Malaikat yang Dijanjikan (Dua Puluh Satu Tahun Aku)



19 November 1990,
Pagi itu seperti pagi-pagi biasa di bawah langit yang merona
Pagi yang dibisingi  kukuruyuk ayam jantan
Atau pagi yang disisipi langkah orang-orang menuju ladang
Pagi yang matahari pun malu-malu menyingkap sinar emasnya
Seperti enggan mengucurkan cahaya pada bumi yang usang
Pagi yang tak pernah lekang dari ingatan seorang perempuan
Pagi di hari Senin Legi

Ini bukan hanya tentang Pagi

Dialah yang berlelah dalam juangnya
Peluh mungkin telah membasuh tekadnya
Hingga sakit terasa seperti nikmat tersulit
Wajar saja jika pahalanya setimpal jihad
Aku ingat sajak seorang teman:
Manusia tidak pernah ingin dibuat, Manusia hanya dilahirkan
Ya, Manusia diciptakan oleh Yang Maha Pemberi ruh dan akal,,
Yang Maha Pembuat Rencana yang kita tak tahu “apa”.
Manusia dilahirkan dengan keringat dan darah
Sedang materinya dari Tanah
Ditimpa emban: mengabdi pada Tuhan
Nyata, dalam Adz Dzaariyaat : 56

Aku mulai berkoar detik itu,
Itu murni isak sedihku,
Mirip rajukan pada Tuhan,
Merengek supaya dikembalikan ke surga.
Beritanya, manusia sulit menemukan kemuliaannya di dunia.
Benarkah?

Terisak,
Pagiku remuk dikoyak gelisah 
Merasa akan sulit bahagia tidak seperti di surga
Disini tercium bau kefanaan
Disini, segaris pun tak terbias siluet kedamaian
Aku merindu surga, Tuhan..

Mendengar bahasa pertamaku, perempuan itu ditelan syukur
Yang terekam hanya tangis polosku
Berontakku tidak tampak bahkan di pelupuk
Tatapan lelah perempuan itu berair haru
Dia tenggelam peluh yang setetesnya seharga surga
Seperti malaikat yang kelelahan mengepak sayap
Seperti gulungan ombak tegar yang kini membuih putih putih
Usapan tangan berkeringatnya menepi dipelipisku
Mirip tepukan di pundak: menyadarkan
Mirip pelukkan malaikat: menenangkan
Menghantam resah
Membunuh gelisah

Laksana bidadari dari langit Tuhan yang tersenyum
Mendekap tubuhku yang merah bercampur darah
Mengecup lebih dari sekedar keningku
Tepat di kalbuku
Aku tertahan sejadi-jadinya
Aku terhanyut dalam desiran kerinduan yang dalam
Ini
Seperti
Kembali ke surga

Duhai, Tuhanku….

Diakah

Malaikat yang Kau janjikan ???

_19112011
Dua Puluh Satu Tahun Aku

Dear, Papa... (Dua Puluh Tahunku)

Ketika kau mengusap kepalaku,
terasa hangat kasih sayang dan cinta..
Kau pancarkan ketulusan dengan wajah ikhlasmu,
Kau berikan senyum kebanggaan dan tatapan pengharapan,,
dan hatiku menangis..

Ntah apa yang dapat kuberikan selain do'a akan keselamatanmu,
begitu banyak cinta yang kau beri, hingga kadang terlupa olehku..

Maafkan Papa,
aku terkadang hilaf, aku terkadang lupa..
dan saat tetesan airmata menyertai kalimat ini,
aku teringat akan pesanmu disetiap kata-kata bijakmu..
maka kucium punggung telapak tangan kananmu yang sarat akan kehangatan kerja keras menghidupi anak-anakmu ini,,,
dan akupun pergi dengan segenggam harapan.
aku pergi Papa, untuk mengejar cita-cita yang kini terasa berat kujalani..
hingga aku tersadar bahwa berjuta cinta yang kau beri harus kubalas dengan usaha kerasku..
kutau semua takkan lunas..
tapi tekad ini telah bulat untuk memberikan kebanggaan untukmu..
Papaku...



untuk yang selalu kucintai, 
Papa

_19112010
Dua Puluh Tahunku

Cerita Dines #2 (Shame Story)

Cerita Dines #2 (Shame Story)

Ini cerita waktu gue (masih) dines di RSU Pringsewu. Temanya: Kemiskinanku. hahah. Yuk langsung!

