Telaga Kata : Benda Langit #1

Telaga Kata : Benda Langit #1


Di dalam sebuah ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, karpet lembut digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan. Perabotan mewah menempati posisinya dengan teratur. Bagai suasana yang berulang, pandangan ke sekitar terlihat kabur, tidak nyata. Mungkin memang tidak nyata, Titik-titik putih mirip cahaya melayang di udara, sunyi yang mendamaikan. Tak ada aktivitas, tak ada gerakan apapun, kecuali usapan lembut tanggan seorang perempuan paruh baya berwajah sabar, mengusap kepala anak perempuan berusia 9 tahun yang matanya terpejam. Tubuhnya merebah di atas karpet lembut itu, terlelap begitu saja di antara tumpukan kertas dan alat tulis yang berserakan. Tangannya menggenggam kertas dengan coretan empat bait puisi yang baru selesai ditulisnya dengan hati-hati.

Usapan tangan itu terjadi lagi, dua-tiga kali, dan sepasang mata yang terpejam mulai berkedut, membuka perlahan lalu mengerjap. Mencari sumber usapan lembut di kepalanya.
.
.
“Bunda?”
Wajah sabar itu tersenyum.


Kriiiiiiing Kriiiing!

Yasmin terhenyak, menarik nafas panjang untuk memperbaiki detak jantungnya yang menjadi cepat. Suara telepon itu mengagetkan sekaligus membangunkan ia dari tidur siangnya. Tidur siang yang mungkin ke-3000 kalinya sejak tidur siang di ruangan dengan dinding bercat biru, berlantai keramik putih mengkilat, di atas karpet lembut yang digelar memenuhi hampir setengah luas ruangan itu.... Ah, belakangan Yas sering mengalami mimpi ini berkali-kali. Mimpi yang sebenarnya bagian dari kenangan masa kecilnya.

Yasmin mengembalikan kesadarannya dengan melihat sekeliling. Tentu saja itu kamar tidurnya, karena dindingnya bercat putih, bukan biru. Dia mendapati tubuhnya terbaring di atas kasur, bukan karpet. Dan yang membangunkannya bukanlah usapan di kepala, tapi dering telepon yang melengking-lengking. Tentu saja yang tadi adalah kenangan, dan yang ini kenyataan. Yang tadi adalah ia ketika usianya 9 tahun, sedang yang ini adalah ia 10 tahun kemudian. Dan tentu saja, yang tadi adalah ingatannya ketika Bunda masih hidup, dan kini Bunda telah...

Yas masih dengan posisi berbaring, menyapu seprai dengan kakinya kesana-kemari, merayap benda persegi panjang berlayar yang sedari tadi berdering. Dapat. Kemudian menggesernya hingga jangkauan tangan.

Panggilan Masuk : Kak Tian
Matanya membulat, lalu menyipit beberapa saat memastikan nama yang tertera di layar ponselnya adalah benar. Yasmin belum ingin menjawab telepon itu karena benaknya justru berkutat dengan pertanyaan : Kenapa harus Kak Tian yang merusak ritual tidur suci-ku di siang yang mendung ini? Dan.... Kak Tian? Siapa itu Kak Tian?

Klik!

“Halo?”

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam”

“Yasmin?”

“Iya?” Yas menggigit bibir, mengutuk detak jantungnya yang kembali ngaco. Kak Tian siapa sih?

 “Yas, jadi ikutan WE siang ini?”

Sedetik... dua detik... Ketepok! Allah! Yasmin melonjak duduk, menepuk keras keningnya. Seolah memberi hukuman pada isi kepalanya yang pelupa.

“Jadi, Kak!” Gelagapan.

“Udah dimana?”

“Ng.... Kakak dimana? Eh, maksudku, udah pada mau berangkat?”

“15 menit lagi.”

“Aku susulin langsung ke Langit Garden aja, dah. Gak apa-apa, kan?”

“Oh, boleh. Telpon aja kalo udah nyampe.”

“Siap.”

“dresscode hitam, ya.”

Dresscode hitam? Pandangan Yas melesat pada tumpukan baju yang belum disetrika. Detak jantungnya kembali cepat, wajahnya tegang, matanya memburu sesuatu tapi dia tidak berharap melihat apapun yang berwarna hitam di sana. Tapi sungguh sayang, menyembul bagian baju berdasar hitam. Yasmin meringis kesal. blus hitamnya belum disetrika!

Pukul 13.15 wib, di dalam sebuah kamar, di sebuah rumah yang terlihat sungguh sepi, Yasmin gelagapan bersiap seorang diri. Dia akan datang terlambat!



***

Sendirian?” Yas menoleh, di sampingnya berdiri seorang lelaki berwajah ramah yang baru kedua kali ini ditemuinya. Iya, sebelumnya mereka pernah bertemu di acara yang sama dua minggu lalu. Pertemuan yang bagi Yasmin tak ada yang spesial kecuali pada bagian mereka saling tukar nomor handphone.

“Sendirian?” Tian mengulangi pertanyaannya. Tak pelak lamunan Yas buyar. Mengangguk gelagapan.

“Baru tadi siang aku pulang dari luar kota, Kak.” Terdengar seperti sedang membela diri, sebuah alasan, padahal Tian tidak bertanya perihal keterlambatannya.

“Nggak masalah. Lagian cuacanya nggak stabil. Kirain karena di tempatmu hujan.”

“iya, sih. Hujan juga.” Jawab Yas cepat. Makanya begitu sampai rumah aku sholat trus tidur, dan lupa kalau ada janji. hehe Lanjut Yas dalam hati. Yas nyengir malu, lebih kepada dirinya sendiri.

Acara telah berlangsung setengah jalan, Yasmin tidak mengikuti sesi edukasi yang dilakukan di awal. WE : Weekend Edukasi adalah kegiatan perpekan sekumpulan anak muda kota setempat yang lebih suka menghabiskan setengah hari minggunya untuk mendampingi anak-anak panti asuhan ketimbang melakukan kegiatan lain. Di sana mereka memberi edukasi tentang banyak hal, mengajak anak-anak itu jalan-jalan, mengaji, belajar, dan bermain bersama. Di akhir acara, puluhan anak yang berasal dari beberapa panti itu selalu mendapat oleh-oleh untuk dibawa pulang, berupa alat tulis, alat mandi, makanan, atau lainnya. Kali ini, acara WE diadakan di sebuah taman wisata: Langit Garden. Disana suasananya sungguh hijau, asri dan terbuka. Cocok menjadi tempat rutin acara semacam ini dilakukan. Setiap pekan, puluhan anak dari beberapa Panti Asuhan di kota setempat diundang bergantian. Biasanya untuk tiga sampai lima anak panti, dibutuhkan seorang kakak pendamping untuk mendampingi mereka selama acara berlangsung. Maka setiap acara, hampir pasti terdapat minimal dua puluh kakak pendamping, dan Yasmin menjadi salah satunya. Yasmin mengenal komunitas ini baru dua minggu yang lalu, Tian yang mengenalkannya secara tidak sengaja. Tian sendiri adalah salah satu Founder di sana.

