  pada awalnya sosok yang pendiam,dan mulai terbuka saat bergabung dengan fivegirls, walaupun sibuk dia sangat perhatian dengan teman-temanya.
Dia menjadi inspirasi bagi teman-temanya tanpa ia sadari dengan tidak menjadi siapa-siapa. Ceria, supel ,bersemangat dan religius menjadi cirri khas anggun sehingga dia dicintai keluarga, sahabat dan teman-temannyaa.. >>> Lagi, hanya karena Allah yang menutupi aib gue.

Habede eeaaa anggun!! >>> Ma'achii kakaaq

Akhirnya tulisan ini selesai, walaupun tidak seberapa semoga menjadi kado istimewa. Meski baru belajar merangkai kata semoga menjadi obat duka. Dikesempatan ini gue gak mau hanya mengucapkan semoga…semoga…semoga…karena ini adalah doa,meski sadar umur hilang karena sudah menua, tapi harus tetap bersyukur karena masih diberi nyawa kepada sang khalik untuk mengumpulkan pahala. Agar hidup tak melulu dilumuri dosa, mari kita berharap kepada
 Sang pencipta untuk tetap berada dijalan-NYA. Ayo kita mulai menundukan kepala….
Semoga anggun tetap patuh pada orang tua, semoga anggun tetap istiqomah, semoga skripsi anggun cepat selesai dan lulus kuliah dengan prestasi yang membanggakan, semoga anggun mendapat jodoh yang terbaik, semoga semkin unyuk dan semoga lainnya yang disukai allah.

Sekali lagi habede eaaa anggun, BARAKILLAH!!


Thanks to: meta gapila, abdurrisyad fikri, ratna dewi, agita kharyono, atma tri hidayati,kartika sari,anggi K.alfarizi ,rarasati pertiwi nurhayati dan
dina maya sari.

Finish…..


Hahha, baca ini aku senang.
Gak bisa berbuat banyak,  yang pasti aku mendoakan kalian yang terbaik. :) Makasih ya ^^

Kado dari Te' :')


Ceritanya, hari ini mentengin wallnya Kokinos Te. Aku baca status terakhirnya yang bunyinya ini:

"hujan itu sudah puitis. Apalagi ditulis menjadi puisi"
Kalian tentu tahu kalo aku demen banget sama hujan. Dan Te', dia sering kupanggil pujangga. Maka dengan mengucap basmallah aku minta dia bikinin aku puisi tentang hujan. Haha.
Hari ini aku ultah, hari ini hujan, hari ini baca status puitis tentang hujan. Kenapa ndak sekalian berpuisi tentang hujan? Apa? Aku bikin sendiri? *geleng-geleng*.
Biar Te', "Anggap-anggap itu permintaan dari seorang teman lama yang lagi ultah :D", pintaku. "Tunggu diinbox", jawabnya. 20 menit kemudian, jadi! *yeeeeeeay*

Jadilah aku berpuisi, udah kurekam loh. Pake backsound instrumen Serenade pula. Haha alay banget.
Te' bilang, "ini puisi kalo dipublish dibikin aja by-namenya namamu. Special", katanya. Aku terharu. *_*

Cekidot, ini puisinya ! Yang versi suaraku, ndak aku upload. Khawatir ada yang jatuh cinta sama suaraku yang bombastis. *hiyaaaa* hehe.



Bu.. riuh aku. Rebah rasaku dihujani ketiadaan.
Ditindih oleh segaris bayang-bayang yang jatuh dari langit tanpa daya.

Bu.. Dimanakah aku jika kecil masih menyusu, besar masih memanggui mu,
dan kini aku di dua puluh dua rasaku, masih tiada daya tanpa mu.


Jalan-jalan panjang basah.
Lesap satu per satu, tinggal jalan di hadapan, yang entah.

Mendung membawa kabar:
betapa sulit waktu 'kan merajam, betapa samudera 'kan membanjiri kenangan dengan segenggam sauh

membadai di sudut cerita.

Bu..
Ranumkan restumu,
kelak, 'kan 'ku tajahkan seratus cita-cita,
yg engkaulah muaranya..



-1911-12
Dua Puluh Dua tahunku__Te'

Buatku, ini keren. Puisinya. Thanks ya, Te'. :D

16 November 2012

Kelaparan dan Ketawa, itu deketan.

(Peringatan! tulisan ini agak didramatisir. Sebenarnya gak separah itu kok. Jangan laporin Mamah-mamah kami yak! ;)

Semalam, gue dengarin suara tangisan teman sekontrakan gue. Inisialnya E. E untuk Erlin #eh. Gue tanya: "Napa sih nangis?", jawabnya: "Laaaaaaapeeeeerr.." sambil sesegukan tapi ketawa-ketawa. Gue prihatin. Tapi juga ketawa-ketawa. Apa daya kalo gue juga menahan lapar sejak sorenya. Buka-tutup kulkas berkali-kali pun, yang didapat cuma Zonk. haha parah banget.

Kami kompak, ciyus. Kami satu rumah ber 7, kemana-mana bareng, makan bareng, kuliah bareng, kesana bareng, kesini bareng, susah juga bareng-bareng. Bahkan, ntah ini azab atau bukan,  kami kalo jatuh kere selalu berbarengan. Kalo kehabisan uang selalu bersamaan. Ngerti, kan? artinya gak ada yang bisa diutangin. hahaha. Udah dua sampai tiga hari ini prekonomian kami berada jauh dibawah garis kemiskinan.