Waktu itu  gue lagi jalan sendirian pulang dari dines malem, masih di ruang VK. Biasanya gue pulang ke penginapan bertiga, bareng dua temen yang dapet jaga di ruang lain, but karena mereka ada urusan dan pulang duluan, jadi deh gue balik ke penginapan tanpa seorangpun teman. Ditengah perjalanan yang panjang dan berliku,  lapar kronis gue kumat lagi. AHA!!  jalan donk insting gue buat beli makan? Yeph, cepet2 gue menuju warung nasi yang gag jauh dari tempat gue berjalan. Sebuah tempat pemadam kelaparan yang jual makanan murah tapi enak.. Nyampe disana cepet gue pilih-pilih lauk yg gerangan  bisa bikin nyaman perut gue. hehe
 “Hmmmmm nasi ikan mas rica rica enak neh ?” batin gue dalem hati.
Harganya 7 ribu. Lho kok tau? Yaeyalah,langganan gitu deeeh. Gue jg tau kalo nasi ayam harganya 8 ribu, kalo pake telor  harganya 5 ribu, murah kan? Terus gue buka tas dan berburu dompet. Oke, wait, dompet gue kemana? gag ada! Baiklah, rupanya gue ninggalin dompet di lemari. Jangan putus asa dong, maka gue rogoh kantong seragam. yeph! Dapat! Dan berhitung mulai.. !! 
“seribu, dua ribu, tiga ribu,…..6 ribu" #diem #tarik nafas
Tunggu, cuma 6 ribuuuu?? itung ulang..
 "Seribu.... dua ribu, tigaribu, empat ribu, lima ribu, enem." T.T *ngiiiiiiiing*
Kenyataan ini bikin gue putus asa.  Saat itu juga mental gua berada di titik terendah. Setengah dari diri gue tiba-tiba lepas dari  jasad dan menangis dipojokan sambil memeluk kedua lutut. (Efek sekitar berubah jadi Shepia).
“………….Tuhaaan ku lelah dengan semua iniiiiiiiii………...!”
Tapi tidak!” Kata bagian diri gue yang lain (yang masih nempel di badan), “gue harus dapetin ikan mas rica-rica itu!Harus! bagaimanapun cara halalnya!!Ngeyahahahaha
Ditengah pergolakan jiwa, Bude yang jualan datang menghampiri gue -si pelanggan manis yang sedang bingung dan murung- , gue liat  wajah si Bude yang memancarkan kebaikan hati yang sangat. Bukannya mau memanfaatkan kebaikan hati si Bude, gue cuma memberi kesempatan seluas-luasnya kepada Bude untuk berbagi amal kepada gue yang fakir ini.
Bude : “Mau Bude bungkusin apaa?"
Nanyanya sambil senyum, senyum ini membawa angin segar buat gue yang lagi galau dan bikin gue yakin dan percaya diri untuk bilang:
Mau makan ikan mas rica-rica Bude, tapi uang saia ketinggalaaan. Yang dikantong tinggal 6 ribu “ (Hiks) *pasang muka maniss yang lagi sedih* Kalo temen gua tau, meraka pasti syok dan berkata gagap sambil berjalan mundur, berwajah pucat lalu geleng-geleng kepala, “BUKAN!! DIA BUKAN TEMAN SAYA!!! BUKAN TEMAN SAYAAA!!!” terus nunjuk muka gue. Hahaha
Bude :  “yaaa Alloh.. gag apa apa, sinih sinih bude bungkusin ikannya.. yang mana yang mana?
Gua : “yang ini!” sambil nunjuuk target dengan excited yang tinggi. “YES!!!” sambil senyum dalem hati. hehe
Setelah menyerahkan 6 ribu rupiah, gue ucap makasih banget n berjanji bakalan bayar kekurangannya besok. Tapi keesokan harinya si Bude baik hati menolak uang tersebut… hmmm subhanallah banget kan? Gue malu sih. malu banget. banget. tapi ya mau gimana coba? hahhaa Kan kepepet. hiihi.