Selalu ada sesi permainan di setiap acara ini berlangsung. Kali ini permainan dipimpin langsung oleh Tian dan beberapa kakak pendamping. Mereka menamai permainan ini dengan : Kalimat Kunci.

Aturannya mudah, setiap kakak pendamping memilih empat orang adik dari panti yang berbeda untuk membentuk sebuah tim. Setiap tim memiliki lima orang anggota, dan masing-masing harus menghafalkan kalimat kunci yang diberikan pemandu permainan (dalam hal ini adalah Kak Tian dan beberapa kakak pendamping) kepada salah satu anggota setiap tim di awal permainan. Kalimat kunci untuk seluruh tim sama, menggunakan kata-kata mirip, njlimet dan terdengar aneh sebagai tantangan. Setelah dihapalkan anggota pertama,  kalimat kunci dioper ke anggota kedua, ketiga, dan seterusnya secara berurutan. Kalimat ini berfungsi untuk membuka ‘pintu tanya’ yang dijaga oleh kakak pemandu. Ada 5 pintu tanya, masing-masing anggota mempunyai satu pintu untuk dibuka secara berurutan. Kalimat kunci hanya boleh dioper ke anggota selanjutnya setelah satu per satu pintu tanya telah ditaklukan. Pintu tanya terakhir adalah yang tersulit. Setiap kakak pendamping diwajibkan menjadi anggota terakhir yang bermain untuk membuka pintu tanya tersulit tersebut. Tim yang paling cepat menyelesaikan permainan lah yang akan menang.

Permainan dimulai, kakak pendamping sudah dipersilakan memilih anggota timnya. Semua adik-adik berkerumun, mereka antusias menunggu kakak mana yang akan memilih mereka menjdi anggota timnya. Ada kakak yang memilih adik-adik berumur 4-6 tahun karena kelucuannya, ada juga yang memilih adik yang lebih besar supaya mudah menghafal kalimat kuncinya. Suasana disana menjadi riuh bergembira.

“Ayo, Yas!” Seru Tian bersemangat, ia sudah menempati posisinya di pintu tanya terakhir. Yasmin bergerak cepat, memilih empat orang adik panti yang akan memenangkan timnya.

Permainan sudah berjalah 20 menit. Masing-masing tim telah menjawab pertanyaan di pintu tanya 3, beberapa sudah menaklukan pintu tanya 4. Tim yang dipimpin Yasmin salah satunya. Ketika Yas sedang tegang-tegangnya melihat dari jauh anggota tim keempatnya membuka pintu tanya dengan kalimat kunci yang lupa-lupa-ingat, seseoraang mendatanginya.

Kakak Yasmin,” Berdiri bocah lelaki lucu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dua gigi seri bagian depannya ompong, dipamerkan begitu saja tanpa malu-malu. Dia juga menggendong tas ransel warna biru langit yang terang.

“Kakak, aku mau kasih tau kalimat kuncinya...” Bocah itu berbisik. Yasmin melongo. Bocah dengan setelan kemeja rapi itu bukanlah salah satu anggota kelompoknya, karena anggota keempatnya masih berdiri di sana, di depan pintu tanya keempat dengan ekspresi mengingat-ingat. Yas menebak, bocah lelaki dengan mata bening ini telah tersasar dari kelompok lain.

“Apa itu?” Yas ikut merendahkan suaranya. Eh, ini curang gak ya? Namun keinginan Yas untuk mendapat bocoran Kalimat Kunci ini semakin menjadi setelah melirik anggota keempatnya memasang ekspresi putus asa kepada penjaga pintu tanya di sana. Yas membungkuk mantap, menyodorkan telinganya pada bocah lelaki bermata bening itu sambil menyeringai senang. hehe

Kakak hapalkan, ya!” Kata bocah itu bersemangat. Yas mengangguk cepat.

 “Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”


“Wow!” Yasmin takjub dengan kalimat kuncinya. Semua orang tahu bahwa ia menyukai frase-frase dengan kata bermuatan benda-benda langit.

“ulangi dua kali lagi,, aku akan menghapalnya. Okay?” Seru Yas. Kemudian bocah itu mengulanginya dua kali. Yas langsung hapal di luar kepala. Tak disangka kalimat kuncinya semudah ini.

Yas mengacak rambut bocah itu, dan menanyakan namanya.

Namaku Willy, kak Yasmin.” Masih dengan cengiran gigi ompongnya. Bocah itu kemudian mengeluarkan potongan kertas dengan tulisan beberapa kata. Potongan kertas itu langsung diletakkan ke tangan Yasmin,

“Jangan lupa ya, Kak.” Sedetik kemudian bocah itu berbalik dan berlari ke dalam kerumunan. Yasmin belum sempat mengatakan terimakasih, bahkan dia masih keheranan dengan potongan kertas di tangannya, tapi bocah dengan ransel biru itu cepat sekali menjauh. Ransel biru? Bukankah itu ransel biru yang bagus dan mahal, paling tidak untuk ukuran seorang anak Panti?

Dari kejauhan Yas meneliti, ada tulisan dengan bordiran biru di bagian kantung belakang tasnya: William Anantha Rachel. Ketika Yasmin masih berkutat dengan rasa herannya, ransel itu menghilang di balik kerumunan anak-anak yang lain.
 
***

“Secepat itu?”

“Apa?”

“Secepat itu kamu menghapal kalimat kunci dari anggota terakhirmu? Bahkan dia baru kembali dari pintu tanya empatnya dengan ‘babak belur’.” Tian tertawa
Yasmin menoleh ke belakang, anak yang dimaksud Tian berdiri dengan wajah bingung. Tian benar, bahkan anak itu baru menceritakan betapa sulit dia mengingat kalimat kunci, hingga penjaga pintu tanya empat akhirnya berbelas kasihan dan mengajarinya. Kemudian Yasmin dengan penuh percaya diri menggenggam pundaknya dan berkata,  

Tenang dik, sekarang kamu nggak perlu capek-capek kasih tau kalimat kuncinya. Karena kakak sudah hapal.” Kemudian Yasmin melesat ke pintu tanya terakhir dengan tekad sangat bulat.

“Aku menghapalnya di luar kepala.”  Kata Yas meyakinkan. Tian menaikkan alisnya tanda sangsi. Lalu tanpa aba-aba Yasmin mengucapkan kalimat kunci yang telah ia dapatkan dari bocah bermata bening tadi, tentu saja dengan ritme cepat saking hapalnya.

