Kesiapan Fisik dan Umur yang Aterm




Pat, lo kok kurusan? Kok iteman?” *sambil nunjuk punggung tangan saya.

“Efek siangsiang bawa motor tiap kunjungan ke rumah pasen postpartum gue, Pat”

“ya jangan juga tengah bolong lah. Bisa pagi atau sore sekalian, kali. Inget Pat, umur kita ini udah aterm. Siapa yang tau kalo lo ketemu jodoh besok? Pastikan fisik lo siap. Kapanpun.” Sekarang giliran Eet yang nunjukin punggung tangannya sendiri.

Saya ketawa-ketawa dengar kalimat yang diutarakan seorang sahabat saya itu. Namanya Yeti. Orang-orang memanggilnya Eet. Saya memanggilnya “Pat” untuk Partner. Dan dia memanggil saya “Pat” untuk Patimah. Dia tipe cewek yang perhatiannya detail tentang penampilan. Apalagi jika disangkut-pautkan dengan tema yang paling menarik bagi permpuan-perempuan seumuran kami: Jodoh. Kami menggunakan sebutan aterm untuk menggambarkan umur yang matang untuk berumahtangga. Kalau dalam ilmu kebidanan, aterm biasa dipakai untuk mengistilahkan umur kehamilan yang cukup bulan (37-42 minggu), artinya jika persalinan terjadi pada umur kehamilan 37-42 minggu, itu merupakan sesuatu yang fisiologis, normal. Lain lagi jika umur kehamilan kurang bulan (preterm) atau lebih bulan (postterm)., maka… #eh, ini kenapa jadi ngasi materi kebidanan?. Intinya, umur kami yang kini menginjak, ng…. Dua Puluh Tiga, #Aaaaaaakkk, merupakan umur yang gak terlalu muda dan bukan dewasa tua, disebut aterm: matang: pas: cucok, untuk menikah dan memperoleh keturunan yang sholeh dan sholehah. Yes! 

Pernah mengucapkan kalimat ini, dong?
 “Rizki,  jodoh, dan mati sudah di atur Tuhan”, 

kami sangat sepakat. Kami rasa jodoh bisa datang kapan saja selayaknya rizki dan kematian. Makanya Eet bilang, “Pastikan fisik lo siap. Kapanpun” termasuk pastiin punggung tangan saya warnanya kembali normal. Mungkin supaya terlihat bagus ketika datang saatnya sebuah cincin tersemat disana. #hiyaaaaaa

Seiring bertambahnya usia, manusia hidup selalu berubah, termasuk asumsinya terhadap sesuatu. Dulu jaman saya kanak-kanak, kalau main suka semaunya. Saling lempar lempung di sawah, mandi di kali, manjat seri, malas pakai sandal, cari keong di pantai. Sering setiap pulang main selalu meninggalkan jejak di tubuh saya. Minimal lecet. Ada juga yang luka, di siku tangan, lutut, telapak kaki, kening. Saya anggap itu hal sepele. Kecuali setelah Papah saya marah-marah dan bilang: “Ck, cacat kakimu itu.”  Sambil meneliti luka ngusruk di aspal karena saya lari-lari ndak pakai sandal waktu di suruh mamah ke warung. Dulu saya pikir papah saya berlebihan, tapi setelah dewasa…..

“Buat ngilangin bekas luka yang umurnya taunan, apaan ya?”  Saya galau juga.

Kini saya seolah menjadi manusia paling bête kalau habis jatuh, tersandung, kepentok, yang meninggalkan bekas luka. Termasuk terkena cipratan minyak panas, atau gak sengaja tersenggol setrikaan yang lagi menyala. Pfftmoment banget lah. Pernah saya mengalami kecelakaan ringan sewaktu mengendarai motor. Ada luka menganga di kaki, yang pada akhirnya meninggalkan bekas. Belum hilang bête, tiba-tiba seorang teman nyeletuk, “Itu bekas luka ngurang2in harga tuh 500 ribu, kalo kamu dilamar.” *beuh, kejam ya? Yang jelas, buat saya pribadi, perempuan memang seharusnya menjaga fisiknya, supaya kesan indah yang pasti tersemat pada sosoknya tidak pudar. Itu hanya salah satu persiapan menuju kematangannya. Cantik memang ndak Cuma dilihat secara fisik, tapi apa salahnya berusaha menjaga anugerah Tuhan dengan usaha maksimal, mencoba mempersembahkan hal terbaik yang dipunyai kepada orang terbaik yang dipilihkan Tuhan nantinya. Jadi, penampilan dan umur yang aterm memang selalu ada benang merahnya. Hha

Oh iya, percakapan saya dengan Eet belum selesai.

