19 Mar 2017

Bikin Janji Menulis



Wanita hamil, cuaca panas, dan jari yang kaku di atas keyboard laptop di pangkuan. Rasanya sudah seabad ndak merancau serandom ini. Nulis apapun yang aku suka. Semuanya. Semau-mau. Rasanya lama sekali ndak melakukan hoby konyol terfavorit: Curhat di Media Sosial. Haha. Maafkan Ummimu ini, Nak. Umi akan istighfar sekarang juga :D

Akhirnya ada rasa rindu yang membakar untuk melakukannya. Mengupdate blog yang sudah karatan. Kata temanku, pertama-tama menulislah untuk diri sendiri. Merefleksi diri, meng-ajeg-an pemahaman. Suatu saat nanti setelah pemahaman kita menjadi baik, kita akan belajar bahwa di masa lalu pemahaman kita pernah ada di level lebih rendah. Dan kita dapat melihat betapa berubahnya diri kita dari waktu ke waktu. Menjadi lebih baik tentunya. Menjadikan kita mudah untuk bersyukur, belajar dari pengalaman yang dulu-dulu.

Yasudah, bagaimana jika, aku mulai membuat janji menulis lagi. Seminggu dua kali. Ya tentu saja menulis random. Hahaha. Karena energi untuk menulis serius akan kucurahkan hanya untuk Tesis semata. Aku wajib selesai tahun ini atau fatal akibatnya. Sedangkan emosi menggebu seorang ibu hamil yang ada pada diriku, harus tercurahkan dengan tulisan. Jika tidak,  yang keluar bentuknya omelan. Hihi. Okey, aku akan mencoba membuat daftar tema tulisan untuk 5 minggu kedepan. Supaya ndak lupaan ya. Meski bakalan random tapi jangan sampai tak bermakna. 

Maret Minggu ke 4 : Isu kekinian tentang Pedofil dan korelasinya dengan Parenting, Tips Asupan Nutrisi Bumil TM 1.
April Minggu ke 1 : Emosi Positive vs Emosi Negatif Bumil, Pentingnya Sugesti Positif Untuk Janin.
April Minggu ke 2 : Sharing Make Up yang cocok untuk Bumil, Kurikulum Homskuling Anak 0-3 th.
April Minggu ke 3 : Isu kekinian dan korelasinya dengan Parenting, Info dan Promo Komunitas Berkah Berbagi.
April Minggu ke 4 : Evaluasi Pencapaian dan Kontempelasi Bulan April, Janji Bulan Mei.

Begitu saja dulu ya. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala mudahkan segalanya. Dan untuk Tesis Optimis, semoga bisa sehari minimal 5 lembar. Doain ya... :D :D 

Bersemangat!!!

-19/3/17. Sendirian. Sekelarnya masak tumis terong ungu.

29 Okt 2016

Setelah Semua Ini

Kalau Allah berkenan, setelah semua ini akan ada kelegaan yang berartii. Rasa sedih yang menjadi , rasa cemas setiap kali membayangi, dan rasa sakit setelah kehilangan yang mungkin segera dihadapi , s emoga men jadi alasan agar kita layak Allah kasihani hingga banyak dosa kita ter ampuni.

Setelah ini, semoga akan ada jiwa yang lebih tegar, m elewati satu cobaan besar b ukan lagi teori saat kita katakan ikhlas dan sabar. Allah memberi ujian hidup sesuai kadar, bagaimana mungkin kita mampu menghindar.

Setelah semua ini, merasakan cinta bukan lagi ketika bersama. Semua berjalan saat jarak mampu dilipat dengan setangkup harap dan doa. Sumber kekuatan kita adalah Allah semata, sedang adanya kamu menciptakan rasa lain dalam menghadapi semua .

Tak ada rasa yang lebih tereja selain kesyukuran. Dan selamanya pertanyaan, "Apa kau bahagia?" akan kujawab, " Aku bahagia selagi Allah meridhai kesabaran kita".




_Hujan, Rumah Mamah, 301016.
seketika setelah bicara padamu.

27 Sep 2016

Hei, Ry.

Cilegon, 22 Juni 2016 - 5 Minggu Pasca Menikah

Assalamualaikum, Sahabat Baik.

16 menit sudah aku meRe-write tulisan yang khusus kusuguhkan untukmu, Ry. Rasanya kaku sekali menulis seperti ini, sudah lama kita ndak melakukannya, bukan? Saling berkirim surat dan membahas banyak hal-hal yang belakangan menurutku kurang penting. Haha. Kau tahu? beberapa minggu  yang lalu bahkan aku berjanji ndak akan membahas apaapun yang berkaitan dengan masa lalu, termasuk masalalu kita. Tapi percakapan terakhir kita justru bermuara pada cerita tentangnya (nya?) >.<  Dan aku kembali mengomel seperti biasa.