“Di malam ketika rembulan menjadi lentera paling terang, Langit timur memiliki cahayanya. Dari sana, genggam dunia dengan ribuan jendela berbaris rapi, sebuah telaga akan mampu merubahnya. Merubah dunia. Disana lah pertanyaan besarmu akan menggenap bersama jawaban.”

Hening beberapa saat...

“Bukan itu kalimat kuncinya, Yas.” Kata Tian akhirnya. Dahi Yas berkerut.

“Aku tau, yang tadi terlalu cepat, kan, kak? Aku ulangi, ya?

 Nggak perlu. Karena bukan itu kalimat kuncinya.” Wajah Tian berubah prihatin.   “Kamu dapat dari mana?” kali ini nada bicaranya menganalisa. Yas buru-buru menyapu pandangannya ke arah kerumunan adik-adik panti untuk mencari bocah beransel biru. “Kamu dikerjai, ya?”

“Nggak mungkin, Kak. Matanya jujur.”

“Siapa?”

“Bocah tadi.” Masih sibuk mencari-cari.

“Dapat bocoran kalimat kunci dari kelompok lain itu curang, Yas.” Yas berhenti mengedarkan pandangannya. Wajahnya sekarang menyesal.

Akhirnya Yasmin kembali ke kelompoknya dengan empat batang cokelat yang dibelinya di kios terdekat, juga sebuah puisi yang dibuatnya saat itu juga. Memang mudah bagi Yas dengan bakat menulisnya untuk membuat puisi, prosa, dongeng, dalam waktu singkat. Bakat menulisnya bahkan mengantarnya menjadi wakil ketua jurnalis kampus meski ia baru menginjak tahun kedua kuliah. Bakat luar biasa yang diturunkan dari ibunya.

Yasmin mendekati anggota kelompoknya dengan senyum ngeles, empat batang cokelat di genggaman, dan puisi berjudul ‘Kalah Berarti Menang’ yang dibuatnya mendadak. Semua itu akan membayar kekecewaan mereka terhadap kecerobohan yang kulakukan. Itu rencana Yas.

-      




--Bersambung –
*Yealah  (cerpen) gini doang bersambung T_T wkwk

Sagitarius 3 : Teteh




Tinch, Teteh, Saya, Sehari pasca Capping Day. 2009.

Kelas telah selesai dengan kegaduhannya, digantikan suara khas lembar-lembar kertas ujian yang saling bergesekan, resah untuk dibuka. Mungkin sekitar Oktober 2008. Siang itu di kelas 4N, ujian bahasa inggris mahasiswi kebidanan Malahayati kelas 1A sedang berlangsung.
Hampir semua dari kami merasakan kegugupan yang sama. Alih-alih dosen senior super tegas itu yang mengawasi kami, justru kami yang waspada mengawasi gerak-geriknya. Haha. Efek gugup yang mendalam. Kecuali seseorang yang duduk di barisan nomer dua paling depan –sebelah kiri saya - yang nampak kalem sekali. Tanpa gerakan yang gelisah, dengan tatapan fokus pada lembar jawaban. Gerakan matanya yang cool berpindah dari lembar soal ke lembar jawaban, tangannya fasih menulis jawaban soal per soal. Baru kemudian saya tahu, cewek tembem hitam manis yang penampilannya sederhana  itu bernama Eka Afriyani, mahasiswa yang –ternyata- englishnya terOK sekelas saat itu. Saya menyimpan kekaguman, dan diam-diam menjadikannya ‘rival’ lain di kelas selain Tinch. Saya harus waspada mendekatinya. Muehehe.
Beberapa waktu berlalu, saya menemukan banyak kesamaan di antara kami. Kami sama-sama dekat dengan Tinch. :p Sama-sama simpel, sama-sama betah ngendon di asrama sepanjang weekend, sama-sama tinggal di kamar deretan sebelah kanan, sama-sama polos, dan sama-sama mengincar ranking pertama. Dan, u know what? IPK semester pertama kami angkanya sama. Dengan sama-sama urutan ketiga tertinggi seangkatan, dan tentu saja harus sama-sama saling puk-puk karena ndak bisa melampaui Tinch di urutan pertama, yang IPKnya nyaris sempurna. *salaman*
Setelah semester pertama usai, kami mulai longgar dalam persaingan ‘gede-gedean IPK’. Keakraban kami ndak lagi dipicu oleh tugas-tugas kuliah, tetapi lebih ke sesuatu yang pribadi. Beberapa hal yang menjadi faktor penyebab kenapa Teteh lebih betah di kamar orang lain ketimbang kamarnya sendiri, membuatnya sangat rajin door to door menyambangi kamar-kamar tetangganya, terlebih kamar kami. Untuk sekedar berbagi makanan, banyolan, mie instan, air minum, cabai rawit, cerita, nasi bungkus, rangkuman, tugas kuliah, dan uang saku. Haha. Dan dengan sebab yang absurd, mulailah saya memanggilnya ‘Teteh’ dan Teteh memanggil saya ‘Emak’. Teteh akhirnya dinobatkan sebagai kerabat dekat kamar 23-24. Berbeda dari Mbak Nupe, tanpa harus tinggal dalam satu kamar pun kami menjalani hari-hari di asrama dengan penuh keakraban.
April 2011 :
“Tenang sih mak, kalo sama kalian gw gak ragu, pasti bakalan terus sehati walau ndak serumah.” Teteh menolak halus ajakan saya dan Erlin untuk tinggal di Sagitarius 3 setelah keluar dari asrama.
Teteh anaknya care. Sangat care. Menjadi salah satu yang paling cepat nawarin bantuan ketika saya kesulitan. Saat saya sedang sedih atau sakit, teteh ndak cuma beliin makan dan obat tanpa diminta, kepeduliannya juga terlihat dari kata-katanya dan belaian tangannya. Iyap bener, teteh ini bisa ngingetin saya sama mamah di rumah kalau tengah jadi target kepeduliannya. Itu sik yang bikin teteh berbeda dari yang lain. Teteh tuh punya caranya sendiri dalam berkasih sayang antar sesama. Menurut saya, Teteh ini tipe melankolis-sanguinis. Imajinasinya tinggi, menjadi teman berhayal-random saya yang klop. Sensitif dan punya selera humor yang tinggi. Saat ada masalah yang sama-sama kami hadapi, Teteh bisa menjabarkannya dengan baik. Analisanya oke, dan selalu pakai perasaan. :’).
Teteh juga super ekspresif. Misalnya gini, kalau habis berpisah dalam waktu yang agak lama, pas ketemu siap-siap pipi diciumin, dipeluk2, trus dihujani kalimat “maaaak kangen kangen kangennnn!” rada histeris. Dimanapun, kalo liat bayi/balita gembul, subhanallah, Teteh ndak bisa lagi dikontrol. Kadang saya berpikir, pipi bayi itu akan dimakannya. Haha *kidding*. Dengan sikap ‘tidak sungkan’ nya teteh, saya juga jadi ndak sungkan bermanja-manja-uwel-uwelan dengannya. Fyi: Ndak semua teman dekat - saya berani manja-manja kepadanya lho. Karena saya mah gitu orangnya, kadang kalem dan pemalu. :3
Ada 2 kejadian yang saya ndak pernah lupa. Dua-duanya mengandung unsur eyel-eyelan saya ke teteh yang –kayaknya- paling parah sepanjang sejarah pertemanan kami. Pertama waktu jaman skripsi dan saya menjadi satu-satunya penghuni Sagitarius 3 yang paling lambat progressnya. Teteh mulai nanya-nanya dan nasihati saya. Karena kami ndak tinggal bareng dan jadi jarang bertemu,  maka sekalinya bertemu, Teteh menjadi sosok yang paling bawel mempermasalahkan skripsi saya yang ndak ada kemajuan. Dan tentu saja saya lebih nyebelin karena udah salah, ngeyel lagi! Hhi. Suatu kali bahkan saya pernah –mungkin- membuatnya sakit hati. Karena di akhir adu argumen Teteh bilang kira-kira begini: “Udah sih mak jangan egois gitu. Gw cuma ngingetin kok mak. Lo gak perlu lah ngomong kayak tadi..” Habis itu diam. Saya yang waktu itu agak emosi juga terdiam, mengingat apa yang telah saya katakan mungkin menyakiti hatinya. *Iya gak sih teh? Teteh inget gak? Sorry ya. Haha*
Yang kedua di awal 2013. Yang ini saya yakin Teteh udah lupa deh. Ketika itu saya sedang mengalami patah hati. *eaa Oleh sesuatu. Saya mah gitu anaknya, untuk masalah satu itu  ndak begitu terbuka sama siapapun.  Tapi karena begitu mengguncang *gempa kali mengguncang -.-, saya jadi susah menutupi efeknya. Ini agak lebay memang, jadi beberapa kali saya kepergok olehnya sedang gak fokus dengan sesuatu yang sedang saya kerjakan, saya juga terlihat sering menghela nafas. Kemungkinan besar Teteh ndak pernah melihat saya sekacau itu, lantas teteh meminta saya untuk cerita. Saya ndak mau. Teteh terus meminta, saya berkelit. Teteh agak berkeras, saya lebih keras kepala. Waktu itu saya bilang, kalau untuk masalah satu itu akan saya simpan sendiri. Lalu:
“Mak, manusia itu gak bisa dewasa sendirian. Kalo terpaksa menerima keadaan, mungkin iya!” katanya sambil ngeloyor ninggalin saya sendirian. Teteh paham, keras kepalanya saya menyimpan masalah sendiri hanya pencitraan agar terlihat kuat di luar, tapi Teteh tahu lemahnya saya di ‘dalam’. Huhu
So,
Udah 7 tahun kami temenan. Ndak terhitung berapa kali teteh nolongin saya, berapa suapan nasi yang Teteh antarkan ke mulut saya, berapa pelukan yang saya dapetkan darinya, berapa panjang kalimat bijak yang diberikannya untuk saya. Berapa sering teteh menasihati saya, berapa sering momen kompak kami saat menghayalkan hal yang sama, menertawakan sesuatu, melakukan hal-hal konyol bersama. Dan hari ini, tepat di hari Kartini, si Teteh ulang tahun ke 25! Horaaaaay!
Selamat ya teteh sayang... telah memasuki usia perak. Dan kalau benar seperti yang teteh bilang tadi pagi bahwa gw adalah teman yang baik dan menjadi saksi susah-senang hidup teteh selama ini, maka begitupun sebaliknya. Bahkan asal teteh tau, saking banyaknya yang teteh tau tentang gw, gw selalu gagal jaim di depan teteh. Haha. Untuk doa ultah kali ini, simpel aja. Semoga April taun depan teteh sudah menjadi sosok Kartini buat seorang anak di kandungan. *kyaaaaa aamiin :’>