Pelajaran, lain kali kemana-mana dompet gak boleh lupa dibawa. :)
Gua percaya, orang baik ada dimana-mana. Karena pertolongan Alloh juga ada dimana-mana :)

_Awal 2010_

Sembilan Belas Tahunku


19 tahun menumpang hidup di atas bumi, dititipkan aku oleh seorang wanita penuh cinta dan sayang, sellalu kupanggil ia Mama.. dan seorang laki-laki kuat dengan kerut pengorbanan di wajahnya, selalu kusebut ia dengan Papa..
Aku teringan saat TK dahulu, Mama memakaikan jilbab hijau seragam setiap rabu,,
Aku teringat saat mengaji pada ustadz pilihan Papa. Jika saat itu aku mengajukan beribu aalasan untuk tidak mengaji karena lelah, Papa dengan tegas tulusnya mengantarku hingga pintu depan..
Teringat kembali di masa SDku, Mama menjahitkan rok rampel merah untuk menggantikan rok sekolahku yang telah kekecilan..
Teringat kala itu, saat Papa memarahiku karena sikap nakalku hingga membuat adik menangis..
Teringat lagi saat itu, saat Mama marah besar karena aku mencoba mengigit tangan dokter gigi tepat ketika sang dokter dengan lancangnya memasukkan besi panjang ke mulutku..
Ah, teringat kembali aku saat diajarkan 3 do’a oleh Papa, yang saat itu juga aku harus menghapalnya..
Teringat dan teringat, sepanjang masa SMAku,dengan sabar dan ikhlasnya Mama mendengar ceritaku setiap hari sepulang aku sekolah.. aku kadang mengira Mama merasa bosan, tapi toh tetap saja Mama memperhatikan detail ceritaku..
Teringat saat ujian Akhir SMA, Ujian2 saat kuliah, dan terakhir saat UTS lalu, Papa selalu bertanya, “Besok ujian apa?? Jam berapa??”.. ah, spontan aku tau, Papa tak akan lepas dari dzikir dan do’anya di atas sajadah sepanjang aku menghadapi soal2 ujian saat itu juga..
Dan baru beberapa hari lalu, 3 kali Mama telefon, katanya, hanya ingin mendengar suaraku saja..
Ah, baru tersadar, begitu lama aku tak menjenguk mereka. Sebuah alasan klise yang memaksa mereka untuk mengerti: SIBUK KULIAH, TUGAS dan UJIAN.
Dan hari ini bertambahlah umurku...
19tahun sudah menapaki hidup diiringi segenap pengorbanan dan kerja keras mereka.. aku tak pernah tau tepatnya berapa banyak peluh dan airmata yang mereka tumpahkan untukku, tapi mungkin aku bisa tenggelam olehnya..
Aku akan membahagiakan mereka, aku akan menjadi yang membanggakan..
“inilah saatnya untukmu melangkah, anggun.. tidak boleh hanya berdiam saja... ibumu menanti suksesmu.. Ayahmu menanti bahagiamu.. “
Terimakasih, ibunda.. terimakasih atas segalanya..
Cintaku pun takkan terputus untukmu, ayahanda.. aku mencintai kalian dengan seluruh cintayang kumiliki..
Kupersembahkan seutuhnya cinta yang selama 19 tahun kujaga..
Untukmu, Orangtuaku...^^

#Dinaungi perasaaan Homesick yang mengecilkan


_19112009
Sembilan Belas Tahunku

Sebelum Cinta Ini Menjadi Haram


            Maka Selayaknya sebelum senja merajai hari, aku akan menutup semua pintu.. dan kubiarkan semua yang mengusikku menguap oleh cahaya matahari yang hampir habis…Maka apapun tentangmu.. tidak akan kusisakan.. apapun… demi menghindari sebuah dosa.