Kamu sehat? Makan yang banyak, jangan takut gendut. Gendut ndak dilarang, yang dilarang itu sakit karena diet. Aku lebih suka melihatmu ceria dan bersyukur ketimbang menderita maag kronis ya. Dan tetaplah hati-hati pada Silverqueen favoritmu. Di Kaskus aku membaca, beberapa orang  pernah memergoki ada ulat hidup di batang cokelatnya. Ndak, aku ndak menyuruhmu menguragi konsumsi cokelat, tapi plis perhatikan saja setiap gigitanmu :v

Btw, maafkan aku yang lama menunaikan janji yang kubuat sendiri :D
Aku ndak akan mengatakan bahwa pernikahannku terlalu indah hingga menyita  me-time untuk melakukan hal-hal yang kusuka sebelumnya, termasuk menulis disini, atau menulis untukmu. Aku ndak akan mengatakannya, Ry. Ndak akan mengatakan bahwa betapa waktu berlalu cepat saat suami lahir-batin berada tepat di sisimu. Hingga membuatmu melupakan dunia. Hahaha. *kabuuur

- Bersambung

***

Kalianda, 27 September 2016 - Di bawah Hujan, pasca mamam eskrim traktiran Mamah

Halo Erry. Assalamualaikum, Galauers. :D

Hujan, dan aku mau pamer bungkus eskrim Cornetto yang barusan ludes kumakan sendirian. Iya sendirian, karena ndak ada kok adegan mamam eskrim bedua suami. Si Abang lagi keluar, edukasi ditemenin Papah. Jadi psssst, sekarang waktunya me-time yang bermartabat : Nulis di Blog dan nyapa sahabat lama. Muehehee

Kamu sehat kan? Galau itu belum tentu sehat loh secara kejiwaan, Hahaha. Udah jangan galau. Kalo jodoh gak kemana kok (eh?). Aku perhatiin tulisan kamu di blog, melow sekali. Diksi-diksi ciri khas mu sudah kembali seperti sedia kala : Diksi galau. hihihi. Karena sesungguhnya diamku adalah mengamati. I'm still your secret reader, Ry. Dan selalu ngaku. :3

Aku lagi goodmood. Tapi bingung mau share apa ke kamu. Aku cuma pingin menyelesaikan tulisan random ini, rancauan yang sejak tiga bulan lalu berstatus Draft. Oiya, salam dari Mamah. Kapan ke Lampung lagi? Kataku sediain tiket pesawatnya Maaah. Dan Mamah ketawa.

Ngomong-ngomong, gimana proyek "Mamma Sholehah Wannabe" nya? Udah ada progress? Semangat ibadahnya ya. Semangat belajarnya. Kalau aku lagi sibuk menata diri. Eh iya, udah baca Menata Hati? Aku belum. Pingin, tapi stok buku yang belum tersentuh masih begitu banyak. Buku-bukunya si Abang, tuh. Kamu tau? dibanding buku-bukuku, buku-bukunya lebih bermartabat beberapa tingkat. Dan aku sedang berusaha mengimbangi.

Eh? Hujannya reda.
kalau gitu sudah dulu ya. hahaha *apasih*
Aku lapar belum mamam siang.
Kamu sehat-sehat lah, jangan pusing. Nanti jadi alasan buat banyak-banyak makan Silverqueen. Moodbooster. kyaaa

Wassalamualaikum. 


27 Jun 2016

Pernikahan adalah...





Pernikahan adalah panggilan yang indah dan menakjubkan. Kita tak hanya menikahi raga, melainkan juga jiwa. Kita bersatu untuk terus menjadi satu. Spiritual, emosional, kesehatan, dan ujian kehidupan. 

Bersamaku, kau tidak perlu berharta melimpah-ruah. Cukup lakukan hal yang bermanfaat untuk orang lain dengan cara yang kau suka. Karena kaya bagiku bukan terletak pada limpahan harta, tapi rasa syukur hingga kita mampu berbagi pada sesama.

Siapa yang akan jatuh cinta lebih dulu? itu tidak penting bagiku. Siapa yang akan bertahan sebagai pendamping yang setia? Kuharap kita berdua memberi hal serupa : Setia sampai ke surga. :)

Masalah finansial adalah perkara yang akan selalu naik turun dalam bahtera ini. Akan kupastikan sabuk pengaman komitmenku padamu terikat kencang. Kita akan meluncur, berhenti, lalu melaju lebih cepat lagi. Proses ini tidak akan mudah, tapi kita berdua akan terus berpegangan erat untuk saling menguatkan, bukan?

Mungkin kita akan saling bosan di usia pernikahan 40, 30 tahun, atau kurang dari itu. Kau akan melihatku setiap hari, dan aku akan memandangi wajahmu dari pagi ke pagi lagi. Ketika rasa itu muncul, kita akan terbuka untuk mencari solusi bersama. Kita akan menemukan lagi ALASAN kita saling mencintai :  tentu saja Keridhoan Illahi.