Teteh dan Saya, Maret 2015.
Udah, gitu aja. :)

21 April 2015, dalam kondisi terbuai kenangan dan harapan.
_Emaknya Teteh

Cerita : Nasi Goreng

Cerita : Nasi Goreng
Tujuh empat satu. aku barusan nyebutin keterangan waktu, meski ndak persis betul karena kurang menyebutkan satuan. Menurutmu, untuk meyakinkan seseorang, haruskah kita menyertai satuan saat menjelaskan seberapa besar cinta kita untuknya? Aku mencintaimu sedalam Palung Mariana, yang dalamnya nyaris 11.000 meter. Contoh saja, meski sebenarnya bukan kalimat ini yang pingin aku tulis, soalnya aku ndak tau satuan cinta itu apa. Katanya, mata lebih banyak berperan dari pada telinga saat menangkap informasi, bedanya bisa lebih dari 20%. Makanya cinta harusnya diperlihatkan, bukan (cuma) dikatakan.

Habis subuh tadi kepikiran buat genapin tidurku yang kurang, tapi ndak jadi. Aku belum nyetrika, disamping sibuk bantu Hesti cari botol tupperwere barunya yang ketriwel. Ungu dibilang pink, maka sesubuh tadi aku sudah jadi korban salah persepsi. Memang ndak ada hubungannya sama aku yang baru bisa tidur pukul 2 dini hari, bukan karena kemenangan Rossi, apalagi karena seprai kasur yang ndak rapi. Aku ndak bisa tidur karena sebelum berdoa mamah telepon, lantas akunya mendadak melow. Mengingat kondisiku saat ini jauh dari layak untuk diekspektasi. Pesimistis itu laiknya virus yang harus dibasmi dengan ketahanan hati, ya. Alhamdulillah, pertama kalinya aku nulis layak jadi laik. Layak di kalimat sebelum-sebelum ini dengan laik di kalimat sebelum ini tentu beda arti ya, semoga aku ndak salah meletakkan perbedaannya.

Hotnews: pagi ini jerawatku nambah satu.