“Pat, lo rajin gak minum susu?” sekarang giliran saya yang bertanya.

Nggak, Pat. Kenapa?”

“Gue sekarang udah berusaha ndak ngopi. Lebih rajin minum susu. Juga makan buah. Kalo perempuan yang bakalan nikah trus hamil kan kudu sehat, pat. Gue lagi mempersiapkan kehamilan gue kelak, supaya bisa melahirkan anak-anak yang sehat juga,”  Eet bengong. Kemudian manggut-manggut dengan ekspresi berpikir. Bikin aku ketawa lagi, jhaha

Harus diingat, fisik itu bukan Cuma yang terlihat, tapi juga yang ndak terlihat. Yuk, siapapun yang udah ingin atau belum, ketika umur udah aterm, persiapan fisiknya difokusin lagi ^_^

Lentera Malam





Ada yang jejingkat dalam hening
Segaris bising yang sunyi
Bukan lagi degub
Bukan pula cerlang bintang di kelam malam
Hanya mirip sebuah dayu
Memerah-merah ingatan hingga retaslah sebuah kenangan
Ah, manusia kadang tersesat pada masa lalunya.

Tak ada aku menoreh ingin
Beranganpun tidak
Tak pernah kugantungkan mimpi setinggi bintang
Karena satu-satunya alas pada kakiku, adalah bumi
Dan  sebab tengadahnya wajahku, adalah langit
Ketidaktahuanku? cuma Tuhan yang peduli.

Duhai lentera malam
Ubahnya bintang yang tak benar-benar hilang
Selalu ada kecewa pada tiap-tiap naïf yang meremang
Seperti pendarmu  yang terkadang terlihat gamang
Seolah ada dua matahari pada satu langit
Tahukah kamu, bulan?
 Betapa memikat pekat langit malam ini.
Dan kau, masih menjadi satu lentera paling terang


_Kepada Bulan, bintang, dan heningnya malam.
04.07

Untuk Langit

Untuk Langit
ni tentang Langit. Yang tak pernah bosan menaungi tiap-tiap episode hidup manusia. Langit menatap dan mengamati, ia mengerti dan menenangkan. Langit diam dan menerima: cahaya Matahari, kelabu  Awan, temaram Bintang. Namun langit selalu menghadiahi Hujan… 

Aku berbohong jika kubilang kalo aku mulai mengagumimu sejak menyelami surah Al-Mulk. Kau memang bagian dari kerajaanNYA, tapi menyadari kau istimewa, caraku lebih sederhana dari itu. Masih butuh waktu yang lumayan lama untuk menemukan kemegahanmu pada ayat-ayat itu. Nanti akan sedikit kujabarkan. Sekarang, aku mau bercerita tentang bagaimana semuanya bermula. Dengarkan ya, langit. :)

Beberapa tahun lalu, sepulang kuliah di hari yang terik. Moodku memang sedang kurang bagus. Matakuliah yang aku kurang sreg kepadaya, juga beberapa momen menyebalkan yang bukanlah kebetulan terjadi di hari yang sama, telah menginjak habis moodku. Terserahlah, aku mau pulang saja!

Aku tau kau memayungiku saat itu, memayungi dengan sinar yang membuatku kegerahan. Aku masih berdiri di parkiran ketika makin lama kepalaku semakin panas kau buat. Mondar-mandir meneliti barisan motor yang semuanya sama di mataku. Kau menghujaniku dengan terik yang keterlaluan, sedangkan apa yang kucari tak kunjung ketemu. Ya, aku lupa dimana memarkir motor. T,T

Dongkol sekali rasanya. Kesana-kesini pandanganku menyapu saentero area parkir. Ingin kuluapkan saja kekesalanku, tapi ntah pada apa. Aku mulai tidak sabaran, aku berhenti, berdiri di tempat, kemudian menarik napas dalam-dalam. Haduuuh kamu tuh ya, kamu pasti tau aku kepanasan, kan? Ingin sekali menengadah dan protes padamu, “Hoi langit! awannya bisa geser dikit gak? mataharinya tuh, melotot terus dari tadi.” Yaha, matahari itu, tau kan, seperti sengaja memanas-manasiku. Pingin deh aku sewot kepadamu. Memasang muka bete dan gantian melototi matahari itu. Menantangnya. “Menantang Matahari” :D