Kau suka bola? Aku suka motoGP. Kau suka teh ? aku lebih menyukai kopi. Kau suka pedas? kita sama! Kita akan saling menganal dan menghapal kebiasaan, kita akan menyatukan segenap perbedaan, dan menyelami kesamaan. Jika kau panas dan aku adalah dingin, maka bersatunya kita untuk menciptakan kehangatan. :D

Kita bukanlah pasangan Rangga dan Cinta, atau Ust.Salim dan Isterinya. Untuk menjadi seksi, kau tak usah capek-capek gym dan diet OCD. Untuk menjadi romantis kau tak harus menyediakan bunga dan puisi setiap hari. Sebab seksi dan puitisnya dirimu, ketika kudapati kamu sedang serius membaca buku. :*

Masalalu adalah bagian dari diri kita. Akan kuceritakan apa yang ingin kau tahu, dan kisahkah aku tentang masa lalumu. Kemudian kita timba hikmah yang mungkin belum terpetik dengan benar, menjadikannya bekal perjalanan panjang menemui masa depan kita yang bahagia. Karena masa lalu adalah hal paling jauh untuk dijangkau, sedang hari ini dan masa depan adalah milik dan mimpi kita.
 
Aku akan kritis terhadapmu, dan kau juga akan banyak mengomentari diriku. Kita akan saling memperbaiki, bukan melukai. Kita akan sering mengingatkan, bukan menuntut berlebihan.
Semoga apa adanya Aku melengkapi dirimu, dan bagaimanapun kamu sudah menggenapi diriku. Sesederhana itu inginku. :)

***

Dibuat awal 2015, dan siapa sangka secara keseluruhan apa yang Momma tulis sangat sesuai dengan apa yang Momma rasa saat ini, 43 hari kami saling melengkapi. 
Kau tau, Yas? Bahagia sekali rasanya :))))) 
- Cilegon, 28 Juni 2016.

26 Jun 2016

27 Apr 2016

Berbincang dengan Masa Lalu

Halo, Masa Lalu.

Mungkin memang seharusnya kita bicara, mengatakan yang perlu dikatakan, membuka apa yang menjadi tabir, melepaskan ganjalan di pintu ikhlas. Bukan, bukan karena segalanya belum usai, tapi ada hal baik yang mungkin terjadi setelah pembicaraan ini selesai : kelapangan hatiku.

Beberapa hal baik tentangmu telah kusyukuri. Mengalamimu adalah fase indah dalam hidupku. Bayangkan jika manusia tidak dianugerahi ingatan tentangmu, istilah guru terbaik sepanjang peradaban bisa jadi tak pernah ada. Ialah pengalaman.

 Denganmu, tidak ada yang tertinggal kecuali yang  istimewa, dan aku selalu bersyukur pada Tuhanku. Kau memberi pemaknaan bahwa hidup bukan hanya tentang hasil tapi proses, bukan hanya tentang pencapaian tapi tantangan, bukan hanya tentang kemudahan tapi hal sulit. Kau, satu alasan yang membuatku betah berlama-lama berdiam dengan segudang bayanganmu di kepalaku, senyum di wajahku, dan rytme seru dalam kata-kataku. Tapi kau juga alasan sama yang membuatku berjanji, tak kan ada satu-dua pengulangan di beberapa bagian lagi di kemudian hari. Haha. Bukankah setiap hal selalu mempunyai dua sisi? Begitu juga denganmu, masa lalu. 
Dan atas pengalaman kebersamaan kita, aku belajar tentang apa yang sebaiknya kuingat dan sebaiknya kutinggalkan dengan segera.

Masalalu, mau kuberitahu?
Ada sesuatu yang ingin sekali kulupakan tapi kau enggan mengiyakan. Hingga aku semakin yakin, bahwa tidak selamanya engkau menjadi hal terjauh untuk dijangkau.. Karena di beberapa titik masa, justru kau lari mengejar kami : Manusia bersama alam bawah sadarnya.

Enggan sekali kuruntuhkan egoku untuk mengakui, bahwa saat ini kudapati diriku terusik dengan satu masa olehmu . Satu waktu. Satu cerita. Mungkin juga perasaan. Tidakkah kau tau? Aku sedang berdiri di tebing antara kau dan mimpi-mimpi besarku bersama satu titipan berharga, seseorang (?) yang akan segera tiba. Kusebut ia cinta. Maka , aku perlu berdamai denganmu. Rasakan kesungguhanku.

Masa Lalu,
Aku hanyalah manusia dengan segala kefanaan. Kesalahan-kesalahan yang murni karena ketidaktahuan, kebodohan, dan banyak kelalaian, tentu saja  ada untuk mengajarkan bahwa: Ketidakmampuan manusia menampik bagian kecil dari dirimu adalah bentuk ketidakberdayaannya. Maka apakah pantas kami congkak melencengkan hikmah yang kau simpan selama ini?
Tuhan... untuk menaklukkan masa yang telah lalu pun kami tak mampu.

