Surat dari Dania #2


Aku terharu baca ini, surat dari Dania :')


......Segala puji bagi Allah yang masih menyisakan kerinduan itu dihati kita, semoga ia senantiasa menjadi cermin yang senantiasa mengingatkan seperti apa seharusnya diri kita bersyukur dengan segala nikmat dan skenario indah  buatan-Nya untuk setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun dalam hidup kita, yang mungkin itu belum sempat singgah di hati yang lain, karena tidak pernah ada yang diciptakan oleh-Nya menjadi sebuah kesia-sia-an.

Aku sama sekali tidak memahami makna apa dibalik kalimat "tidak ada yg sia-sia", karena sepertinya mudah diucapkan dan sulit masuk kerelung hati sehingga aku bisa menikmati sesuatu yang benar-benar kuangggap tidak sia-sia.  Ternyata untuk membedakan itu sia-sia atau tidak, itu bergantung pada sedalam apa kita memahami makna kehidupan ini yang tidak akan pernah habis sampai hidup kita berakhir, bukankah begitu saudaraku?

Aku teringat akan firman-Nya di ayat Al Quran yang kalau tidak salah, kita pernah menghafalnya agar bisa tenang berhadapan dengan Pak Syaeri (guru agama kita) sebagai syarat kelulusan ujian praktek agama, semoga Allah senantiasa merahmati beliau atas keinginan besarnya memahamkan kita tentang makna seluruh penciptaan-Nya yang tidak sia-sia, tapi aku sendiri merasa sedikit sekali hati ini bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang tercecer itu.astagfirulloh......

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(QS.Ali-Imran:190-191)

aku ingin menyampaikan ini saudaraku, sebagai rasa syukur kepada Allah, bahwa serpihan episode kehidupan kita dulu, yang singkat dan mungkin tak cukup  banyak kisahnya atau mungkin dulu kita anggap biasa bukanlah sesuatu yang sia-sia belaka melainkan ada sesuatu yang sengaja Allah siapkan untuk kita sebagai bekal untuk kehidupan kita, kita dilahirkan di kota itu, bertemu di sekolah, bermain bersama, belajar bersama, menangis bersama, tersenyum bersama bukanlah hal yang tidak direncanakan oleh-Nya, jika penciptaan langit dan bumi yang sungguh besar, kompleks dan teratur ini dengan sangat mudah diatur dan direncakan oleh-Nya dengan maksud yang tidak sia-sia, maka apatah hanya segelintir episode hidup hamba-hamba-Nya saat ini terasa sulit untuk Ia rencanakan. Sungguh itu mustahil bukan?.  Sedangkan untuk menjawab apatah semua itu sia-sia belaka, ia itu akan menjadi sia-sia jika kita tidak ingin mengambil hikmah darinya, padahal Dia tidak memberi satu episode pun melainkan ia berikan episode yang terbaik untuk kita mencari perhatian-Nya, atau episode yang mendewasakan kita, memberi hikmah pada kita atau bahkan menegur kita agar tidak tercebur dalam kesalahan yang menyedihkan kita seperti seorang ibu yang menegur dan menasihati anaknya dengan berteriak lantaran kaget anaknya hendak mendekati sebuah 'got' yang dalam sehingga khawatir anaknya yang tersayang jatuh kedalamnya, tapi sang anak malah menangis lantaran takut dengan teriakan ibunya yang menurutnya sedang marah,

Mengapa aku menyampaikan ini saudaraku, aku ingin menyampaikan ini, lantaran rasa inginku kalian tahu betapa bahagianya aku saat ini, dan betapa bangganya aku pada kalian, tetap istiqomah tatkala banyak yang melemah, tetap lembut hati dalam mendengar nasihat agama ini tatkala banyak yang  mengeluh bahwa dunia menyibukkannya dan sebelum penyesalan itu datang lantaran tak sempat aku menyampaikan rasa ini pada kalian, padahal teladan kita, Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kita. “Jika seorang di antara kamu mencintai saudaranya karena Allah, maka kabarkanlah, karena hal itu mengekalkan keakraban dan memantapkan cinta.”
Itulah ia saudaraku, aku telah mengabarkannya, apatah kalian hendak mengabarkan sesuatu kepadaku??

Apa kabar kalian semua saudaraku,,
Tatkala sekeliling kita tak mendukung kita  untuk mereview ulang kisah kita dulu, maka sampaikanlah pd Rabb kita, "Saksikanlah duhai Allah, hatiku merindukan saat itu dan menginginkan ia kembali maka "tunjukilah jalan-jalannya" duhai Allah, hingga aku bisa mempertahankan nikmat-Mu itu dengan hamba-hamba-Mu yang sholehah di dunia ini". Maka aku percaya dengan Dzat yang tidak pernah menyalahi janji "innallahakaanabikum rohiimaa" sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Dari Mu’adz ibn Jabal ra, katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, Berfirman Allah Yang Maha Mulia dan Luhur: “Mereka yang berkasih-sayang demi Keluhuran-Ku, bagi mereka mimbar-mimbar cahaya yang menyebabkan para Nabi dan para Syuhada iri kepada mereka”. (HR. At Tirmidzi).
Itulah ia saudaraku, maukah kalian bersamaku membuat para Nabi dan Syuhada cemburu?
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih untuk komentarnya ^_^