Berbincang dengan Masa Lalu

Berbincang dengan Masa Lalu
Halo, Masa Lalu.

Mungkin memang seharusnya kita bicara, mengatakan yang perlu dikatakan, membuka apa yang menjadi tabir, melepaskan ganjalan di pintu ikhlas. Bukan, bukan karena segalanya belum usai, tapi ada hal baik yang mungkin terjadi setelah pembicaraan ini selesai : kelapangan hatiku.

Beberapa hal baik tentangmu telah kusyukuri. Mengalamimu adalah fase indah dalam hidupku. Bayangkan jika manusia tidak dianugerahi ingatan tentangmu, istilah guru terbaik sepanjang peradaban bisa jadi tak pernah ada. Ialah pengalaman.

 Denganmu, tidak ada yang tertinggal kecuali yang  istimewa, dan aku selalu bersyukur pada Tuhanku. Kau memberi pemaknaan bahwa hidup bukan hanya tentang hasil tapi proses, bukan hanya tentang pencapaian tapi tantangan, bukan hanya tentang kemudahan tapi hal sulit. Kau, satu alasan yang membuatku betah berlama-lama berdiam dengan segudang bayanganmu di kepalaku, senyum di wajahku, dan rytme seru dalam kata-kataku. Tapi kau juga alasan sama yang membuatku berjanji, tak kan ada satu-dua pengulangan di beberapa bagian lagi di kemudian hari. Haha. Bukankah setiap hal selalu mempunyai dua sisi? Begitu juga denganmu, masa lalu. 
Dan atas pengalaman kebersamaan kita, aku belajar tentang apa yang sebaiknya kuingat dan sebaiknya kutinggalkan dengan segera.

Masalalu, mau kuberitahu?
Ada sesuatu yang ingin sekali kulupakan tapi kau enggan mengiyakan. Hingga aku semakin yakin, bahwa tidak selamanya engkau menjadi hal terjauh untuk dijangkau.. Karena di beberapa titik masa, justru kau lari mengejar kami : Manusia bersama alam bawah sadarnya.

Enggan sekali kuruntuhkan egoku untuk mengakui, bahwa saat ini kudapati diriku terusik dengan satu masa olehmu . Satu waktu. Satu cerita. Mungkin juga perasaan. Tidakkah kau tau? Aku sedang berdiri di tebing antara kau dan mimpi-mimpi besarku bersama satu titipan berharga, seseorang (?) yang akan segera tiba. Kusebut ia cinta. Maka , aku perlu berdamai denganmu. Rasakan kesungguhanku.

Masa Lalu,
Aku hanyalah manusia dengan segala kefanaan. Kesalahan-kesalahan yang murni karena ketidaktahuan, kebodohan, dan banyak kelalaian, tentu saja  ada untuk mengajarkan bahwa: Ketidakmampuan manusia menampik bagian kecil dari dirimu adalah bentuk ketidakberdayaannya. Maka apakah pantas kami congkak melencengkan hikmah yang kau simpan selama ini?
Tuhan... untuk menaklukkan masa yang telah lalu pun kami tak mampu.

Masa Lalu,
Kemarilah, peluk aku erat, kita berdamai saja. Setelah ini hanya ada kelapangan hati. Dan kau bisa kembali ke posisi semulamu.
Yang terjauh untuk dijangkau.
Karena posisi terdekat, telah dimiliki oleh :
Kematian.



:)
Masa Lalu, Aku, dan Berhenti Menjebakku.
26 April 2016. Kamar Kost, tepat setelah satu tabir hati tersingkap.

Hujan, Ikatan, Kalian Siap?

Hujan, Ikatan, Kalian Siap?
Assalamualaikum, Isa, Yasmin, Sauqi, Karim...

Rasanya asing sekali, mendapati satu titik terang tentang siapa yang mungkin menjadi Abi kalian di masa depan. Benar jika dikatakan satu kekhawatiran telah hilang, resah berkurang karena pertanyaan "Siapa?" dan "kapan?" telah mulai terjawab, tapi di bagian hati yang lain, pertanyaan "bagaimana?" semakin berpilin-pilin di pikiran. Aaah, Momma lupa, sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kalian tau tidak, betapa kemarin Momma merasa spesial karena Langit mengirim 'ucapan selamat' melalui Hujan di subuh hari. Seolah ingin menjadi yang pertama menghadiahi dan memeluk dibanding siapapun. Momma ganti menatap Langit dengan perasaan bahagia, berjanji ndak lama lagi akan ada sepasang mata yang juga mengatakan "terimakasih atas kebaikan-kebaikan selama ini". Kebaikan Langit kepada kita, belahan jiwa dan anugerah terindah dalam hidupnya.

Semoga... semoga Langit ndak cemburu. :D

Oiya, sempat di 24 jam yang sama, Momma mengirimkan banyak nasihat tentang esensi pernikahan kepada seorang sahabat. Direnungi lagi, Momma seperti sedang menasihati diri sendiri.

Apa yang sebenarnya manusia inginkan dengan menikah? Kenapa harus menikah? Terlepas dari perintah wajibnya, Momma rasa jawabannya adalah, karena dengan menikah, ibadah dalam mencapai ketaatan kepada Allah swt. akan lebih mudah dilakukan. Di dalamnya ada saling mengingatkan, saling menyemangati, saling memperbaiki, saling mengangkat, saling menambah, dan saling menjadi penenang. Bayangkan jika senyum sesorang kepada pasangannya akan diganti pahala yang berlipat-lipat, lalu bagaimana dengan setiap Saling yang memenuhi perjalanan pernikahan yang diniatkan sehidup-sesurga? Momma janji pada kalian, akan menjadi ibu pintar yang ndak menyianyiakan kesempatan yang Allah beri ini. Satu hal yang harus digenggam adalah: tujuan berkeluarga itu untuk taat, bukan bahagia. Karena bahagian belum tentu karena taat, tapi ketaatan selalu memberi efek bahagia di hati :)

Oh, kenapa Momma harus ceritakan ini semua? karena kalian kelak akan menjadi penghias dan pembahagia di perjalanan keluarga yang akan Momma bangun. Tentu saja. Kalian siap?

Haha kalau Momma sudah siap :)))

Lagi, Momma belum bisa menceritakan siapa orangnya. Momma belum  merasa sangat Plong hingga harus menyebut nama atau apapun. Yah, karena satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, dan satu-satunya yang membuat manusia yakin adalah pasrahnya ia kepada Tuhan.

Tunggu saja :)

_100416_Sehari usia Cincin Pengikat. Semoga Sampai.