Masa Lalu,
Kemarilah, peluk aku erat, kita berdamai saja. Setelah ini hanya ada kelapangan hati. Dan kau bisa kembali ke posisi semulamu.
Yang terjauh untuk dijangkau.
Karena posisi terdekat, telah dimiliki oleh :
Kematian.



:)
Masa Lalu, Aku, dan Berhenti Menjebakku.
26 April 2016. Kamar Kost, tepat setelah satu tabir hati tersingkap.

9 Apr 2016

Hujan, Ikatan, Kalian Siap?

Assalamualaikum, Isa, Yasmin, Sauqi, Karim...

Rasanya asing sekali, mendapati satu titik terang tentang siapa yang mungkin menjadi Abi kalian di masa depan. Benar jika dikatakan satu kekhawatiran telah hilang, resah berkurang karena pertanyaan "Siapa?" dan "kapan?" telah mulai terjawab, tapi di bagian hati yang lain, pertanyaan "bagaimana?" semakin berpilin-pilin di pikiran. Aaah, Momma lupa, sesungguhnya hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.

Kalian tau tidak, betapa kemarin Momma merasa spesial karena Langit mengirim 'ucapan selamat' melalui Hujan di subuh hari. Seolah ingin menjadi yang pertama menghadiahi dan memeluk dibanding siapapun. Momma ganti menatap Langit dengan perasaan bahagia, berjanji ndak lama lagi akan ada sepasang mata yang juga mengatakan "terimakasih atas kebaikan-kebaikan selama ini". Kebaikan Langit kepada kita, belahan jiwa dan anugerah terindah dalam hidupnya.

Semoga... semoga Langit ndak cemburu. :D

Oiya, sempat di 24 jam yang sama, Momma mengirimkan banyak nasihat tentang esensi pernikahan kepada seorang sahabat. Direnungi lagi, Momma seperti sedang menasihati diri sendiri.

Apa yang sebenarnya manusia inginkan dengan menikah? Kenapa harus menikah? Terlepas dari perintah wajibnya, Momma rasa jawabannya adalah, karena dengan menikah, ibadah dalam mencapai ketaatan kepada Allah swt. akan lebih mudah dilakukan. Di dalamnya ada saling mengingatkan, saling menyemangati, saling memperbaiki, saling mengangkat, saling menambah, dan saling menjadi penenang. Bayangkan jika senyum sesorang kepada pasangannya akan diganti pahala yang berlipat-lipat, lalu bagaimana dengan setiap Saling yang memenuhi perjalanan pernikahan yang diniatkan sehidup-sesurga? Momma janji pada kalian, akan menjadi ibu pintar yang ndak menyianyiakan kesempatan yang Allah beri ini. Satu hal yang harus digenggam adalah: tujuan berkeluarga itu untuk taat, bukan bahagia. Karena bahagian belum tentu karena taat, tapi ketaatan selalu memberi efek bahagia di hati :)

Oh, kenapa Momma harus ceritakan ini semua? karena kalian kelak akan menjadi penghias dan pembahagia di perjalanan keluarga yang akan Momma bangun. Tentu saja. Kalian siap?

Haha kalau Momma sudah siap :)))

Lagi, Momma belum bisa menceritakan siapa orangnya. Momma belum  merasa sangat Plong hingga harus menyebut nama atau apapun. Yah, karena satu-satunya kepastian di dunia ini adalah ketidakpastian, dan satu-satunya yang membuat manusia yakin adalah pasrahnya ia kepada Tuhan.

Tunggu saja :)

_100416_Sehari usia Cincin Pengikat. Semoga Sampai.

7 Mar 2016

Sesuatu yang Baru

Halo Blogspot!

Haha, sumpah ya, aku kangeeeeeeeeeeeeeen banget nulis disini. Nulis random atau apalah, yang gak penting tapi melegakan. Aku sempat berpikir akan meninggalkan Blogspot dengan perlahan, dimulai dengan mendelete beberapa tulisan yang menggambarkan ke-alay-an seorang anggun di usia 21-23 tahunnya, dan diakhiri dengan menutup total Blog yang buatku HANYA sekedar tempat menyimpan sisa kenangan. Tapi syukur, di jarak antara fase delete-tulisan ke fase delete-blog yang begitu panjang, aku banyak berpikir dan  menimbang ; SAYANG AMAT! hahaha. Lagian ya, kalau Blog ini hanya sebagai wadah menyimpan kenangan, apa masalahnya?? Pemirsa yang sedikit bukan alasan lah, toh sejak kapan tau statistik pemirsa udah aku buang jauh-jauh dari halaman depan. Apalagi kalau alasannya karena aku ngeblog juga di Tumblr? Kyaaaa, itu nyari-nyari kambing hitam namanya. Lah di Tumblr aja kerjaanku cuma reblog! Hihihi. Alasan lain? Rrr... kalau kerena sesal yang bersemi sehabis menelaah tulisan lamaku yang bermuatan lebay banget, yah, namanya yaaaa manusia kan berproses. Alaynya anggun juga bagian dari proses kedewasaan. Tulisan melow jamann muda yang kalau dibaca sekarang efeknya nyengir-nyengir gak jelas itu juga salah satu bukti bahwa kehidupanseorang anggun juga begitu dinamis. Jadi terima sajalah.Haha.