Di meja, berdiri sebotol air mineral kosongyang plastik kemasannya sudah dilucuti Okta sepanjang menunggu nasi goreng disajikan mas-mas penjualnya, tadi malam. Oh satu hal telah terbantahkan : perut kenyang berefek tidur nyenyak, ternyata ndak selalu benar. Nasi goreng semalam porsinya dan pedasnya pas kayak biasa. Mungkin aku ga harus cerita kalau timun dan tomat dipotong dadu. Dulu sih nggak. Nasi goreng yang gerobaknya biasa mangkal di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka. Padahal aku ndak bermaksud jumawa bilang nasi goreng itu nasi goreng langgananku, apakah masih layak jumawa - seseorang yang kesukaannya makan nasi goreng di pinggir jalan? Ya masih lah nggun, jumawa kan konsleting hati. Yaudah aku istighfar. Ketika sampai di gang -sebelah kiri jalan- depan Alfamart Pramuka, gerobaknya ndak ada. Kapan nggun terakhir makan disini? tanya Okta spekulasi. Oh iya, terakhir pas aku masih kuliah D-IV sih. Hehe. Kok mas-mas itu ndak ngasih tau ya kalo pindah?

Emang dia kenal aku?

Baru jalanin motor, eh jalanin? Emang hubungan, DIJALANIN aja? Ulang, baru menjalankan motor 10 meter ke depan, merubah rencana menu makan, Okta nepuk-nepuk pundakku. Itu bukan sik gerobak nasgornya? Pas aku tengok ke tepi jalan sebelah kiri, aku menimbang, Itu bukan ya? Yang mas-masnya ganteng kan? Tambah Okta. Kutengok lagi. Iya bener. hehe. Ntah apa makna dari hehe-ku itu. Aku minggir, melipir mundur. Kok lu tau nasgor yang gua maksud nasgor yang ni? Tanyaku ke Okta, penasaran. Iya, ini juga langganan gua dulu. Bah! Ndak bilang daritadi.

Mas, kok pindah gak bilang-bilang ? Aku nyinyir nanya-nanya. Udah sejak kapan, mas? Apa?? 2 tahun? Selalu gitu deh, masa memang selalu jujur, aku yang lupaan. Lupa sama putaran waktu, lupa sama nasi goreng ini, yang dulu mangkal di gang sebelah kiri jalan depan Alfamart Pramuka. Yaudah mas, ga jadi bungkus. Makan sini aja. Di bawah langit berbintang, di antara bising jalanan. Adalah caraku menebus rasa bersalah, ternyata sudah 2 tahun aku berpaling dari nasi goreng ini. Halah. 

Barusan aku ketiduran, padahal niatnya mau mandi trus dhuha trus ke perpus, perpus ter-oke selampung kalau indikatornya kelengkapan fasilitas - tapi dikit pengunjung. Aku mau cari literatur, referensi, bacaan bergizi. Ah kambing hitam, sebetulnya mau wifian. Sama mau bikin kartu perpus (lagi). Kemarin aku sempet ngecek buku-bukunya, dan terpukau. Mau pinjem tapi kartuku kadaluarsa, cetakan 7 tahun yang lalu. Masih aku simpen. Aku senang liatin ikan-ikan di sana. Mau ikut? Aku mau siap-siap. Bukan karena aku jomblo loh makanya ngajakin kamu. Aku ndak minta temenin, yah paling ndak supaya daftar pengunjung nambah satu. Kamu. Em ndak mau lanjutin dengan “iya, kamu..” ala java comic yang aku lupa namanya. Dia kan guru, tapi hobi melawak. Mirip pemimpin yang hobi dagelan.

 “Tuhan, anugerahilah aku agar tak mencari hiburan untuk menawarkan hati. Mengerti dahulu agar dapat memahami, dan mencintai dengan segenap hati.” Aamiin. Ini doanya Eugene Roa. Tentara medis Inggris dari Kompi Easy, saat perang melawan Jerman. Benar, Band Of Brothers, 2001. 

Aku siap-siap dulu.

Cerita : Random

Cerita : Random
jam 11 kurang 15, tapi belum ngantuk-ngantuk banget. barusan makan nasi lauknya telur dadar bikinan Annis. dia berkali-kali mengingatkan tentang telur dadar kebanggaannya, maklum, jarang-jarang masak. kemarin juga sempet diseduhin white coffee original sama dia, iya, memang harus disebut originalnya, soalnya sekarang ada varian rasa baru. tapi lupa apa.

di tv acaranya bukan empat mata, yang dibahas agak vulgar. apatu, denger kata "ranjang", "ehem-ehem", barusan aja mau aku ganti channel eh ternyata temanya sexersise. bener ga ya tulisannya? anu, pembicaranya dokter boyke, kayaknya penting. gak jadi lah aku ganti. ini ilmu, dan aku bidan. aku butuh ilmu ini di masa depan. :3

ngomong-ngomong, rumah tangga seseorang yang dua hari lalu curhat ke aku apa kabar ya? gitu ya kalo udah berumah tangga. isinya sabar sama ikhlas. ya harusnya memang dilatih dari sekarang sih, ikhlas itu. kalo kata septian, nulis itu karena memang kepingin nulis, bukan karena pingin dibaca. itu kan aplikasi ikhlas, menurutku mah. eh mamah udah tidur kali ya sekarang?

hapeku loh, baru, dapet doorprise seminar IMD.

dokter boyke pake kemeja warna ungu, sama warnanya dengan jilbab jaguar versi terbaru yang aku beli di pasar tengah kemaren. tau kan jaguar yang lama? tebel bikin telinga budeg. kenapa namanya harus jaguar? jilbabku jaman SMA tuh. alhamdulillah ga kenal jilbab paris dulu mah, iyalah anak rohis. kalo bukan jaguar, pakenya dobel dobel. jalannya nunduk-nunduk.

tau kan? aku lagi random sekarang. kata jumali, karena keseringan begadang. iya sih ini juga jerawatan. padahal tadi udah pamit tidur sama erry sebelum mengakhiri chat. dia wisuda 20 hari yang lalu, dan aku baru ngucapin selamat malem ini. tapi dia udah kebal sama sikap lupaan aku, dia biasa aja ga marah. atau dia udah ga ada ekspektasi apa-apa lagi sama aku kali ya. manusia memang harus belajar banyak. sebenarnya tulisan ini juga bentuk belajar atau latihan ikhlas yang (aku anggap) diajarkan septian. eh namanya jadi berkali-kali aku sebut, maaf ya sep. bahkan aku meniru cara nulis dia yang aneh ini. dia memang inspiring sih. adek kelasku waktu sma. apalah arti adek-kakak kelasan kalau meng/terinspirasi ndak bergantung itu. barusan ada serangga mendarat di kacamataku.

aku tidur dulu deh.

Repost, Review, Balasan :Kado dari Erry

Sumber ? Googling.
Dear Erry.
Meski agak konyol karena aku nulis ginian, padahal kamu dimana coba? di rumah  Sumba kan? Kamu bahkan sms aku kalau kamu mau pulang, seolah mau bilang disana susah buat kamu online. Jadi mana mungkin bisa baca tulisan ndak penting ini. Dan kamu tau, apa yang bikin aku nyesel? Sms kamu cuma aku balas "Hati-hati, salam buat ibu ya." hambar, macam basa-basi sama orang yang baru kenal di kapal.