Aku songong sekali, ya? Itu aku, yang setiap kali songong, selalu langsung menyesal. Seperti saat itu, sedetik setelah aku benar-benar menengadahmu, wajah bete ini tiba-tiba jadi melongo, takjub dengan birumu yang menenangkan. Biruuuu sekali. Biru cakrawala. Woaaaw , kalo kata Dzulfy teh , “Cuantiik banget, kakaaaak!” :D Mungkin, kalo saat itu udah booming bilang “wow” sambil koprol, aku udah koprol ngiterin parkiran, deh. Kamu tuh keren banget. Bangeeeeettt! >.<

Aku lama terpaku sambil berdiri menengadah, putihnya awan menghiasi kemilau birumu. Aku terkagum-kagum. Gak sampai satu menit sih, kalo lama-lama leherku bisa kaku kuduk. Hhe

Nah, sejak saat itulah, langit, aku mengagumiku. Aku ngefans sama kamu.
Dari sanalah aku mulai memerhatikanmu. Lebih dari itu, kamu benar-benar menginspirasi aku. Setiap moment penting yang terjadi padaku, tidak pernah kulewatkan tanpa menyimpan warnamu di ingatanku, bahkan berdialog denganmu. Maka aku mulai sedikit banyak mencari tahu tentang kamu, tersusun dari apakah kamu, ada berapa lapis kah kamu, bisa berwarna apa sajakah kamu, apa fungsinya kamu, dan lain-lain, dan sebagainya. Dan… referensi pertamaku adalah Al-Qur’an.


Dan inilah yang sedikit aku tahu.
Langit, dengarin ini ya!

 Allah menciptakan dan meluaskan kamu dengan kekuasaanNYA

“Dan Langit itu kami bangun dengan kekuasaan (Kami), dan sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya” (Adz-Zariyyaat, 51: 47)
Allah menciptakanmu dalam dua masa, tanpa tiang.

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…” |Fushshilat: 12|

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya” |Luqman:10|

 Penciptaanmu adalah sesuatu yang lebih besar dari penciptaan manusia.

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Al-Mu’min: 57)

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Allah telah membinanya” (An-Naazi’aat: 27


Dijadikannya kamu tujuh, bertingkat, perfect dan seimbang :D

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa…” (Fushshilat: 12) “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi....” (Ath-Thalaaq: 12)

” Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (Al-Baqarrah: 29)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)….” (Al-Mu’minuun: 17)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?” (Nuh:15)

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (Al-Mulk : 3,4)

Tentu, Allah memberimu Fungsi :)

 “…Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya” |Fushshilat: 12|

“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam” (Az-Zumar;39: 5)

Kamu bertasbih pada Allah SWT

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Al-Israa’: 44

Sebagai Atap yang terpelihara

”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padannya." (Al-Anbiyaa;21 :32)

Mengembalikan Hujan

"Demi langit yang mengandung hujan" (AthiThaariq; 86: 11)

"... Dan kami turunkan air hujan dari langit..." *Luqman: 10)

“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati...” (Az-Zukhruf [43] ayat 11)

“Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan” (An-Nuur: 43)

“…Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya...” (Al-Mu’minuun: 17-20)


 Dihiasi olehNYA kamu dengan Bintang *.*

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat (langit dunia) dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. (Ash-Shaffat: 6)

“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang...” (Al-Mulk:05)

“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut…” (Al-An-‘aam: 6)

 Juga Bulan dan Matahari :)

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?” (Nuh:16)

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)…” (Yunis: 5)

_Hati




Hati, 
Apa kabarmu kini?
Masihkah suci?
Atau bersimbah duri?

Hati,
Selelah apa kau berapi,
Membakar rasa merona pelangi,
Takkan lagi putih suci,
Karena kini kau hati, rapuh sekulit ari.

Pasrahkan saja sajakmu,
Pada goresan tipis Maha Puitis.
Rebahkan saja resahmu,
Menjadi taat yang terobat.

Karena bilakah hati,
Ada rindu saja sebulir debu,
Meratap merusak mimpi,
Maka kau hati,
Tiada pernah menggenapi janji.

Hati,
Tuhan akan menguatkan.
Kau jatuh, aku runtuh.
Kau menang, senang, aku tenang.
Tegarlah berpagar,
Jangan rapuh lagi.
:) 


_030213

Hati yang Bertingkah

Tau jatuh cinta itu apa?

Jatuh cinta adalah kondisi ketika kita kesulitan menolaknya untuk selalu hadir, tak bisa melupakan kebaikan-kebaikannya. Namun disaat yang sama, kita harus dengan cepat melupakannya.