Maka kuputuskan, aku gak jadi ninggalin Blogspot. Final!
Keputusan kedua : Aku bakalan nulis lagi disini.
Keputusan ketiga : Aku akan memprioritaskan menulis yang lebih visioner untuk peran paling primitifku di masa depan : peranku sebagai seorang IBU! Mueheheheh.

Dan yes... kalau diperhatikan, aku habis mengganti keterangan Blog yang tadinya : "... Membahasakan Isi Hati..." menjadi : ",,, Kepada Belahan Jiwa Ummi..." Yang saat detik-detik pergantiannya pun aku nyengir-nyengir sendiri karena geli, tapi kali itu nyengirnya versi orang dewasa. Ahaha. Dan aku merubah salah satu laman yang judulnya Untuk Langit menjadi postingan biasa, dan mengisi Laman baru dengan judul "Belahan Jiwa Ummi" dengan muatan yang bakal keibuan banget. Kyaaaaaaaaaaa APA YANG TELAH TERJADI DENGANKUUUUU...??? APAAA?? *kemudian benerin posisi jilbab dengan gerak anggun nan perlahan*

Jadi, secara nggak langsung, aku mau mengumumkan bahwa setelah tulisan ini, INSYAA ALLAH aku mulai merubah isi tulisanku menjadi lebih serius dan bermartabat. Dengan merasa bahwa satu-satunya pembaca tulisanku adalah DIA YANG NAMANYA SUDAH KUSEBUT DALAM DOA : Yasmin, Karim, Isa, Mariam, Fatah : Anak Masa Depanku. Hahaaha. Yesss, kalian boleh bilang aamiin dan tepuk tangan sekarang juga! *prokprokprok*

Kenapa Nggun?
Ah alasannya simpel, men. Aku mengenali diriku. Anggun itu, hanya akan berubah kalau lingkungan memaksanya berubah. Untuk berubah, seorang anggun harus mengondisikan lingkungannya terlebih dahulu, situasi yang meliputi dirinya menjadi ndak senyaman sebelumnya. Dia akan merasa terhimpit dan sesak kalau ndak mengikuti aturan main / situasi di sekitarnya (yang sebenarnya dia sendiri yang menciptakan), dengan begitu, mau ndak mau  anggun bergerak dan berubah. Anggun tuh sadar, masa depan bakalan menuntutnya menjadi seorang anggun yang Anggun. Yang ideal versiNya. Yang sholehah versi Nya, yang keibuan, yang BENAR perilakunya, kata-katanya, yang dewasa berpikirnya. Yang bisa membawa diri, yang manajemen waktunya oke, yang bisa mempimpin dirinya sendiri. Dan akhir dari semua itu adalah : YANG BISA DICONTOH ANAK-ANAKNYA KELAK.

Jadi, men, anggun sedang menganggap dirinya sedang berproses menjadi Ibu. Peran berat yang kalau ndak memantaskan diri sedini mungkin, ntah akan menjadi seperti apa anak pertamanya kelak. Dan buatnya, peran sebagai ibu itu sudah mencakup semua segi : Mental dan Psikisnya, Fisiknya, Sosialnya.

Nah, ngeri gak tu?
Peran, men. Kita bicara peran di masa depan. Dan seorang anggun harus mulai berproses ke arah sana.

Ah,  setelah paragraf barusan aku jadi berhenti nulis dan merenung. tentu saja, hanya dengan merubah cara menulis dan isi tulisan ndak serta merta proses ini selesai. Buatku urusan blog ini cuma bagian keciiiiil, tapi meski begitu, aku harap satu langkah ini bisa jadi pemantik api perubahan itu berkobar! Bersemangaaaaaaaat!

Ayo doakan Anggun dan buat taggar #Angguntidaktakut ! *loh

Hehe.




_Bandar Lampung, 2 hari sebelum gerhana matahari total yang 300 tahun sekali baru terjadi.
  Dalam kondisi lelah gitu-gitu mulu


Anggun Larasati (calon Ibu)




28 Agt 2015

Telaga Kata : Benda Langit #1



Di dalam sebuah ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, karpet lembut digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan. Perabotan mewah menempati posisinya dengan teratur. Bagai suasana yang berulang, pandangan ke sekitar terlihat kabur, tidak nyata. Mungkin memang tidak nyata, Titik-titik putih mirip cahaya melayang di udara, sunyi yang mendamaikan. Tak ada aktivitas, tak ada gerakan apapun, kecuali usapan lembut tanggan seorang perempuan paruh baya berwajah sabar, mengusap kepala anak perempuan berusia 9 tahun yang matanya terpejam. Tubuhnya merebah di atas karpet lembut itu, terlelap begitu saja di antara tumpukan kertas dan alat tulis yang berserakan. Tangannya menggenggam kertas dengan coretan empat bait puisi yang baru selesai ditulisnya dengan hati-hati.