Oiya, ini bukan tulisan hadiah pengukuhan kamu ya. Hastagah! tulisan begini mana layak disebut hadiah. Aku menyadari, belakangan ini aku jauh dari ekspektasi siapapun - sebagai seorang sahabat yang perhatian. Aku sok sibuk sama sesuatau yang sebenarnya gak ada. Iya, aku merasa lagi sibuk tesis, padahal progress juga gak banyak. Status So Busy di BBMku juga harusnya gak perlu kupasang. Sampai akhirnya aku lupa dan ngilang di hari pentingmu : hari Pengukuhanmu sebagai Apoteker. Aaaak. kamu pasti kesel, ya kan? Cuma kamu ndak mau bilang aja... Aku tau lah. Apalagi kalo inget tentang cokelat dan balon-balon yang pernah kusinggung waktu itu. haah, rencana tinggal rencana. Betul katanya, rencana terbaik memang tidak merencanakan apa-apa.

Hari ini har rabu, dan aku lagi flu. Aku abis nonton Conan yang The Eleventh Striker. Jam menunjukan pukul 15:48, pas waktu Ashar. Nggak, aku memang lagi nggak sholat.

Karena lagi di rumah dan adanya fasilitas wifi, bikin aku semena-mena mainan facebook. Iseng kepo riwayat pertemananku dengan beberapa orang yang kuanggap spesial. Temen cewek, cowok juga. Eh maksud spesial itu bukan spesial 'itu' lho. wkwkwk Maksudnya temen-temen yang berkesan. Meski berkesan belum tentu jodoh. HAHAHA #apasih #gakpenting

Sampailah ke akunmu. Iyalah, kamu kan termasuk yang berkesan juga. *eaa. Aku liat tulisan blogmu yang  kamu shared, katamu tulisan sebagai kado ultahku yang ke 24 kemarin. Pas aku baca-baca, kayaknya seru juga kalo aku review. Eh istilah tepatnya review bukan ya? Yah intinya gitu deh. Aku malas mikir ribet, kepalaku pusing karena flu ini. Belum lagi sibuk nahan ingus supaya gak netes di keyboard Marimar. hehe

Langsung deh!