Tidak ada yang salah karena cinta adalah fitrah
Namun semua yang terjadi membuatku kecewa pada diri ini.. atau… padamu.
Bagaimana mungkin kau biarkan tiap-tiap kalimatmu menjadi magic bagiku? Bagaimana mungkin kau rubah pndanganku terhadap pribadimu menjadi lebih indah? Bagaimana mungkin kau biarkan hati ini bersemi ketika membaca sepotong nasihatmu? Demi Tuhan bukan rayuan yang kau tulis, atau kalimat gombal yang kau sertakan.. Tapi karena betapa rapuhnya hati ini hingga membuatnya bergetar. Aku lupa memagarinya hingga membuatnya lengah, dan aku lupa bahwa kau begitu jauh dan sulit untuk kugapai..

Tapi rasa ini terlanjur menembus kalbu.. kau pikir aku tak mencoba membentenginya? Membuat rasa itu tidak berlama-lama di hatiku?
Ketahuilah bahwa aku telah sering mencai-cari kealpaan ditiap kalimatmu, atau di kehidupan yang kau jalani. Dan aku telah berulang kali mencari dimana letak cacat tingkah lakumu.
Hingga aku menyerah…….
Nyatanya setiap mendengar sosok pribadi milik orang lain, maka bertambah kagumlah aku padamu.. lalu apa yang harus aku perbuat selain doa? Dan mengharap semua menjadi indah jika keinginanku sejalan dengan takdir-Nya.. agar rasa ini menjadi halal buatku. Bukankah mudah bagi Allah mengubah siang menjadi malam? Atau membelah laut merah hingga menenggelamkan fir’aun? Bukankah mudah bagi Allah menurunkan hujan di tanah gersang?

Namun yang terjadi membuatku tertegun.. hingga kusadari bahwa hidup sepertinya tak semudah yang diinginkan. Mungkin Allah telah memiliki jalan lain untuk diriku… atau dirimu….Bahwa Dia telah menetapkan orang lain untuk memilikimu, yang pasti akan kau cintai sepenuh jiwa..
Tidak mudah memang untuk merelakan hati ini tergores, namun syukurlah masih iman yang menggenggam hati ini. Kuyakini, bahwa jalan yang terbaik adalah jalan milik-Nya.. dan cinta yang hakiki adalah milik Yang Maha Mencintai.. maka tak sepantasnyalah jika aku goyah..

Sebelum kau terikat oleh ikatan halal dengannya, dan sebelum cinta ini menjadi haram, kuikhlaskan semua terkikis oleh angin kencang kenyataan.. berbahagialah wahai yang kukagumi.. sesungguhnya aku akan senang pabila ibadahmu diberkahi Allah… dan di dalamnya bahagia menyertaimu..

Dan, sampai kutulis untaian ini, masih bersusah payahlah aku untuk mengakhirinya.. tapi ketahuilah, jika aku mencintaimu, itu karena besarnya cintamu pada Tuhanku..



_Akhir 2009
Terinspirasi dari kisah seorang teman

Tuhan, Aku ini apa?

Adalah sulit bagiku, berhadapan pada ketidakberesan hidup yang sebenarnya ada karena ulah sendiri,  dan sering kutemui -bahkan menenggelamkanku- sepanjang masaku. Ini seperti aku mencoba menangkap angin dengan tanganku, kau tau? Seperti inilah aku mendapati tubuh lelahku berdamai dengan kegulanaan. Menyiptakan riak air di wajah hati yang tidak akan pernah seorang pun sudi melihatnya. Bernama: kesia-siaan. 