Usapan tangan itu terjadi lagi, dua-tiga kali, dan sepasang mata yang terpejam mulai berkedut, membuka perlahan lalu mengerjap. Mencari sumber usapan lembut di kepalanya.
.
.
“Bunda?”
Wajah sabar itu tersenyum.


Kriiiiiiing Kriiiing!

Yasmin terhenyak, menarik nafas panjang untuk memperbaiki detak jantungnya yang menjadi cepat. Suara telepon itu mengagetkan sekaligus membangunkan ia dari tidur siangnya. Tidur siang yang mungkin ke-3000 kalinya sejak tidur siang di ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, di atas karpet lembut yang digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan itu.... Ah, belakangan Yas sering mengalami mimpi ini berkali-kali. Mimpi yang sebenarnya bagian dari kenangan masa kecilnya.

Yasmin mengembalikan kesadarannya dengan melihat sekeliling. Tentu saja itu kamar tidurnya, karena dindingnya bercat putih, bukan biru. Dia mendapati tubuhnya terbaring di atas kasur, bukan karpet. Dan yang membangunkannya bukanlah usapan di kepala, tapi dering telepon yang melengking-lengking. Tentu saja yang tadi adalah kenangan, dan yang ini kenyataan. Yang tadi adalah ia ketika usianya 9 tahun, sedang yang ini adalah ia 10 tahun kemudian. Dan tentu saja, yang tadi adalah ingatannya ketika Bunda masih hidup, dan kini Bunda telah...

Yas masih dengan posisi berbaring, menyapu seprai dengan kakinya kesana-kemari, merayap benda persegi panjang berlayar yang sedari tadi berdering. Dapat. Kemudian menggesernya hingga jangkauan tangan.

Panggilan Masuk : Kak Tian
Matanya membulat, lalu menyipit beberapa saat memastikan nama yang tertera di layar ponselnya adalah benar. Yasmin belum ingin menjawab telepon itu karena benaknya justru berkutat dengan pertanyaan : Kenapa harus Kak Tian yang merusak ritual tidur suci-ku di siang yang mendung ini? Dan.... Kak Tian? Siapa itu Kak Tian?

Klik!

“Halo?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Yasmin?”

“Iya?” Yas menggigit bibir, mengutuk detak jantungnya yang kembali ngaco. Kak Tian siapa sih?

 “Yas, jadi ikutan WE siang ini?”

Sedetik... dua detik... Ketepok! Allah! Yasmin melonjak duduk, menepuk keras keningnya. Seolah memberi hukuman pada isi kepalanya yang pelupa.

“Jadi, Kak!” Gelagapan.

“Udah dimana?”

“Ng.... Kakak dimana? Eh, maksudku, udah pada mau berangkat?”

“15 menit lagi.”

“Aku susulin langsung ke Langit Garden aja, dah. Gak apa-apa, kan?”

“Oh, boleh. Telpon aja kalo udah nyampe.”

“Siap.”

“dresscode hitam, ya.”

Dresscode hitam? Pandangan Yas melesat pada tumpukan baju yang belum disetrika. Detak jantungnya kembali cepat, wajahnya tegang, matanya memburu sesuatu tapi dia tidak berharap melihat apapun yang berwarna hitam di sana. Tapi sungguh sayang, menyembul bagian baju berdasar hitam. Yasmin meringis kesal. blus hitamnya belum disetrika!

Pukul 13.15 wib, di dalam sebuah kamar, di sebuah rumah yang terlihat sungguh sepi, Yasmin gelagapan bersiap seorang diri. Dia akan datang terlambat!



***

Sendirian?” Yas menoleh, di sampingnya berdiri seorang lelaki berwajah ramah yang baru kedua kali ini ditemuinya. Iya, sebelumnya mereka pernah bertemu di acara yang sama dua minggu lalu. Pertemuan yang bagi Yasmin tak ada yang spesial kecuali pada bagian mereka saling tukar nomor handphone.

“Sendirian?” Tian mengulangi pertanyaannya. Tak pelak lamunan Yas buyar. Mengangguk gelagapan.

“Baru tadi siang aku pulang dari luar kota, Kak.” Terdengar seperti sedang membela diri, sebuah alasan, padahal Tian tidak bertanya perihal keterlambatannya.

“Nggak masalah. Lagian cuacanya nggak stabil. Kirain karena di tempatmu hujan.”

“iya, sih. Hujan juga.” Jawab Yas cepat. Makanya begitu sampai rumah aku sholat trus tidur, dan lupa kalau ada janji. hehe Lanjut Yas dalam hati. Yas nyengir malu, lebih kepada dirinya sendiri.