Entah ini udah tulisan keberapa tentang ara.. padahal ga pernah ketemu juga, tapi serasa dekat. bukan saudara juga tapi setelah 2 tahun yang fluktuatif ini, bolehlah saya katakan dia salah satu saudara saya, saudara ketemu gede yang mengajarkan saya gimana bersahabat a la manusia Ah, ini berlebihan. hahaha, bersahabat a la dia. Ara belakangan lagi demen sama #23 facts about me Iya, aku abis baca tulisan seseorang yang lama kukenal. Tulisan tentang fakta2 [kata saya sih pengakuan2] tentang si penulis. Karena menulis tentang diri sendiri entah gimana udah mulai jadi mainstream, saya pengen nulis fakta tentang dia aja yang antimainstream.
Yups, I’ll try to write down #24 facts about her.
  1. 20 juli 2012 Pertama kali muncul, dia ngenalin diri dg nama laras, Tentu saja, aku menginginkan sesuatau yang baru  :3
  2. Butuh waktu juga buat deal dengan nama panggilan, saya ga suka manggil dia laras atau anggun, dan dia ga mau dipanggil lara… jadilah, ara.Waktu itu aku protes, Lara kan artinya sakit. Padahal aku wanita anggun yang sehat :D
  3. saya kira ara itu sengaja dikirim buat mata2in saya. Soalnya, dia kepo banget nanya2 ini itu mulai dari nama saya, arti nama saya, TTL, kuliah, hobi sampai saya lagi apa dan lagi nonton apa.. Aku anaknya memang gitu, suka gak tau malu =)))
  4. awalnya, saya kira dia datang buat ngedakwahin saya soal agama, karena sebelumnya saya bilang benci banget sama ADK. Ternyata, dia ga seseram itu. Wkwkwk ilmu dakwak-dakwahan mu kan lebih banyak dari aku, Rry >.<
  5. Satu-satunya alasan saya membuka diri ke dia pas pertama kali adalah, karena dia bilang, “biarpun al hilang, aku ga akan kemana-kemana, karena aku mau kamu.” Haha Aku macam peramal profesional gitu ya :v  , itu melting banget tau ga buat saya pas itu. Anggap aja saya emang bocah naif yg gampang percayaan, tapi itu emang kata2 paling tulus yang saya dapat waktu itu. *shy :'>
  6. Ara emang asli pede abis…Cuma orang yang benar mengenaliku yang bilang aku anaknya pede. Kalau ada yang bilang aku pendiam artinya dia korban pencitraanku. hahaha. Suatu hari, saya pernah nanya ke dia. “kenapa aku? Dan kenapa baru sekarang kamu muncul?” trus dia jawab dg lagak serius, “ya karena baru sekarang aku dapet nomer kamu.. emang kamu lagi nungguin buat aku hubungin ya,” Eh ini jawaban serius, tau! hahaha dan saya gagal jaim ma dia abis itu.
  7. Tanda kepedean dia yang lainnya : baru sebulan kenal dia udah nodong minta dibuatin tulisan buat proyek ulang tahunnya Wkwkwk malu banget aku. Emang beneran baru sebulan? Kamu dekat banget sik di hatiku, Rry.. :p. Mungkin itu, yang bikin saya inget dia tiap tanggal sembilanbelas dan inget bikinin dia tulisan taun ini.. [anggap aja buat nebus tulisan anniversary 2 tahun kenal yang batal saya tulis juli lalu :D ]
  8. Sebenarnya ara bisa aja jadi pendengar yang baik kalau dicurhatin. Yes, am I. Tapi kalau buat saya, seringkali cukup ditanya “kamu kenapa” aja ma dia udah bikin saya batal curhat dan ngerasa baik2 aja. Soalnya saya udah bisa ngebayangin bakal kayak apa arah obrolan kami nantinya. kalau dia ga ikut ngegalau, pasti ujung2nya sama2 ketawain cerita tadi, haha. :)
  9. ara sahabat pena saya yang pertama, yang mau aja ikutin ide gila saya surat2an via surel. :D Pertama baca ini benar2 kaget. Aku yang pertama??? hahah Dari kecepatan kamu balas emailku, kamu terlihat bagai seorang yang punya banyak sahabat pena, tau! Aku benar-benar tertipu >.<
  10. pas awal2nya saya paling kesel kalau dia udah bilang, “kita punya banyak kesamaan, kayak kamu yang suka nyimpan sms2 lama di hp.” Saya jadi mulai curiga, apa dia emang punya semacam bisa baca pikiran orang lewat sms orang atau jangan2 dia bisa ngehack hp saya. Dan sejak itu, semua smsnya saya back up ke leptop… haha Kebiasaan itu udah ndak aku pakai lagi. Efeknya jadi susah move on.  :p
  11. dia bilang, angka sebelas itu favorit dia.. trus saya bilang, “kamu bukan favoritin angka sebelas ra, tapi ngefans ma aku yang lahirnya tanggal sebelas.” Dan dia cuman ngusir saya, suruh lanjutin tulisan ini. Hihi
  12. Dulu, saya pikir saya ga bakal punya masa depan ma ara. Karena selain kesamaan kami ga punya topik obrolan lagi. Padahal kan kesamaan bisa aja berubah sewaktu waktu. Kayak dia yang dulu doyan makan mie kayak saya, dan sekarang udah ga mie-addictive lagi. Dan tadaaa!! Masa depan saya ma ara sekarang adalah bimbim dan karel. Bayi cakep yang sama-sama kami sayang kayak ponakan sendiri. Yap, suatu hari kita bakalan bertemu dengan mereka yes. :)
  13. saya ini pelupa parah.. makanya suka nulis biar inget.. and sorry to say buat ara, meskipun berkali2 dia cerita soal jumlah saudaranya, saya masih suka kepikir dia anak perempuan satu2nya [padahal kebalik yah? Kayaknya…] *kabur sebelum dilemparin bantal
  14. ara itu setahun lebih tua dari saya, tapi entah kenapa dia baik2 aja saya panggil dengan namanya langsung, tanpa embel2 mbak, kak, teh atau apapun itu..`
  15. masih, sampai sekarang tiap kali muter lagunya greeeen yang judulnya kiseki pasti yang dipikirkan si ara… sampai inspired buat nulis juga yang judulnya sama ma lagunya. :)
  16. Bicara soal kesamaan, kami sama2 suka namain barang2 kesayangan. Kayak leptopnya yang dinamain marimar dan kini harusnya udah umur 4 tahun, dan leptopku yang kukasih nama najmi dan kini udah genap umurnya 3 tahun. Inih aku nulis di Marimar. Salam buat Najmi.
  17. Kesamaan lainnya, sama2 gampang suka dan kepoin orang2 yang tulisannya bagus. Dulu, pas awal2 dia suka banget bilang referensi bacaan saya lebih banyak dari dia, tapi sekarang kayaknya dia lebih banyak tau dari saya… ^^ *yeaay, lempar2in kertas warna ke atas ara.
  18. kami sama sama suka langit dan hujan, entah kalau ara sekarang.. tapi dulu kami paling seneng yang namanya hujan-hujan dan saya biasanya suka pke modus ga bawa payung.. :)
  19. pas pertama kali ara ngasih tau nama blognya larasati-darwis, saya kira dia ngefans ma tere-liye sampe segitunya… eh ternyata, darwis itu nama ayahnya… hmm.. *shy
  20. ara paling kesel, kalau saya udah nginget2 orang yang pertama kali kenalin dia ma saya. Katanya, saya suka gagal muv on kalau inget orang itu. Gak kesel sih... cumaa...
  21. Sampai tulisan ini saya buat, dua tahun berselang. Saya masih sulit memaafkan diri sendiri tiap ngebaca lagi sms saya sama orang itu, but still, I should say thanks to him. Klo nggak karena dia udah mangkel tingkat dewa ma saya waktu itu, mungkin saya ga akan pernah kenal ara. [tapi, emang Allah yang mempertemukan.. melalui dia, sayangnya] Udah, jangan disesal-sesali :)
  22. Bongkar2 sms ara dua tahun lalu
    “Aku gak tau siapa km, bahkan km dmana aja aku gak tau. Pikirku, kita bs temenan lebih kedalam hal2 yg nyata. Bukan membicarakan sesuatu yg cuma bs dibayangkan. Kupikir kita bs temenan kayak orang2 temenan d dunia nyata. Kita berbagi cerita ttg khdupan yg sbenarnya, diskusi ttg kuliah (misalnya),  ttg keluarga, dll. Bahkan kupikir suatu saat kt bs saling bertatap muka lalu bersalaman sambil mnybutkan nama masing2, “Aku Anggun”, dan km menyebutkan nama aslimu :)”
Number:+62878990XXX
Sender:ara
Date:21:07:2012
Time:07:09 PM
 saya baru tahu kalau harapan dia dulu terkabul 2 tahun belakangan ini. Salut sama kamu yang bisa nyimpen sms-sms beginian bertaun-taun. ckckck
  1. Sampai sekarang, saya masih belum ketemu laras. Kemaren, kami sempet janjian mau ketemuan di bandung sekalian iktikaf sehari di daarut tauhid. Tapi ternyata ga jadi karena masing2 punya kendala. Dia sempet janji mau ke pengukuhan profesi saya, dan saya juga punya niat ke lampung kalau dia nikahan… tapi balik lagi, bila Allah menghendaki.. ^^well, kalaupun belum bisa bertemu dalam jangka waktu lama, saya tetap bersyukur sudah dipersaudarakan dengan seorang laras, si pohon terang yang narik saya dari dunia mimpi di antara bintang bintang ke bumi yang nyata ini.
  2. Ara punya target menggenap tahun ini… di usia 24 tahun. dan saya pikir dia udah cukup pantas untuk menggenap. Semoga aja, segera bertemu jodohnya..karena perbaikan diri dan doa itu ikhtiar manusia, sedang Allah lebih mengetahui kepantasan dan waktu yang paling tepat.. ya kan.. ya kan… ^^
Kira kira, begitulah #24 facts about ara.
*spesial buat nomer 23, biar kamu seneng aku panggil kamu laras, ra. haha.. barakallah for your 24yo. be more mature emotionally, spiritually and financially, ok.. ^^ *bighug Bighug jugaaak. Makasih ya :3
barakallahu fiik
for your birthday and our anniversary
latisha, 19 november 2014

Sumber : Tulisan asli Erry

Gitu aja. 

Gak penting kan? 
-.-

Kebidanan : Bersama Menurunkan AKI dan AKB

Kebidanan : Bersama Menurunkan AKI dan AKB
“Iya, Ibu … dorong … baguuus.”

“Tarik nafas panjang, susul dorong …. lagi … iyap, pinter ….”

Inilah beberapa kalimat yang bakal familiar banget sama kamu kalau masuk ke jurusan ini. Jurusan kota mana kak? Itu angkotnya macet terus ibu-ibu disuruh bantu dorong? Zzz …. Bukan lah! ini jurusan kuliah yang khusus, khusus buat cewek-cewek keibuan baik hati, ikhlas, penolong, peduli, tipe pengabdi, dan punya timbunan kesabaran yang banyak. Oiya satu lagi: tidak takut darah.
Inilah dia jurusan KEBIDANAN!