Ceritanya, hari itu kami baru makan sekali. Jam 1 siang. Itupun join-joinan. Setelah Teteh Eka histeris liat isi dompetnya yang tinggal cibu, dan Erlin bermata nanar mendapati isi dompetnya yang lebih steril lagi.  

Makan sebungkus berdua, bertiga, berrempat, rebut2an, heboh. Merelakan makanannya dihabiskan bareng-bareng, rasanya tuh campur aduk. Antara sedih, terharu, senang, dan seru. Kami, yang statusnya mahasiswa semester tua ini, tiba-tiba urat malunya nambah kalo harus minta kiriman sama orang tua. Serius deh, mendingan nahan lapar daripada nelpon Mamah bilang: "Uang makan udah abis, Mah." :') #tsaaaaaahh

Suara motor, Mb Nupe balik dari beli sebungkus nasi goreng hasil patungan "Cibu-cibu". Erlin yang masih sesegukan gue ajakin makan, dia nolak.
"Lu pada kan udah berempat. Sebanyak apa sih Nggun nasi goreng dimakan berlima? Tadi gw udah makan nebeng Tinch" Katanya. Gue sedih. Erlin ketawa. Gue jadi ketawa. "Gila! separah inikah??" Kata Teteh sambil geleng-geleng kepala,
Oke baik, gue keluar, terpaksa meninggalkan Erlin yang  kemudian tidur-tiduran. Bukankah peredam rasa lapar yang gak bayar adalah dengan tidur atau minum air putih yang banyak? haha. 2 menit kemudian gue balik lagi. Erlin bilang: "Wow, cepet banget , kalian makan??" Semua ketawa. :'D

"Eh, kalo nyokap kita liat ini, pasti dia nangis deh." kami ketawa.
"Sedih ya kita. Seharusnya kalo gembel jangan semuanya ya."
"Oya, besok kan pestaan X (gaboleh sebut nama), besok siang berarti makan gratis." Kami ketawa lagi.
"Malamnya ikut pengajian di masjid! Semoga dikasih nasi!" Ketawa lagi.
"Gue butuh tembolok kalo gitu!" yang ini ngakak.
"Ce', besok kondangan bawa ransel yah !" *Kodeee* "Tas pesta kekecilan."hahaha
"Kalo bisa bawa tuperware sekalian.."
"Kantong plastik aja yang gak makan tempat!" T__T

Begitulah, kalo lagi sedih kami malah suka ketawa. Gak tau deh. Padahal ketawa pas lapar itu buang-buang energi. Nasi goreng yang cuma sesuap-dua suap itu kalo dilihat dalam bentuk energi, mungkin udah abis saat ketawa kami yang pertama. hehe Kira2 setengah jam dari 'ketawa-ketawa lapar' itu, tiba2 di engsel pintu menggantung sebuah kantong pelastik hitam yang isinya bungkusan nasi goreng. Kami mendapatinya setelah baca sms masuk yg bunyinya ini: 
"Aku tadi nganter nasi goreng, Ketok-ketok n salam gak ada yang jawab. Kayaknya udah pada tidur, jadi kugantung dipintu." 
TARAAAAAAAAAAAAAAA!!!
Pertolongan Allah bisa dari mana saja, karena Allah gak akan menyia-nyiakan hambaNYa. :)

Nah tadi pagi kami sedekahkan sisa uang yang ada. Eee siangnya dapat rejeki lagi, Neneknya erlin datang, kami makan dengan normal. Yeaaay! haha

Alhamdulillah kan, benar kata Papah, kalo lagi bokek sedekah aja. ^_^Oneday, ini akan jadi cerita. Akan dikenang dan diambil hikmahnya. Kalo kami udah mandiri nanti, semoga bisa lebih dermawan kepada yang membutuhkan. Karena kelaparan itu menyebalkan. :')

4 November 2012

Cerita Random



Pernah muak baca tulisanmu sendiri? aku lagi muak nih. Sama tulisanku yang gak jadi-jadi. Judulnya: Skripsi.

Tiap sore aku ngantuk terus. Aku tau, itu artinya badanku lagi nggak fit. Aku lupa kapan terakhir lari pagi.

Aku tadi liat semacam bintang yang bergerak. Aku sampe kedip-kedip beberapa kali.
Itu bintang. Bukan jet/pesawat.

Pembimbingku baru pulang haji hari ini. Besok aku tentuin jadwal sidang.

Kenapa Allah menciptakan aku dengan satu kekurangan yang merepotkan: Moody.
Aku kerepotan menej  moodku yang labil akhir-akhir ini.


Aku sama teman-teman lagi menghabiskan masa gadisnya Mbak April, yang tinggal 5 hari lagi. Dia mau nikah hari sabtu!

Aku rencana mau beli buku bagus bulan ini, tapi mendadak charger laptopku ilang. T.T

Aku mau piara sesuatu. Bukan ikan. itu aku trauma.
Aku mau piara tanaman. Seperti bonsai, atau kaktus.

Kalo bonsai nama manjanya Ncai, kalo kaktus nama manjanya Ntus. Teman-temanku yang kasih nama. Aku ketawa.

Dua hari ini hujan terus. Kemarin anginnya kuenceng, hari ini petirnya banyak.

Kok, aku gak kelar-kelar sih baca Biografi ini?

Kemarin malam aku ngobrol sama bapak-bapak yang aneh. Dia ceramahin aku. Bapak itu kharismatik. Dia menggali kedalaman pemahamanku tentang Islam. Aku pingin ketemu beliau lagi suatu saat nanti.