3 Nov 2012

Memanusiakan Sahabat




Pagi-pagi buta saya dikejutkan dengan private massage yang dikirim oleh sahabat saya, Anggi. Pesan itu dikirimkan pukul 11 malam, tentu saat itu saya sudah dikeloni mimpi indah. Pesan yang berisi ucapan terimakasih yang di akhir kalimat ditambahi emoticon ini :). Dengan rasa penasaran saya menanyakan perihal ucapan tersebut kepadanya, karena hal semacam ini biasanya hanya dilakukan Anggi setelah saya memberikan sedikit bantuan atau memberinya nasihat. Tapi malam ini, saya rasa saya tidak melakukan apa-apa.
"Makasih aja udah jadi sahabat yang baik. Baru tersadar. :)"
Membacanya saya tersenyum, dan mengira-ngira. Mungkin Anggi sedang kecewa pada manusia lain, sahabatnya yang lain. Hingga mendorongnya untuk membandingkan orang tersebut dengan saya, kemudian mengambil kesimpulan bahwa saya adalah sahabatnya yang baik. Tapi seperti itukah? Anggi bilang, tidak.

"Sahabat" adalah sebuah kata yang definisinya akan berbeda bagi masing-masing manusia. Saya sendiri mengartikan sahabat adalah orang lain yang di dalam hati saya merasa selalu dekat dengannya. Saya juga setuju dengan kalimat ini, "Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri." Ya, karena kita memiliki hak untuk memasukkan atau mengeluarkan orang lain dalam kehidupan kita.Meskipun hak itu tentu terbatas. Namun setidaknya saat kita menganggap orang lain pantas untuk mewarnai kehidupan yang kita jalani, pantas untuk mendengar keluh kesah kita, pantas untuk kita rangkul saat melangkah menuju mimpi, maka kita berhak untuk menyebutnya sahabat. Meskipun, dia juga sangat pantas mengecewakan kita suatu saat nanti.

Kenapa? Karena sahabat adalah manusia juga. Manusia yang fitrahnya merupakan tempat salah dan khilaf. Saya baru-baru ini menyadari bahwa istilah Memanusiakan Manusia ternyata memiliki dua arti. Pertama, kita harus memperlakukan mereka (yang kondisinya tidak lebih baik dari kita) dengan perlakuan yang layak, karena mereka manusia juga, dan hak setiap manusia adalah sama. Kedua, kita tidaklah perlu berekspektasi secara sempurna kepada manusia manapun (yang kita anggap kondisi dan keadaanya lebih baik dari kita), karena dia pun adalah manusia juga. Disana selalu ada kurangnya, selalu ada sisi manusiawinya. Bahkan Rosulullah sang Cahaya Kehidupan pun, memiliki sisi manusiawinya tersendiri. Ingat ketika Nabi wafat? Saat Umar ra. dengan gejolaknya mengutuk siapapun yang menganggap Rosulullah telah meninggal, kemudian Khalifah Abu Bakar menyuruh Umar untuk tenang dan dengan lantang berkata, "Sesungguhnya Muhammad telah mati. Sesungguhnya hanya Allah SWT yang Maha Kekal.". Ya, itu Nabi, yang juga manusia. Khalifah Abu Bakar sedang mengajarkan para sahabat ketika itu untuk memanusiakan manusia, untuk memanusiakan Rosulullah.

Masih tentang definisi sahabat. Ketika kita telah memahami, dari seorang sahabat terbaik selalu ada sisi manusianya, maka harapn kita kepadanya tak akan tinggi melangit. Tidak perlu kita memalaikatkan sahabat, menganggapnya selalu baik, selalu menolong dan berbesar hati, selalu ada ketika kita butuh bantuan, selalu menjadi pundak nyaman ketika kita kelelahan, juga menganggapnya mustahil berkhianat, mustahil menyayat kita dari belakang. Karena saat harapan itu terlalu tinggi kita gantungkan kepada manusia, saat itulah kekecewaan bisa datang kapan saja.

Jadi tidak adakah sahabat di muka bumi ini?? Ada! Buktinya, saya punya. Saya punya Anggi, Ryo, Dodoy, Erlin, Yetti, Nupe', Ana, Defni, dan lain-lain. Saya anggap mereka sahabat yang sempurna di mata saya. Sahabat yang sebenarnya banyak khilafnya (karena mereka manusia), namun dimata saya mereka menyempurnakan proses pendewasaaan saya, selalu dekat di hati saya. Dengan segala kekurangan mereka, saya memilih mereka untuk berlalu lalang di kehidupan pribadi saya. Membiarkan mereka tetap berada di sisi saya untuk bersama-sama meraih mimpi. Jangan sesekali mengira persahabatan ini sekeren apa, ah, dalam proses mempertahankan persahabatan ini, ntah sudah berapa kali kami terlibat dalam tengkar dan selisih.

Tidak selalu sahabat akan berpendapat A ketika kita berpendapat A, tidak juga mereka selalu berpendapat B ketika kita berpendapat B. Kembali kepada memanusiakan sahabat. Sahabat adalah manusia yang isi kepalanya sudah pasti tidak sama plek dengan isi kepala kita, karena perbedaan itu selalu ada. Maka ini point pentingnya: Sahabat yang sabar adalah dia, yang jika tidak menyukai sesuatu akan tetap menghargainya. 
 Mari belajar memahami ini, supaya jika suatu hari sahabat kita mengecewakan, kita tidak serta-merta memecatnya sebagai sahabat. :)

...Wallahu'alam...

1 komentar:

Terimakasih untuk komentarnya ^_^