Acara telah berlangsung setengah jalan, Yasmin tidak mengikuti sesi edukasi yang dilakukan di awal. WE : Weekend Edukasi adalah kegiatan perpekan sekumpulan anak muda kota setempat yang lebih suka menghabiskan setengah hari minggunya untuk mendampingi anak-anak panti asuhan ketimbang melakukan kegiatan lain. Di sana mereka memberi edukasi tentang banyak hal, mengajak anak-anak itu jalan-jalan, mengaji, belajar, dan bermain bersama. Di akhir acara, puluhan anak yang berasal dari beberapa panti itu selalu mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, berupa alat tulis, alat mandi, makanan, atau lainnya. Kali ini, acara WE diadakan di sebuah taman wisata: Langit Garden. Disana suasananya sungguh hijau, asri dan terbuka. Cocok menjadi tempat rutin acara semacam ini dilakukan. Setiap pekan, puluhan anak dari beberapa Panti Asuhan di kota setempat diundang bergantian. Biasanya untuk tiga sampai lima anak panti, dibutuhkan seorang kakak pendamping untuk mendampingi mereka selama acara berlangsung. Maka setiap acara, hampir pasti terdapat minimal dua puluh kakak pendamping, dan Yasmin menjadi salah satunya. Yasmin mengenal komunitas ini baru dua minggu yang lalu, Tian yang mengenalkannya secara tidak sengaja. Tian sendiri adalah salah satu Founder di sana.

Selalu ada sesi permainan di setiap acara ini berlangsung. Kali ini permainan dipimpin langsung oleh Tian dan beberapa kakak pendamping. Mereka menamai permainan ini dengan : Kalimat Kunci.

Aturannya mudah, setiap kakak pendamping memilih empat orang adik dari panti yang berbeda untuk membentuk sebuah tim. Setiap tim memiliki lima orang anggota, dan masing-masing harus menghafalkan kalimat kunci yang diberikan pemandu permainan (dalam hal ini adalah Kak Tian dan beberapa kakak pendamping) kepada salah satu anggota setiap tim di awal permainan. Kalimat kunci untuk seluruh tim sama, menggunakan kata-kata mirip, njlimet dan terdengar aneh sebagai tantangan. Setelah dihapalkan anggota pertama,  kalimat kunci dioper ke anggota kedua, ketiga, dan seterusnya secara berurutan. Kalimat ini berfungsi untuk membuka ‘pintu tanya’ yang dijaga oleh kakak pemandu. Ada 5 pintu tanya, masing-masing anggota mempunyai satu pintu untuk dibuka secara berurutan. Kalimat kunci hanya boleh dioper ke anggota selanjutnya setelah satu per satu pintu tanya telah ditaklukan. Pintu tanya terakhir adalah yang tersulit. Setiap kakak pendamping diwajibkan menjadi anggota terakhir yang bermain untuk membuka pintu tanya tersulit tersebut. Tim yang paling cepat menyelesaikan permainan lah yang akan menang.

Permainan dimulai, kakak pendamping sudah dipersilakan memilih anggota timnya. Semua adik-adik berkerumun, mereka antusias menunggu kakak mana yang akan memilih mereka menjdi anggota timnya. Ada kakak yang memilih adik-adik berumur 4-6 tahun karena kelucuannya, ada juga yang memilih adik yang lebih besar supaya mudah menghafal kalimat kuncinya. Suasana disana menjadi riuh bergembira.

“Ayo, Yas!” Seru Tian bersemangat, ia sudah menempati posisinya di pintu tanya terakhir. Yasmin bergerak cepat, memilih empat orang adik panti yang akan memenangkan timnya.

Permainan sudah berjalah 20 menit. Masing-masing tim telah menjawab pertanyaan di pintu tanya 3, beberapa sudah menaklukan pintu tanya 4. Tim yang dipimpin Yasmin salah satunya. Ketika Yas sedang tegang-tegangnya melihat dari jauh anggota tim keempatnya membuka pintu tanya dengan kalimat kunci yang lupa-lupa-ingat, seseoraang mendatanginya.

Kakak Yasmin,” Berdiri bocah lelaki lucu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dua gigi seri bagian depannya ompong, dipamerkan begitu saja tanpa malu-malu. Dia juga menggendong tas ransel warna biru langit yang terang.

“Kakak, aku mau kasih tau kalimat kuncinya...” Bocah itu berbisik. Yasmin melongo. Bocah dengan setelan kemeja rapi itu bukanlah salah satu anggota kelompoknya, karena anggota keempatnya masih berdiri di sana, di depan pintu tanya keempat dengan ekspresi mengingat-ingat. Yas menebak, bocah lelaki dengan mata bening ini telah tersasar dari kelompok lain.