Kadang saat kita merasa telah sukses menghapus jejaknya, - ya meski mungkin baru 20% sih-  kemudian orang tersebut muncul lagi, itu merepotkan ya.

Parahnya lagi ketika secara ndak sadar, dia kita jadikan "standar" calon pasangan hidup. OhGod, itu kayak kesasar dalam hayalan yang kelewat batas.


Aku rasa banyak orang yang mengalamai hal begini. Dan sebagian orang merasa bahagia, menganggap berbunga-bunga itu adalah hal menyenangkan. Aneh.

 
Tapi nggak buatku. Karena kelak di saat kita menemukan  jodoh yang sebenarnya, ndak ada yang menjamin kita telah benar-benar melupakan orang lain yang pernah menguasai hati.

 
Buatku, adalah suatu kewajiban memberi cinta yang tanpa cacat kepada orang yang tepat: Pasangan hidup.
Duh, seandainya hati bisa dibeli, ingin rasanya ganti hati. Yang bersih dari virus-virus merah jambu. 

Tapi ndak mungkin.

Yang ada, hati itu dibalik. Dibersihkan.  Dan cuma Allah yang berkuasa akan hal itu.
 


Aku berdoa gak abis-abis. Berdo'a tentang kebaikan hatiku, kehormatanku, juga kebaikan dirinya.  

Karena yang paling penting saat jatuh cinta adalah, seberapa kita dapat menjaga kehormatan meski sang virus selalu mendorong kita melakukan hal-hal yang irrasional untuk menaklukannya. 

Hal-hal irrasional itulah yang nantinya akan mengotori hati kita, dan kemungkinan juga hatinya.

Astaghfirullahal'adziim. Ini gila. 

Tapi, hey!  

Kabar gembiranya, ternyata Allah menganugerahkan hikmah di setiap hal. Hal baik, juga hal yang buruk.  

Dan manusia yang bijak akan belajar dari hal-hal salah dalam hidupnya. Menimba ibrah dari setiap kesulitan. 

"Ingatlah Allah supaya hati menjadi tenang.." pesan-Nya. 

Jadi, bentengi hati dengan dzikrullah. Selain sholat dan sabar sebagai penolong. 

Banyak-banyakin do'a, dan sibukkan diri dengan kebaikan. 

Biar saja Allah yang menuliskan sekenario terbaik. Kalo jodoh ndak akan kemana. Tapi kalo ndak jodoh, kita telah bebas dari dosa. :)
Asik kan? :D  


_Damailah Hati
*dinasihati diri sendiri

190113

Resolusi yang Sebenarnya Kosong.

Habis kaget, buka file doc. yang tersimpan rapat di folder tak terjamah. Titlenya : I Promise. AKu double klik, isinya 1 paragraf pendek dengan font size 24, di bold, bunyinya:

Gue janji! di umur ke 21, gue akan lebih... bla bla bla... dan menjadi... bla bla bla...
 


 Yah, itu semacam resolusi 21 tahun umurku di duniia. Dibuat beberapa bulan sebelum aku benar2 menginjak usia 21. Dan setelah kuteliti, apa yang kutulis "dulu" adalah sama dengan apa yang kutulis "sekarang". Ingat, umurku sekarang 22 lebih. Artinya, lebih dari satu tahun aku melakukan apapun yang sebenarnya ndak begitu punya pengaruh yang signifikan terhadap hidupku. Atau berarti: aku ndak melakukan apapun! #pfft

Kupikir semua yang kulakukan itu banyaaaak, kecuali kalo apapun itu udah kehilangan fokusnya. Yah, kayaknya emang gitu. Jadi, aku harus apa? Cukup lama aku berpikir. Ini seperti mencari jawaban atas kerumitan hidup yang baru kusadari. Oh, men. Ini lebih ribet dari mikirin gimana caranya merubah 58 Langkah APN menjadi 56 langkah aja. #hemm #apasih.


Oke, kayaknya memang salah di aku yang suka ilang fokus selagi aku "bergerak". Jadi ternyata aku butuh menajamkan fokusku. Meluruskan niat. Lagi dan lagi.
Haruskah aku mereset resolusiku ini? Oh gak usah deh, yang ini aja dulu dicapai. Gak ada kata telat buat berubah dan bergerak, kan? Pelan-pelan lah. Yang penting harus sering-sering nengokin target mingguan, bulanan, tahunan, yang udah lamaaaaa banget aku telah berpaling dari mereka. Hehe.
Do'ain ya :)

Ba'da Ashar.

_J
anuari 2013, hari ke-6