Bukan karena aku gagal memadu mozaik kehidupan hingga menyusunnya menjadi sebentuk mimpi, dan merancang strategi terhebat untuk seterusnya ku gunakan sebagai tangga menuju kesana  (seperti harapan). Bukan. Tapi justru karena keterkejutanku menyaksikan semuanya benar-benar tak berarti, menampakkan fakta terbodoh seorang anak manusia, yang ternyata sungguh ada pada diriku.
Bukan hal yang berlebihan jika sebuah sikap yang tersimpan di alam bawah sadar, kini sedikit demi sedikit terefleksi, dan menghasilkan ketidaklaziman, mempertanyakan arti waktu - dan akhirnya  aku terlambat.

Berangan menumpahkan segalanya pada langit sore, malah membuatku gagal menahan bendungan air di pelupuk. Sungguh ini menguasai asaku yang tersimpan di laci hati sebelah “sana”. 

Aku hanya ingin kembali bertukar cerita  kejujuran dengan langit yang merona, bukan hanya sekedar sapaan yang kerap kulakukan tiap menengadah ke arahnya.
Ingin kembali bergurau dengan awan bersih suci. Tapi bukan gurauan seperti kemarin-kemarin, menertawai ke-absurd-an yang malang melintang di antara kami.
Aku ingin berkelakar dengan sentuhan lembut angin sore yang menenangkan, yang membikin perasaanku berhenti berjingkatan, setidaknya mengurangi emosi negative yang seenaknya bersemayam “disini” (nunjuk hati).

Tunggu dulu, tidakkah ini berbeda dari biasa? Terangmu pun tak  berpendar barang sebentar, langit… Membuatku ingin menjambak warna kelabu yang sedari tadi menghijabmu tanpa celah. Membungkus merahmu dengan kelabu muramnya. Seperti seribu tekad yang terbungkus sebuah kelalaian.

Tetesan besar-besar kiriman langit membumi bersamaan, suaranya lebih mirip ejekan atas kecengengan, dan kolaborasinya dengan kegalauan (hasil penciptaanku). Paling tidak itu yang pernah ada di benak, hingga –sepertinya- malaikat sengaja lewat untuk membisikkan cerita haru ‘Tentang Hujan, Harapan, dan Rizki’, kemudian menuliskan kata *Jleb tepat di palung hatiku.

 Ah, Tuhan, aku ini apa?  
 Tatapanku menembus hujan, beralih kepada rumput di bawah sana. Kemudian berpikir akan menanyai  hal yang –aku yakin- sangat lucu baginya. Rumput, ia hanya bergoyang-goyang diterpa angin yang bertiup rendah, kemudian ia merunduk ditimpa hujan., Seperti tak berdaya, walau aku tau ia amatlah tumbuhan yang tegar. Kemarin aku melihat segerombolan anak bermain bola di atasnya, berlari di atasnya, menginjaknya. Bukankah itu sakit? Tapi hari ini ia masih berdiri, hingga sampai daun terlepas dari akarnya pun, ia akan tetap tumbuh keesokan harinya. Keren. Kau sungguh keren. 

Tuhan.. 
Aku adalah debu di hamparan padang pasir. Aku adalah kerikil di curamnya bukit bebatuan. Aku adalah percik di antara gelombang samudera. Aku kecil dan aku lemah, Tuhan. Mungkinkah karenanya maka, ke-idealan manusia jauh dari sekedar “ingin mampir” pada diriku? 

Tuhan, 
Kupahami ketika penghambaanku kian lama menjadi kian abstrak. Namun Engkau sudi menerima taubatku, walau pencarianku akan perekat luka-luka pada gadingku, ntah berakhir hingga kapan.

Ampuni Aku.




Sagitarius 3
Januari 2012, hari ke7
17.35 sore