“Apa itu?” Yas ikut merendahkan suaranya. Eh, ini curang gak ya? Namun keinginan Yas untuk mendapat bocoran Kalimat Kunci ini semakin menjadi setelah melirik anggota keempatnya memasang ekspresi putus asa kepada penjaga pintu tanya di sana. Yas membungkuk mantap, menyodorkan telinganya pada bocah lelaki bermata bening itu sambil menyeringai senang. hehe

Kakak hapalkan, ya!” Kata bocah itu bersemangat. Yas mengangguk cepat.

 “Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”


“Wow!” Yasmin takjub dengan kalimat kuncinya. Semua orang tahu bahwa ia menyukai frase-frase dengan kata bermuatan benda-benda langit.

“ulangi dua kali lagi,, aku akan menghapalnya. Okay?” Seru Yas. Kemudian bocah itu mengulanginya dua kali. Yas langsung hapal di luar kepala. Tak disangka kalimat kuncinya semudah ini.

Yas mengacak rambut bocah itu, dan menanyakan namanya.

Namaku Willy, kak Yasmin.” Masih dengan cengiran gigi ompongnya. Bocah itu kemudian mengeluarkan potongan kertas dengan tulisan beberapa kata. Potongan kertas itu langsung diletakkan ke tangan Yasmin,

“Jangan lupa ya, Kak.” Sedetik kemudian bocah itu berbalik dan berlari ke dalam kerumunan. Yasmin belum sempat mengatakan terimakasih, bahkan dia masih keheranan dengan potongan kertas di tangannya, tapi bocah dengan ransel biru itu cepat sekali menjauh. Ransel biru? Bukankah itu ransel biru yang bagus dan mahal, paling tidak untuk ukuran seorang anak Panti?

Dari kejauhan Yas meneliti, ada tulisan dengan bordiran biru di bagian kantung belakang tasnya: William Anantha Rachel. Ketika Yasmin masih berkutat dengan rasa herannya, ransel itu menghilang di balik kerumunan anak-anak yang lain.
 
***

“Secepat itu?”

“Apa?”

“Secepat itu kamu menghapal kalimat kunci dari anggota terakhirmu? Bahkan dia baru kembali dari pintu tanya empatnya dengan ‘babak belur’.” Tian tertawa
Yasmin menoleh ke belakang, anak yang dimaksud Tian berdiri dengan wajah bingung. Tian benar, bahkan anak itu baru menceritakan betapa sulit dia mengingat kalimat kunci, hingga penjaga pintu tanya empat akhirnya berbelas kasihan dan mengajarinya. Kemudian Yasmin dengan penuh percaya diri menggenggam pundaknya dan berkata,  

Tenang dik, sekarang kamu nggak perlu capek-capek kasih tau kalimat kuncinya. Karena kakak sudah hapal.” Kemudian Yasmin melesat ke pintu tanya terakhir dengan tekad sangat bulat.

“Aku menghapalnya di luar kepala.”  Kata Yas meyakinkan. Tian menaikkan alisnya tanda sangsi. Lalu tanpa aba-aba Yasmin mengucapkan kalimat kunci yang telah ia dapatkan dari bocah bermata bening tadi, tentu saja dengan ritme cepat saking hapalnya.

“Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”

Hening beberapa saat...

“Bukan itu kalimat kuncinya, Yas.” Kata Tian akhirnya. Dahi Yas berkerut.

“Aku tau, yang tadi terlalu cepat, kan, kak? Aku ulangi, ya?

 Nggak perlu. Karena bukan itu kalimat kuncinya.” Wajah Tian berubah prihatin.   “Kamu dapat dari mana?” kali ini nada bicaranya menganalisa. Yas buru-buru menyapu pandangannya ke arah kerumunan adik-adik panti untuk mencari bocah beransel biru. “Kamu dikerjai, ya?”

“Nggak mungkin, Kak. Matanya jujur.”

“Siapa?”

“Bocah tadi.” Masih sibuk mencari-cari.

“Dapat bocoran kalimat kunci dari kelompok lain itu curang, Yas.” Yas berhenti mengedarkan pandangannya. Wajahnya sekarang menyesal.

Akhirnya Yasmin kembali ke kelompoknya dengan empat batang cokelat yang dibelinya di kios terdekat, juga sebuah puisi yang dibuatnya saat itu juga. Memang mudah bagi Yas dengan bakat menulisnya untuk membuat puisi, prosa, dongeng, dalam waktu singkat. Bakat menulisnya bahkan mengantarnya menjadi wakil ketua jurnalis kampus meski ia baru menginjak tahun kedua kuliah. Bakat luar biasa yang diturunkan dari ibunya.

Yasmin mendekati anggota kelompoknya dengan senyum ngeles, empat batang cokelat di genggaman, dan puisi berjudul ‘Kalah Berarti Menang’ yang dibuatnya mendadak. Semua itu akan membayar kekecewaan mereka terhadap kecerobohan yang kulakukan. Itu rencana Yas.

-      




--Bersambung –
*Yealah  (cerpen) gini doang bersambung T_T wkwk