Prok prok prok!

Emang harus banget syaratnya kayak gitu, Kak? Iyap. Kalau kamu mau jadi bidan yang mumpuni sih syarat kasat matanya memang begitu. Syarat yang ga langsung terlihat, cuma Tuhan dan hatimu yang tahu. Syarat yang menurut saya pentingnya tuh melebihi syarat Tinggi Badan Minimal 150 cm. Iya, kamu juga harus punya tinggi badan minimal segitu, dan gak buta warna untuk masuk ke jurusan ini. 

Masa sih, kak? Emang di Kebidanan itu ngapain aja? Bakalan belajar apa aja?
Tau ndak tugas utama bidan itu apa? Kalau dikalimatkan sih simpel banget: menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Jadi, kamu bakalan belajar tentang ilmu yang mendukungmu menurunkan AKI dan AKB. Apa aja? Banyak! Mulai dari kesehatan manusia secara umum, asuhan kebidanan pada kehamilan, melahirkan, nifas, bayi baru lahir, keluarga berencana, kesehatan balita termasuk imunisasi, kesehatan reproduksi di tiap siklus kehidupan perempuan, ilmu macam-macam penyakit, obat-obatan, apa itu kesetaraan gender, sampai asuhan pada wanita menopause. Singkatnya kamu bakalan belajar all about kesehatan reproduksi sepanjang siklus kehidupan wanita, plus fenomena kesehatan ibu dan anak di masyarakat. Noh!

Untuk bisa disebut sebagai Bidan, kamu harus menyelesaikan sekolah bidan dengan jenjang pendidikan D-III. Kuliahnya cuma 3 tahun. Dan selama 3 tahun itu kamu ndak melulu belajar teori, tapi juga skill dan attitude. Selama kuliah sebagian waktumu dihabiskan untuk praktik di lapangan, bisa rumah sakit umum, rumah sakit bersalin, rumah sakit ibu dan anak, klinik bidan, puskesmas, dan akan ada saatnya kamu harus masuk ke desa-desa untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat, belajar sosialisasi, dan mengasah etika kamu. Wow banget kan?

Kamu harus tau, bahwa setelah lulus, diharapkan kamu “berani” turun ke desa-desa untuk menemukan masalah kesehatan di sana dan mencari solusinya. Ibarat tombak, kamu itu berada di ujungnya. Ibarat sungai, kamu itu berada di hilirnya. Pemerintah adalah hulunya. Mereka yang bikin program, sedangkan kamu bersama teman-teman sejawat lain yang menjalankannya. Sampai disini, sudah paham betapa pentingnya peran bidan di masyarakat? :3

Kak, denger-denger, di Kebidanan senioritasnya tinggi ya? Momok banget ….
Iya, tapi sebelumnya baca ini yah. Bidan itu memang profesi yang dekat dengan masyarakat, maka bidan seharusnya memiliki etika yang baik dalam berperilaku dan berpenampilan. Di setiap sekolah kebidanan, bakal ditemukan mata kuliah Etika Kebidanan, bahkan beberapa sekolah menambahkan mata kuliah Humaniora. Di asrama, akan diajarkan cara bicara yang sopan-menghargai, cara bersosialisasi yang baik, dan itu semua diajarkan oleh senior kamu (di asrama). Dengan segala aturan yang dibikin para senior akan ‘menggodok’ kamu menjadi pribadi-pribadi dewasa dan matang. Mungkin pada awalnya kamu akan mengalami stres dan ga betah. Tapi percayalah, akan selalu ada kenangan yang ga rela kamu lupain selama tinggal di asrama bersama kawan-kawan seperjuanganmu.
Pernah ngebayangin ga, nolong orang melahirkan itu gimana rasanya? Ah, subhanallah banget. Dari setengah terperangahnya kamu berbisik dalam hati: “Wah! Ternyata aku bisa ya nolong orang segininya!sampai tiba-tiba wajah seorang ibumu berkelebat di sela-sela suara tangis bayi yang baru kamu tolong, bikin hati gerimis.  Setelah semua yang kamu saksikan dan lakukan, ke depannya kamu pasti tambah hormat berkali-kali lipat pada ibumu. 

Ada lagi yang lebih asik, kuliah di kebidanan ini bikin kamu tau seluk-beluk tentang wanita, iya, tentang dirimu sendiri. Dari hal paling umum sampai yang detail, tentang kewanitaanmu sendiri, tentang apa yang bakalan terjadi dan kamu hadapi di siklus hidupmu selanjutnya. So, kalau sebagian perempuan seusiamu bingung tentang masalah “pribadi”nya dan malu untuk cari tahu, dapat dipastikan kamu ga mengalami kebingungan itu. Bahkan kamu jadi tempat rujukan orang-orang di sekitarmu untuk membebaskan kebingungan mereka tentang urusan seputar kewanitaan. Menjadi tempat cerita dan mencari solusi-nya mama kamu, kakak kamu, sahabat kamu, bahkan nenek kamu. Senang ga sih? Pikirkan, kalau kamu dari awal memang gemar menolong orang, jadi Bidan tuh profesi yang pas buat kamu. 

Siiip, Kak! Terus tentang jenjang pendidikan dan karir, gimana?
Bidan sudah ada program S-1, meski daerah di luar kota besar semisal Lampung, pendidikan tertinggi bidan baru sampai program D-IV. Jadi setelah selesai D-III, kamu bisa mengambil gelar sarjana. Bahkan di Unpad, Unair, dan Unbraw sudah ada program Magister Kebidanan.
Lulusan Kebidanan diutamakan siap jadi bidan PTT atau bidan desa. Karena untuk mencapai tujuan menurunkan AKI dan AKB di atas, memang seharusnya masyarakat di daerah-daerah lah yang menjadi target utama para bidan. Lulusan Kebidanan juga bisa bekerja di BKKBN, RS swasta, bikin Bidan Praktek Mandiri, pengajar, bahkan peneliti.

Kalau dilihat betapa pentingnya peran bidan, seharusnya jurusan ini menjadi jurusan pilihan pertama buat yang niat. Kalau dijadikan jurusan pilihan terakhir, apalagi karena terpaksa, saran saya lebih baik jangan masuk jurusan kebidanan. Ah, tapi kamu memang niat kan makanya baca tulisan panjang ini sampai akhir? :3 

Semoga tercerahkan, ya, dan segera bergabung menjadi srikandinya masyarakat :)

(*)
This article contrived to be submitted to jurusankuliah.com :)